NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah Sekolah, Pindah Masalah

Matahari pagi di Jakarta biasanya membawa harapan bagi banyak orang, namun bagi Satria, matahari hanyalah lampu sorot yang memperjelas keberadaan makhluk-makhluk yang seharusnya sudah pensiun dari dunia fana. Satria berdiri di depan gerbang SMA Wijaya Kusuma, sebuah bangunan kolonial yang tampak megah sekaligus mengancam. Temboknya yang tebal berwarna putih gading tampak mulai mengelupas di beberapa sudut, memberikan kesan "tua" yang sangat disukai oleh para hantu penyuka estetika kuno.

​Satria membetulkan letak kacamata minusnya yang melorot. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang—bukan karena ia takut pada pelajaran Fisika atau takut dirundung kakak kelas, melainkan karena ia melihat seorang pria Belanda bertubuh tambun sedang duduk santai di atas atap gerbang sekolah sambil mencoba mengupil menggunakan jari telunjuk yang hanya menyisakan tulang putih mengkilap.

​"Aduh, Gusti... baru gerbang depan sudah disuguhi atraksi kalsium," gumam Satria pelan. Ia menunduk, berusaha sekuat tenaga tidak melakukan kontak mata dengan si hantu meneer tersebut. Salah satu aturan emas menjadi seorang Indigo Semprul adalah: Jangan pernah menoleh kalau mereka tidak memanggil, dan kalau mereka memanggil, pura-puralah budeg.

​Satria adalah cowok yang sebenarnya cukup tampan jika saja ia tidak terlihat seperti orang yang tidak tidur selama tiga periode kepresidenan. Lingkaran hitam di bawah matanya begitu pekat, hasil dari begadang tiap malam bukan karena bermain game Mobile Legends, melainkan karena harus mendengarkan curhatan seorang hantu wanita di kosan lamanya yang gagal move on karena ditinggal menikah oleh pacarnya di tahun 1998.

​Begitu ia melangkahkan kaki melewati gerbang, suhu udara mendadak turun sekitar lima derajat. Satria merasakan bulu kuduknya berdiri tegak seperti sedang melakukan upacara bendera. Ia tahu ini bukan efek AC sentral, karena sekolah ini masih menggunakan kipas angin berkarat yang suaranya mirip helikopter jatuh.

​"Permisi, permisi..." Satria berbisik sambil melewati koridor yang ramai oleh siswa-siswi baru.

​"Heh, kamu!" sebuah suara melengking menghentikan langkah Satria.

​Satria membeku. Ia menoleh perlahan ke arah kiri, ke arah koridor menuju toilet perempuan. Di sana, seorang siswi berseragam kuno dengan gaya rambut ala noni Belanda sedang berdiri mematung. Wajahnya sangat pucat, hampir transparan, namun yang membuat Satria ingin melepaskan ginjalnya karena kaget adalah kenyataan bahwa siswi itu sedang mencoba memakai lipstik merah menyala, tapi bibirnya berpindah-pindah posisi; kadang di bawah dagu, kadang di dahi, lalu menetap di leher.

​"Neng... kalau mau dandan, cari cermin yang nggak retak, ya. Itu bibirnya miring sampai ke urat nadi," celetuk Satria tanpa sadar. Mulutnya memang seringkali lebih cepat bertindak daripada otaknya yang sedang ketakutan.

​Hantu itu berhenti memulas lipstik. Matanya yang merah melotot lebar ke arah Satria. "Kamu... kamu bisa lihat aku?"

​Satria langsung menepuk jidatnya keras-keras. Bego, Sat! Harusnya kamu pura-pura buta!

​"Nggak, Neng! Saya lagi latihan teater untuk peran orang gila!" seru Satria panik. Ia langsung melakukan gerakan tari piring secara asal-asalan sambil berjalan mundur. "Saya buta! Saya tidak lihat apa-apa! Saya cuma bicara sama tembok! Temboknya bagus, ya, semennya kuat!"

​Ia langsung lari tunggang langgang, mengabaikan teriakan hantu itu yang merasa terhina karena dibilang miring. Satria berlari menuju lapangan sekolah, tempat di mana pengumuman pembagian kelas ditempel. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia bersandar di bawah pohon beringin besar di tengah lapangan—sebuah kesalahan taktis besar bagi seorang indigo.

​“Ehem.”

​Suara deheman berat terdengar dari atas pohon. Satria mendongak dan melihat sepasang kaki tanpa badan sedang berayun-ayun di dahan paling bawah.

