Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permainan "cekik-cekikan"
Tak terasa mentari lengser dengan cepat. Siang yang penuh darah dan malu itu digulung senja, lalu dimuntahkan lagi jadi malam. Rembulan yang indah nongol di langit 80-an, bulat, pucat, nontonin drama rumah Jendral kayak nonton wayang.
Di kamar utama — kamar yang lima tahun kosong, dingin, cuma diisi debu dan bisik-bisik hantu — sekarang lampunya temaram. Hangat. Hidup.
Anna duduk di depan meja rias kayu jati. Kaca besar di depannya mantulin sosok yang asing buat rumah ini: wanita cantik, kebaya tipis warna gading, rambut sebahu dibiarkan tergerai. Ujung jemarinya mainin sisir perak, tapi nggak nyisir. Cuma muter-muter. Satu. Dua. Tiga.
Senyumnya tipis. Bukan senyum bahagia. Senyum panglima perang yang lagi gelar peta.
Setiap gerakan jarinya penuh strategi. Otaknya nggak diam. Pagi tadi dia menang ronde pertama. Widuri K.O. Ratna lumpuh. Komandan Arjuna + Chandrawati udah ngaku cucu. Tapi perang belum selesai. Ini baru pembukaan.
Bukan dia yang maksa keluar dari gudang. Dia _dikeluarin_. Didobrak. Dipancing. Bukan dia yang mau perang. Tapi lawan yang dateng bawa bedil, bawa satu keluarga, bawa kata "anak haram".
Kalau ditantang, Anna abad 21 nggak mundur. Dia cuma ganti papan catur.
_Klik._
Suara pintu kamar kebuka pelan. Terus ditutup lagi. Pelan juga. Tapi kunci diputer. _Klek._
Anna nggak nengok. Dia udah tau. Dari bau. Tembakau, peluh, minyak rambut tancho, sama amarah yang baunya lebih nyengat dari semua.
Di cermin, bayangan muncul. Tinggi. Tegap. Seragam PDU udah lepas, tinggal kaos oblong putih sama celana bahan. Tapi aura Jendral-nya nggak bisa dilepas. Nempek kayak kulit kedua.
Sebelum Anna sempat buka mulut, tangan kekar itu udah nyamber. Nggak kasar, tapi mutlak. Nggak ke pipi. Ke leher. Jenjang. Langsung ke belakang leher, nyengkeram tengkuk. Ditarik.
"Kh—"
Punggung Anna kejedot dada bidang. Keras. Panas. Jantung Chandra jedug-jedug di tulang belikatnya. Kepala Anna ketarik, dipaksa ndongak, sampe pelipisnya nempel pas di bawah dagu Chandra. Posisi dikunci.
Di cermin, sekarang ada dua bayangan. Temaram lampu minyak bikin kulit mereka kayak emas gelap. Dua musuh. Satu cermin. Satu napas memburu.
"Cikal," suara Chandra rendah. Serak. Bukan nanya. Nintrogasi. "Dia benar anakku?"
Seharian otaknya kayak oven. Dibakar. Cikal. "Paman". "Pelaut". "Mirip Chandra kecil". Kata Anna pagi tadi nusuk harga dirinya, dicabut, ditusuk lagi. Berulang. Sampai ubun-ubunnya mau pecah.
Dia butuh jawaban. Sekarang. Malam ini. Atau dia bisa gila beneran.
Anna ngerasain jari-jari Chandra di tengkuknya. Dingin. Gemeter. Bukan karena takut. Karena nahan. Nahan mau ngeremes atau nahan mau... dia nggak tau.
Dan anehnya, Anna nggak takut. Nggak kayak 5 tahun lalu pas malam pertama, dicekik di ranjang sampe nangis, ngerasa kecil, ngerasa sampah.
Sekarang dia cuma... senyum. Miring. Lewat cermin. Natap mata biru Chandra yang nyala di pantulan kaca.
"Kalau dia bukan anakmu?" balas Anna. Enteng. Kayak nanya "mau teh apa kopi?". "Kau mau apa?"
Rahang Chandra mengeras. Gigi gemeretak. "Aku akan membunuhmu."
Kalimat itu nggak pake emosi. Dingin. Fakta. Sumpah Jendral.
Dulu, kalimat gitu bikin Anna kencing di celana. Sekarang? Anna malah ketawa. Kecil. Nggak ada suara. Cuma pundaknya naik-turun.
"Chandra," panggilnya. Lembut. Pake nama. Bukan "Jendral". Bukan "Mas". _Chandra_. "Suamiku."
Kata "suamiku" itu kayak silet. Ngiris kuping Chandra.
"Bukannya dulu kamu benci aku?" Anna lanjut. Kepalanya masih ndongak, tengkuknya masih dicekal, tapi suaranya... santai. "Benci sampe bilang mau bikin aku trauma sama kata 'menikah' di tujuh kehidupan. Inget? Aku inget. Jelas banget."
Dia diem sebentar. Kasih jeda. Biar nyerap.
"Terus kenapa sekarang maksa begini? Maksa mau tau siapa ayah Cikal? Maksa mau tau dia anakmu apa bukan? Kangen jadi bapak?"
Tangan Chandra mencengkeram lebih kenceng sepersekian detik. Anna ngerasa. Tapi nggak ngeluh. Malah lanjut.
Perlahan, jemari lentik Anna naik. Nyentuh tangan Chandra di lehernya. Nggak buat ngelepas paksa. Buat ngusap. Punggung tangan Jendral. Pelan. Ngejek.
"Siapa yang sedang kau permainkan, aku atau keluargamu?" Chandra balik nanya. Geram. Dia puter paksa kursi rias Anna pake kaki. _Kreettt_.
Sekarang mereka hadap-hadapan. Bukan lewat cermin. Langsung. Mata hazel vs mata elang. Jaraknya sejengkal. Napas vs napas. Amarah vs tenang.
"Jendral Chandra," Anna manggilnya resmi. Senyumnya belum ilang. "Apa kau ingin sekali dipanggil 'Ayah' oleh Cikal?"
Chandra diem. Nggak jawab. Karena jawabannya iya. Dan dia benci fakta itu.
"Bisa saja," bisik Anna. Makin deket. "Gampang. Kalau kau membuatku senang... aku bisa suruh dia manggilmu Ayah. Besok pagi juga bisa."
Chandra nyipitin mata. _Apa maunya?_
"Tukang kebun pun," lanjut Anna. Nadanya jatuh. Dingin. Kejam. "Kalau aku yang suruh, Cikal akan akui sebagai ayahnya. Dia nurut sama aku. Cuma sama aku. Kau? Kau cuma 'Paman Jahat' yang suka ngintip dan nyekik ibu."
Kena.
Telak.
Urat di leher Chandra nongol semua. Muka merah padam. Api kebencian yang dari pagi tadi dia tahan, sekarang dikipasin bensin sama Anna. Meledak.
PLAK.
Tangan Chandra pindah. Dari tengkuk, ke depan. Ke tenggorokan. Nyekik. Beneran nyekik. Nggak main-main. Jempol di jakun, jari lain ngunci leher. Nadanya ke atas. Kaki kursi Anna keangkat dua senti dari lantai.
"JANGAN MAIN-MAIN SAMA AKU, ANNA!" bentaknya. Suaranya pecah. "KAU PIKIR KAU SIAPA HAH?! KAU PIKIR KARENA PUNYA ANAK, KAU BISA INJEK KEPALAKU?! JAWAB! DIA ANAKKU ATAU BUKAN?!"
Wajah Anna mulai merah. Napas ketahan. Tapi matanya? Nggak takut. Malah natap Chandra lurus. Nantang. _Bunuh aja kalau berani. Mati dua kali juga boleh._
"P... paman... jahat... lepaskan... ibuku..."
Suara kecil. Geter. Tapi nyayat. Dari ambang pintu.
Konsentrasi Chandra buyar sepersekian detik. Cekikannya kendor. Nggak lepas, tapi nggak matiin.
Dua pasang mata, yang biru dan yang hazel, bareng-bareng noleh ke pintu.
