NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2)

Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Sang Dewa Perak

Pusat Kota Gerbang Langit tidak menyerupai kawasan perniagaan yang sibuk maupun benteng prajurit yang kaku. Tempat itu adalah sebuah pelataran melingkar raksasa yang terbuat dari batu giok putih tanpa cela, dijaga oleh puluhan patung singa bersayap yang memancarkan tekanan hawa murni kuno. Di tengah pelataran tersebut, sebuah pilar cahaya perak raksasa menembus langsung ke atas awan.

Inilah Susunan Aksara Pemindah Wilayah Inti, gerbang tunggal menuju pusat peradaban dan kekuasaan mutlak di Benua Pusat.

Berbeda dengan susunan antar-benua yang bisa digunakan dengan membayar ratusan ribu Batu Roh, susunan ini menolak segala bentuk kekayaan fana. Di depannya, enam penjaga berjubah emas berdiri bagaikan patung dewa. Mereka semua berada di Puncak Ranah Pembentukan Inti Emas!

Bagi orang-orang yang berlalu-lalang di kejauhan, pelataran ini adalah tempat suci yang tidak boleh didekati sembarangan.

Tap... tap... tap...

Keheningan pelataran suci itu dipecah oleh langkah kaki yang tenang. Sesosok pemuda berjubah abu-abu kusam, dengan separuh wajah tertutup kain dan caping bambu, berjalan lurus menuju pilar cahaya perak tersebut.

"Berhenti di sana, Pengelana!"

Salah satu penjaga berjubah emas mengarahkan tombaknya ke dada pemuda itu. Hawa murni Puncak Inti Emas meledak, menekan udara hingga terasa seberat gunung baja. "Ini adalah gerbang menuju Wilayah Inti Benua! Hanya mereka yang memiliki undangan dari Tiga Sekte Penguasa atau pemegang Plakat Emas Abadi yang diizinkan melintas. Mundur, atau tubuhmu akan dihancurkan menjadi abu!"

Shen Yuan tidak melangkah mundur sejengkal pun. Hawa murni Inti Emas Iblis di dalam tubuhnya berputar dalam keheningan mutlak, menahan tekanan dari penjaga itu tanpa sedikit pun kesulitan.

Tangan kanan Shen Yuan merogoh ke dalam jubahnya, menarik keluar sebuah plakat emas yang memancarkan pendaran cahaya suci dan ukiran aksara 'Tanpa Batas'.

Melihat plakat tersebut, mata keenam penjaga Puncak Inti Emas itu seketika membelalak. Tombak yang terarah ke dada Shen Yuan segera ditarik kembali. Mereka serentak menangkupkan kedua tangan di depan dada, memberikan penghormatan prajurit yang dalam.

"Plakat Emas Abadi... Tanda kehormatan tertinggi dari Tuan Kota," ucap penjaga itu, nadanya yang sebelumnya angkuh kini berubah penuh kehati-hatian. Ia melirik Shen Yuan dari atas ke bawah, mencoba menembus penyamarannya. "Hanya petarung yang memenangkan seratus babak di Arena Seribu Darah tanpa kekalahan yang berhak mendapatkannya. Tuan... silakan melintas."

Mereka membuka jalan, membiarkan Shen Yuan berjalan melewati mereka.

Di dalam hati, para penjaga itu menggigil. Kabar tentang seorang pemuda iblis yang membantai Seratus Babak dan memenggal Xue Tu si Jagal Berdarah dalam satu serangan telah menyebar ke seluruh petinggi kota pagi ini. Mereka tidak menyangka sang sosok mengerikan itu tampak sangat muda dan begitu cepat menuju Wilayah Inti.

Shen Yuan melangkah masuk ke dalam pusaran pilar cahaya perak.

Tidak seperti perjalanan lintas benua yang merobek-robek tubuh, perjalanan menuju Wilayah Inti ini terasa sangat mulus. Cahaya perak menyelimutinya dengan hangat, dan dalam sekejap mata, hukum ruang di sekitarnya berputar.

Wussshhh!

Saat Shen Yuan membuka matanya kembali, ia tidak lagi berada di pelataran batu giok Kota Gerbang Langit.

Udara yang menyerbu paru-parunya seketika membuatnya terkesiap. Hawa murni di tempat ini tidak lagi berbentuk kabut tipis atau embun. Hawa murni di sini terasa sepekat air sungai! Bernapas di tempat ini saja sudah terasa seperti menelan pil pusaka tingkat rendah secara terus-menerus.

"Selamat datang di pusat dunia fana, Bocah," suara Leluhur Darah bergema, membawa nada kenangan yang gelap. "Di sini, hukum alam sangat padat. Kau akan menyadari bahwa langit dan bumi di tempat ini sangat pelit untuk dipinjam kekuatannya. Bahkan dengan Inti Emasmu, menerbangkan diri di udara akan memakan tenaga sepuluh kali lipat lebih besar dari biasanya."

Shen Yuan melihat sekelilingnya. Ia berdiri di sebuah teras pualam yang berada di lereng sebuah gunung raksasa. Namun, ini bukanlah gunung biasa.