​"Ya Tuhan... pagi-pagi sudah ada yang latihan akrobat," keluh Satria dalam hati. Ia memutuskan untuk pindah ke tengah lapangan yang panas terik, karena hantu biasanya benci sinar matahari langsung yang bikin kulit mati mereka tambah gosong.

​Di tengah kerumunan siswa yang berdesakan melihat papan pengumuman, Satria tiba-tiba merasakan sebuah tarikan magnetis di dadanya. Sebuah perasaan yang sudah sepuluh tahun tidak ia rasakan. Di antara ratusan kepala, ia melihat seorang gadis yang berdiri dengan tegak, memegang papan jalan dengan wibawa seorang pemimpin.

​Gadis itu memiliki rambut hitam legam yang dikuncir kuda, kulit kuning langsat yang bersinar di bawah terik matahari, dan sepasang mata cokelat yang tajam namun menyejukkan.

​"Arini?" bisik Satria. Dunianya seakan berhenti berputar.

​Itu adalah Arini. Cinta pertamanya saat mereka masih duduk di bangku TK dan awal SD. Gadis yang dulu selalu membela Satria ketika Satria menangis ketakutan karena melihat "om-om hitam besar" di perosotan taman bermain. Gadis yang pernah menjanjikan akan menikahinya dengan mahar satu kotak susu cokelat.

​Satria merasa hatinya mencair. Apakah ini takdir? Setelah pindah ke luar kota selama sepuluh tahun, mereka dipertemukan kembali di sekolah yang paling angker se-Jakarta.

​Namun, keindahan momen itu segera berganti dengan pemandangan yang membuat nyali Satria menciut hingga seukuran kacang atom. Di belakang Arini, melayang sebuah sosok yang sangat mengerikan. Sosok itu mengenakan seragam perwira militer Belanda lengkap dengan medali-medali karatan di dadanya. Masalahnya adalah, perwira itu tidak memiliki kepala. Ia memegang sebilah pedang panjang yang ujungnya menyentuh lantai koridor, menciptakan suara sring... sring... yang hanya bisa didengar oleh Satria.

​Setiap kali ada siswa laki-laki yang mencoba mendekati Arini atau sekadar bertanya tentang jadwal, si Meneer tanpa kepala itu akan mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher siswa tersebut. Meski pedang itu transparan dan tidak melukai fisik, namun energi dingin yang dihasilkan membuat para siswa itu mendadak menggigil, mual, dan langsung menjauh dari Arini dengan wajah pucat.

​"Gila... pelindungnya kelas berat," gumam Satria. "Bukan cuma ganteng, tapi saingan gue sudah meninggal dua ratus tahun lalu."

​Satria mencoba memberanikan diri. Ia harus menyapa Arini. Ia ingin tahu apakah Arini masih mengingat si bocah penakut yang dulu sering memegang ujung roknya karena ketakutan melihat hantu. Satria merapikan seragamnya, menyisir rambutnya dengan jari, dan memasang senyum yang menurutnya paling manis—meskipun sebenarnya lebih mirip orang yang sedang menahan mulas.

​Ia berjalan mendekat. Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat aura dingin yang memancar dari si Meneer tanpa kepala.

​"Permisi... Arini?" tanya Satria dengan suara yang sedikit bergetar.

​Gadis itu menoleh. Senyum ramah tersungging di bibirnya yang kemerahan alami. "Iya? Ada yang bisa dibantu? Kamu mau tanya kelas?"

​Suara itu... masih sama lembutnya. Satria merasa seperti kembali ke masa kecil. Emosinya meluap, ada rasa rindu yang menyesakkan dada, namun sekaligus rasa takut yang luar biasa karena si Meneer tanpa kepala kini sudah berada tepat di depan hidungnya.

​Leher si Meneer yang buntung dan masih tampak berdarah (hitam pekat) itu hanya berjarak beberapa senti dari wajah Satria. Bau tanah kuburan yang lembap dan aroma parfum tua yang menyengat langsung menusuk hidung Satria.

​“KAU... JANGAN MACAM-MACAM DENGAN NONI INI...” sebuah suara low-frequency bergema langsung di dalam tengkorak Satria.

​Satria menelan ludah keras-keras. Matanya bergetar antara menatap mata Arini yang cantik atau menatap bagian kosong di atas bahu perwira Belanda itu. Arini mengernyitkan dahi, bingung melihat siswa di depannya yang wajahnya mendadak berubah dari pucat menjadi ungu, lalu hijau.

​"Kamu nggak apa-apa? Wajah kamu kok kayak pelangi?" tanya Arini khawatir. Ia mengulurkan tangannya, hendak menyentuh dahi Satria untuk mengecek suhu tubuh.

​Begitu tangan Arini bergerak, si Meneer langsung mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap menebas siapa pun yang berani menyentuh "Noni"-nya.

