NovelToon NovelToon
Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi / Time Travel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Calista F.

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Langit sore di atas Akademi Starfell berwarna jingga keemasan saat Freya akhirnya keluar dari Aula Tempur dengan langkah sempoyongan.

Atau lebih tepatnya… hampir merangkak.

"Aku… melihat cahaya…"

"Itu matahari sore, bodoh."

Freya langsung menatap Crimson Valkyrie dengan tatapan kosong. 'Kamu tuh gak pernah lembut ya ngomongnya.'

Pedang merah itu tergantung di pinggang Freya sekarang. Setelah latihan tambahan hampir tiga jam penuh, Profesor Rowan akhirnya mengizinkannya pulang.

Dengan syarat, "Besok kau datang lebih pagi."

Yang secara tidak langsung berarti kehidupan nerakany belum selesai.

Freya berjalan pelan melewati koridor akademi sambil memegangi pundaknya sendiri.

Badannya sakit semua.Tangannya gemetar. Kakinya rasanya hampir copot. Dan lebih parah lagi…

"Aku lapar…"

"Kondisi fisikmu memang menyedihkan."

'Bisakah sehari aja kamu gak nyerang harga diriku?'

"Tidak."

Freya menghela napas panjang. Namun di balik semua keluhan itu… anehnya dia tidak benar-benar merasa buruk.

Capek, iya.

Menderita, iya.

Tapi untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini… Freya merasa dirinya benar-benar hidup.

Bukan cuma bertahan hidup sambil berusaha menghindari death flag. Melainkan benar-benar bergerak maju. Dan itu terasa aneh. Namun sebelum Freya sempat tenggelam lebih jauh dalam pikirannya…

"Freya..." Suara lembut itu langsung membuat wajah Freya otomatis cerah.

Aria berjalan cepat menghampirinya di lorong akademi sambil memeluk beberapa buku.

Rambut cokelat mudanya bergerak pelan tertiup angin sore, sementara senyum kecil di wajahnya terlihat terlalu manis untuk kesehatan mental Freya.

DOR.

Critical damage.

'Ya Tuhan… heroine memang berbeda…'

"Kamu belum pulang?" tanya Aria.

Freya langsung berdiri lebih tegak tanpa sadar. "Belum. Aku baru selesai disiksa Profesor Rowan."

Aria tertawa kecil. "Latihannya berat ya?"

"Kalau aku mati besok, tolong bakar Profesor Rowan bersama pedangku."

"Hah?"

Freya langsung tertawa kecil melihat Aria panik.

Dan seperti biasa… reaksi Aria selalu berhasil membuat suasana hati Freya membaik.

"Kamu sendiri kenapa masih di akademi?" tanya Freya.

"Aku dari perpustakaan." Aria mengangkat buku-buku di pelukannya sedikit.

Freya melirik judulnya.

Dasar-dasar Resonansi Mana. Kontrol Artefak Tingkat Menengah. Sinkronisasi Elemen Suci.

Freya langsung merasa minder. 'Female lead bahkan rajin belajar… sementara aku hampir mati cuma buat pegang pedang.'

"Aku masih belum terlalu paham soal artefak," kata Aria pelan. "Jadi aku ingin belajar lebih banyak."

Freya langsung memegang dadanya sendiri dramatis. "Aria… kamu terlalu sempurna."

"Hah?"

"Baik, cantik, rajin, kuat… kamu manusia atau malaikat?"

Aria langsung tertawa bingung.

"Kamu ngomong aneh lagi."

"Maaf. Otakku sudah rusak habis latihan."

Mereka mulai berjalan bersama menyusuri koridor akademi yang mulai sepi.

Suasana sore terasa tenang. Cahaya jingga masuk melalui jendela-jendela tinggi Starfell, membuat lorong akademi terlihat hangat dan indah.

Dan untuk beberapa saat… Freya benar-benar lupa tentang semua death flag, plot original, dan rasa takutnya.

Sampai akhirnya...

