NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Pagi itu, mansion Widjaja tidak seperti biasanya. Tidak ada karangan bunga raksasa yang berderet di depan gerbang, tidak ada red carpet yang membentang, dan tidak ada kerumunan wartawan dengan lampu flash yang menyilaukan. Semuanya senyap, hanya beberapa mobil kerabat dekat yang terparkir rapi di area dalam.

Di ruang tengah yang telah diubah menjadi tempat akad nikah, aroma melati putih yang segar memenuhi udara. Langit berdiri dengan jas hitamnya yang sangat rapi. Rambutnya ditata klimis, wajahnya tegang namun memancarkan aura maskulin yang sangat kuat. Saat Aurora turun dengan kebaya putih modern yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, napas Langit seolah terhenti.

Prosesi akad berlangsung khidmat. Anggara Widjaja menjabat tangan Langit dengan cengkeraman yang sangat kuat, seolah memberikan peringatan terakhir sebelum mengucapkan kalimat ijab. Begitu kata "Sah" bergema, Aurora tidak bisa menahan air matanya. Ia mencium tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya, sementara Langit mengecup kening Aurora sangat lama, seolah sedang menyegel janji suci di sana.

Malam Hari: Di Kamar Aurora

Malam telah larut. Acara makan siang keluarga yang kaku dan penuh sindiran halus dari Anggara akhirnya berakhir. Berdasarkan perintah sang ayah, Langit seharusnya kembali ke paviliun untuk menjaga citra di depan pelayan rumah. Namun, begitu pintu utama terkunci dan lampu lobi diredupkan, Aurora tidak membiarkan Langit melangkah selangkah pun menuju area luar.

Aurora menarik tangan Langit menaiki tangga menuju kamarnya. Begitu pintu kayu jati kamar Aurora tertutup dan dikunci dari dalam, barulah keheningan yang sesungguhnya terasa. Kamar itu sudah dihias tipis dengan kelopak mawar di atas tempat tidur dan beberapa lilin aroma terapi yang menyala remang-remang.

"Mas... masa kamu tinggal di paviliun ajudan sih? Nggak seru banget. Papa tuh emang bangkotan nyebelin," gerutu Aurora sambil melepas sanggul kecilnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai indah.

Langit berdiri di dekat jendela, membuka kancing jasnya satu per satu. Ia menatap Aurora dengan tatapan yang kini jauh lebih dalam dan bebas. "Bapak hanya ingin menjaga nama baikmu, Sayang. Aku tidak keberatan kalau itu bisa membuat harimu lebih tenang."

"Nggak tenang kalau nggak ada kamu di samping aku!" Aurora menghampiri Langit, tangannya merayap masuk ke balik kemeja putih Langit yang kini sudah tidak terkancing. "Malam ini kamu nggak boleh keluar dari kamar ini. Titik."

Langit terkekeh pelan, suara tawanya yang rendah terdengar sangat seksi di keheningan malam. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Aurora, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka. "Lalu bagaimana kalau besok pagi Pak Bambang atau Bintang mencariku di paviliun?"

"Biarin aja mereka pusing. Bilang aja Mas Ajudan sedang menjalankan tugas khusus yang sangat mendesak," bisik Aurora, matanya berkilat penuh gairah. Ia berjinjit, memberikan kecupan-kecupan kecil di rahang Langit yang tegas.

Sentuhan Aurora adalah api yang langsung membakar sisa-sisa kedisiplinan Langit. Pria itu mengangkat tubuh Aurora dengan mudah, membuat Aurora secara refleks melingkarkan kakinya di pinggang Langit. Ia membawa Aurora menuju tempat tidur, membaringkannya dengan sangat lembut di atas hamparan kelopak mawar.

"Aku mencintaimu, Aurora. Lebih dari apa pun," bisik Langit di telinga Aurora. Suaranya serak, penuh dengan keinginan yang telah ia pendam selama berbulan-bulan sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini sebagai penjaga.

"Aku juga mencintaimu, Mas..." balas Aurora, napasnya mulai memburu.

Langit menunduk, mencium bibir Aurora dengan penuh penguasaan. Ciuman mereka kali ini tidak lagi terburu-buru seperti saat sembunyi-sembunyi di lobi atau paviliun. Kali ini, ciuman itu melambangkan kepemilikan yang sah. Tangan Langit yang kasar menyusuri kulit punggung Aurora yang halus, membuka ritsleting kebaya putih itu dengan sangat perlahan, seolah sedang membuka sebuah hadiah yang sangat berharga.

Lampu tidur yang remang-remang membiaskan bayangan mereka di dinding. Setiap sentuhan Langit terasa begitu presisi dan penuh perasaan, membuat Aurora merasa dirinya benar-benar dipuja. Langit tidak lagi menjadi ajudan yang kaku; ia menjadi seorang suami yang sedang memetakan setiap inci keindahan istrinya.

"Kamu milikku sekarang," gumam Langit di sela-sela ciumannya yang turun ke leher dan bahu Aurora.

