Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Malam itu rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Beberapa tamu bisnis Darius baru saja pulang, menyisakan aroma parfum mahal dan suara percakapan yang masih samar tertinggal di udara. Para pelayan bergerak mondar mandir membereskan ruang tamu dengan cepat, mengangkat gelas kristal dan piring makan yang tersisa di meja panjang. Lampu gantung masih menyala terang, membuat rumah besar itu tampak hangat dari luar meski suasananya perlahan mulai mereda.
Seraphina baru saja selesai berbicara dengan salah satu relasi lama keluarga di dekat foyer ketika ia memutuskan kembali ke kamar. Senyumnya masih terpasang rapi setelah percakapan formal yang melelahkan itu, tetapi begitu langkahnya menjauh dari keramaian, ekspresi itu perlahan memudar. Tubuhnya terasa berat, bukan karena aktivitas sepanjang hari, melainkan karena pikirannya yang terus berjalan tanpa henti sejak beberapa minggu terakhir.
Ia berjalan melewati koridor lantai dua dengan langkah pelan. Cahaya lampu dinding jatuh redup di sepanjang lorong, membentuk bayangan panjang yang bergerak mengikuti tubuhnya. Rumah mulai kembali tenang sedikit demi sedikit. Bahkan suara para pelayan dari bawah terdengar semakin jauh.
Seraphina sebenarnya hanya ingin masuk ke kamar, membersihkan diri, lalu menghabiskan malam dalam diam seperti biasanya. Namun sebelum ia sampai di ujung koridor, suara percakapan membuat langkahnya melambat. Suara itu datang dari ruang santai kecil dekat balkon samping, tempat yang sering digunakan Lysandra untuk bersantai malam hari.
Ia mengenali suara itu dengan mudah.
Lysandra.
Dan Kael.
Pintu ruang santai itu tidak tertutup sepenuhnya. Hanya menyisakan celah kecil dengan cahaya hangat yang keluar samar ke koridor. Seraphina awalnya tidak berniat mendengar. Ia bahkan sempat terus berjalan beberapa langkah sebelum sebuah kalimat membuat tubuhnya berhenti begitu saja.
“Ayah terlalu lama membiarkan semuanya tetap atas nama Ibu.”
Suara Kael terdengar rendah dan stabil seperti biasanya. Tidak tinggi, tidak emosional, justru terlalu tenang untuk topik seperti itu. Kalimat itu membuat langkah Seraphina terhenti sepenuhnya di tengah lorong.
Ia berdiri diam.
Tubuhnya membeku tanpa sadar.
Dari celah pintu, samar terlihat bayangan keduanya. Lysandra duduk santai di sofa sambil memutar gelas di tangannya, sedangkan Kael berdiri dekat jendela dengan satu tangan masuk ke saku celana.
“Kalau semua aset itu masih dipegang Ibu, kita bakal terus bergantung,” keluh Lysandra sambil mendecakkan lidah pelan. “Aku benar-benar lelah harus menunggu.”
Nada suaranya terdengar jengkel. Tidak seperti seorang anak yang sedang membicarakan ibunya. Lebih seperti seseorang yang sedang membahas masalah bisnis yang menghambat hidupnya.
Seraphina merasakan jemarinya perlahan menegang di sisi tubuhnya. Napasnya tertahan tanpa ia sadari. Namun ia tetap diam di tempatnya, tidak bergerak sedikit pun.
Kael menyilangkan tangan di dada. “Makanya semuanya harus dipindahkan perlahan. Ayah sudah mulai melakukannya.”
Kalimat itu terdengar sangat jelas di telinga Seraphina. Tidak ada keraguan. Tidak ada rasa bersalah. Hanya pembicaraan yang terdengar terlalu biasa untuk sesuatu sebesar itu.
Lysandra menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan malas. “Aku cuma berharap semuanya selesai lebih cepat. Kadang aku muak harus terus bersikap manis setiap hari.”
Seraphina menutup matanya sesaat.
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menghantam langsung ke dadanya.
Bersikap manis.
Jadi selama ini, semua senyum itu memang hanya akting.
Semua perhatian kecil yang dulu membuatnya merasa dicintai ternyata hanya bagian dari permainan yang lebih besar.
“Dia terlalu mudah percaya,” lanjut Lysandra sambil tertawa kecil. “Kadang aku bingung kenapa Ibu bisa sebodoh itu.”
Tawa kecil itu terdengar ringan dan santai. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun dalam suaranya. Seolah kalimat tadi hanyalah candaan biasa di antara saudara.
Seraphina merasakan sesuatu bergerak kasar di dalam dirinya. Ingatan lama yang selama ini ia tekan perlahan mulai muncul lagi tanpa bisa dihentikan. Lantai dingin itu. Tubuhnya yang melemah. Tatapan mereka yang tidak menunjukkan kepanikan ataupun belas kasihan.
Dan sekarang, suara mereka terdengar sama dinginnya seperti saat itu.
Kael tetap tenang. “Itu justru memudahkan.”
“Ya, aku tahu.” Lysandra memutar bola matanya pelan. “Tapi tetap saja melelahkan. Semua perhatian itu kadang membuatku sesak.”
Perhatian.
Kasih sayang yang selama ini ia berikan tanpa batas ternyata hanya dianggap beban.
Seraphina membuka matanya perlahan. Tatapannya berubah sedikit demi sedikit. Bukan lagi karena terkejut, melainkan karena ia mulai memahami sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pengkhianatan.
Ini bukan perubahan mendadak.
Bukan karena keadaan.
Dan bukan karena seseorang memengaruhi mereka.
Mereka memang seperti ini sejak awal.
