black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."
" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ayah bikin ulah
Firman yang baru saja pulang liburan dengan sang istri Diana tak sengaja melihat ayah mertua Wira, jadi firman memutuskan untuk menghampirinya.
" permisi apa benar om ini ayah dari kakak ipar istri dari kak Wira." ujar firman.
" kamu siapa...." ucap Bisma galak.
" sepertinya kamu ini teman Wira kan...." Santi.
" benar aku firman adik kak Wira." jawab Bisma.
" oh kamu adik bajingan itu sekarang katakan di mana bajingan itu, aku ingin bertanya di mana bajingan itu menelantarkan anak dan cucuku, berani sekali dia menjual rumahnya." Bisma.
" ayah berhenti lah jangan menimbulkan masalah seperti tadi...." ujar Santi.
" kamu... Kamu....." Bisma tak bisa berkata lagi dan diam kemudian.
" firman apa kamu tau keadaan mereka." tanya Santi.
" mereka baik baik saja, dan mereka sudah pindah ke rumah yang lebih besar dan dekat dengan sekolah Sasa." jawab firman.
" apa......" Bisma.
" hah....." Santi.
" kak Wira tidak Septi yang dipikir dan di tuduhkan om, dia sangat bertanggung jawab pada istri dan anaknya." ucap firman.
" hallah kamu bilang seperti itu karena kamu dekat dengan bajingan itu...." Bisma, firman yang mendengar itu hanya menggeleng kan kepala.
" firman bisa kamu beritahu kami di mana Mereka sekarang tinggal." Santi.
" awalnya aku bermaksud begitu ingin memberitahu di mana kak Wira dan kakak ipar tinggal. tapi melihat yang seperti ini sepertinya hanya akan mengganggu kebahagiaan kak Wira dan kakak ipar lebih baik aku tidak memberitahu." ujar firman.
" sayang mengapa lama sekali...." suara Diana dari dalam mobil.
" iya... Aku sudah selesai..., jika begitu aku permisi, istri ku sudah memanggil." ucap firman.
" kamu tidak bisa pergi sebelum mengatakan di mana keberadaan bajingan itu." Bisma.
" tuan lepaskan tanganmu ini, aku menghormatimu karena kau masih ayah dari kakak ipar, jadi lebih baik jangan ganggu aku dengan keras kepalamu itu." ucap firman dingin.
" siapa kamu mengancam,kau pikir siapa orang tua ini, sekarang katakan saja di mana bajingan itu berada." ucap Bisma.
" aku tidak mau mengatakannya, aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan mereka dengan kedatangan anda." ucap firman.
" kau... Apa kau percaya aku akan memukul kepalamu sekarang." ucap Bisma
" ayah tenanglah, jika seperti ini kita yang repot, sekarang ayah diam saja biar aku yang bicara." ujar Santi.
Firman pun sudah akan berlalu hanya saja terhenti karena Santi yang menahannya untuk tidak terburu-buru pergi.
" firman maafkan ayah mertuaku, kami sedikit mengalami kesulitan tadi dan ayah mertuaku mungkin masih tidak tenang atas kejadian tadi. Ayah mertuaku hanya khawatir pada ayu jadi bisakah kami tau di mana mereka tinggal sekarang." Santi.
" maaf kak sepertinya tidak bisa, aku akan merasa bersalah jika nanti terjadi sesuatu." ucap firman.
" tolong lah, kamu itu hanya ingin memastikan keadaan ayu." ucap santi.
" jika hanya itu yang ingin kalian ketahui, aku beritahu mereka sudah bahagia sangat bahagia." ucap firman.
" sayang....." Diana memanggil lagi dari dalam mobil.
" aku harus pergi permisi." ujar firman.
" eh tunggu kamu beri kami kontak ayu atau Wira agar kami bisa menghubungi mereka " ucap Santi.
Firman sedikit lama berpikir untuk menimbang keputusannya hingga akhirnya karena desakan Santi firman pun memberi no kontak ayu.
...****************...
" kamu segera hubungi ayu...." Bisma.
" sabar ayah...." Santi.
" cepat lah....." ujar Bisma tak sabar.
Ayu dan Wira yang sedang duduk di ruang keluarga menonton menemani Sasa. Tiba tiba saja Terganggu dengan panggilan masuk.
" ay sepertinya itu ponsel kamu....." Wira yang mendengar lebih dulu.
