black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."
" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
firman dan Diana baik baik baik saja
" Santi ayo pulang...." ujar ayah ayu pada akhirnya.
" lalu ayu bagai mana ayah." tanya Santi.
" dia memiliki jalannya sendiri aku sebagai ayah sudah melakukan tanggung jawab sebagai ayah." ucap ayah ayu.
" ayah mertua terimakasih karena sudah memberiku kesempatan." ucap Wira.
" anak muda ingat hari ini jika putri ku atau cucuku menangis karena kau sakiti, tidak peduli kau dimana aku akan menuntut mu." ucap ayah ayu keluar dari rumah kumuh itu.
" ayu jaga dirimu baik baik, rumah selalu terbuka untuk kamu pulang." ucap Santi lalu pergi menyusul sang ayah mertua.
" baik kak." ucap ayu.
Sekarang tinggal mereka berdua di ruangan itu ayu saat ini tidak berani berbalik untuk berhadapan dengan Wira, perasaannya kali sangatlah tidak karuan dan campur aduk.
" ay... terimakasih karena sudah memilih ku dan memberi kesempatan menebus dosaku." ucap Wira.
Braaaaak..... Wira jatuh tak sadarkan diri.
" Wira.... Wira..... Wira...." panik ayu.
Kebetulan saat itu firman dan Sasa sudah dekat ketika mendengar kepanikan ayu, firman bergegas. Kali ini ketiganya pun panik.
...****************...
" apa aku mati, tempat apa ini....." ucap Wira menyadari sekitarnya yang serba putih.
" hah sepertinya beneran mati." ucap Wira.
" woy... udah bangun." suara itu mengagetkan Wira yang akan terpejam lagi.
" kamu...." ucap Wira ketika melihat sosok yang tidak jauh duduk darinya. Perasaan familiar Wira merasa tau siapa sosok di depannya.
" aku Wira, kamu sudah menempati tubuhku, menggantikan ku.." ujar Wira.
" oh jadi kamu manusia yang tidak tau diri yang mengabaikan keluargamu hanya karena duniawi."
" ya sebutlah begitu....." ucap Wira.
" untung saja kau mati jika tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi pada ayu dan Sasa jika memiliki mu."
" yayayaya...... Aku hanya ingin berterimakasih dan tolong gantikan aku untuk menjaga mereka." ucap Wira.
" tanpa kau minta dan suruh."
" ini sudah saatnya aku pergi, kau kembalilah kau bermain terlalu jauh." ucap Wira bangkit dan berjalan tanpa menoleh.
" aku tidak tau jika ada manusia aneh sepertinya yang bahkan tidak menyesal atas semua perbuatannya. " tapi baru saja selesai bergumam seperti itu pandangannya mulai tak stabil dadanya sakit dan sesak, sesuatu seperti sedang menariknya paksa.
" ayah......"
" suara ini....."
" ayah....."
" Sasa...."
Semuanya gelap dan indra penciuman wira segera memberitahunya tentang keberadaannya.
" mama lihat ayah bergerak." ucap Sasa.
" Wira....." ayu.
" aku akan panggil dokter...." firman.
Wira berusaha membuka matanya yang yang serasa di lem dan berat hingga akhirnya berhasil membuka mata kemudian menemukan jika dirinya berada di ruangan serba putih dengan bau obat yang kuat.
" ayah......" suara Sasa.
" Sasa.....":jawab Wira tapi lehernya begitu kering membuat suaranya menjadi serak.
" dokter di sini." suara firman setelah membuka pintu.
" selamat sore, saya akan memeriksa kondisi pasien saat ini." ucap sang dokter
" atas nama siapa pak....." ucap dokter.
" Wira...."
" apa pak Wira bisa melihat dengan jelas." tanya dokter lagi.
" ya......"
" bagai mana perasaan pak Wira saat ini." tanya dokter kembali.
" sakit..... Kepala....."
" ah itu wajar karena sumber masalahnya memang di sana, karena terlalu kerasa dihantam benda tumpul, baik saya rasa bapak dalam kondisi yang baik semuanya normal, bapak hanya perlu istirahat beberapa hari kedepan setelah itu bapak bisa pulang." ujar dokter.