"Kau terlihat senang."

Freya langsung refleks menegang. Suara itu dingin. Tenang. Dan terlalu familiar sekarang.

Zevian Aldric Arkwright berdiri di ujung koridor sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.

Seperti biasa, aura pria itu langsung membuat suasana sekitar terasa lebih sunyi.

Aria langsung menunduk sedikit sopan. "Yang Mulia."

Freya juga buru-buru ikut menegakkan badan. "…P-Pagi."

"..."

Freya membeku. 'ASTAGA. INI UDAH SORE.'

Ares mungkin akan ketawa sampai mati kalau mendengar itu.

Untungnya Zevian hanya menatapnya beberapa detik sebelum menjawab datar, "Sore."

Freya langsung ingin menabrakkan kepala ke tembok.

Kenapa tiap dekat pria ini IQ-nya mendadak turun?

Namun anehnya… sudut bibir Zevian terlihat bergerak sangat tipis. Hampir seperti menahan sesuatu.

"Kalian baru selesai latihan?" tanyanya.

Aria mengangguk kecil. "Freya menjalani latihan tambahan."

Tatapan Zevian langsung berpindah ke Freya. "...Aku dengar."

Freya langsung merasa harga dirinya menguap. "Tolong jangan dibahas."

"Kau membuat aula hampir terbakar."

"Itu kecelakaan."

"Kau juga hampir menjatuhkan pedangmu tiga kali."

"...Yang Mulia ternyata pengamat sekali ya."

Freya mulai curiga pria ini diam-diam memperhatikan semuanya. Dan entah kenapa… pikiran itu malah membuat jantungnya sedikit aneh.

Untungnya sebelum suasana menjadi lebih canggung...

BRAK.

Seseorang tiba-tiba muncul dari arah tangga sambil membawa kantong makanan.

"Ketemu juga."

Freya langsung memejamkan mata pasrah. Ares. Tentu saja. Pria itu berjalan santai mendekat sambil tersenyum lebar.

Dan begitu melihat Zevian juga ada di sana… "Wah." Senyumnya langsung berubah jadi lebih jahil. "Lengkap sekali."

Freya langsung punya firasat buruk. "Kamu habis ngapain?" tanyanya cepat sebelum Ares membuat masalah.

"Membeli makanan." Ares mengangkat kantong kertas di tangannya. "Aku lapar."

"Kamu hidupnya santai banget."

"Aku berbakat."

Freya ingin menyangkal… tapi sayangnya itu memang benar.

Ares melirik Freya dari atas sampai bawah lalu mengangkat alis. "Kau terlihat menyedihkan."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

"ITU BUKAN PUJIAN."

Aria sampai tertawa kecil lagi. Dan melihat Aria tertawa, ekspresi Ares sedikit melunak tanpa sadar.

Namun di sisi lain… Zevian justru diam memperhatikan Freya. Cara gadis itu berbicara. Cara ia bercanda. Cara ia tertawa lepas tanpa menjaga image bangsawan sama sekali. Sangat berbeda dari Freya yang dulu.

Freya lama tidak pernah terlihat seperti ini. Tidak pernah. Dan semakin Zevian mencoba memahami perubahan itu… semakin ia merasa bingung.

Sementara itu, Freya sama sekali tidak sadar dirinya sedang diamati. Karena sekarang fokus hidupnya berpindah ke satu hal penting yaitu Makanan.

"Apa itu?" tanyanya sambil melirik kantong Ares.

Ares tersenyum kecil. "Mau?"

Freya langsung curiga. "...Gratis?"

"Astaga." Ares memegang dadanya dramatis. "Kau menganggapku pria seperti apa?"

"Pria yang menikmati penderitaan orang lain."

"Itu benar sih."

"NAH KAN."

Ares tertawa pelan sebelum akhirnya mengeluarkan roti manis hangat dari kantongnya.

Aroma mentega dan madu langsung memenuhi udara. Dan perut Freya otomatis berbunyi.

Hening.