" iya.... Eh ini no baru aku tidak mengenalnya." ucap ayu memeriksa ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.
" angkat saja siapa tau penting." ucap Wira sesekali mengganggu putrinya itu dengan mencium, atau pun membelai rambutnya.
" halo.... Ayu.... Ini aku Santi....." ujar di sebrang.
Ayu tidak menjawab segera tapi masih memberitahu Wira.
" ini kak ayu...." ujar ayu setengah berbisik pada Wira.
" teruskan saja...." Wira.
" oh... Ya ada apa kak....." ayu setelah mendapat persetujuan Wira.
" kamu sudah pindah rumah....." ucap Santi.
" iya kak..." jawab ayu kaku.
" kenapa tidak memberitahu kami dulu....." ujar Santi.
" kemari biar ayah yang bicara ....." Bisma merebut ponsel Santi.
" iya kak, itu karena Sasa......" terhenti ketika suara Bisma dengan galak menanyakan rumah ayu.
" ayu di mana rumah kamu ayah akan ke sana sekarang....." Bisma.
" untuk apa ayah datang, jika hanya bikin masalah lebih baik tidak perlu, biar aku saja yang datang." ucap ayu, tidak mau kejadian serupa yang menimpa suaminya terulang lagi.
" anak durhaka, apa kamu sudah berani membantah ayah kamu sendiri, jangan hanya karena suami bajingan mu kamu berani menjawab ayahmu sekarang." ucap Bisma.
" ayah sabar ayah, jika seperti ini ayu tidak mau bertemu kita.
" Santi diam kamu, aku tidak mau tau pokoknya kamu ayu harus beritahu ayah di mana rumah kamu sekarang....." Bisma.
" maaf ayah aku tidak mau, jika tidak ada hal lain lagi aku tutup." ayu kemudian menyudahi panggilan itu.
" ada apa ay....." tanya Wira.
" ayah mau datang, aku tidak mau, lebih baik kita saja yang datang ke sana." ucap ayu.
" kenapa jika ayah datang, bukankah itu ayah kamu sendiri orang tua kita dan kakek dari Sasa." ujar Wira.
" aku tau, tapi aku takut ayah tidak terkendali seperti sebelumnya." ayu.
" Sasa juga takut, kakek galak sekali." ujar Sasa menimpali.
" Sasa tidak boleh seperti itu sayang bagai manapun itu adalah kakek Sasa apa Sasa mengerti." Wira.
" iya maaf ayah." ucap Sasa
" Sasa ayah dan mama akan mengobrol apa Sasa bisa ke kamar Sasa dahulu." ucap Wira.
" um...." Sasa mengangguk dan mulai turun dari sofa.
Di mobil Bisma mengamuk dan mengumpat sejadi jadinya mengutuk Wira yang membuat ayu berani terhadapnya.
" halo... Halo ayu.... Ayu.... Dasar anak durhaka, berani kamu sekarang ya, gara gara bajingan itu keluargaku kacau, anak ku menjadi berani melawan orang tuanya, awas saja jika aku bertemu nanti akan kubunuh bajingan itu dengan tangan ku sendiri."
" sialan sialan... Berani beraninya, aku ini ayahnya yang sudah merawatnya, awas saja nanti aku akan mengajarinya bagai mana seharusnya seorang anak." ucap Bisma.
" ayah tenang lah, jika ayah tidak bisa tenang begini bagai mana kak ayu mau bertemu ayah." ucap Santi.
" itu semua karena bajingan sampah itu, jika saja ayu tidak mengenal bajingan itu harusnya dia sudah hidup bahagia." ujar Bisma.
" bagai mana ayah tau ayu akan bahagia jika tidak bersama Wira si cunguk sialan itu." ucap Bisma.
" itu karena adikmu sangat berprestasi, dan banyak tuan muda yang naksir dia jadi pastilah dia akan bahagia." ucap Bisma.
" ayah tidak bisa mengukur kebahagiaan dari materi saja, bahagia itu urusan hati." ucap Santi.
" kamu tau apa sekarang jika tidak ada uang orang akan di hina, dan di rendahkan." ucap Bisma.
" memang yang ayah katakan semua benar, tapi itu kesenangan semata bukan kebahagiaan." ujar Santi.
" hah... kamu malah cerewet sekarang, sudah sekarang kamu cari cara bagaimana ayah bisa ketemu dengan ayu." ujar bisma