NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja di atas langit Beth-ell 2

Dan sore itu, aku bersama Bima menuju tempat yang dia maksud, tak jauh dari kampus. Aku bahkan sering melewatinya.

Aku duduk di kursi panjang taman, tepat di bawah pohon perdu. Di depan kami, berdiri gereja tua. Tertera angka 1817 di bagian depannya. Mungkin itu tahun GPIB Beth-El dibangun. Meski sudah setua itu, gereja tersebut masih sangat terawat dan terlihat indah. Dan justru jejak waktu dan rekam sejarah di sanalah yang membuat tempat ini terasa istimewa.

Dan benar saja, rona jingga mulai menghiasi langit sore ini, membuat pemandangan di depanku berkali lipat lebih mempesona. "Indah sekali," gumamku, mataku tak berkedip menatap lukisan semesta yang luar biasa menawan itu.

"Dan aku sedang menikmati keindahan keduanya. Langit senja... dan kamu," katanya sambil tersenyum menatapku. Lagi-lagi aku dibuat melongo. _Fix_, ini bukan Bima yang kukenal. Bima tidak pernah menunjukkan sisi dirinya yang manis seperti ini di depanku selama ini.

Aku masih tidak percaya dengan yang kudengar. Kata-kata seromantis itu bisa keluar dari mulutnya. _Aku pasti sedang mimpi,_ ucapku pada diri sendiri.

"Nih, anak, bengong mulu kerjanya. Nilam, kenapa? Ada yang aneh?" tanyanya, lagi-lagi menjentil keningku dengan jarinya.

"Enggak... nggak apa-apa. Eh, tapi tunggu, kamu memang agak aneh sih menurutku, hehe..." jawabku datar dengan senyum yang sedikit kupaksakan.

"Masa iya, ganteng-ganteng gini dibilang aneh," ucapnya dengan tawa tertahan.

"Tapi serius, Bima, kamu beda. Nggak kayak biasanya," jelasku.

"Emang biasanya aku kayak gimana?" tanyanya lagi.

"Ehm... pokoknya biasanya nggak kayak gini. Aku ngerasa ada yang beda aja dari kamu," kataku.

Hening beberapa saat...

"Nilam, aku seneng banget. Andai bisa, aku pengin habisin waktu sama kamu kayak gini terus. Sederhana aja... cuma duduk di sini, ngobrol, dan nikmatin sore yang indah dan tenang. Rasanya aku pengin lakuin ini tiap hari sama kamu," ucapnya, pandangannya masih menatap langit dengan rona jingga yang sempurna.

_Aku nggak tahu ada apa dengan Bima hari ini, tapi terlepas dari rasa penasaranku, aku juga sangat menikmati kebersamaanku dengannya saat ini. Tuhan, kalau aku boleh minta, aku pun ingin tetap seperti ini,_ ucapku dalam hati.

"Kenapa diam?" lagi-lagi Bima mendapati aku melamun.

"Sebenarnya aku pengin nanya kenapa, dan gimana bisa? Banyak sekali pertanyaan yang numpuk di kepalaku. Tapi saat ini aku milih buat mengabaikannya saja. Aku lebih pengin nikmatin ini tanpa prasangka apa pun," kataku sambil tersenyum penuh arti ke Bima.

"Ingat selalu aku dan kita di sore ini, Nilam," katanya sambil tersenyum.

"Apa?" tanyaku pura-pura tidak mendengar.

"Udah, bukan apa-apa. Cari makan dulu, yuk. Kamu suka kebab, kan? Kebab di sebelah sana enak, lho," katanya sambil berdiri dan meraih tanganku. Dan aku mengikutinya tanpa penolakan.

Sore yang indah dan sangat berarti untukku, sebab ini pertama kalinya aku bisa sedekat itu dengan Bima. Entah kenapa aku merasa begitu terikat dengannya, padahal belum ada ikrar pacaran atau status apa pun di antara kami. Tapi aku merasa—bahkan yakin—Bima sebenarnya juga punya perasaan yang sama denganku. Perasaan "cinta".

Tiga hari kemudian...

"Hah? Bima udah tiga hari nggak masuk kuliah, kok aku nggak tahu?" Aku juga tidak tahu kenapa sejak pertemuan sore itu, Bima belum juga menampakkan dirinya di hadapanku. Bahkan percakapan terakhir yang kuingat adalah malam setelah kebersamaan kami waktu itu. Itu pun dia cuma bilang _"good night"_ di chat, tidak ada kata-kata yang mencurigakan.