Aria langsung menunduk menahan tawa. Zevian memalingkan wajah sedikit. Sedangkan Ares… Ares langsung tertawa terang-terangan.

"Wah." Bahunya sampai bergetar. "Ternyata benar-benar lapar."

Freya langsung ingin menghilang dari dunia. "...Aku habis latihan tiga jam."

"Ambil saja."

Freya ragu beberapa detik sebelum akhirnya menerima roti itu pelan. "...Makasih."

Ares menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil. Dan entah kenapa… kali ini senyumnya tidak terlihat jahil. Melainkan hangat.

Freya langsung salah tingkah sendiri. Untungnya Crimson Valkyrie tiba-tiba berbicara di kepalanya.

"Pria itu berbahaya."

Freya hampir tersedak roti. 'SIAPA?'

"Yang tersenyum terus."

'...Penjelasanmu gak jelas banget.'

"Instingku tidak suka padanya."

Freya melirik Ares diam-diam. Pria itu sekarang sedang mengobrol santai dengan Aria tentang kelas artefak sambil sesekali menggoda respon gugup Aria.

Dan jujur saja… Sulit menganggapnya berbahaya saat dia terlihat seperti golden retriever kaya raya.

Namun sebelum Freya sempat membalas dalam hati...

DUAAAAAR.

Suara ledakan besar tiba-tiba mengguncang seluruh akademi. Semua orang langsung menoleh. Asap hitam terlihat membumbung dari arah menara timur akademi.

Dan dalam sekejap… suasana langsung berubah tegang.

"Itu suara apa?"

"Ledakan?"

"Menara observatorium?"

Para murid mulai panik. Guru-guru segera berlari ke arah sumber suara.

Sedangkan Freya sendiri langsung punya firasat buruk. Dan sayangnya… Crimson Valkyrie berbicara pelan di kepalanya.

"Itu bukan ledakan biasa."

Freya menegang. 'Maksudmu?'

"Ada mana yang kacau di sana."

Seketika bulu kuduk Freya berdiri.

Di sisi lain, ekspresi Ares dan Zevian juga berubah serius hampir bersamaan.

Aura santai Ares menghilang. Sedangkan tatapan Zevian langsung menjadi tajam.

"Semua murid kembali ke asrama," perintah Zevian dingin.

"Tunggu di sini."

'Aku kan mau pulang, bukan nginep di asrama.'

(Para siswa memang tidak diwajibkan untuk tinggal di asrama akademi. Mereka bisa memilih sendiri sesuai dengan kebutuhan mereka masing. Tidak ada paksaan. Tapi, setiap siswa mempunyai kamarnya sendiri di akademi, hal ini bertujuan jika siswa ada jam tambahan atau ada misi, mereka bisa istirahat di akademi agar tidak membuang waktu.)

Namun tepat saat dia hendak pergi...

"AAAAAAAH."

Jeritan terdengar dari arah luar akademi. Lalu…

PYAAAARR.

Jendela besar di ujung koridor tiba-tiba pecah.

Seekor monster bayangan hitam menerobos masuk ke dalam lorong akademi.

Seluruh murid langsung panik.

"Itu apa?"

"MONSTER?"

Makhluk itu tinggi besar dengan tubuh gelap seperti asap pekat. Matanya merah menyala. Mana hitam menguar liar dari seluruh tubuhnya.

Dan begitu melihat para murid… Monster itu langsung meraung.

Freya membeku. '...Eh?' Tunggu. Ini bukan bagian novel original.

Ares langsung bergerak cepat.

DOR.

Salah satu pistolnya muncul di tangan dalam kilatan mana hitam keemasan.

Ledakan peluru menghantam monster itu tepat di kepala.

BOOOOM.

Namun, monster itu tidak mati. Tubuhnya hanya mundur beberapa langkah sebelum kembali bergerak liar.

"Mana corruption..." gumam Zevian dingin.

Soulblade hitamnya langsung muncul di tangannya.

"Semua mundur."

Para murid langsung panik berlarian.

