Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketenangan
1 bulan berlalu, Itu waktu yang berlalu sejak Rania melontarkan kriteria gila di meja makan. Dan satu hal yang paling mengejutkan adalah tidak ada satu pun keluarganya yang membahas soal jodoh lagi.
Hening, sunyi, sepi kayak kuburan tua di tengah hutan.
Rania nyaris tidak percaya. Setiap pagi dia bangun, siap-siap mendengar suara ibu yang memulai kalimat dengan,
"Nak, kemarin ibu lihat anaknya Bu RT..." atau bapak yang tiba-tiba nyeletuk soal anak buahnya yang rajin, soleh, dan sudah punya rumah.
Tapi tidak, semuanya mati, tidak ada.
Yang ada cuma suara nasi uduk dari tetangga depan, suara ayam jago yang berisik tiap subuh, dan suara Naufal yang lebih sering nge-gas motor maticnya daripada cerita soal jodoh.
Rania ragu, apa ini kemenangan? Apa kriteria gilanya benar-benar berhasil bikin keluarganya kapok? Atau mereka diam-diam sedang menyusun strategi baru yang lebih licik?
Ah, sudahlah. Yang penting hari ini damai.
Pagi itu, Rania duduk di teras rumah sendiri.
Halaman depan rumahnya sederhana. Pagar besi cat putih yang sudah mulai mengelupas di beberapa bagian.
Pot-pot tanaman yang ibunya tata rapi di kiri kanan ada lidah mertua yang tajam kayak nasibnya, ada sirih gading yang merambat liar kayak pikiran Rania, dan ada satu pot kamboja yang tidak pernah berbunga sejak dulu.
Udara pagi masih segar belum tercemar asap knalpot dan teriakan pedagang keliling. Rania menghirupnya dalam-dalam. Dadanya terasa lega sediki tidak sepenuhnya tapi lega.
“Setidaknya hari ini aku tidak ditanya soal jodoh,” bisiknya sambil nyeruput teh manis hangat.
Krucuk...
Perutnya berbunyi bukan karena laper, tapi karena dia geli sendiri memikirkan ekspresi bapak waktu dia sebut kata 18 centimeter tempo hari. Bapak sampai merah padam kayak tomat diuber sapi. Ibu sampai jatuhin sendok. Naufal sampai batuk-batuk kayak orang ketularan TBC.
Rania tersenyum kecil, kenangan itu begitu manis lebih manis dari gula aren.
Tapi kemudian senyumnya surut. Ada sedikit rasa bersalah di dasar hati. Apa aku keterlaluan? Apa aku terlalu kasar pada keluarga yang hanya ingin melihatku bahagia?
Ah, tapi mereka juga terlalu maksa. Jadi anggap saja imbang.
Sore harinya, suasana rumah masih sama. Rania dari kamar mendengar ibu dan bapak ngobrol di ruang tamu. Topiknya soal harga cabai naik, soal tetangga yang baru beli mobil, soal uang listrik yang membengkak karena Naufal suka lupa matiin AC.
Tidak ada kata jodoh, tidak ada kata calon, tidak ada kata cowok.
Rania berbaring di kasur, kipas angin di pojok berputar pelan, bunyinya kayak orang mendengkur. Kreek... kreek... kreek...
Ponselnya bergetar.
Mila: “Ran, besok interview magang? Udah siap?”
Rania: “Udah daripada bengong di rumah mulu. Bosen gue.”
Mila: “Semangat! Eh nanti cerita-cerita soal kriteria gila lo itu lagi seru tau.”
Rania: “BAH. Itu cuma asal bunyi biar gak dijodohin.”
Mila: “Ya tapi kan jadi viral di grup tongkrongan gue semua pada ngakak.”
Rania menghela napas, dia sudah tahu Naufal pasti nyebarin tuh kriteria ke mana-mana. Biarlah, tidak ada ruginya juga. Paling cuma bahan tertawaan sebentar.
Rania: “Udah ah. gue mau tidur besok interview.”
Mila: “Ok semangat! Semoga dapet magang biar bisa move on.”
Rania tidak membalas dia matikan layar ponsel, lalu tatap langit-langit kamar yang berjamur di sudut kanan.
Magang... kesibukan...teman baru....
Mungkin itu yang dia butuhkan, bukan cinta, bukan jodoh, bukan pacar pengganti. Cukup kerjaan cukup lelah fisik cukup capek otak. Nanti, kalau sudah benar-benar pulih, mungkin dia akan buka hati lagi.
Tapi untuk sekarang... untuk sekarang, dia hanya ingin tenang. Ketenangan itu, sayangnya, sering kali tidak bertahan lama.
---
Besok pagi. Rania berangkat interview.
