NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bangun-bangun ditodong cerai

Ruang tamu rumah keluarga Wijaya terasa pengap.

Bau obat gosok dan parfum mahal bercampur di udara. Lampu kristal di atas kepala Vivian berputar. Bukan, kepalanya yang berputar.

“Aduh... aku ada dimana?” Suaranya lemah, serak, kayak orang habis nangis tiga hari tiga malam.

Kelopak matanya berat. Saat dibuka pelan, bayangan lampu itu pecah jadi bintang-bintang. Kepalanya berdenyut. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya lemas di sofa kulit warna krem yang dingin.

Perlahan, bayangan-bayangan di sekelilingnya mulai punya bentuk. Ada wanita paruh baya dengan sanggul rapi duduk di kursi ukir, tangannya memegangi dada sambil mengipas-ngipas pakai kipas lipat. Di sampingnya berdiri gadis muda dengan wajah kesal, tangan berkacak pinggang.

Orang-orang asing. Di tempat yang asing.

Ini rumah siapa?

"Wanita jahat ini sudah bangun. Capek pura-pura? Kami capek satu jam nungguin kamu di sini!" Suara melengking itu datang dari gadis muda tadi. Bibir merahnya manyun, matanya nyalang menatap Vivian.

Vivian mengerjap. Otaknya loading.

"Shh, sudahlah Cindy," ucap wanita tua yang duduk. Wajahnya lelah, tapi sorot matanya tajam. "Ibu juga sudah tidak kuat. Biarkan saja dia cerai dengan adikmu. Daripada nanti keluarga kita yang malu terus."

Cindy. Adiknya Cindy adalah... suamiku?

Kalimat itu nyantol di kepala Vivian kayak notifikasi darurat. Vivian diam. Bukan karena paham. Justru karena otaknya lagi download paksa satu file besar: ingatan.

Ingatan terakhirnya adalah dia lagi tiduran di kos, baca novel online sambil ngunyah cimol pedas level 5. Terus tersedak. Batuk sampai nangis. Terus... gelap.

Dan sekarang dia di sini.

Tak disangka. 'Aku masuk ke dalam novel.'

Sialnya lagi, jadi pemeran figuran. Figuran paling sial. Namanya sama persis kayak di dunia asli: Vivian. Dijodohkan sama pemeran utama pria, Eric Wijaya. Tajir, ganteng, dingin. Tipe idaman pembaca.

Tapi Vivian versi novel ini bodohnya kebangetan. Dia malah ngebet sama pria matre bernama Doni. Tukang modusin harta. Dan demi Doni, Vivian tiap hari bikin ulah di rumah Wijaya. Tujuannya satu: cerai.

Di novel asli, Vivian bakal berhasil. Dia ngancam bunuh diri, Eric muak dan nyerah, lalu lempar surat cerai. Vivian tanda tangan sambil ketawa. Seminggu kemudian dia kabur sama Doni.

Terus? Eric nikah sama pemeran wanita utama, si dokter baik hati bernama Alea. Mereka punya tiga anak, hidup bahagia, punya perusahaan se-Asia Tenggara.

Sementara Vivian?

Vivian baru tahu dia hamil anak Eric setelah cerai. Telat. Dia ke Doni, berharap dinikahi. Doni cuma ketawa. Setelah harta Vivian habis buat biayain gaya hidup Doni, dan perut Vivian udah gede 7 bulan, Doni ninggalin dia.

Alasannya? "Ngapain gue ngurusin anak orang. Itu bukan anak gue."

Akhirnya Vivian kerja serabutan, kurang gizi, kurang istirahat. Dia meninggal kelelahan di kontrakan sempit, sendirian, dalam kondisi hamil 9 bulan anak mantan suami.

Akhir yang tragis. Yang bikin Vivian waktu baca aja kesel sambil umpat-umpat penulisnya.

Dan sekarang dia jadi Vivian itu.

Dingin langsung menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Tangannya refleks meraba perut. Rata. Belum kelihatan. Bagus. Berarti kehamilannya belum kebongkar. Belum ada yang tahu.

Ini bagian krusial. Di novel, semua orang dukung Eric cerai karena mereka pikir Vivian cuma istri gila harta yang nggak cinta. Kalau mereka tahu Vivian hamil, Eric bakal disetir rasa tanggung jawab. Dia nggak akan cerai. Tapi Vivian novel bakal tetap maksa, bilang "ini bukan anak kamu!" demi bisa sama Doni.

Bodoh. Bodoh banget.

"Kakak! Akhirnya kamu datang!"

Suara melengking khas remaja memecah lamunan Vivian. Cika, adik iparnya yang baru 17 tahun, lari berhamburan ke arah pintu utama rumah. Rok sekolahnya berkibar.

Vivian otomatis ngikutin arah lari Cika.

Dan napasnya berhenti.

