NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di dalam kamar rawat, suasana yang tadi sempat riuh oleh kemarahan Dwi kini mulai mereda.

Swi melirik jam di dinding, lalu mengusap punggung tangan Xena dengan lembut.

"Xen, aku harus kembali kerja," ucap Dwi dengan nada yang jauh lebih lunak, meski matanya masih sempat memberikan tatapan tajam pada Prabu yang baru saja kembali masuk ke ruangan.

"Ingat, kalau ada apa-apa, langsung telepon aku. Jangan diam saja."

Xena mengangguk kecil. "Terima kasih, Dwi. Maaf ya sudah membuatmu repot."

Setelah Dwi berpamitan dan suara langkah kakinya menghilang di koridor, keheningan kembali menguasai ruangan itu.

Prabu melangkah dengan sangat pelan, seolah takut suaranya akan menyakiti Xena.

Ia kembali duduk di kursi samping ranjang, menatap Xena dengan sorot mata yang penuh dengan permohonan ampun.

Prabu baru saja hendak membuka suara untuk menceritakan konfrontasinya dengan Yanuar di bawah, namun Xena lebih dulu memutar kepalanya, menatap lurus ke arah jendela tanpa melihat suaminya.

"Pra," panggil Xena lirih.

"Iya, Xen? Ada yang sakit? Perlu sesuatu?" Prabu menjawab dengan sigap, tubuhnya condong ke depan.

Xena menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat dan menyakitkan di dadanya.

"Aku sudah memikirkannya. Aku akan tetap menjadi dokter kamu. Aku akan membantumu sampai terapimu selesai, sampai kamu bisa kembali terbang dan mengendalikan traumamu. Itu janji profesionalitasku kepada Ayah."

Prabu merasa secercah harapan muncul di hatinya.

"Terima kasih, Xen. Terima kasih."

Namun, kalimat Xena selanjutnya justru menghancurkan harapan itu berkeping-keping.

"Tapi setelah semuanya selesai, setelah kamu benar-benar sembuh dan bisa berdiri sendiri. Lebih baik kita urus perceraian kita," lanjut Xena dengan suara yang sangat datar, seolah ia sedang membacakan resep obat, bukan mengakhiri rumah tangganya.

"Aku tidak akan memaksamu lagi, Pra," ucap Xena, kini ia menoleh dan menatap mata Prabu dengan pandangan yang kosong.

"Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, tidak akan memaksamu melihatku sebagai istri, dan tidak akan memaksamu melupakan masa lalumu. Sepuluh tahun aku mencoba mengejarmu, dan hasilnya adalah luka ini. Aku sudah lelah berlari sendirian."

"Xen, aku mohon. Jangan katakan itu. Aku sudah baca buku harianmu, aku tahu betapa jahatnya aku—"

"Justru karena kamu sudah membacanya, kamu seharusnya tahu kalau aku sudah hancur sejak lama, Pra," potong Xena lembut namun tajam.

"Cinta tidak seharusnya membuatku merasa sehina ini. Biarkan aku menyembuhkanmu sebagai dokter, lalu biarkan aku pergi untuk menyembuhkan diriku sendiri sebagai manusia."

Prabu hanya bisa terpaku, melihat ketegasan di mata istrinya.

Ia menyadari bahwa kali ini, musuh terbesarnya bukanlah trauma kecelakaan pesawat atau bayang-bayang Tryas, melainkan keputusasaan Xena yang telah ia bangun selama sepuluh tahun dengan tangannya sendiri.

Xena mencoba menggeser tubuhnya ke tepian ranjang.

Gerakannya sangat lambat dan penuh kehati-hatian karena setiap guncangan kecil masih memicu denyut nyeri di wajahnya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencoba menumpu berat badannya pada satu lengan yang tidak terpasang infus.

"Aku bantu," ucap Prabu sigap.

Ia langsung bangkit dari kursi, tangannya terjulur untuk menyangga punggung Xena.

"Aku bisa sendiri, Pra," tolak Xena dingin.

