NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Saat Nate sedang terlibat dalam pembahasan yang konyol mengingat situasi mereka, cahaya menyilaukan tiba-tiba naik beberapa meter ke langit, tidak cukup untuk menyamai tinggi monster itu tapi cukup untuk menarik perhatian semua orang.

Swaaah!!

Nine mengayunkan pedangnya dan membelah seluruh monster di sekelilingnya sekaligus. Darah hitam terciprat ke mana-mana, mengenai wajahnya yang cantik, dan dia meringis dengan ekspresi jijik yang sangat jelas.

Menyadari tatapan yang lainnya, Nine melirik, menjulurkan lidahnya sejenak, lalu berbalik dan kembali memberantas gelombang monster dengan wajah yang tampak bertekad untuk sesuatu.

"Apa itu tadi?" Nate berkedip tiga kali berturut-turut.

Nelphy tidak terlihat peduli sama sekali. Rome tiba-tiba tertawa kecil.

"Hei sobat, tidakkah menurutmu kamu sudah melakukan kesalahan hingga dia bersikap seperti itu?"

Melakukan kesalahan...

Nate mempertimbangkan kalimat itu sejenak, lalu tertawa.

"Kurasa begitu."

Lalu dari langit sesuatu meluncur jatuh. Zenith, dengan wajah yang tampak pucat.

"Apa yang kalian lakukan sialan! Tidakkah kamu melihat monster itu?!"

Ketiganya terdiam menatap Zenith yang kacau, lalu baru melirik ke arah monster itu yang sudah melebarkan mulutnya menjadi lingkaran sempurna, tepat mengarah ke arah mereka.

"Oh sial." Rome tersenyum gugup.

Nelphy tidak repot-repot melihat ke belakang saat dia mulai melarikan diri.

Nate langsung memeluk Zenith. "Cepat! Terbang! Cepat terbang kamu burung Zenny sialan!"

Zenith tampak hendak berteriak marah ketika mulut monster itu mulai mengeluarkan deruan samar yang mengerikan, cukup untuk membuat ketiganya tersentak sekaligus.

"Lepaskan!!!" Zenith berteriak saat tubuhnya melesat naik ke udara. Nate berpegangan pada kakinya, lalu menyadari bahwa seseorang juga sudah berpeluk kuat di kakinya dari bawah.

Rome.

"Sialan, kita teman yang baik! Sebaiknya jangan tinggalkan aku juga!"

Karena beratnya yang berlebihan, Zenith menjadi tidak stabil di udara.

"Woah sial, kalian berdua anak sialan, lepaskan aku! Aku akan mati!"

Nate mendecakkan lidahnya saat melihat sesuatu yang samar mulai keluar dari mulut monster itu. Dia tersenyum gugup dan menatap Zenith.

"Begini Zenny, jika sesuatu harus terjadi, akan lebih baik jika kita terkena bersama-sama."

Melihat senyum gugup Nate dan wajah pucat Rome yang menggantung dari atas, Zenith meneguk ludahnya sendiri, melirik tepat ke arah monster itu.

"WAAAAHHG!!"

Daya tarikan dari mulut monster itu menarik mereka dengan sangat kuat, perlahan-lahan mendekatkan ketiganya ke arahnya.

Dari bawah, Loen yang terkepung begitu banyak monster tiba-tiba berteriak.

"Teman-teman!! Tidak!!"

Teriakan itu sangat nyaring, dan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, Loen mengeraskan rahangnya, mengangkat tinjunya, dan menghantam kaki monster itu berkali-kali.

Krabooom!!

Dampaknya cukup kuat untuk membuat monster itu mundur satu langkah. Sebagai tanggapan, Zenith berhasil melepaskan diri, Rome terjatuh kembali ke udara.

Dan Nate, karena berada tepat di tengah-tengah daya hisap itu, tetap tertarik masuk.

"Sial!"

Dari kejauhan, Nelphy memandang situasi itu dengan senyuman yang merekah, pupil matanya memancarkan kegilaan dengan rona pipi yang memerah.

"Ya! Peringkat pertama akan jadi milikku!"

Di sisi lain, Nine tersentak di tempatnya. Matanya terkunci pada Nate yang memasuki mulut monster itu sebelum akhirnya mulut itu menutup sepenuhnya.

"E-eh...?!"

Semuanya terdiam. Kecuali Nelphy yang bersukacita. Nine tampak pucat, begitu pula Loen. Zenith dan Rome hanya saling melirik sebelum akhirnya masing-masing kembali mengurus situasi berbahaya mereka sendiri.

