NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Goncangan Lembah Jenggolo

Selesai pertunjukan wayang yang menggetarkan itu, suasana istana Majapahit tidak lantas menjadi tenang. Langit di atas Sidoarjo mendadak berubah menjadi merah tembaga. Burung-burung gagak terbang berputar-putar di atas pendopo, seolah memberi pertanda bahwa ada tamu tak diundang yang sedang melintasi batas dimensi.

Faris Arjuna masih duduk bersila, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Energi dari Eyang Brawijaya dan Joyoboyo tadi benar-benar menguras tenaganya. Arjuna Hidayat segera menghampiri dan memegang pundak adiknya. "Kuatkan hati sampeyan, Dikmas. Cahaya yang sampeyan nyalakan tadi mengundang laron-laron kegelapan untuk datang memadamkannya," bisik Arjuna dengan waspada.

Tiba-tiba, suara tawa melengking terdengar dari arah gerbang luar. Seorang pria berjubah hitam dengan mata merah menyala berdiri di sana, dikelilingi oleh asap hitam yang berbau busuk. "Faris Arjuna! Berani sekali sampeyan membangunkan macan tidur! Budaya yang sampeyan agungkan itu sudah kuno, sudah saatnya terkubur bersama tanah!" teriak pria itu yang dikenal sebagai Ki Ageng Blorong.

Faris berdiri perlahan, ia meraba hulu Keris Kyai Jalak Suro. "Siapa sampeyan? Datang-datang tidak salam malah mau membubarkan warisan leluhur!" sahut Faris dengan berani meski tubuhnya masih lemas.

Ki Ageng Blorong tertawa sinis. "Saya adalah utusan dari mereka yang ingin tanah Jawa ini kehilangan jati dirinya! Biarkan orang-orang lupa pada akarnya supaya mereka mudah kami jajah batinnya!" Tanpa aba-aba, ia mengibaskan tangannya, meluncurkan bola api hitam ke arah Faris.

Wusss!

Sepuluh dayang piningit serentak melompat ke depan Faris, membentuk formasi tameng dengan selendang sutra mereka. Bola api itu meledak tepat di depan barisan dayang, namun mereka tidak bergeming sedikit pun. "Jangan sentuh Panglima kami dengan tangan kotor sampeyan!" ucap dayang paling depan dengan suara tegas.

Brewok yang melihat kejadian itu dari balik pilar langsung gemetar. "Mas Jono, itu orang apa setan? Kok bisa mengeluarkan api dari tangan? Apa gas elpiji di perutnya bocor?" tanya Brewok sambil merapat ke Jono.

Jono menyiapkan sabetan sarungnya yang sudah diisi energi batin. "Itu ilmu hitam, Brewok! Jangan banyak tanya, cepat ambil air doa dari Simbok! Mas Faris butuh tambahan energi!"

Nyai Gayatri Sekar Arum muncul dari kegelapan, matanya bersinar tenang namun mematikan. "Le, inilah ujian nyata bagi ilmu Tarekat dan Manunggaling Kawula Gusti yang sampeyan pelajari. Musuhmu bukan cuma manusia, tapi ideologi yang ingin menghancurkan kebenaran. Hadapi dengan tenang, jangan pakai amarah!"

Faris mencabut kerisnya. Seketika, kilat menyambar di langit dan menyatu dengan bilah keris Jalak Suro. "Kalau sampeyan mau menghancurkan budaya Jawa, sampeyan harus melangkahi mayat Faris Arjuna dulu! tidak akan membiarkan kegelapan menang!"

Pertempuran besar di Lembah Jenggolo baru saja dimulai. Antara mereka yang menjaga cahaya leluhur dan mereka yang ingin menguburnya dalam kegelapan.

Ki Ageng Blorong tertawa terpingkal-pingkal melihat Faris yang masih nampak mengatur napas. Dengan satu jentikan jari, tanah di sekitar istana bergetar, memunculkan ribuan ular hitam yang merayap cepat menuju barisan prajurit. "Ilmu kuno sampeyan tidak akan mampu menahan serangan zaman baru, Faris! Dunia sudah berubah, dan sampeyan hanya rintangan kecil!" teriaknya.

Faris Arjuna tidak membalas dengan kata-kata. Ia memejamkan mata, mengingat pesan Arjuna Hidayat tentang Dzikir Nafas. Ia membiarkan jantungnya berdetak seirama dengan asma Tuhan. Seketika, aura emas mulai menyelimuti tubuh Sang Panglima Terminal, mengusir kabut hitam yang mengepungnya.

"Le, jangan lawan apinya dengan api. Lawanlah dengan air ketenangan batin sampeyan," suara Nyai Gayatri menggema di dalam pikiran Faris.

Faris melangkah maju. Setiap pijakan kakinya di tanah membuat ular-ular hitam itu terbakar menjadi debu keemasan. Ki Ageng Blorong yang kaget langsung menerjang dengan keris hitam bergerigi. Benturan dua energi hebat tidak terelakkan—Pling!—suara dentingan besi itu memekakkan telinga hingga membuat beberapa prajurit harus menutup telinga mereka.

"Sampeyan boleh punya ilmu setinggi langit, tapi kalau hati sampeyan kosong dari rasa sujud, sampeyan itu cuma tong kosong!" ucap Faris sambil memutar Keris Kyai Jalak Suro. Dengan gerakan yang sangat luwes—hasil didikan sepuluh dayang tempo hari—Faris menghindari sabetan musuh seolah ia adalah bayangan yang tak tersentuh.

Di sisi lapangan, Brewok memegang sapu lidi yang sudah dicelupkan ke air doa oleh Jono. "Mas Jono, itu Mas Faris kok gerakannya jadi kayak menari begitu? Apa dia lagi kesurupan dalang yang kemarin?" tanya Brewok dengan mata melotot.

Jono tersenyum bangga. "Itulah Manunggaling Kawula Gusti, Brewok! Mas Faris tidak lagi mengandalkan otot, tapi dia pasrah total. Saat dia pasrah, Gusti Allah yang menggerakkan tangannya. Lihat itu!"

Benar saja, saat Ki Ageng Blorong melancarkan serangan pamungkas berupa badai pasir hitam, Faris hanya diam mematung. Ia menancapkan Keris Kyai Jalak Suro ke tanah Majapahit sambil berbisik, "Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti!"

Seketika, ledakan cahaya putih memancar dari tanah, menghantam badai pasir hitam hingga sirna tak berbekas. Ki Ageng Blorong terpental jauh, dadanya terasa sesak seolah dihantam gunung tak terlihat. Cahaya itu bukan hanya menyerang fisiknya, tapi juga mengguncang kegelapan di dalam batinnya.

"Ini belum selesai, Faris Arjuna! Sampeyan mungkin menang malam ini, tapi dendam ini akan terus mengalir selama masih ada orang yang mau menjual jati dirinya!" teriak Ki Ageng Blorong sebelum menghilang menjadi asap hitam yang pekat.

Faris terduduk lemas, menyarungkan kembali kerisnya. Arjuna Hidayat segera merangkulnya. "Selamat, Dikmas. Sampeyan sudah melewati ujian pertama. Menang tanpa merendahkan, sakti tanpa menyakiti."

Nyai Gayatri berjalan mendekat, mengusap kepala putranya. "Perjalanan masih panjang, Le. Musuh yang sebenarnya adalah mereka yang bersembunyi di balik kata-kata manis namun berniat menghancurkan akar budaya kita. Tetaplah merunduk seperti pari."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!