Ia menarik bahunya, menghindari sentuhan Prabu seolah kulit suaminya adalah bara api yang panas.

Ia tidak ingin lagi merasakan kehangatan yang semu, kehangatan yang dalam sekejap bisa berubah menjadi kepalan tangan yang menghancurkan.

Xena berhasil menurunkan kedua kakinya ke lantai yang dingin. Namun, saat ia mencoba berdiri tegak, dunianya mendadak miring.

Efek dari tekanan darah yang rendah dan rasa syok semalam membuat kepalanya berputar hebat. Pandangannya menggelap, dan lututnya mendadak kehilangan kekuatan.

"Xena!"

Prabu yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya, langsung bergerak secepat kilat.

Sebelum tubuh Xena menghantam lantai, Prabu sudah lebih dulu menangkap dan memegang kedua lengan istrinya dengan kuat.

Napas Xena tersengal, ia terpaksa bersandar pada dada Prabu untuk mencari keseimbangan.

Aroma parfum Prabu yang maskulin merasuk ke indranya—aroma yang dulu sangat ia puja, namun kini terasa begitu menyesakkan.

"Lepaskan..." bisik Xena lemah, meski ia sendiri hampir tidak bisa berdiri tegak.

"Tidak, Xen. Aku tidak akan melepaskanmu lagi," balas Prabu dengan suara berat yang bergetar.

Ia mempererat pegangannya pada lengan Xena, bukan untuk menyakiti, melainkan untuk memastikan istrinya tidak jatuh.

"Jangan keras kepala. Kamu masih sangat lemas. Biarkan aku membantumu ke kamar mandi, setelah itu kamu boleh mengusirku lagi."

Xena terdiam, ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menahan air mata yang kembali mendesak keluar.

Ia membenci kenyataan bahwa di titik terlemahnya, ia masih harus bergantung pada pria yang telah menghancurkan martabatnya.

Sementara Prabu, ia menatap wajah Xena dari jarak dekat, menatap perban yang menutupi luka hasil perbuatannya, dan merasakan penyesalan itu kembali mencabik-cabik jantungnya.

Suasana di dalam kamar mandi yang sempit itu terasa begitu canggung dan menyesakkan.

Prabu masih memegangi lengan Xena dengan posesif, memastikan istrinya tetap stabil di atas kakinya yang masih lemas.

"Pra, tolong keluar. Aku bisa sendiri di sini," pinta Xena dengan suara rendah.

Ia menatap lantai, tak sanggup menatap cermin yang mungkin akan memperlihatkan betapa menyedihkan kondisinya sekarang.

"Aku tunggu di balik pintu ini, Xen. Aku tidak akan pergi," jawab Prabu tegas. Namun, saat ia melihat Xena mulai berjuang dengan satu tangannya yang bebas untuk melepas celana dalamnya, ia melihat jemari istrinya gemetar hebat.

Goncangan fisik dan rasa sakit di wajah membuat koordinasi tubuh Xena kacau.

Xena mencoba menarik kain tipis itu, namun ia meringis saat luka di wajahnya berdenyut karena gerakan tubuhnya yang dipaksakan. Ia hampir kehilangan keseimbangan lagi.

Tanpa suara, Prabu berlutut di depan Xena. Ia mengabaikan harga dirinya sebagai seorang pilot yang angkuh dan mulai membantu istrinya dengan gerakan yang sangat lembut.

"Pra, jangan... aku malu..." bisik Xena, wajahnya yang pucat kini bersemu merah karena rasa malu yang luar biasa. Ia mencoba menghalangi tangan Prabu.

Prabu mendongak sejenak, menatap mata Xena dengan sorot yang dalam dan penuh kesungguhan.

"Aku suamimu, Xen. Buat apa malu? Aku sudah melakukan hal yang jauh lebih buruk daripada sekadar membantumu di kamar mandi. Biarkan aku menebus sedikit saja rasa bersalahku."

Xena akhirnya terdiam, membiarkan Prabu membantunya.

