Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan terkirim ke nomor yang sudah tidak ada
Kiara lagi beresin lemari. Musim hujan bikin jamur tumbuh di dinding, dan nostalgia tumbuh di kepala. Di laci paling bawah, dia nemu HP lama. Samsung lipat warna biru. Punya dia waktu kuliah. Terakhir dipake dua tahun lalu. Pas Arga meninggal.
Jari Kiara gatel. Dia colok charger. Layarnya nyala. Loading lama, terus muncul wallpaper foto dia sama Arga di pantai. Kiara ketawa kecil. Rambutnya waktu itu masih disemir merah. Arga masih suka pake gelang karet.
Iseng, Kiara buka aplikasi chat. History terakhir tanggal 14 Februari, dua tahun lalu. Chat dari Arga: “Ki, gue otw. Jas hujan lo jangan lupa. Nanti gue jemput.” Chat itu nggak pernah kebales. Karena sejam setelah itu, temen Arga nelpon. Kecelakaan. Motor selip. Arga nggak gak pernah nyampe.
Kiara ngetik. Tangannya jalan sendiri. “Ga, lo kangen gue nggak?”
_Kirim_.
Dia langsung nyesel. Bodoh. Nomor Arga udah pasti hangus. HP ini aja udah nggak ada sinyal. Tapi satu detik kemudian, centang dua. Biru.
Kiara jantungan. Dia banting HP ke kasur. Diambil lagi. Dibuka. _Online_.
Terus muncul balasan. “Ki, lo kangen gue?”
Kiara nggak bisa napas. Dia liat jam. Jam 9 malem. Dia liat kalender. Tanggal 14 Februari. Sama kayak dua tahun lalu. Dia liat jendela. Hujan. Sama kayak dua tahun lalu.
Tangannya gemeter ngetik. “Arga? Ini lo beneran?”
Balasannya cepet. “Ya gue lah. Emang lo nyangka hantu?”
Kiara ketawa, tapi air mata netes. Dia nggak tau ini mimpi, prank, atau dia udah gila. “Lo di mana? Kok nomor lo aktif?”
“Di tempat yang nggak ada hujan. Tapi bisa liat lo ujan-ujanan mulu. Payung lo mana?”
Kiara makin nangis. Cuma Arga yang tau dia males bawa payung. Cuma Arga yang selalu marahin dia kalau kehujanan.
Malam itu Kiara nggak tidur. Dia chat sama "Arga" sampai subuh. Ngobrol ngalor ngidul. Tentang kerjaan Kiara yang sekarang jadi editor, tentang kucing Kiara yang namanya Baso, tentang Arga yang katanya sekarang kerjaannya "jagain orang yang disayang dari jauh".
"Ga, gue boleh minta satu?" ketik Kiara jam 4 pagi. "Jangan ilang lagi."
Balasannya lama. Terus masuk. "Gue janji nggak ilang. Asal lo janji juga. Jangan nungguin orang yang udah nggak ada."
Kiara diem. Dia matiin HP. Tidur sambil peluk HP lipat itu.
Besoknya, Kiara bangun lebih semangat dari biasanya. Dia masak. Dia nyiram tanaman. Dia kerja nggak pake ngeluh. Temen kantornya, Lala, nanya. "Tumben lo ceria. Dapat pacar baru?"
Kiara senyum. "Dapet kabar dari pacar lama."
Malam kedua, Kiara buka HP lipat lagi. Dia chat duluan. "Ga, hari ini gue dimarahin bos. Katanya revisi gue kurang ngena,"
"Lo bales aja: Pak, yang kurang ngena itu gaji saya."
Kiara ngakak. Balasannya Arga banget. Suka ngeselin, tapi ngena.
Tiap malem selama seminggu, ritualnya sama. Kiara pulang kerja, makan, mandi, terus buka HP lipat. Curhat ke Arga. Dan "Arga" selalu ada. Selalu bales. Selalu tau Kiara mau ngomong apa.
Sampai suatu malem, Kiara cerita kalau dia diajak taaruf sama temen kantornya. Namanya Dimas. Baik, pinter, sayang kucing sama kek dia.
HP lipat itu cuma read. Nggak dibales. Satu jam. Dua jam.
Kiara panik. Dia ngetik lagi. "Ga? Lo marah?"
Baru dibales jam 12 malem. Pendek. "Dimas orangnya gimana?"
"Baik, Ga. Dia nggak kayak lo yang suka ninggalin."
Kali ini balasannya cepet. "Gue nggak ninggalin, Ki. Gue diambil."
Kiara nangis lagi. Dia matiin HP. Dia ngerasa jahat. Ngomong gitu ke orang yang udah nggak ada.
Tapi lima menit kemudian HP bunyi. Chat masuk. Panjang.
"Ki. Kalau Dimas bisa bikin lo ketawa, bisa bikin lo nggak kehujanan lagi, bisa bikin lo nggak chat sama nomor yang udah hangus... pergi sama dia. Gue ikhlas. Serius. Lo udah nunggu dua tahun. Itu cukup. Gantian gue yang nungguin lo. Dari sini. Tapi jangan lama-lama ya. Nanti gue bosen."
Kiara nggak bales. Dia peluk HP itu semalaman. Besoknya, dia bilang iya ke Dimas. Diajak ngopi.
Dimas emang baik. Nggak kayak Arga yang brengsek tapi kangenin. Dimas itu anteng, Dia dengerin Kiara cerita tanpa motong. Dia pesenin teh anget waktu Kiara batuk. Dia antar Kiara pulang, tapi nggak maksa mampir.
Malamnya, Kiara buka HP lipat. Mau cerita tentang Dimas. Tapi ada chat masuk duluan dari "Arga".
"Gimana kopinya?"
Kiara kaget. "Kok lo tau gue habis ngopi?"
"Kan gue bilang. Gue jagain dari jauh."
Kiara senyum. Dia cerita panjang lebar. Tentang Dimas yang salah pesen kopi. Tentang Dimas yang ternyata takut kucing tapi jaim. Tentang Dimas yang nanya: "Lo udah move on belum?"
"Terus lo jawab apa?" tanya "Arga".
"Gue jawab: Lagi proses." ketik Kiara. "Bohong dikit nggak apa kan, Ga?"
Balasannya lama. "Nggak apa. Proses aja terus. Pelan-pelan. Gue nggak bakal kemana-mana."
Kiara tidur nyenyak malem itu. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun.
Sementara itu, di sebuah kontrakan sempit di Depok, seorang cowok umur 24 tahun nutup HP Samsung lipat warna biru. Di layar HP-nya ada stiker: "Milik Alm. Arga Pradana".
Namanya Arka. Adiknya Arga.
Dia buka laci. Di dalemnya ada surat. Tulisan tangan Arga, dua tahun lalu, seminggu sebelum kecelakaan.
"Ka, kalau gue kenapa-napa, HP gue kasih ke lo. Password: tanggal jadian gue sama Kiara. Tolong jagain dia ya. Dia ceng. Jangan bilang gue udah nggak ada. Bilang aja gue pindah kerja ke tempat jauh. Nggak ada sinyal. Biar dia nggak nunggu. Biar dia bisa jalan lagi."
Arka lipet surat itu. Dia liat chat terakhir dari Kiara: "Makasih ya Ga. Gara-gara lo, gue berani buka hati lagi."
Arka senyum kecut. Dia ngetik balesan. Jari jempolnya ngetik pelan: "Sama-sama, Ki. Hati-hati di jalan. Jangan lupa payung."
_Kirim_. Terus dia matiin HP. Malem itu, dia baru tau rasanya jadi kakaknya sendiri.