Haruskah aku mengirim pesan atau meneleponnya dan menanyakan kabarnya? Ah, tidak. Aku terlalu malu untuk melakukannya. Biar saja dulu. Dia mungkin memang sengaja tidak memberitahuku. Mungkin juga aku memang tidak sepenting itu baginya, sampai dia harus repot-repot mengabariku. Ya Tuhan, perasaan macam apa ini? Kenapa rasanya sesak sekali di dada? Bukankah dia memang bukan siapa-siapaku? Lantas mengapa aku merasa dicampakkan? _Hiks..._ Dan kalau dia saja bisa mengabaikanku seperti ini, lantas kenapa aku harus repot-repot mengeluarkan air mata untuknya? Air mata yang nyatanya terus mengalir tanpa diminta.

Aku kesal sekali karena hilangnya Bima yang tiba-tiba dari hidupku. Terlebih lagi dia pergi tanpa sepatah kata pun. Memang siapa dia? Bisa-bisanya melakukan ini padaku.

Sebulan sudah aku tidak melihat Bima. Dia seperti ditelan bumi, hilang begitu saja. Akun media sosialnya tidak aktif, dan nomor HP-nya tidak bisa dihubungi. Aku sudah cari tahu lewat teman-temannya, tapi tidak ada yang tahu pasti ke mana dia pergi... Sudahlah, mungkin memang ini yang dia inginkan.

"Hufft..." Entah sudah berapa kali aku menghela napas panjang seharian ini. Moodku berantakan dan sepertinya aku telah kehilangan semangat hidupku karenanya. Aku lihat jam di tanganku, baru pukul 14.15, tapi kenapa terasa lama sekali hari ini? Semua ini gara-gara Bima. Dia yang membuat kekacauan ini. _Hiks..._ Lagi-lagi air mataku lolos tanpa seizinku. Entah kenapa juga aku masih saja mengharapkan dia setelah semua yang dia lakukan. Nyatanya, rasa sayangku padanya jauh lebih besar daripada kekesalanku.

Anak-anak satu per satu mulai meninggalkan kelas. Begitu pun aku. Dengan langkah yang terasa begitu berat, aku berjalan menuju tempat biasa menunggu angkot. Tak berapa lama angkot yang kutunggu datang, dan aku bergegas naik. Aku ingin segera pulang dan merebahkan diri di tempat tidur. Atau lebih tepatnya, menangis di atas tempat tidur, rutinitas yang sering kulakukan akhir-akhir ini. Bima memang keterlaluan. Bisa-bisanya dia mempermainkan perasaanku hingga seperti ini.

Dua puluh menit kemudian, aku sampai di depan minimarket yang tidak jauh dari rumah. Aku turun tanpa menoleh ke sana-kemari. Aku berjalan menuju rumahku yang cukup jauh masuk gang. Aku tidak mengira, dalam perjalananku, ternyata ada seseorang yang mengikutiku sedari tadi. Aku tidak menyadarinya sama sekali hingga tiba-tiba...

_Brugh!_

Aku terkejut bukan main ketika sepasang tangan kekar menarikku ke dalam pelukannya. Aku hampir saja terserempet motor karena kecerobohanku sendiri, jalan tanpa lihat sekitar karena terlalu asyik menikmati kegalauan.

"Bima?!" Hanya itu yang terucap sebab aku terlalu terkejut untuk memikirkan kata lain. Sementara Bima malah tersenyum melihat raut bingungku saat ini.

"Dasar ceroboh. Kamu nggak apa-apa, kan? Kenapa nggak hati-hati? Ada motor lewat tadi," tanyanya sambil melepaskan cengkeraman di lenganku. Tapi aku masih terlalu terkejut hingga tak satu kata pun keluar dari mulutku. Sekali lagi Bima tersenyum.

"Maafin aku, Nilam. Aku nggak bermaksud mengejutkan kamu kayak gini. Tapi aku nggak bisa nahan diri buat segera nemuin kamu," katanya.

_Apa? Dia bilang maaf. Apa dia nggak tahu apa yang sudah dia lakuin padaku sejak kepergiannya? Dan tiba-tiba saja dia datang dan bilang 'maaf'. Tapi tunggu, untuk apa aku marah? Dia memang nggak harus selalu memberi kabar dan penjelasan, kan? Aku bukan siapa-siapanya dia._

"Apa kamu nggak kangen aku?" tanyanya.

"Hah? Maksud kamu apa?" tanyaku, pura-pura tidak mengerti.

"Aku minta maaf karena pergi begitu saja tanpa bilang. Aku memang sengaja... Maaf ya, aku cuma pengin sedikit ngerjain kamu. Tapi sungguh, aku nggak benar-benar pergi. Aku sering nanyain keadaanmu ke temanmu, Geta. Aku pengin tahu, kalau aku pergi, kamu bakal ngerasa kehilangan atau nggak. Dan melihat kegalauanmu belakangan ini... hmm, sepertinya memang..." Dia tidak melanjutkan kata-katanya, tapi malah menatapku dengan sorot mata yang tajam.

