Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 十二
Di dalam ruang kerja Mo Yan yang luasnya hampir menyamai luas balai pertemuan di desanya, Xi’er merasa jiwanya perlahan-lahan mulai layu seperti tanaman yang kekurangan air. Sejak satu jam yang lalu, ia hanya duduk diam di atas sofa kulit yang terlalu empuk yang menurutnya lebih mirip jebakan daripada tempat duduk, sambil memperhatikan Mo Yan yang duduk kaku di balik meja besar. Pria itu tampak sangat aneh bagi Xi'er, dia bisa menatap kotak-kotak cahaya di hadapannya selama berjam-jam tanpa bicara, hanya jarinya yang bergerak lincah mengetuk benda datar di atas meja.
"Tuan Mo, apa matamu tidak perih menatap sihir cahaya itu tanpa berkedip? Di tempatku dulu, orang yang bicara dengan benda mati biasanya sedang kerasukan roh hutan." celetuk Xi'er sambil bangkit berdiri, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama diam.
Mo Yan tidak mengalihkan pandangannya dari layar, namun sudut bibirnya bergerak sedikit, membentuk lengkungan tipis yang hampir tak terlihat. "Ini namanya bekerja Xi'er. Dunia ini bergerak dan dikendalikan melalui angka-angka dan data ini. Tanpa ini, perusahaanku tidak akan berjalan."
"Duniaku bergerak karena matahari, angin, dan musim yang berganti, bukan karena angka bisu yang melompat-lompat." gerutu Xi'er sambil berjalan menuju pintu besar ruangan itu. "Aku mau keluar sebentar. Udara di sini terlalu dingin dan berbau mesin, kepalaku pusing. Aku juga ingin mencari kamar mandi untuk membasuh wajah."
Mo Yan seketika menghentikan kegiatannya. Ia mengalihkan pandangan sepenuhnya ke arah Xi'er, matanya yang tajam menatap gadis itu dengan kilat kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik topeng datarnya. "Zuo Fan sedang mengurus berkas di lantai bawah. Vania!" panggil Mo Yan melalui alat komunikasi kecil di mejanya.
Seorang wanita muda berambut pendek bernama Vania segera masuk. Ia adalah asisten pribadi Mo Yan yang sejak tadi pagi selalu menatap Xi'er dengan pandangan kagum dan penuh rasa hormat. Berbeda dengan karyawan lain yang sinis, Vania merasa wibawa yang terpancar dari gadis desa ini sangat luar biasa, seolah ia sedang menatap seorang bangsawan yang menyamar.
"Antar Nona Lin ke kamar mandi. Pastikan dia tidak tersesat dan pastikan tidak ada yang mengganggunya walau hanya satu kata." perintah Mo Yan dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.
Xi'er langsung berbalik, matanya menyipit penuh protes. "Tuan kaku! Apa kau benar-benar menganggapku sebagai anak kecil yang belum lepas menyusu? Aku ini pernah mendaki tebing curam sendirian hanya untuk memetik satu kuntum bunga obat langka di tengah badai, masa hanya untuk mencari tempat buang air di dalam gedung berkaca ini saja aku harus dikawal seperti tahanan kerajaan yang ingin melarikan diri?"
Vania tersenyum canggung, sementara Mo Yan mendengus pelan, seolah sudah terbiasa dengan pembangkangan gadis di depannya. "Gedung ini adalah labirin bagi orang yang tidak tahu arah sepertimu. Aku tidak mau repot-repot mengerahkan seluruh keamanan gedung hanya untuk mencarimu jika kau salah masuk ruangan."
"Aku punya insting tabib! Aku bisa mencium bau air dari jarak jauh! Simpan saja pelayanmu ini untuk mengurus angka-angkamu itu!" Tanpa menunggu izin lebih lanjut, Xi'er langsung melesat keluar pintu, meninggalkan Mo Yan yang hanya bisa menghela napas panjang.
Xi'er berjalan menyusuri koridor korporat yang panjang dengan langkah yang sangat percaya diri, meskipun di dalam hatinya ia merasa sedikit pusing melihat deretan pintu dan dinding yang semuanya terlihat seragam. Ia melewati jajaran meja kerja yang rapi, mengabaikan tatapan mata yang mengikuti setiap gerakannya. Namun, di ujung lorong, sepasang mata tajam penuh kebencian dan obsesi sedang memantau setiap inci gerak-geriknya.
Siska, sekretaris senior yang telah bertahun-tahun membangun citra sempurna demi bisa bersanding di samping Mo Yan, meremas pulpen mahalnya hingga ujung jarinya memutih. Baginya, kehadiran Xi'er adalah sebuah penghinaan besar bagi harga dirinya. Siska merasa dirinya yang selalu berpakaian bermerek, memiliki gelar pendidikan tinggi, dan selalu tampil sempurna, justru diabaikan oleh Mo Yan. Sementara gadis desa yang kotor, berpakaian lusuh, dan tidak memiliki tata krama itu bisa masuk ke ruangan pribadi tuannya seolah itu adalah rumahnya sendiri.
“Dasar gadis liar tidak tahu diri. Kau pikir hanya dengan sedikit trik pengobatan desa, kau bisa memikat Tuan Mo? Aku akan menunjukkan padamu di mana tempat sampah yang pantas untukmu.” batin Siska penuh dendam.
Siska telah mengabdikan masa mudanya hanya untuk mendapatkan perhatian Mo Yan. Ia mempelajari setiap selera Mo Yan, menjaga berat badannya agar tetap ideal, dan memastikan tidak ada satu kesalahan pun dalam pekerjaannya. Baginya, Mo Yan adalah mahkota yang harus ia raih. Dan sekarang, mahkota itu sedang disentuh oleh tangan-tangan kasar seorang gadis desa. Kecemburuan yang membara membuat akal sehatnya menguap.