"Dan kamu milikku selamanya," sahut Aurora dengan desahan halus yang memenuhi ruangan.

Di kamar itu, di balik pintu yang terkunci rapat dari otoritas Anggara Widjaja, mereka menciptakan dunia mereka sendiri. Tidak ada lagi sekat antara majikan dan bawahan, tidak ada lagi perbedaan kasta yang menyakitkan. Hanya ada dua jiwa yang akhirnya menyatu dalam simfoni gairah dan cinta yang suci.

Pagi Hari: 05:00 WIB

Sinar matahari pagi mulai menembus celah gorden. Langit terbangun lebih dulu, insting militernya masih tetap terjaga. Ia menatap Aurora yang masih terlelap di pelukannya, wajah istrinya tampak begitu damai dengan sisa-sisa kebahagiaan semalam.

Langit mengecup bahu Aurora yang terbuka. "Bangun, Sayang... Aku harus segera ke bawah sebelum Bapak atau Elang bangun."

Aurora menggeliat, menarik selimutnya lebih tinggi. "Eung... sebentar lagi, Mas. Aku masih mau peluk kamu."

"Aku juga mau tetap di sini selamanya," Langit mengusap rambut Aurora. "Tapi aku tidak mau hari pertama kita sebagai suami istri dimulai dengan keributan di ruang makan karena aku ketahuan tidur di sini."

Aurora akhirnya membuka matanya, cemberut menatap suaminya. "Nyebelin banget sih punya Papa kayak gitu. Awas aja kalau kita sudah pindah nanti, aku nggak akan kasih dia kunci rumah kita."

Langit tertawa pelan sambil mengenakan kembali pakaiannya. Ia sempat mencium bibir Aurora sekali lagi sebagai salam perpisahan sementara. "Tunggu aku di meja makan nanti. Aku akan tetap menjadi ajudanmu di depan mereka, tapi ingat... di sini," Langit menunjuk hatinya, "Aku adalah penguasamu."

Aurora tersenyum lebar, wajahnya merona merah. "Iya, suamiku yang paling ganteng sejagat raya. Sana hus, pergi! Nanti ketahuan Pak Bambang lagi!"

Langit menyelinap keluar melalui pintu balkon yang terhubung dengan akses tangga samping—sebuah jalur rahasia yang sudah mereka petakan sebelumnya. Saat ia menapakkan kakinya di rumput taman yang masih berembun, ia menarik napas dalam. Statusnya mungkin masih terlihat sama di mata dunia, tapi baginya, segalanya telah berubah. Ia bukan lagi sekadar penjaga rumah Widjaja; ia adalah pelindung dari jantung hati sang primadona.

Dan bagi Langit, itu adalah jabatan tertinggi yang pernah ia miliki.

***

Pagi pertama setelah pernikahan seharusnya menjadi momen yang tenang, namun di kediaman Widjaja, suara bariton Anggara sudah menggelegar di area lobi sebelum jam menunjukkan pukul tujuh. Langit berdiri tegak di posisi siaga, kepalanya sedikit menunduk sementara Anggara berdiri di depannya dengan wajah memerah, menunjuk-nunjuk dada Langit dengan telunjuknya.

"Kamu telat lima menit dari jadwal pemanasan mobil! Jangan mentang-mentang kamu sudah punya status baru di rumah ini, kamu bisa lalai! Saya tidak butuh menantu yang pemalas, saya butuh ajudan yang kompeten!" bentak Anggara, suaranya menggema hingga ke lantai atas.

Langit tidak membela diri. Ia tetap diam, menerima rentetan amarah itu dengan profesionalisme yang kaku. "Mohon maaf, Pak. Saya salah, saya akan pastikan hal ini tidak terulang."

"Kesalahan kecil adalah awal dari kegagalan besar! Kalau kamu tidak sanggup membagi waktu antara 'peran' barumu dan tugasmu, lebih baik kamu—"

"PAPA STOP!"

Suara pekikan nyaring itu memotong kalimat Anggara. Aurora muncul di puncak tangga, sudah tampil modis dengan blazer berwarna biru pastel dan tas tangan bermerek yang tersampir di bahunya. Ia menuruni tangga dengan langkah cepat—seolah kakinya tidak pernah cedera sama sekali—dan langsung menghambur ke tengah-tengah antara ayahnya dan Langit.

Aurora berdiri membelakangi Langit, merentangkan tangannya seolah menjadi perisai hidup bagi suaminya.

"Ngapain sih marahin suami aku kayak gitu! Papa tuh berisik banget pagi-pagi, ganggu orang lagi mau berangkat kerja aja," semprot Aurora tanpa rasa takut.

"Aurora! Ini urusan kedisiplinan kerja! Dia telat—"

"Cuma lima menit, Pa! Lima menit itu bahkan nggak cukup buat Papa habisin satu cangkir kopi! Jangan berlebihan deh," Aurora berbalik, menarik lengan Langit agar berdiri di sampingnya. Ia mengusap bahu Langit yang tegang, memberikan tatapan menenangkan.

