Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Pagi ini mbak Rini memasak sarapan unyuk Maira dan yang lain nya, tapi menu nya tetap sederhana bukan menu yang di ingin kan oleh Azam dan keluarga nya.
Maira yang memang tidak pilih- pilih makanan langsung saja sarapan, Azam pun ikut duduk di samping Maira. Dia ikut menikmati sarapan yang sudah di siap kan oleh mbak Rini, walaupun dia tidak suka. Azam sengaja karena dia ingin membujuk Maira agar mau membelikan bahan bakar untuk mobil nya.
"Sarapan nya ini lagi, ini lagi!" Omel Mama Wina.
"Kalau mau silahkan atau kalau tidak ya tidak masalah, silahkan makan di luar!" Maira berkata dengan ketus.
Seperti biasanya, Nia dan Ayu selalu datang saat semua orang akan sarapan. Dia memang tidak pernah memasak dan selalu sarapan di rumah ini.
"Hanya ini sarapan nya? Kasihan Ayu, dia harus makan makanan bergizi!" Ni pun protes dengan menu sarapan pagi ini.
"Siapa yang suruh mbak Nia makan di rumah ini? Kan mbak Nia punya rumah sendiri, jadi bebas dong jika mbak Nia mau masak di rumah mbak Nia sendiri, tidak akan ada yang mengganggu!" Sindir Maira sambil tersenyum.
"Udah jangan berdebat lagi, aku mau sarapan!" Azam kesal karena istri dan ipar nya masih saja tidak ada yang mau mengalah.
Akhir nya Mama Wina dan Nia ikut menikmati makanan itu, tanpa banyak protes lagi. Mereka tidak mungkin membeli makana dari luar, karena saat ini mereka sedang tidak punya uang lagi.
"Sayang, mas anter kamu ke kantor ya!" Azam bicara dengan lembut.
"Hhmmmm!" Maira tidak menjawab hanya seperti itu saja.
"Sayang, bahan bakar mobil habis. Kita isi dulu ya!" Kembali Azam berkata.
"Ya udah, tinggal di isi saja!" Jawab Maira datar.
"Sayang, uang nya mana? Biar mas segera mengisi bahan bakar nya!" Dengan tidak tahu malu nya Azam meminta uang pada Maira.
"Loh mas, kemarin kan kamu dan keluarga nya yang pake tuh mobil, jadi isi saja sendiri!" Jawab Maira ketus.
"Sayang, uang nya mas udah habis. Kemarin beli semua kebutuhan sekolah nya Ayu, karena mbak Nia tidak punya uang. Kan kamu sampai saat ini belum mengirim kan uang sama mbak Nia!" Azam memberikan alasan pada Maira.
"Iy ni Mai, kok sampai sekarang uang jatah bulanan ibu kamu belum kirim sih? Ibu butuh uang ni, lelet banget jadi menantu!" Umpat Mama Wina.
"Punya mbak juga belum!" Nia berkata dengan tidak tahu malu nya.
"Sama, punya aku sampai saat ini belum mbak Maira kirim kan!" Lara ikut nyeletuk.
"Maaf ya, aku bukan mesin Atm kalian, yang akan memberikan uang pada kalian saat kalian butuh. Mulai sekarang, aku berhenti memberi kalian semua uang lagi. Jadi jika kalian butuh uang, maka kalian bisa minta secara langsung sama mas Azam, bukan aku!" Maira berkata dengan tegas.
"Maira, tolong lah jangan memperpanjang masalah. Mereka adalah keluarga ku, hormati mereka!" Azam berkata lagi.
"Mas, jika aku tidak menghormati mereka, tentu saja mereka tidak akan bisa tinggal di rumah ini. Menghormati berarti bukan berarti aku akan memenuhi semua nya lagi!" Maira kini sudah bertekad untuk mau lagi membagi uang nya lada mereka.
Setelah berkata seperti itu, Maira langsung memesan sebuah taksi online untuk nya. Biar lah dia pergi ka kantor dengan taksi saja, Maira sudah tidak ingin lagi mengeluarkan uang untuk membeli bahan bakar minyak. Jika Azam ingin memakai nya, maka silahkan dia isi sendiri bahan bakar nya.
Hari ini dengan sangat terpaksa Azam pergi ka kantor naik ojek, dia tidak bisa lagi bergaya di depan teman- teman nya naik mobil. Karena saat ini bahan bakar nya sudah habis dn dia tidak punya uang untuk membeli nya. Dia hanya punya uang pegangan untuk makan siang saja, selain itu tidak ada lagi.
Setelah kepergian anak - anak dan menantu nya dari rumah, Mama Wina kembali membahas masalah modal untuk investasi pada Nia. Dia tidak bisa diam saja, mereka tidak akan punya uang lagi karena Maira sudah mengatakan bahwa dia tidak akan memberikan uang lagi untuk diri nya dan juga yang lain nya.
"Nia, kita harus bisa mendapat kan uang untuk modal investasi itu. Dengan begitu kita bisa membuktikan pada Maira, bahwa kita bisa punya uang tanpa diri nya!" Mama Wina berkata Nia.
"Iya Ma, aku juga berfikir begitu. Jika kita bisa mendapat kan uang dari hasil investasi itu, maka kita bisa tunjuk kan pada Maira tanpa uang pemberian dari nya kita bisa kaya!" Nia juga setuju dengan apa yang di katakan oleh Mama mertua nya.
"Nia, bagai mana kalau kita jual saja rumah mu dengan begitu kita busa join investasi sama Winda. Kau dan Ayu tinggal lah di sini, di rumah ini. Kau dan Ayu adalah tanggung jawab nya Azam, dan Maira tidak bisa membantah nya!" Mama Wina memberi usul pada Nia.
"Aku juga berfikir begitu Ma, saat kita berhasil nanti kita bisa membalas perbuatan nya Maira pada kita!" Nia setuju dengan usul yang di berikan oleh mertua nya.
"Ayo Nia, tunggu apa lagi, kita harus segera menjual nya, jangan terlalu lama!" Mama Wina sudah tidak sabar lagi.
"Benar Ma, ayo ikut aku Ma. Kita harus ambil gambar rumah itu dari berbagai sudut, dengan begitu mudah bagi kita untuk mempromosi kan nya!" Ajak Nia pada Mama Wina.
"Iya, ayo!" Kedua wanita berbeda usia itu segera pergi meninggal kan rumah itu.
Kedua nya menuju ke rumah nya Nia, rumah yang hanya berjarak beberapa rumah dari tempat tinggal Maira dan Azam. Mama Wina dan Nia segera mengambil gambar rumah itu, baik di dalam maupun di luar. Merka berdua lalu langsung mempromosikan rumah itu di grup jual beli online.
Tidak lupa Nia juga memasang tarif untuk rumah itu, dia berharap rumah itu akan segera laku terjual.
"Semoga saja rumah ini bisa segera laku ya, Ma. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bisa punya uang sendiri!" Nia berkata pada Mama Wina.
"Iya Nia, ibu juga berharap nya begitu. Setelah kita punya uang dari hasil join investasi nanti, ibu akan tampar mulut busuk nya si Maira dengan uang itu!" Ujar Mama Wina dengan geram.
"Iya Ma, dengan begitu Maira tidak akan bisa merendahkan kita lagi!" Nia ikut menjawab.
Kedua wanita itu tidak sabar menunggu ada orang yang mau membeli rumah itu, mereka sudah tidak sabar lagi untuk join investasi dengan Winda. Mereka tidak terima dengan sikap Maira yang menolak untuk memberikan uang lagi pada mereka.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH