Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 30
Kencan dengan Dinner
**
Dua hari akhirnya berlalu dengan cepat, begitu yang dirasakan Some ketika terus tertidur di ranjang rumah sakit. Makanan rumah sakit jelas membuatnya sebal, tapi karena ia menuruti keinginan mama untuk cepat pulih gadis itu berhasil menghabiskan sarapannya dengan baik. Ini adalah hari pertama ia masuk sekolah paska operasi. Wajahnya yang pucat juga bibirnya yang nampak bercak kering membuat kehadirannya jadi perhatian di penghujung kantin. Waktu masih menunjukan pukul enam lewat dua puluh menit, Some duduk di kursi kantin karena kepalanya mendadak pening.
"Some," ujar seseorang yang sedang berjalan di belantara sekolah. Ia baru saja sampai, dan mau melanjutkan ke kelas. Ia berhenti karena tak jauh dari jaraknya seseorang tengah memegang kepalanya dengan pening.
Mau tak mau ia menghampiri cewek itu. Mengingat terkadang kalau orang sehabis operasi mengalami nyeri sekali. Percayalah Diner tahu itu dari keluarga Some yang mengabari. "Loe nggak kenapa - napa?" tanyanya terdengar cuek.
Ia duduk di sebelah bangku Some. Ia melihat wajah pias itu dengan pandangan heran, padahal operasinya baru beberapa hari kenapa sudah pakai baju seragam lagi, pikirnya. "Some?" ulangnya karena gadis itu sama sekali tidak merespon. Mungkin Tidka pernah menyangka ada orang yang peduli terhadapnya.
Some mengangkat wajahnya, pandangannya nampak kabur. Awalnya sempat Tidka percaya asa perawakan jangkung menggunakan seragam SMA di sebelahnya. Dan lalu matanya terbelalak, "Dinnery ngapain loe di sini, abis lewat ya," ujar Some sambil tersenyum kecil.
"Iya gue mau masuk kelas. Cuma ada seorang cewek yang lagi pegang kepalanya, jadi penasaran," jawabnya iseng lalu tersenyum kecil.
"Bukan apa - apa kali lihat cewek pegang kepalanya, palingan lagi pusing dan biasa mikirin pacar," jawab Some becanda sambil meraba pelan bahu Diner.
Dinner nampak terkejut melihat perubahan sikap Some yang menganggapnya teman ini. "Jadi bukan karena sakit atau hal lain nih hanya karena mikirin pacar yang belum datang," goda Dinner menatap Some dalam - dalam. sejujurnya Dinner juga merasa heran pada dirinya sendiri, mengapa selalu tahu kabar Some padahal jelas mereka hanya dua orang yang tak saling mengenal.
"Maksudnya loe pikir selama ini gue belum ada keputusan?" ujar Some sambil menunjuk dirinya. Dengan malu - malu kucing akhirnya ia berbohong, "Nanti gue juga bakalan kenalin kok sama loe," tambahnya. Dinner tersenyum kecil, ia tahu kalau Some belum sama sekali memutuskan jika bukan karena itu mana mungkin mama dan papanya kembali memohon.
"Ya udah kalau gitu gue ikut senang, jadi gue nggak merasa terhalang lagi. Tapi bukan itu masalahnya," jawab Dinner menanggapi Some dengan santai.
Some menatap Dinner dengan heran. "Apalagi loe mau ke kelas kan?" balasnya.
"Some baru aja selesai operasi kan, ditambah penyakit bawaan loe. Some kenapa loe membuat gue aja khawatir, apalagi kedua orang tua loe," kata Dinner jujur sambil duduk di lantai untuk memastikan ekspresi gadis yang sedang melamun itu.
"Gapapa gue sehat dan nggak merasakan apapun," tepis Some ketika tangan Dinner mulai mengecek suhu tubuhnya.
"Dingin banget kayak lagi demam, jujur habis operasi riu bukan demam biasa Some," tegas Dinner sekali lagi. Membuat Some bungkam dan menunduk.