Gunung ini ukurannya tidak masuk akal, puncaknya menembus awan dan seolah menyangga langit itu sendiri. Di sekeliling lereng gunung ini, bertebaran pulau-pulau melayang yang terbuat dari batu giok murni, dihubungkan oleh jembatan-jembatan cahaya pelangi. Air terjun yang mengalir dari pulau-pulau itu bukan berisi air biasa, melainkan cairan hawa murni yang memancarkan kilau tujuh warna!

Di bawah teras tempatnya berdiri, terbentang sebuah kota yang ukurannya seratus kali lipat lebih besar dari Kota Bintang Jatuh. Kota Kaki Dewa. Kota yang dibangun mengelilingi pangkal Gunung Pilar Langit ini.

"Gunung Pilar Langit..." bisik Shen Yuan, mengingat keterangan dari pria tua bermata satu di Kedai Tengkorak Naga. "Kuil Dewa Perak berada di puncak gunung ini."

Shen Yuan menutupi wajahnya lebih rapat dan mulai berjalan menuruni tangga pualam menuju Kota Kaki Dewa.

Begitu ia memasuki jalanan kota, ia segera menyadari bahwa kata-kata Leluhur Darah sama sekali tidak melebih-lebihkan. Di sini, penjual daging panggang di pinggir jalan memancarkan riak Ranah Pembukaan Nadi Lapisan Keempat! Anak-anak yang berlarian bermain di gang-gang memiliki fondasi Puncak Penempaan Raga.

Di dunia ini, Inti Emas fana miliknya hanyalah batu kerikil di lautan berlian.

Namun, alih-alih merasa gentar, darah di dalam Nadi Iblis Penelan Surga justru mendidih karena kegirangan. Bagi iblis, semakin kuat mangsanya, semakin cepat ia akan tumbuh.

Tenggg! Tenggg! Tenggg!

Tiba-tiba, suara gong perak yang luar biasa nyaring dan menindas jiwa bergema dari atas langit kota.

Seketika itu juga, jutaan penduduk Kota Kaki Dewa menghentikan kegiatan mereka. Para pedagang berlutut di tanah. Para pendekar dan ahli Inti Emas fana menepi ke sisi jalan, menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan raut pemujaan dan ketakutan yang luar biasa.

"Menyingkir! Turunkan kepala kalian! Pasukan Suci Kuil Dewa Perak sedang lewat!" teriak sepasukan prajurit kota yang bergegas membuka jalan utama selebar lima puluh tombak.

Shen Yuan ikut menepi ke balik bayangan sebuah pilar bangunan, menurunkan caping bambunya, namun matanya tetap mengawasi jalan utama tersebut dengan tajam.

Dari ujung jalan, sebuah arak-arakan yang memancarkan cahaya perak menyilaukan bergerak maju. Mereka tidak berjalan kaki, melainkan mengendarai siluman Singa Bersayap Perak—binatang buas tingkat tinggi yang memancarkan aura Puncak Inti Emas!

Di atas singa-singa itu, duduk puluhan ksatria yang mengenakan zirah perak penuh, menutupi seluruh tubuh mereka hingga ke wajah. Topeng mereka berbentuk wajah dewa tanpa raut emosi. Aura yang mereka pancarkan bukan sekadar Inti Emas, melainkan aura yang telah menyatu dengan jiwa, membawa kaidah kehancuran yang mutlak.

Pelindung Kuil Dewa Perak. Masing-masing dari mereka memancarkan riak kekuatan dari Ranah Peleburan Jiwa!

Mata Shen Yuan terkunci pada lambang matahari perak yang terukir di dada zirah mereka. Itu adalah zirah yang sama persis dengan yang ia lihat di dalam ingatan Gu Xing! Zirah yang dikenakan oleh algojo yang memenggal ayahnya sepuluh tahun yang lalu.

"Tahan niat membunuhmu, Bocah! Jangan sampai auramu bocor sedikit pun!" bentak Leluhur Darah dengan sangat serius. "Masing-masing dari mereka bisa memusnahkanmu hanya dengan satu jentikan jari saat ini!"

Shen Yuan menarik napas dalam-dalam, menelan kembali hawa murni iblisnya jauh ke dalam pusaran Dantian-nya, menyamarkan dirinya menjadi batu mati. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya hingga berdarah, menahan naluri membunuh yang meledak-ledak saat melihat lambang musuh abadinya diarak tepat di depan matanya.

Di tengah arak-arakan tersebut, terdapat sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor Naga Es Bertanduk. Kereta itu tidak memiliki atap. Di atasnya, duduk santai seorang pemuda berambut perak yang memancarkan ketampanan luar biasa namun memiliki mata yang sangat sombong dan kejam. Ia tidak memakai zirah, melainkan jubah sutra perak yang sangat mewah. Pemuda ini berada di Ranah Pembentukan Inti Emas Tahap Akhir!

"Siapa pemuda itu?" bisik seorang pendekar fana yang berlutut di dekat Shen Yuan.