Sementara mataku seketika berkaca-kaca mendengar ucapannya. _Apa-apaan ini? Dia menganggap lucu perasaanku._

"Jahat," kataku lirih sambil menunduk. Kali ini aku tidak bisa menahan air mataku yang lolos mulus di kedua pipiku.

Melihatku diam, Bima menarikku dan memelukku erat. Aku merasakan detak jantungnya dengan jelas dan hembusan napasnya yang teratur, berbanding terbalik dengan degup jantungku yang seperti mau meledak saat ini.

Dadaku terasa sangat sesak ketika dia mendekapku. Kapan dia akan melepaskan pelukan ini? Aku seperti mau pingsan rasanya.

"Aku udah berhenti kuliah, Nilam. Jadi selama sebulan ini aku sibuk ngurus semuanya. Aku akan berangkat ke Gombong, Kebumen besok pagi. Aku akan mulai pendidikanku sebagai tamtama di sana. Ini cita-citaku, Nilam. Jadi, pas waktu itu ada pendaftaran baru Dikmata, aku iseng ikut daftar. Aku nggak berharap banyak sebenarnya, karena sebelumnya aku pernah daftar tapi nggak lolos. Dan setelah tahu kali ini aku lolos, makanya aku nggak ragu lagi berhenti kuliah dan mulai pendidikan di sana."

"Oh," reaksiku. Dan sepertinya Bima tidak puas dengan reaksiku yang cuma seperti ini.

"Kok cuma 'oh'?" katanya, seolah menanti jawaban yang lebih dariku.

"Aku harus bilang apa? Nyatanya aku sendiri bingung harus berkata apa. Kamu pergi tanpa pesan apa pun, dan tiba-tiba sekarang kamu berdiri di hadapanku. Tunggu, biarkan aku menata hatiku dulu," kataku masih dengan mata berkaca-kaca.

"Maafin aku, Nilam. Aku nggak bermaksud mengacaukan semuanya. Aku cuma nggak terlalu pandai mengungkapkan perasaanku," katanya sambil terus menatapku.

"Aku pengin marah sama kamu, tapi nggak bisa. Aku benci ini," kataku sedikit cemberut.

"Marah aja sebanyak kamu mau. Aku tahu aku nggak seharusnya bersikap ambigu kayak gini," jawabnya.

"Sudahlah, kamu tahu kan aku nggak pernah bisa marah sama kamu, meski sebenarnya aku kesal banget saat ini," kataku.

"I love you, Nilam," katanya, jelas terdengar di telingaku.

"Hah?" Reaksiku spontan, seakan tidak percaya dengan pendengaranku sendiri.

"Aku serius, Nilam. Aku menyukaimu, menyayangimu, dan mungkin rasaku padamu lebih besar dari perasaanmu ke aku," katanya. Kalimat itu hampir saja membuatku berhenti bernapas.

Dia menyatakan perasaannya padaku. Seperti ini. Dalam keadaan seperti ini. Tidak bisakah dia sedikit romantis?

_Haruskah aku bilang kalau aku juga menyukainya? Bagaimana kalau dia pikir aku terlalu gampang mengungkapkan cinta? Ah, bodoh sekali, kenapa juga aku masih mencemaskan hal itu? Bukankah memang ini yang kuharapkan, dia menyatakan cintanya padaku?_

Aku masih saja terbengong, sibuk mengatur pikiranku yang riuh seperti pasar malam.

"Nilam, setidaknya katakan sesuatu. Aku baru saja menyatakan cintaku, beginikah reaksimu?" katanya sedikit kesal, sambil menggenggam erat tanganku.

"Sekali kamu genggam tanganku, jangan pernah berpikir untuk melepaskannya lagi," tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur mulus dari mulutku.

Bima tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.

"Nilam, tunggu aku ya. Mungkin beberapa tahun lagi sampai aku berhasil mewujudkan cita-citaku. Aku ingin kamu tetap di sana, menemani dan menungguku dengan sabar... Sampai tiba waktunya nanti, aku akan menjadikanmu halal di hadapan Allah. Aku mungkin nggak punya apa pun yang bisa kujanjikan untukmu, tapi kamu harus percaya padaku. Sekuat tenaga aku ingin membahagiakanmu. Jadi, Nilam Cahaya Nurani, mulai hari ini aku memintamu dengan sungguh, bersediakah kamu berbagi hidup yang mungkin tidak selalu mudah denganku?" ungkapnya panjang lebar. Dan aku hanya menganggukkan kepala.

"Ya... Bima, aku bersedia."

Bagaimana aku bisa menolaknya, sedang sepanjang napasku ini aku hanya mencintainya seorang.

"Aku mempercayaimu, Bima, dan akan kupegang janjimu kepadaku. Lebih tepatnya janji kita... Jika ini adalah pintamu, maka percayalah, sejengkal pun aku tak akan pergi darimu."

_END_

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!