Di ambang pintu berdiri sosok pria. Tinggi, tegap. Setelan jas Armani hitam yang rapi membungkus badan proporsionalnya. Rambut sedikit berantakan, mungkin habis dari kantor dan langsung kemari. Wajahnya... ya Tuhan. Rahangnya tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam sedingin es kutub. Tapi tetap bikin jantung cewek normal berhenti dua detik.

"Ini... kah Eric Wijaya?" gumam Vivian dalam hati. Mulutnya sedikit menganga tanpa sadar. Pantes aja pembaca novel pada kegila-gilaan. Ini bukan manusia, ini standar patung Yunani dikasih nyawa.

Eric melangkah masuk. Tatapannya langsung mengunci ke Vivian yang masih lemas di sofa. Tidak ada khawatir. Hanya ada rasa muak dan lelah yang kentara banget.

Dia berhenti tiga langkah di depan Vivian. Lalu, tanpa ngomong basa-basi, dia buka tas kerjanya, ngeluarin satu map cokelat, dan melemparkannya.

Buk.

Map itu jatuh tepat di pangkuan Vivian.

"Vivian, kalau kau ingin cerai, baiklah," suaranya berat, dingin, tanpa emosi. "Tanda tangan ini. Lalu kita bercerai. Hari ini juga."

Seluruh ruang tamu hening. Cindy mendengus puas. Mama mertua, Bu Ratna, memejamkan mata kayak udah pasrah. Cika menutup mulut, antara kaget dan senang kakaknya akhirnya bebas.

Vivian menatap map itu. Jantungnya jedag-jedug.

Ini dia. Ini bagiannya.

Di novel, Vivian bakal nangis kejer, ngambil pulpen, terus teriak, "Akhirnya! Aku bebas! Aku mau nikah sama Doni!" Terus tanda tangan. Eric bakal pergi tanpa nengok. Dan hidup Vivian mulai hitung mundur ke arah kematian tragis.

Tangannya gemetar. Bukan karena mau tanda tangan. Tapi karena nahan panik.

Semua orang belum tahu Vivian hamil. Kalau sekarang dia tanda tangan, dia ngulang rute ending tragis. Meninggal kedinginan, sendirian, dengan bayi yang nggak sempat lihat dunia.

Hal yang paling penting sekarang adalah: JANGAN SAMPAI KEHAMILANNYA KEBONGKAR. Kalau kebongkar sekarang, Eric bakal nahan dia di rumah ini pakai alasan "anak". Tapi Vivian novel yang lama bakal denial dan malah koar-koar itu anak Doni. Akhirnya tetap dicerai, tapi dengan skandal lebih parah.

Jadi solusinya cuma satu: Batalkan perceraian. Bertahan di rumah ini. Amankan kandungannya dulu.

Otak Vivian muter 200 km/jam.

Detik berikutnya, Vivian melakukan hal yang bikin semua orang di ruang tamu melotot.

"Suamiku..."

Dengan gerakan secepat kilat yang nggak cocok sama orang yang katanya baru pingsan, Vivian berdiri. Kakinya sedikit goyah, tapi dia berhasil. Dia maju dua langkah, dan langsung merangkul lengan kekar Eric.

Dia bergelayut manja. Sedekat mungkin. Sedekat itu sampai dia bisa nyium bau parfum Eric yang mahal dan maskulin. Pura-pura lemas, kepalanya dia sandarkan di bahu Eric.

"Kamu salah paham," bisik Vivian. Suaranya dia bikin selembut mungkin, sedikit serak habis pingsan biar meyakinkan. Matanya dia bikin berkaca-kaca, menatap Eric dari bawah.

Satu ruangan: Hening.

Cindy yang tadinya senyum menang langsung bengong. Kipas di tangan Bu Ratna berhenti di udara. Cika yang di pintu blingsatan, "Hah?"

Eric paling kaget. Tubuhnya menegang kayak patung. Dia menatap Vivian kayak Vivian baru saja numbuh tanduk. Selama dua tahun nikah, Vivian nggak pernah manggil dia "suamiku". Adanya "Mas Eric" ketus, atau "Hei kamu!".

"Bukankah kamu yang ingin kebebasan?" Eric akhirnya buka suara. Nadanya curiga, dingin. Dia mencoba narik lengannya, tapi Vivian pegangan makin erat. Gengsi dong, lepas-lepas di depan mertua.

Vivian gigit bibir. Harus mikir alasan. Alasan kenapa dia ngancam bunuh diri kalau nggak cerai, tapi sekarang malah gelayutan.

"Itu..." Vivian menunduk, aktingnya dia keluarkan semua. "Aku... aku kemarin pusing banget, Mas. Terus aku mimpi buruk. Mimpi kamu ninggalin aku. Aku takut..."

Napasnya dia buat tersengal. "Pas bangun, kepalaku sakit, jadi aku ngomong ngelantur. Aku nggak mau cerai, Mas. Sumpah. Aku takut mati kalau nggak ada kamu."

Bohong. Bohong besar. Tapi muka memelas + baru pingsan \= kombo maut.

"Vivian, kamu jangan main-main," Cindy maju selangkah, mukanya merah padam. "Tadi kamu teriak-teriak mau minum racun kalau Kak Eric nggak ceraikan kamu! Satu rumah denger!"