"Ya udah kalau loe Udah kuat, apaan ya maksud gue bilang begitu. Sebelumnya sorry gue cuma dapat panggilan dari bapak kamu, katanya wanti agar bujuk loe pulang," ujar Dinner malah terdengar banyak mengoceh. Padahal ia tahu sendiri Some yang sedang Sakir Tidka akan benar menanggapinya.
"Tenang gue nggak habis operasi dan apa, sorry Din gue nggak kenapa - napa kok," ujar Some menolak. Yanh membuat Dinner makin merasa kikuk. Perhatian yang ia berikan terkesan memojokkan pada satu titik, sebenarnya mereka tidak pernah saling mengenal atau tertarik satu sama lain.
"Ya udah gue ke kelas duluan, bye," ujar Dinner setengah berjalan ke kelakuan yang ada di ujung. Some memperhatikannya dengan kepala pentingnya, namun perhatian kecil itu membuatnya menyunggingkan senyum.
**
Some menghembuskan nafas tidak nyaman, sudah hampir lima belas menit ia menunggu orang itu. Siapa lagi kalau bukan teman date kali ini. Ia selalu tampil sebisanya dalam memikat lawan date-nya. Dan ternyata pakaiannya kali ini jelas mendeskripsikan dia sebenarnya. Ia menggunakan dress spandex selutut, dengan mode moderen. Wajahnya di poles dengan make up sewajarnya, dan yang pasti dengan bibir merah muda.
Menurut mama dan papa pas Some mau berangkat pasti cowok itu tak akan menyesal mengenalnya. Dan Some mewanti kalau emang itu terjadi, cukup Some hanya ingin menerimanya karena dia menerima penyakitnya. Itu saja.
Some melihat hidangan yang telah tersaji, beberapa makanan kesukaannya. Resto ini adalah resto favorit semua orang, karena dekorasi yang menarik. Some menghembuskan nafasnya kesal, awas aja kalau cowok itu nggak datang!
"Sorry gue telat!" ujar seseorang ketika gadis itu sedang sibuk dengan pemikirannya. Dia menggunakan kemeja pas, dia cowok yang lumayan ganteng dan karismatik. Pakaiannya jelas style list.
Ingat dengan cowok yang berpenampilan style list di sekolah. Dengan wajah yang sopan dan aroma parfum yang masih melekat, Some nggak akan pernah menduga date hari ini dengan pria itu. Dari raut dan caranya berinteraksi Some sudah menduga kalau ini adalah Dinner.
"Hi," ujar Some tadinya untuk basa - baso pas pertemuan pertama kali. Namun baik keduanya hanya berhenti di wajah bingung.
"Hi juga, udah lama nunggu ya, gue Dinner salam kenal," ujarnya sambil menunjukan tangan kekarnya untuk berjabaran. Some sempat bingung bukannya mereka sudah saling mengenal, ia tersenyum canggung.
"Something," jawabnya membalas uluran tangan itu. Lalu keduanya nampak tersenyum malu.
"Maaf Some gue mungkin salah duduk di bangku ini, maaf gue bisa keluar," ujar Dinner dengan bingung harus menjelaskan dari mana. Namun percayalah date ini tidak ingin mendatanginya, hanya saja mana mungkin kemarin datang sekarang tidak. Dan benar saja ia tidaka menduga orangnya yang sama. Orang tuanya tak menyebut secara detail siapa dia.
"Enggak loe nggak salah," ujar Some menginterupsi. Membuat Dinner menatapnya heran, bukannya akan terasa salah jika keduanya pernah melakukan ini. Mungkin ada orang yang lain sedang menunggunya, meskipun ia yakin ia Tidka akan pernah salah bangku nomor.
"Really? Mungkin papa salah kirim tempat duduk, mungkin ada cowok di luar sana yang mau duduk di sini," ujar Dinner ragu dalam duduknya bahkan ia sempat melihat ke belakang bangku - bangku, untuk memastikan.