"Ayo Mas, kita pergi. Anterin aku ke studio ya," ajak Aurora sambil menarik tangan Langit menuju pintu keluar.

"Aurora! Papa belum selesai bicara dengan dia!" teriak Anggara dari belakang.

Aurora menoleh sebentar sambil menjulurkan lidahnya. "Bodo amat Mas Langit aku pinjem bentar! Papa berangkat sama Pak Bambang aja hari ini, atau minta Kak Elang yang nyetirin. Dadah Papa bangkotan!"

Begitu mereka sampai di dalam mobil dan keluar dari gerbang rumah, suasana kaku yang tadi melingkupi Langit perlahan mencair. Langit menghela napas panjang sambil memutar kemudi, sementara Aurora duduk di sampingnya, sibuk mencari lagu di playlist ponselnya.

"Mas, maaf ya. Papa emang nyebelin banget, beneran deh. Makin tua makin kayak mercon," cetuk Aurora sambil melirik Langit yang masih tampak fokus menatap jalan.

Langit tersenyum tipis, sebuah senyum yang hanya ia perlihatkan pada Aurora. "Aku nggak apa-apa, Ra. Memang aku yang salah tadi, bangunnya agak kesiangan."

Aurora tertawa kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahu Langit meski suaminya itu sedang menyetir. "Ya iyalah kesiangan, gara-gara siapa coba? Gara-gara istrinya yang manja ini kan?"

"Salah satunya," jawab Langit jujur, tangannya yang satu lagi meraih jemari Aurora dan mengecupnya singkat. "Tapi tetap saja, di depan Bapak, aku harusnya lebih sigap."

"Udah deh, jangan bahas 'Bapak' atau 'Ajudan' dulu kalau lagi berdua. Kamu itu suami aku, bukan bawahannya Papa kalau lagi di dalam mobil ini," Aurora menegakkan duduknya, menatap Langit dengan mata berbinar. "Tapi tenang aja, selama ada aku, aku bakal jagain kamu terus dari singa galak itu. Aku nggak akan biarin Papa bikin kamu ngerasa rendah cuma karena status kerja kamu."

"Makasih ya, Ra. Kamu hebat banget tadi di depan Bapak. Aku sampai kaget kamu berani bilang beliau 'bangkotan'," Langit tertawa renyah, suara yang selalu membuat hati Aurora meleleh.

"Habisnya aku kesel! Kamu itu udah dandan rapi, udah ganteng, eh malah dimarahin cuma gara-gara lima menit. Harusnya Papa itu bersyukur punya menantu kayak kamu. Kalau aku nikah sama Roni, mungkin jam segini Roni masih ngigo di Aussie," Aurora mendengus.

"Kamu nggak nyesel? Nikah sama aku yang tiap pagi harus kena semprot Papa kamu?" tanya Langit pelan, nadanya sedikit serius.

Aurora langsung melepaskan sabuk pengamannya sebentar—hanya untuk condong ke arah Langit dan mencium pipi pria itu dengan gemas.

"Nggak akan pernah nyesel, Mas. Mau Papa marah tiap jam pun, asal pulangnya aku bisa peluk kamu, itu udah cukup buat aku. Lagian, makin Papa marah, makin aku pengen buktiin kalau pilihan aku itu yang terbaik."

Langit merangkul leher Aurora dengan satu tangan saat mobil berhenti di lampu merah. "Aku janji akan segera bawa kamu pindah dari sana. Aku nggak mau kamu terus-terusan berantem sama Papa gara-gara aku."

"Sabar ya, Mas. Kita tabung dulu uangnya buat beli rumah yang ada taman bunganya, biar aku bisa ngelukis kamu setiap hari tanpa ada yang ganggu," Aurora menggenggam tangan Langit erat. "Oh iya, nanti di studio jangan nungguin di luar ya. Masuk aja, temenin aku di ruang ganti. Aku mau pamer ke Mayang kalau suami aku ini makin hari makin glow up."

"Ra, itu namanya cari masalah lagi sama kru studio," Langit menggelengkan kepala, namun ia tidak bisa menahan tawa.

"Biarin! Dunia harus tahu kalau 'Mas Woo-seok' ini sudah resmi jadi milik Aurora Widjaja."

Sepanjang perjalanan menuju studio, tawa dan obrolan santai mereka memenuhi kabin mobil. Bagi Langit, omelan Anggara tadi pagi seolah menguap begitu saja. Selama ada Aurora yang menjadi tameng dan penghibur hatinya, ia merasa sanggup menghadapi ribuan amarah Anggara sekalipun. Karena di balik seragam ajudannya yang kaku, ia memiliki seorang istri yang selalu siap menjaganya dengan keberanian yang tak terbatas.

1
Rita Rita
sabar ya Ra,,, cinta seorang bapak itu beda, bapak mu mungkin belajar dari kasus si Sahroni dan teman temannya dulu sebagai anggota DPR 🤭🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: heh🤣 nanti ditempeleng Anggara loh kak😄
total 1 replies
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣
aurora gitu dechhhh
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣🤣🤣
penyelamatttt
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!