NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: WARISAN DARAH DAN DEBU

Pesta yang tadinya terasa seperti kemenangan gemilang, seketika berubah menjadi pemakaman bagi ketenangan jiwa Laluna.

Suara musik klasik yang mengalun di aula mewah itu kini terdengar seperti dengungan lebah yang menyakitkan di telinganya.

Di bawah lampu kristal yang menyilaukan, Laluna menatap wajah Reihan, pria yang baru saja ia percayai sebagai pelindungnya, mencari bantahan atas tuduhan Danu.

Namun, Reihan hanya membeku. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang biasanya tajam kini meredup, digantikan oleh kegelapan yang dalam.

"Kita bicara di rumah," bisik Reihan, suaranya parau.

Ia mencoba meraih lengan Laluna, namun untuk pertama kalinya, Laluna menarik diri.

Sentuhan itu terasa membakar.

Tanpa mempedulikan tatapan bingung dari para tamu dan kilatan lampu kamera wartawan yang masih mengejar mereka, Laluna membalikkan tubuh dan berlari keluar menuju lobi.

Ia tidak peduli pada hujan yang kini turun lebih deras, membasahi gaun sutranya yang mahal. Ia hanya ingin pergi. Ia ingin jawaban yang tidak bisa diberikan oleh tembok kaca Arta Wiguna.

Laluna tidak pulang ke apartemen. Ia memanggil taksi dan menuju ke rumah lamanya. Ia butuh melihat ayahnya.

Rumah keluarga Wijaya tampak sunyi di bawah guyuran hujan. Saat Laluna masuk dengan keadaan basah kuyup dan wajah yang hancur karena tangis, ayahnya, Pak Wijaya, sedang duduk di ruang tamu tua mereka, menatap sebuah album foto usang.

"Ayah," suara Laluna bergetar, hampir hilang ditelan suara guntur.

Pak Wijaya tersentak, segera berdiri menghampiri putrinya. "Laluna? Ada apa, Nak? Kenapa kau basah seperti ini? Di mana Reihan?"

Laluna menatap mata ayahnya, mata yang selalu ia anggap sebagai simbol kejujuran.

"Ayah, katakan padaku... tentang kecelakaan dua puluh tahun lalu. Kecelakaan yang menewaskan putra kakek Surya. Ayah kandung Reihan."

Wajah Pak Wijaya seketika memucat. Ia seolah menua sepuluh tahun dalam hitungan detik. Bahunya merosot, dan ia terduduk kembali di sofa usangnya.

Keheningan yang menyusul kemudian adalah jawaban paling jujur sekaligus paling menyakitkan yang pernah Laluna terima.

"Itu... itu adalah kecelakaan, Luna," bisik Pak Wijaya, suaranya gemetar.

"Truk logistik perusahaan kakekmu mengalami rem blong di turunan tajam. Kakekmu... dia tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Itulah sebabnya kami selalu merasa berhutang nyawa pada keluarga Arta Wiguna. Itulah sebabnya saat kakek Surya meminta perjodohan ini sebagai bentuk penebusan, Ayah tidak bisa menolak."

Laluna menutup mulutnya dengan tangan, menahan jeritan yang ingin keluar dari dadanya.

"Jadi... aku bukan hanya sekadar bayaran hutang uang? Aku adalah tumbal untuk sebuah nyawa?"

"Tidak, Luna! Kakek Surya mencintaimu, dia menghargai kakekmu-"

"Berhenti, Ayah!" potong Laluna tajam.

"Reihan tahu hal ini sejak awal, kan? Dia menikahiku karena dia tahu akulah putri dari keluarga yang menghancurkan dunianya."

Di luar, sebuah mobil sedan hitam berhenti dengan suara rem yang mencit. Reihan masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk, wajahnya basah oleh hujan, napasnya tersengal. Ia melihat Laluna yang berdiri gemetar di tengah ruangan.

"Laluna, dengarkan aku," ucap Reihan, mencoba mendekat.

"Apakah itu sebabnya kau begitu dingin padaku sejak awal?" tanya Laluna, suaranya rendah namun penuh luka.

"Apakah setiap kali kau melihatku, kau melihat truk yang membunuh ayahmu? Apakah ciumanmu semalam adalah bagian dari rencana balas dendammu, Reihan? Membuatku jatuh cinta lalu menghancurkanku dengan kenyataan ini?"

Reihan berhenti melangkah.

Matanya menatap Laluna dengan intensitas yang menyakitkan.

"Awalnya, ya. Aku membenci nama Wijaya. Aku menerima perjodohan ini karena aku ingin melihat keluarga yang merenggut ayahku berlutut di bawah kakiku."

Pak Wijaya menunduk malu, sementara Laluna merasa hatinya robek menjadi kepingan tak berbentuk.

"Tapi itu sebelum aku mengenalmu, Laluna!" seru Reihan, suaranya meledak di antara suara hujan. "Sebelum aku melihatmu bertarung di dapur, sebelum aku melihat caramu merawatku saat sakit, sebelum aku menyadari bahwa kau tidak punya kaitan dengan dosa masa lalu kakekmu. Aku menyembunyikannya karena aku tidak ingin kau memikul beban yang bukan milikmu!"

"Tapi kau tetap membohongiku!" teriak Laluna.

"Kau membiarkan aku masuk ke dalam hidupmu tanpa tahu bahwa aku adalah objek kebencianmu! Bagaimana bisa aku percaya padamu lagi, Reihan? Bagaimana bisa aku membuatkan roti untuk pria yang mungkin saja membenciku di dalam hatinya setiap hari?"

Laluna melepaskan cincin platinum dari jarinya dan meletakkannya di atas meja kayu yang retak.

"Kontrak ini sudah selesai. Aku tidak peduli dengan merger, aku tidak peduli dengan ruko itu. Aku tidak bisa menjadi bagian dari penebusan dosa yang berdarah ini."

Laluna berlari menuju kamarnya yang lama di lantai atas, mengunci pintu, dan membiarkan dirinya hancur dalam isak tangis.

Reihan berdiri mematung di ruang tamu, menatap cincin yang tergeletak sepi di atas meja. Pak Wijaya mendekati Reihan, mencoba menyentuh bahunya, namun Reihan menjauh.

"Kau memberikan putri yang terbaik untukku, Wijaya," ucap Reihan dengan nada dingin yang kembali menyelimuti suaranya, namun kali ini ada getaran duka di sana.

"Tapi kau juga memberikan alasan baginya untuk membenciku selamanya."

Malam itu, di rumah keluarga Wijaya yang sederhana, dua tahun yang dijanjikan dalam kontrak terasa seperti mimpi buruk yang berakhir terlalu cepat.

Dan di kegelapan apartemennya yang mewah, Danu Arta Wiguna bersulang sendirian, merayakan keberhasilannya meruntuhkan menara kartu yang dibangun oleh sepupunya.

Perang keluarga telah dimulai, dan Laluna adalah korban pertama yang gugur di medan perang yang tidak pernah ia pilih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!