" baik semuanya jika tidak ada hal lainnya saya akan keluar, dan jika ada keadaan darurat cukup tekan bell itu, saran saya jangan terlalu banyak bicara dulu kondisi pasien masih membutuhkan istirahat lebih." ujar dokter.
...****************...
" halo iya ada apa...." ujar firman saat menerima panggilan.
" firman kamu kemana saja sulit sekali di hubungi, aku ingin bertemu dan bicara." ucap wanita di sebrang.
" maaf beberapa hari ini aku sibuk, saat ini aku ada di dekat cafe melati, jika kamu bisa kamu bisa datang saja." ucap firman.
" baik aku akan datang." jawab wanita di sebrang. Panggilan pun berakhir.
" kakak ipar aku akan keluar sebentar, untuk bertemu seseorang." ujar firman.
" iya pergilah, terimakasih banyak atas semua bantuanmu." ujar ayu.
" hahaha apa yang kakak ipar katakan, kak Wira adalah kakak ku jadi aku akan melakukan apa saja selama aku bisa untuknya dan kakak ipar." ujar firman.
" um...." ayu hanya mengangguk,
" aku pergi kak....." ujar firman.
Ayu melihat Wira yang sedang tertidur setelah meminum obat Sasa juga tidur sepertinya anak itu kelelahan karena begitu takut kehilangan ayahnya. Entah ikatan apa yang terjadi antara ayah dan anak itu, karena jika mengingat bagai mana Wira memperlakukan mereka, pastilah Sasa ada perasaan benci pada Wira. Otak kecilnya akan merekam bagaimana Wira yang begitu kerasa dan kasar. Menjadikan sebuah trauma yang mendalam. tapi sepertinya Sasa baik baik saja.
" Wira aku harap kamu masih bisa berubah, jangan hancurkan lagi harapanku dan Sasa padamu." hati kecil ayu mengatakannya.
beberapa menit di cafe melati setelah firman tiba, tidak lama datang seorang wanita cantik dia Diana calon istrinya.
" firman....." sapa Diana.
" eh... Kamu sudah datang ayo duduk...." ucap firman dengan pembawaan tenang dan ramah.
" makasih...." ujar Diana lalu duduk.
" ada apa, hal apa yang ingin kamu bicarakan." tanya firman.
" aku minta maaf sebelumnya aku impulsif dan egois. Ujar Diana.
" tidak apa apa, itu wajar aku mengerti, di sini aku juga egois...." ucap firman.
" aku sudah merenung lama, aku tidak mau kehilangan kamu, bisakah kita melanjutkan hubungan ini." ujar Diana.
" kita lanjutkan, selama kamu tidak masalah dengan keadaan ku." ucap firman yang tidak segera menjawab baru setelah tiga kali tarikan nafas firman pun menjawab.
" terimakasih firman." ujar Diana tanpa terasa air matanya meluap dari sudut matanya. Firman pun berdiri dari tempatnya kemudian duduk di sebelah Diana dan merangkulnya membawa dianya dalam dekapan hangat firman.
" jangan menangis." ucap firman.
" aku takut kehilangan kamu." ucap Diana.
" aku kira aku yang kehilangan kamu." ucap firman, karena setelah kejadian terakhir saat di kantor firman merasa itu sudah berakhir.
" mulai hari ini kita harus bersama..... ucap Diana dalam pelukan firman.
" um tentu...." jawab firman.
" firman apakah kamu besok sudah akan kembali bekerja." tanya Diana.
" aku sudah mengajukan pengunduran diri pada ayah mu waktu itu hanya tinggal memberikan surat resmi untuk di tanda tangan, jika aku kembali apakah ayahmu tidak masalah." ucap firman.
" ayah sangat berharap kamu bisa kembali ke perusahaan, tentu saja ayah tidak akan masalah." ucap Diana.
" baik lah besok aku akan ke perusahaan untuk berbicara lebih lanjut bersama ayahmu." ucap firman.
" um.... Firman aku lihat itu seperti ponsel." pada tot bag di atas meja.
" itu memang ponsel, beberapa hari yang lalu aku pergi ke kota S dan mendapatkan 1 ponsel keluaran terbaru dengan spesifikasi terbaik." ucap firman.