“Aku bahkan tidak pernah merasa rumah ini benar-benar rumah,” ucap Lysandra lagi sambil tertawa kecil hambar. “Semuanya selalu terasa seperti transaksi.”
Kael tidak membantah. Ia hanya menoleh sekilas lalu berkata dengan nada datar, “Keluarga memang selalu seperti itu.”
Kalimat itu keluar tanpa emosi. Tidak terdengar pahit ataupun kecewa. Justru karena terlalu biasa, ucapan itu terasa jauh lebih dingin.
Seraphina berdiri membeku di luar pintu. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang perlahan naik ke permukaan. Ia teringat dirinya di kehidupan sebelumnya, bagaimana ia terus mencoba menjaga keluarga itu tetap utuh meski dirinya sendiri perlahan hancur. Ia menahan lelah demi mereka, menekan emosinya sendiri demi menjaga rumah itu tetap hangat.
Dan sekarang…
Ia mendengar sendiri bagaimana mereka memandang semua itu.
Sebagai hambatan.
Sebagai kewajiban yang melelahkan.
Sebagai sesuatu yang suatu hari harus disingkirkan.
Lysandra tertawa kecil lagi. “Kadang aku iri sama orang lain. Mereka bisa hidup bebas tanpa harus terus memperhatikan perasaan orang tua.”
Kael meliriknya sekilas. “Kalau semuanya selesai nanti, kamu bebas melakukan apa pun.”
“Nah, itu yang aku tunggu.”
Nada suara Lysandra berubah jauh lebih hidup saat mengatakan itu. Ada antusiasme yang tidak pernah Seraphina dengar ketika gadis itu berbicara dengannya.
Seraphina menundukkan wajah perlahan.
Untuk sesaat, napasnya terasa berat.
Trauma dari kehidupan sebelumnya datang begitu jelas hingga ia hampir bisa merasakan kembali dinginnya lantai marmer di bawah tubuhnya. Ia ingat bagaimana dirinya meminta bantuan saat tubuhnya melemah. Bagaimana ia memandang mereka dengan harapan terakhir yang tersisa.
Dan bagaimana mereka hanya berdiri diam.
Tidak bergerak.
Tidak menolong.
Tidak peduli.
Ingatan itu membuat tangannya perlahan mengepal semakin kuat. Kukunya menekan telapak tangan sendiri hingga terasa nyeri. Namun ia tetap diam di tempatnya, menahan semua yang bergolak di dalam dirinya.
Ia tidak boleh masuk sekarang.
Tidak boleh kehilangan kendali hanya karena emosi sesaat.
Di dalam ruangan, percakapan masih terus berlanjut seolah tidak ada hal besar yang sedang mereka bicarakan.
“Kamu yakin Ayah bisa mengurus semuanya?” tanya Lysandra.
Kael mengangguk kecil. “Dia lebih pintar dari yang terlihat.”
“Semoga saja. Aku tidak mau hidup seperti sekarang terus.”
Seraphina memejamkan mata lagi.
Hidup seperti sekarang.
Rumah besar.
Fasilitas tanpa batas.
Kehidupan yang bahkan tidak perlu membuat mereka khawatir tentang apa pun.
Dan ternyata itu masih belum cukup.
Pelan pelan, sesuatu di dalam dirinya mulai membeku sepenuhnya. Bukan kesedihan lagi. Bukan pula rasa kecewa yang selama ini masih ia tahan.
Melainkan pemahaman yang akhirnya menjadi jelas tanpa sisa keraguan.
Ia selama ini mencintai orang-orang yang tidak pernah benar-benar menganggapnya keluarga.
Semua kasih sayang yang ia berikan…
Tidak pernah kembali dengan cara yang sama.
Seraphina membuka mata perlahan. Tatapannya kini terasa sangat tenang. Terlalu tenang hingga dirinya sendiri hampir tidak mengenali perubahan itu.
Ia mundur satu langkah dengan hati hati, memastikan tidak menimbulkan suara sedikit pun. Lalu satu langkah lagi. Dan satu langkah berikutnya sampai akhirnya ia benar-benar menjauh dari ruangan itu.
Koridor terasa lebih dingin sekarang.
Atau mungkin hanya dirinya yang berubah.
Ia berjalan perlahan menuju kamar dengan langkah stabil. Namun tangannya masih mengepal erat di sisi tubuhnya, menahan amarah dan luka yang kembali terbuka malam ini.
Sesampainya di kamar, Seraphina menutup pintu pelan di belakangnya. Bunyi klik kecil itu terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak, membiarkan keheningan memenuhi ruang di sekitarnya.
Namun kepalanya penuh oleh suara suara tadi.
“Dia terlalu mudah percaya.”
“Aku muak harus bersikap manis.”
“Aku tidak pernah merasa rumah ini benar-benar rumah.”
Kalimat demi kalimat terus terulang di dalam pikirannya. Tidak keras, tetapi cukup untuk menghantam perlahan.
Seraphina mengangkat pandangan ke arah cermin besar di depan kamar. Pantulan dirinya berdiri di sana dengan wajah yang masih terlihat tenang seperti biasa. Rambutnya tetap rapi. Ekspresinya tetap terkendali.
Namun matanya berbeda.
Tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu ada di sana.
Perlahan, sudut bibirnya bergerak tipis. Bukan senyum bahagia ataupun tawa pahit. Lebih seperti seseorang yang akhirnya menerima kenyataan yang terlalu lama ia tolak.
Tangannya yang semula mengepal perlahan mengendur.
Namun tatapannya justru semakin tajam.
Dan di dalam hatinya, sebuah kalimat terucap dengan sangat jelas.
“Jadi… dari dulu kalian memang seperti ini.”