​"STOP! JANGAN!" teriak Satria spontan sambil melompat mundur tiga langkah.

​Seluruh lapangan mendadak sunyi. Semua siswa menatap Satria seolah-olah dia adalah alien yang baru saja jatuh dari piring terbang. Arini tertegun, tangannya menggantung di udara.

​"Maksudku... jangan... jangan khawatir! Aku sehat walafiat!" ujar Satria dengan tawa yang dipaksakan dan terdengar sangat sumbang. "Aku cuma... eh, aku cuma kaget karena ada lalat besar di depan hidungku tadi. Lalatnya... pakai seragam Belanda. Eh, maksudku lalatnya besar sekali!"

​Arini tertawa kecil. Suaranya seperti denting lonceng yang membuat emosi Satria kembali stabil, meskipun si Meneer masih menatapnya dengan aura membunuh. "Kamu lucu banget, ya. Kamu siswa baru? Namanya siapa?"

​"Satria. Satria Pratama," jawab Satria, mencoba kembali tenang.

​Arini tampak berpikir sejenak. "Satria? Nama itu rasanya familiar... Apa kita pernah ketemu?"

​Jantung Satria serasa mau copot. Dia ingat! Dia ingat!

​"I-iya, kita dulu satu TK di—"

​Belum sempat Satria menyelesaikan kalimatnya, si Meneer tanpa kepala tiba-tiba melakukan gerakan provokatif. Ia memasukkan jari lehernya yang buntung ke dalam lubang telinga Satria secara gaib. Rasanya sangat geli dan dingin, seperti ada es batu yang dimasukkan ke dalam otak.

​"Aduh! Keluar kamu! Jangan di situ!" teriak Satria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan liar, seperti orang yang sedang mendengarkan musik metal garis keras.

​Arini mundur satu langkah, wajahnya menunjukkan ekspresi antara kasihan dan ingin lari. "Satria... kamu yakin kamu nggak butuh ke UKS?"

​"Enggak, Arini. Aku cuma... aku punya bakat menari leher yang mendadak," ujar Satria sambil memegangi telinganya yang terasa beku. "Oh iya, soal kita ketemu dulu... lupakan saja. Mungkin itu cuma perasaanmu."

​Satria menyadari, jika ia terus berada di dekat Arini sekarang, ia bisa mati konyol karena serangan jantung atau gila karena diganggu si Meneer. Ia harus menyusun strategi. Ia harus belajar bagaimana cara menyingkirkan atau setidaknya berdamai dengan pelindung gaib Arini yang sangat posesif itu.

​"Aku masuk kelas dulu ya, Arini! Sampai jumpa di... di mana saja asal nggak ada Meneer!" seru Satria sambil berlari kencang menuju gedung utama.

​Arini menatap punggung Satria dengan tatapan heran. "Meneer? Dia tahu dari mana soal sejarah sekolah ini?" gumam Arini pelan. Ia tidak sadar bahwa di belakangnya, sosok tanpa kepala itu sedang mengasah pedangnya di dinding sekolah, meninggalkan bekas cakaran gaib yang sangat dalam.

​Satria terus berlari hingga sampai di depan kelas 10-A. Ia bersandar di pintu, mencoba mengatur napasnya. Di dalam hatinya, berkecamuk berbagai perasaan. Bahagia karena bertemu Arini, sedih karena Arini tampak lupa padanya, dan dongkol setengah mati karena kemampuan indigonya selalu saja merusak momen romantisnya.

​"Gue nggak boleh menyerah," tekad Satria dalam hati. "Kalau saingannya manusia, gue bisa ajak duel main game. Tapi karena saingannya hantu Belanda, gue rasa gue harus mulai stok garam dapur dan lidi aren yang banyak."

​Hari pertama di SMA Wijaya Kusuma baru saja dimulai, dan Satria sudah tahu bahwa tiga tahun ke depan akan menjadi kombinasi antara komedi putar yang rusak, film horor anggaran rendah, dan perjuangan cinta yang sangat absurd.

​Satria melangkah masuk ke kelas, siap menghadapi masalah baru. Benar saja, di bangku paling belakang, sudah duduk seorang hantu siswa dengan kepala terbalik yang sedang asyik membaca buku Fisika secara terbalik juga.

​"Pagi, Satria," sapa hantu itu dengan suara serak.

​Satria menghela napas, duduk di bangku paling depan agar jauh dari hantu itu. "Pagi, Tong. Jangan tanya gue rumus gaya gravitasi, ya. Gue lagi pusing."

​Selamat datang di hidup Satria, si Indigo Semprul yang malang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!