"Benar," Bu Ratna ikut menimpali, suaranya kecewa. "Ibu sampai jantungan, Nak. Kamu bilang kamu muak tinggal di sini. Kamu bilang kamu cinta sama lelaki lain. Ibu dengar sendiri."

Tusukan. Tusukan bertubi-tubi dari omongan Vivian yang asli.

Keringat dingin mulai muncul di pelipis Vivian. Oke, ini lebih susah dari yang dia kira. Dia harus pelintir faktanya.

"Itu... itu aku kesurupan, Ma," Vivian menoleh ke Bu Ratna dengan mata paling innocent yang dia punya. "Iya, Mama benar. Aku memang ngomong gitu. Tapi bukan aku! Sumpah, Ma. Kemarin aku habis dari peramal, katanya ada yang kirim guna-guna biar rumah tangga aku hancur. Makanya aku jadi nggak kayak biasanya, emosi terus, pengen cerai terus."

Eric mendengus. Jelas nggak percaya. "Guna-guna? Vivian, kamu pikir aku anak tiga tahun?"

Vivian makin panik. Matanya jelalatan mencari cara. Map sialan itu masih di tangannya. Kalau dia buang, makin curiga.

Akhirnya, dia pakai jurus pamungkas: air mata.

Tanpa aba-aba, air matanya jatuh. Satu, dua, terus deres. "Aku takut, Mas... Aku takut kamu beneran ceraikan aku. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu... Kalau kamu pergi, aku beneran bisa mati..."

Dia sengaja sebut kata 'mati' biar mereka ingat dia baru aja pingsan karena ngancam bunuh diri. Biar mereka ngerasa bersalah kalau maksa.

Dan berhasil.

Bu Ratna yang hatinya dasarnya lembut, langsung goyah. "Eric, Mama rasa... dia lagi nggak stabil. Mungkin beneran capek. Lihat tuh wajahnya pucat."

"Mama!" Cindy protes.

"Udah, Cindy." Eric mengangkat tangan, nyuruh adiknya diam. Matanya masih nalangin Vivian dari atas sampai bawah, mencari kebohongan. Tapi Vivian bertahan. Dia terus gelayutan, terus nangis, terus meremas jas Eric kayak itu pelampung satu-satunya.

Eric mendesis. Dia benci drama. Dan dia paling benci Vivian. Tapi dia juga nggak mau ada nyawa melayang di rumahnya gara-gara surat cerai.

Dengan kasar, dia melepas pegangan Vivian di lengannya. Vivian hampir oleng, tapi berhasil sok imut dengan megangin kepala.

"Suratnya tetap di sini," kata Eric dingin. Dia menunjuk map di tangan Vivian. "Kamu pikir lagi. Tiga hari. Kalau dalam tiga hari kamu masih waras dan tetap nggak mau cerai, kita bicara lagi."

Dia menatap Vivian tajam. "Tapi kalau kamu bikin ulah lagi, ngancam-ngancam lagi, aku nggak peduli kamu pingsan atau kenapa. Aku tetap ceraikan kamu. Ngerti?"

Ancaman. Tapi itu artinya Vivian dapat waktu. Tiga hari. Tiga hari buat mastiin dia nggak keguguran karena stres, tiga hari buat nyusun rencana gimana caranya bikin Eric jatuh cinta dan batal cerai selamanya.

Vivian mengangguk cepat-cepat sambil ngusap air mata. "Ngerti, Mas. Makasih, Mas..."

Eric memandangnya sekali lagi dengan tatapan muak, lalu berbalik. "Cika, antar Kakakmu ke kamar. Panggil Dokter Tirta buat periksa dia. Aku nggak mau ada drama dia pingsan lagi gara-gara guna-guna."

"Baik, Kak!" Cika lari cepat, meski mukanya bingung tujuh keliling.

Saat Eric melangkah pergi, Cindy menghentakkan kaki. "Ibu! Kenapa sih Kak Eric luluh! Padahal udah jelas dia wanita jahat!"

Bu Ratna menghela napas panjang, memijit keningnya. "Sudah, Cindy. Ibu capek. Kita lihat saja tiga hari lagi. Kalau dia masih begitu, Ibu sendiri yang akan usir dia."

Mereka semua pergi satu per satu, ninggalin Vivian sendirian di ruang tamu sambil masih memeluk map surat cerai.

Begitu sepi, Vivian langsung lemas. Dia jatuh duduk di sofa lagi. Tangannya gemetar hebat.

Tiga hari.

Dia mengelus perutnya yang rata pelan-pelan. "Tenang, Nak... Kita harus bertahan. Kita nggak boleh mati konyol kayak di novel."

Pertempuran baru saja dimulai. Dan musuhnya bukan cuma keluarga Wijaya, tapi juga reputasi 'Vivian jahat' yang sudah keburu nempel.

3 hari doang Vivian bisa gak ya?, like, komen ya besty.

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!