"Sst! Jaga bicaramu! Itu adalah Tuan Muda Bai Chen, keponakan dari Pelindung Bintang Tujuh, Tuan Bai Luo!" jawab rekannya dengan suara gemetar. "Ia baru saja turun dari puncak gunung untuk mengawasi Ujian Pemilihan Murid Luar Kuil Dewa Perak yang akan diadakan tiga hari lagi."

Mendengar nama Bai Luo, detak jantung Shen Yuan nyaris berhenti sejenak.

Pelindung Bintang Tujuh, Bai Luo. Sang pembunuh ayahnya. Dan pemuda arogan di atas kereta itu adalah keponakannya?

"Ujian Pemilihan Murid Luar..." gumam Shen Yuan dalam hati, seulas senyum yang setajam belati perlahan terukir di balik kain penutup wajahnya.

Ia telah berpikir keras bagaimana cara menembus pertahanan Kuil Dewa Perak di puncak gunung yang dijaga oleh sosok-sosok mengerikan di Ranah Peleburan Jiwa. Jika ia menyerang secara terang-terangan dengan kekuatannya saat ini, ia hanya akan menjadi debu. Namun, langit sendiri yang membukakan pintu belakang untuknya.

Ujian pemilihan. Sebuah cara yang paling sempurna untuk menyusup ke dalam jantung musuh, mempelajari letak kekuatan mereka, dan secara perlahan menyayat leher mereka dari dalam.

Tepat saat kereta kencana itu melintas di depan tempat Shen Yuan bersembunyi, Tuan Muda Bai Chen tiba-tiba menyipitkan matanya. Ia mencium sesuatu di udara.

"Berhenti!" perintah Bai Chen.

Arak-arakan raksasa itu berhenti seketika. Para Pelindung berzirah perak menoleh ke arahnya.

"Ada apa, Tuan Muda Bai Chen?" tanya salah satu Pelindung Peleburan Jiwa dengan nada datar.

Bai Chen berdiri dari kursinya. Hidungnya mengendus udara. Ia adalah seorang jenius yang sangat peka terhadap aura darah. "Ada bau busuk... bau darah fana yang kotor, tapi memancarkan niat membunuh yang sangat aneh di sekitar sini."

Tatapan Bai Chen menyapu kerumunan manusia yang sedang bersujud di sisi jalan, hingga akhirnya berhenti tepat pada sosok berjubah abu-abu bertopi bambu yang berdiri bersandar pada pilar, satu-satunya orang yang menolak untuk berlutut!

"Beraninya kau tidak bersujud di hadapan panji Kuil Dewa Perak, Fana Rendahan!" bentak Bai Chen. Ia menjentikkan jarinya. Seberkas cahaya perak yang mematikan melesat dari ujung jarinya, mengincar langsung untuk menghancurkan kedua lutut Shen Yuan!

Serangan dari Inti Emas Tahap Akhir!

Mata Shen Yuan menyipit. Jika ia menangkis serangan ini dengan Tubuh Emas Gelap-nya atau memutar Sutra Penelan Surga, ia akan membongkar seluruh rahasianya di depan puluhan ahli Peleburan Jiwa. Namun jika ia tidak menghindar, kedua kakinya akan hancur!

Dalam sepersekian kedipan mata yang menentukan hidup dan mati, Shen Yuan membuat keputusan yang sangat gila.

Ia membiarkan cahaya perak itu menghantamnya. Namun, tepat pada saat benturan, ia sengaja mematahkan tulang lututnya sendiri menggunakan hawa murninya sebelum energi perak itu menghancurkannya, menciptakan tipuan seolah serangan Bai Chen-lah yang membuat kakinya hancur!

Kraaaak!

Shen Yuan jatuh berlutut dengan keras di atas jalan pualam. Ia memuntahkan seteguk darah—darah fana biasa, menyembunyikan intisari emasnya—lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, tampak seperti semut yang baru saja dihancurkan keangkuhannya.

Melihat pemuda itu berlutut memuntahkan darah, Bai Chen tertawa meremehkan.

"Hanya sampah fana yang keras kepala," cibir Bai Chen, mengibaskan lengan jubah peraknya dan kembali duduk di atas kereta kencana. "Jalan terus. Jangan biarkan darah kotornya menodai roda keretaku."

Arak-arakan suci itu kembali bergerak perlahan menuju pusat kota, meninggalkan Shen Yuan yang masih berlutut di genangan darahnya sendiri.

Orang-orang di sekitarnya memandang Shen Yuan dengan tatapan kasihan dan ejekan, menjauhinya karena takut tertular kesialan. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang melihat sepasang mata di balik tirai caping bambu tersebut.

Mata yang tidak memancarkan rasa sakit, melainkan sebuah rencana pembantaian yang akan membalikkan seluruh Wilayah Inti Benua Pusat.

"Bai Chen... Kuil Dewa Perak," bisik Shen Yuan sedingin es purbakala. Luka di lututnya perlahan mulai menyambung kembali secara rahasia berkat penyembuhan mutlak dari Tubuh Emas Gelap-nya. "Ujian pemilihan tiga hari lagi... aku akan pastikan namaku terukir dengan darah keluargamu."

1
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!