Ia melihat Xi'er masuk ke toilet wanita di area eksekutif yang saat itu sedang sepi karena jam kerja sedang memuncak. Siska tersenyum sinis, sebuah rencana jahat muncul di kepalanya. Ia merapikan rambutnya di depan cermin kecil, memakai lipstik merah menyala agar terlihat lebih mengancam, lalu melangkah cepat mengikuti Xi'er masuk ke dalam.
Di dalam kamar mandi yang sangat mewah dengan dinding marmer dan aroma terapi yang harum, Xi'er berdiri di depan wastafel. Ia menatap benda logam melengkung yang mengkilap (keran) dengan dahi berkerut. Ia mencoba menarik dan memutarnya, tapi air tidak juga keluar. Namun, saat ia secara tidak sengaja menggerakkan tangannya di depan sebuah kotak hitam kecil di bawah keran, air tiba-tiba memancar dengan sendirinya.
"Ah! Sihir orang kota ini benar-benar membuat jantungku hampir copot!" Xi'er tersentak mundur, namun kemudian ia mendengus kesal. "Benar-benar bangsa yang pemalas, bahkan untuk mengeluarkan air saja mereka harus memelihara jin pengintip di balik besi."
Baru saja Xi'er ingin membasuh tangannya, suara klik kunci pintu utama kamar mandi terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu. Xi'er menoleh melalui pantulan cermin besar yang ada di hadapannya. Di belakangnya, berdiri Siska dengan wajah yang penuh penghinaan, menatap Xi'er seolah-olah Xi'er adalah hama yang merusak pemandangan indahnya.
"Jadi, ini dia 'Tabib Agung' yang katanya sangat hebat itu?" Siska melangkah maju, suara sepatu hak tingginya berdentum keras di atas lantai marmer, menciptakan suasana yang mencekam. Ia melipat tangan di depan dadanya yang membusung angkuh. "Dengar ya, gadis desa. Jangan karena Tuan Mo sedang merasa kasihan padamu, kau jadi besar kepala. Di mata kami, kau tidak lebih dari sekadar mainan sementara yang digunakan Tuan Mo untuk menghibur rasa bosannya selama masa penyembuhan. Setelah dia benar-benar sembuh, kau akan ditendang kembali ke lumpur desamu yang menjijikkan."
Xi'er tidak menanggapi dengan amarah yang meledak-ledak. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyandarkan pinggulnya di pinggiran wastafel, lalu menatap Siska dengan tatapan yang sangat jernih dan mendalam, tatapan seorang tabib yang sedang mendiagnosis penyakit kronis.
"Wajahmu sangat tebal dengan bubuk warna-warni ini." ucap Xi'er dengan nada datar namun sangat dingin. "Tapi di balik lapisan itu, kulitmu tampak layu dan napasmu berbau empedu yang meradang. Kau terlalu banyak menanam rasa iri, benci, dan obsesi yang tidak masuk akal di dalam hatimu. Kau tahu? Itu adalah racun paling mematikan bagi wanita. Kau bisa terlihat seperti nenek-nenek dalam waktu singkat jika tidak segera bertobat."
Wajah Siska seketika memerah padam, ia merasa harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh kata-kata polos namun tajam dari Xi'er. "Kau berani menghinaku?! Dasar anak pungut tidak tahu malu! Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah orang yang paling lama mendampingi Tuan Mo di gedung ini! Satu kataku saja bisa membuat hidupmu hancur berantakan dalam sekejap!"
Siska melangkah semakin mendekat, hingga aroma parfumnya yang menyengat memenuhi hidung Xi'er. Siska mencondongkan tubuhnya, menatap Xi'er tepat di mata dengan sorot penuh kebencian.
"Kau pikir kau punya tempat di sini? Lihat dirimu. Baju murahan, wajah tanpa riasan, dan bau tanah desa yang melekat padamu. Kau adalah noda bagi Mo Group." desis Siska pelan namun penuh racun. "Tuan Mo itu sempurna, dan orang sesempurna dia butuh wanita yang selevel dengannya, bukan sampah sepertimu. Jika kau punya sedikit saja harga diri, kau harusnya pergi dari sini sekarang juga sebelum aku mempermalukanmu di depan seluruh karyawan."
Xi'er hanya menatapnya tenang, seolah sedang melihat seekor serangga yang sedang berisik. "Hanya orang yang merasa rendah diri yang butuh merendahkan orang lain agar merasa hebat. Kau... kasihan sekali."
"TUTUP MULUTMU!" jerit Siska, hilang kendali. Tangannya gemetar karena amarah yang memuncak. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, telapak tangannya terbuka lebar, siap untuk mendaratkan tamparan paling menyakitkan ke wajah Xi'er.
Xi'er tetap berdiri diam, matanya tidak berkedip sedikit pun saat melihat tangan Siska mulai bergerak cepat di udara menuju pipinya. Suasana di dalam kamar mandi itu seolah membeku, hanya ada suara napas Siska yang memburu dan dentuman jantung yang keras.
Namun, sebelum kulit tangan Siska menyentuh wajah Xi'er, sebuah bayangan terlihat di balik pintu kaca yang terkunci, dan sebuah suara berat terdengar memanggil nama seseorang dari kejauhan koridor, perlahan mendekat ke arah mereka.
Tangan Siska tertahan di udara sejenak, wajahnya dipenuhi amarah yang belum tuntas, sementara Xi'er hanya menatap pergelangan tangan itu dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/