Lalu, saat semua orang sudah hampir yakin bahwa peringkat pertama global itu sudah tidak ada lagi, sebuah ledakan terjadi dari dalam mulut monster itu.

Buum!!

Awalnya hanya satu. Tapi perlahan-lahan ledakan itu semakin banyak, bergerak dari tenggorokan monster, turun semakin dalam, hingga mencapai area dadanya.

Buum!! Buum!! Buum!! Buum!!

Ledakan beruntun terjadi dari dalam ke luar, tanpa berhenti.

Semuanya terdiam karena heran.

---

"Baiklah, keberuntunganku memang luar biasa kan?"

Nate tertawa geli saat melihat kristal merah yang menjadi inti dari monster itu berdiri tepat di hadapannya. Dia tidak menyangka bahwa bagian dalam tubuh monster ini ternyata adalah dungeon tersendiri yang terus-menerus menghasilkan monster berperingkat rendah tanpa henti.

Tentu saja, dia bisa saja langsung menghancurkan kristal merah itu.

Tapi seringai muncul di wajah Nate.

"Selama aku masih mampu, ada baiknya aku berburu di sini dulu."

Ada begitu banyak EXP yang bisa dia dapatkan, jadi mengapa harus ditolak? Ini adalah hidangan gratis yang disiapkan oleh koki bintang lima, lengkap dengan jaminan kenaikan level.

Nate menghunus sabitnya dan melesat masuk, mulai memperoleh EXP secara gila-gilaan. Monster bermunculan dalam puluhan setiap detiknya, dan bahkan satu atau dua jam saja di dalam sini hasilnya sudah akan sangat memuaskan.

Tapi itu tidak cukup.

Jadi Nate menghabiskan lima jam penuh di dalamnya. Dia juga sengaja membiarkan beberapa monster melewatinya keluar sesekali, agar orang-orang di luar sana mengira dia sedang berjuang keras untuk bertahan hidup.

Dia tidak ingin berbagi EXP ini dengan siapa pun. Dia ingin menguasainya sendirian.

Nate terengah-engah setelah lima jam itu, seringai masih terukir di wajahnya meski kelelahan yang sudah menumpuk selama hampir lima hari dan rasa kantuk yang berat akhirnya mulai mencapai batasnya lebih cepat dari yang seharusnya.

Kapan terakhir kali dia benar-benar beristirahat?

Tapi yang penting, levelnya sudah mencapai sembilan belas. Setengah jalan lagi menuju level dua puluh.

Sekarang, bukankah sudah saatnya untuk menikmati hidangan utama dari sang koki?

Nate mengangkat sabitnya. Dengan satu tebasan bersih, dia menghancurkan kristal merah itu berkeping-keping.

Krraaak!!

Napasnya masih sama lelahnya, wajahnya agak pucat, tapi senyuman puas terukir jelas di wajahnya.

[Monster Boss (Azhraxis) Rank E-Spesial Level 25 Dibunuh!]

Nate bahkan tidak sempat memeriksa EXP yang dia dapatkan ketika seluruh bagian dalam tubuh monster itu tiba-tiba bergetar. Setiap bagian tubuhnya bergolak seolah-olah dilanda gempa dari dalam.

"Sial, apakah monster ini akan roboh karena kristalnya sudah dihancurkan?"

Nate menghela napas kasar, lalu langsung melesat turun semakin dalam ke tubuh monster itu. Bangunan-bangunan terjatuh di mana-mana, kepulan asap dan debu menghalangi pandangan, tapi Nate berhasil menemukan lubang tempat monster-monster itu keluar sebelumnya.

Wuusshh!!

Dia tidak banyak berpikir dan langsung melesat keluar, menjauh begitu melihat tubuh monster itu yang perlahan-lahan mulai ambruk.

Gedebuk!! Gedebuk!! Krrumm!!

Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat ekspresi Nine yang menatapnya dengan emosi yang sulit diuraikan, Rome dan Zenith yang terkejut, Loen yang tampak lega, dan Nelphy yang tampak kecewa.

Kecewa.

"Wanita itu benar-benar mengharapkanku mati? Dasar gila."

Nate hampir tidak bisa menahan tawanya.

Bagaimanapun, dia melesat menjauh dari jangkauan tubuh monster yang runtuh itu dan berdiri dekat dengan kristal yang harus dijaga. Kristal itu baik-baik saja.

Lalu sebuah pengumuman muncul:

[Gelombang 20/20 Selesai!]

[Kontribusi setiap pemain telah dihitung.]

[Menampilkan kontribusi setiap pemain...]

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
bysatrio
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!