Di situ, Cikal. Piyama bergambar roket. Rambut awut-awutan. Mata berkaca-kaca. Tangannya ngepal. Dada naik-turun. Dia liat ibunya dicekik. Sama "Paman" yang kemarin dia bilang galak.
Amarah bocah 4 tahun. Murni. Nggak difilter.
Chandra reflek nurunin Anna. _Bruk_. Kursi jatuh, Anna batuk-batuk, megang leher. Ada bekas merah lima jari.
Cikal lari. Nyempil. Badan kecilnya dia pasang di depan Anna. Ngalangin. Tangan kecilnya ndorong paha Chandra. Nggak goyang, tapi niatnya ada.
"Jangan sakiti Ibu!" teriaknya. Suaranya pecah. "Paman jahat!"
Chandra liat bocah itu. Liat matanya. Matanya sendiri. Liat dagunya. Dagunya sendiri. Liat keberaniannya... keberanian bodoh yang sama kayak dia waktu kecil.
Jantungnya... sakit.
Anna masih batuk, tapi tangannya cepet. Narik Cikal ke samping, ngecek. "Cikal, sayang, Ibu nggak apa-apa."
"Boong! Paman cekik Ibu!" Cikal nunjuk Chandra. Nuduh. "Paman jahat!"
Anna batuk sekali lagi, terus... ketawa. Pelan. Terus kenceng. Kayak denger lelucon paling lucu abad ini.
"Cikal," panggilnya sela batuk sama tawa. "Paman Jahat nggak nyakitin Ibu, kok."
"Tapi..." Cikal bingung.
"Ssst. Sini Ibu bisikin." Anna narik Cikal, bisik-bisik tapi setengah kenceng biar Chandra denger. "Paman Jahat sama Ibu itu lagi main, Sayang. Main 'Cekik-cekikan'."
Chandra bengong. _Apa?_
"Permainannya gini," Anna lanjut, sekarang udah nggak batuk. Matanya nakal. "Siapa yang cekikannya paling kuat, dia yang menang. Tadi Paman hampir menang. Tapi Ibu belum nyerah."
Cikal melongo. Terus matanya nyala. Mode kompetitif on. "Main? Kayak adu panco?"
"Persis!" Anna ngacungin dua jempol. "Pinter. Nah, Ibu capek. Ibu mau mandi dulu ya. Cikal gantiin Ibu main sama Paman Jahat gimana?"
Chandra: ???
"Boleh!" Cikal langsung semangat. Lupa takut. "Cikal kuat! Cikal mau cekik Paman Jahat sampe kita menang! Biar Paman nggak nakalin Ibu lagi!"
"Anak pintar," Anna ngusap kepala Cikal. Terus berdiri. Nyeleweng lehernya yang merah. _Krek._ Natap Chandra. Senyum. Manis. Manis banget. Kayak nggak baru dicekik.
"Ya udah, kalian main dulu ya. Yang akur. Jangan sampe nangis." Dia ngibas rambut, jalan ke arah kamar mandi dalem. "Ibu mandi. Lama. Pake lulur. Jangan ganggu."
_Klek._ Pintu kamar mandi nutup.
Ninggalin Jendral Agung Chandra, dengan muka merah padam, napas ngos-ngosan, dihadapin sama bocah 4 tahun yang udah kuda-kuda, tangan nyiapin mau "cekik-cekikan".
"Paman," panggil Cikal. Sopan. Tapi matanya perang. "Ayo mulai. Cikal nggak mau kalah."
Di luar, rembulan ketutup awan. Kayak malu liat.
Di dalem, Chandra baru sadar. Dia nggak lagi ngelawan istri yang dulu bisu.
Dia ngelawan Ratu Intelijen. Yang senjatanya anak kecil + mulut pedes + pinter pelintir logika.
Dan malam ini, dia kalah telak. Sama "permainan" yang dia mulai sendiri.
Dari kamar mandi, suara air sama senandung kecil Anna kedengeran.
Chandra natap Cikal. Cikal natap Chandra.
Perang ronde dua dimulai. Dan Jendral nggak yakin dia mau menang.
---
Kalo ada rezeki traktir author kopi biar kuat ngetik adegan Chandra disuruh gendong Cikal ☕❤
lnjut thor