Lokasinya di sebuah gedung perkantoran di bilangan Sudirman. Gedungnya tinggi, berkilap, kayak pensil raksasa yang berdiri tegak menantang gravitasi. Lobi marmer putih bersih sampai Rania bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di lantai.
“Matanya masih sembab dikit,” batin nya, sedikit panik.
Tapi dia sudah sampai tidak ada jalan mundur.
Rania melangkah masuk, melewati pintu kaca otomatis yang terbuka dengan bunyi swish halus. Satpamnya ramah, tersenyum, nunjukin lift dia tekan tombol lantai 7.
Pling.
Lift terbuka lorong kantor tampak sibuk. Ada karyawan yang lalu lalang bawa map, ada yang megang laptop sambil ngopi, ada yang lagi ngobrol sambil tertawa-tawa.
Rania duduk di kursi tunggu tangannya sedikit basah. Bukan karena gugup, tapi karena deg-degan.
Tiba-tiba, seorang pria keluar dari ruangan direktur. Pria itu paruh baya, berkumis tipis, kacamata minus tebal. Dia langsung melambai.
“Mbak Rania? Silakan masuk.”
Rania berdiri menarik napas lalu masuk.
Wawancara berjalan sekitar dua puluh menit.
Pria berkumis tadi adalah Pak Heru, Direktur Marketing. Pria selanjutnya adalah Bang Didi, senior marketing. Bang Didi ini lucu dari awal sudah nyeletuk.
“Mbak Rania, yang magang di sini tahan banting gak? Soalnya target marketing kayak perang. Kalau lo gak kuat mental, lo bisa nangis di toilet.”
“Siap, Bang. Saya biasa nangis di kamar mandi rumah toilet kantor juga bisa.”
Bang Didi tertawa Pak Heru cuma geleng-geleng dan pada akhirnya, Rania resmi diterima mulai magang besok.
Rania keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Senang, lega, tapi juga sedikit takut. Bisa gak ya dia beradaptasi?
Tapi dia memutuskan untuk tidak terlalu banyak mikir jalani saja nanti juga tahu hasilnya.
---
Malamnya, di rumah, Rania umumkan ke keluarga.
“Papa, Ibu, Nauf. Aku keterima magang mulai besok.”
Ibu langsung nyengir lebar seperti bulan purnama di malam tahun baru. “Bagus, Ran! Ibu doain semoga betah.”
Bapak manggut-manggut sambil baca koran. “Kerja yang baik, nak jangan malas-malasan.”
Naufal nyruput es teh sambil main HP. “Mbak, jangan lupa nyariin pacar baru di kantor kan banyak cowok.”
Rania melotot. “NAUFAL! Gue magang buat kerja, bukan buat cari pacar.”
“Ya sama aja kenalan dulu, baru kerja toh efektif.”
“DIEM LO!”
Ibu langsung nimbrung. “Naufal, jangan ganggu kakak kamu. Dia lagi fokus bangun karier.”
“Fokus bangun patah hati, Bu sama aja.”
Ceklek!
Rania melempar sendok ke arah Naufal. Adiknya menghindar lincah kayak pesilat olimpiade.
“Mbak, lemparan lo jelek perlu latihan.”
“NAUFAL! SEKALI LAGI LO BUKA MULUT, GUE LAPORIN KE BAPAK!”
Bapak angkat muka dari koran. “Saya sudah dengar Naufal, jangan usil.”
“Iya, Pa. Maaf, Mbak.”
Naufal nyengir kuda Rania tahu adiknya tidak benar-benar minta maaf. Tapi dia terlalu lelah untuk melanjutkan pertengkaran.
Rania beranjak ke kamar. Dari balik pintu, dia dengar suara Naufal berbisik ke ibu.
“Bu, besok gue ikut anter Mbak Rania magang. Biar gue liat-liat tempatnya. Siapa tahu ada....”
“Kamu ini, fokus aja kuliah. Jangan ikut-ikut urusan kakak.”
“Urusan kakak itu urusan keluarga juga, Bu.”
Rania menggeleng dasar adik rese.
---
Malam semakin larut Rania berbaring di kasur. Pikirannya melayang-layang. Tentang Rangga, tentang magang, tentang kriteria gila yang dia lontarkan, tentang betapa dia tidak ingin dijodoh-jodohkan lagi.
Semua serasa karut marut kayak benang yang digulung kucing.
Tapi setidaknya, ada satu hal yang bisa dia syukuri sekitar sepuluh meter dari rumahnya, tidak ada yang sedang membahas ukuran 18 centimeter. Tidak ada yang membahas duda keren. Tidak ada yang membicarakan jodoh untuknya.
Untuk saat ini, Rania merasa menang. Kemenangan kecil, kemenangan yang mungkin tidak akan bertahan lama. Tapi kemenangan tetaplah kemenangan, dia akan menikmatinya selagi masih ada.