Some menghembuskan nafas pasrah, sebenarnya ia juga sudah lelah dengan pertunangan ini. Namun ia belum sama sekali mendapat calon, dan sekarang ia berkencan dengan orang yang pernah ditemuinya. "Enggak loe nggak salah duduk Dinner, mungkin gue yang salah berada di sini," ujarnya.
"Kenapa begitu loe perlu ada di sini, jangan salahkan keadaan. Dan gue kesini jiga untuk hal yang sama, tapi gue pikir bukan loe orangnya," ujarnya sambil menggaruk tengkuknya. Merasa heran kemarin lalu ia datang terpaksa juga, dan sekerang ada lagi alasan lain.
"Mungkin maksud loe itu gue, dan mungkin karena kedatangan loe di makan malam kemarin, hanya iseng? See," ujar Some mengingat - ingat. Dia yang jeli berusaha memastikan kalau sebenarnya kencang mereka dalam keadaan baik - baik saja.
"Iya gue cuma ikut makan malam aja sama papa loe, karena kebetulan dia sempat mampir ke rumah," jelas Dinner malu. Ia menahan degup jantungnya yang berdetak karena baru tersadar kalau ia benar sedang kencan, dengan seseorang secara resmi.
No no no, ia hanya perlu memutuskan dan berbicara secara jelas! pikir Dinner.
"Baik, ya udah silahkan makan," ujar Some yang gugup secata bersamaan. Ia secara pelan memakan pesanannya tadi, sebuah steak panggang.
Dinner duduk dengan tenang dan menyantap makanannya. Namun tak akan bertahan lama kalau mereka segera memutuskan, "Jadi loe sekolah di SMA Bhakti Darma, masuk kelas IPA? Rangking berapa dan masuk kelas unggulan kan?" tanya Dinner tujuannya menanyakan itu karena ia Suak cewek yang pintar. Dan semua mantannya punah prestasi di bidang akademik.
Some meneguk air minum, bingung harus menjawab apa. Mungkin kebanyakan orang berpikir dia gadis yang selalu masuk tiga besar, tapi nyatanya. "Gue rangkin enam kemarin, sempat masuk dua besar sih. Gue masuk unggulan karena suka fisika," ujar Some sambil menggigit bibirnya. Reaksi Dinner beneran diam.
"Kenapa bisa masuk kelas unggulan, gue juga enggak, percayalah prestasi loe nggak seberapa tahu," ujar Dinner heran. Makin heran lagi mengingat mantannya yang lalu, sekalipun nggak masuk kelas unggulan IPA lagi.
"Gue masuk karena waktu SMP juga masuk, terus karena pernah sekali ikut lomba tingkat daerah. Di bidang fisika, gue pernah memenangkan lomba Jakarta," ujar Some mungkin dapat memenuhi standar yang digambarkan papanya yang membesarkan identitasnya.
Dinner terdiam sejenak memerhatikan Some lekat, dia cewek yang tulus dan Dinner tahu dia malu karena prestasi aneh itu. Tapi satu hal yang pasti Some wanita hebat, yang bisa menjuarai lomba Fisika sampai provinsi. Pastinya bukan cewek biasa.
"Gue suka cewek yang pintar, macam masuk kelas unggulan dan prestasi akademik lain. Tapi kayaknya loe lebih dari itu," ujar Dinner kagum.
Some melihat Dinner baik - baik, merasa salah mendengar tapi dia suka sama Dinner yang punya kharismatik. "Kalau loe pasti cowok hebat yang sering diceritan?" tanya Some penasaran. Sekali ini ia akan memastikan, apakah keputusan kali ini berkata iya.
"Gue masuk kelas IPA karena gue bisa, dan nggak pernah turun dari rangking satu atau tiga," jawabnya terdengar tidak terlalu tertarik.
Mungkin, iya.
**