Setelah itu, Prabu segera berbalik badan, menghadap ke arah pintu kamar mandi untuk memberikan privasi bagi Xena saat membuang air kecil.

Di dalam keheningan itu, hanya terdengar suara air dan napas Prabu yang terasa berat.

Ia memejamkan mata, merutuki dirinya sendiri yang baru sekarang belajar menghargai istrinya di saat kondisi Xena sudah sehancur ini.

Setelah selesai, Xena berpegangan erat pada besi pengangan di dinding.

"Sudah, Pra..."

Prabu kembali berbalik. Dengan ketelatenan yang tidak pernah ia tunjukkan selama sepuluh tahun pernikahan mereka, ia kembali memasangkan celana dalam istrinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Xena adalah boneka yang bisa hancur kapan saja jika ia salah menyentuh.

Sentuhan lembut Prabu justru membuat hati Xena semakin perih.

Ia bertanya-tanya, mengapa kelembutan ini baru muncul setelah ada darah yang mengalir dan tulang yang memar.

"Ayo, kita kembali ke tempat tidur," ucap Prabu pelan.

Ia kembali membopong sebagian beban tubuh Xena, menuntun wanita itu keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sangat sinkron, mencoba membangun kembali puing-puing kepercayaan yang sudah ia runtuhkan sendiri.

Prabu membantu Xena merebahkan diri kembali ke ranjang pasien dengan sangat hati-hati.

Ia menarik selimut hingga sebatas dada istrinya, memastikan Xena merasa hangat dan nyaman di tengah dinginnya suhu ruangan rumah sakit.

"Istirahatlah lagi, Xen. Kamu masih butuh banyak tenaga untuk pulih," ucap Prabu lembut sambil merapikan bantal di bawah kepala Xena.

Xena hanya menatap kosong ke arah langit-langit, namun ia tidak menolak perhatian itu.

Prabu berdiri sejenak, menatap wajah istrinya yang masih terbalut perban dengan rasa bersalah yang tak kunjung hilang.

"Aku keluar sebentar ya, mau cari makan. Kamu mau dititip sesuatu?" tanya Prabu.

Xena menganggukkan kepalanya pelan tanpa menoleh. Namun, sebelum Prabu melangkah keluar, suara lirih Xena menghentikannya.

"Jangan daging kambing ya, Pra. Kamu hanya boleh makan daging sapi atau dada ayam," ucap Xena dengan nada yang masih sangat lemah, namun terdengar sangat tegas soal aturan kesehatan.

Prabu tertegun di ambang pintu. Ia tidak menyangka dalam kondisi seperti ini, Xena masih memikirkan asupan makanannya.

"Ingat, jangan kulit ayam juga," tambah Xena lagi, menutup matanya perlahan.

Hati Prabu mencelos. Ia teringat kembali pada hasil pemeriksaan medisnya beberapa waktu lalu mengenai kadar kolesterol dan tensinya yang sempat tidak stabil akibat stres pasca-trauma.

Xena selalu menjadi orang yang paling cerewet soal menu makannya demi menjaga agar Prabu tetap bisa lolos tes kesehatan penerbangan.

"Iya, Xen. Aku ingat. Sapi atau dada ayam, tanpa kulit," jawab Prabu dengan suara serak.

Ia berdiri mematung selama beberapa detik, menatap punggung tangan istrinya yang terpasang infus.

Di saat ia telah memberikan luka fisik yang nyata pada Xena, wanita itu justru masih sibuk menjaga kesehatan jantung dan tubuh suaminya agar tetap bisa mengejar mimpinya di langit.

"Terima kasih sudah selalu menjagaku, Xen. Bahkan saat aku tidak pantas mendapatkannya," bisik Prabu sebelum akhirnya melangkah keluar dengan perasaan yang semakin remuk.

Ia berjanji dalam hati, mulai detik ini, ia akan mengikuti setiap kata-kata Xena seolah itu adalah perintah suci yang tak boleh dilanggar.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!