Aria otomatis menggenggam Aurora Hymn erat. Sedangkan Freya… Freya cuma berdiri membeku sambil memegang Crimson Valkyrie.

Jantungnya berdetak sangat cepat. Karena ini pertama kalinya dia melihat monster sungguhan.

Dan yang lebih mengerikan… Monster itu tiba-tiba menoleh tepat ke arah seorang murid perempuan yang terjatuh di lantai.

Mata merahnya menyala. Lalu ia menerjang.

"AWAS..."

Freya bergerak refleks. Tanpa berpikir. Tanpa sadar. Tubuhnya langsung melesat maju. Dan bahkan dirinya sendiri tidak tahu kenapa.

BOOOOM.

Api merah meledak dari Crimson Valkyrie. Seluruh koridor langsung dipenuhi panas. Freya berdiri tepat di depan murid itu sambil mengangkat pedangnya gemetar.

Monster itu membeku sepersekian detik karena tekanan mana Crimson Valkyrie.

Sedangkan Freya sendiri… 'YA TUHAN AKU NGAPAIN.'

"Kau maju sendiri tanpa rencana?" suara Crimson Valkyrie terdengar tidak percaya.

'AKU REFLEKS.'

"Idiot."

Monster itu meraung marah. Lalu menyerang Freya langsung. Freya refleks memejamkan mata.

CLAAANG.

Benturan besar menggema. Freya membuka mata pelan. Dan Zevian berdiri tepat di depannya.

Soulblade hitamnya menahan cakar monster itu dengan mudah. Aura dinginnya langsung memenuhi koridor.

"Kau benar-benar ceroboh." Suara Zevian rendah. Namun entah kenapa… kali ini tidak terdengar dingin.

Freya masih bengong. Sedangkan di sisi lain...

DOR. DOR. DOR.

Ares menembakkan peluru mana bertubi-tubi ke arah monster. Ledakan hitam keemasan memenuhi lorong.

Aria juga langsung memanah.

WHISSH.

Panah cahaya sucinya menembus tubuh monster. Dan untuk pertama kalinya… Empat orang itu bertarung bersama dalam satu arena yang sama.

1
aku
lagi 😁
aku
😭😭 alasan nmr 83 😭😭 🤣🤣🤣no.1 nya cembokurr 🤣🤣
aku
mulai mekar kah bunga asmara pangeran?? 😁
aku
🤣🤣🤣🤣 jlebbb 🤣🤣🤣
aku
aduduh,ngabrut 🤣🤣🤣 seminar ekonomi 🤣🤣🤣
aku
jangan2 si ares kyk emaknya 🤣
frina ayu: faktor genetik kak 😭
total 1 replies
paijo londo
lyra dulu meninggal karena TDK ada yg membantu untuk menutup gerbangnya hingga mengambil nyawanya sedangkan Freya mulai banyak yg munyukainya hingga tanpa ragu berani mengorbankan nyawanya untuk Freya 💪freya
paijo londo
celetukan Freya bikin Ares suka ketawa
paijo londo
frey lucu ya kalo ngumpat dalam hati kita yg baca jadi ketawa ngakak 🤣🤣
aku
kok kesian sm monster2 nya 😭😭
aku
res, lu lama2 gue gibeng jg. bkin reader kepo maksimal. 😭😭 agk curiga tp jg menghibur 🤣
aku
ceileeeehhh terkesimo kah kau frey 😌😌
aku
ares, lama2 kau makin mengerikan 😭😭
aku
selamatkan jantungmu frey 🤣🤣
aku
bnr, tidak fantassttt ish ish ish 😌😌🤣🤣
aku
ceplas ceplos dn bar bar kah aslinya ra??? 🤣🤣🤣
frina ayu: asbun kak dia🤣
total 1 replies
aku
heh 🤣🤣 nyukurin yg asli mati duluan 🤣🤣 astagaa
frina ayu: takutnua kalo gak dimatiin nanti rebutan tubuh kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!