Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
“Maria, ada yang bisa aku bantu?”
Suara Nindi terdengar ringan saat ia melangkah masuk ke dapur belakang. Aroma adonan dan mentega langsung menyambutnya, hangat dan menenangkan.
“Ah, Nindi. Kamu datang tepat waktu,” sahut Maria tanpa menoleh. Kedua tangannya sibuk mengaduk adonan. “Tolong masukkan loyang itu ke dalam oven, ya. Tanganku lagi penuh.”
“Siap.”
Tanpa banyak bicara, Nindi langsung bergerak. Dengan cekatan, ia mengangkat satu per satu loyang berisi adonan roti yang sudah siap dipanggang, lalu memasukkannya ke dalam oven. Gerakannya cepat, rapi, dan terbiasa.
“Bagaimana di depan? Masih ramai?” tanya Maria.
“Sudah tidak seramai tadi,” jawab Nindi sambil menutup pintu oven. “Ini sudah semua. Selanjutnya apa lagi?”
Maria akhirnya berhenti sejenak, melirik ke arah Nindi. “Sudah tidak ada, cuma tinggal menimbang dan membentuk adonan saja.”
“Biar aku bantu.”
“Kamu tidak usah bantu di sini,” kata Maria cepat. “Lebih baik bantu di depan. Kasirnya siapa yang jaga?”
“Sonya ada di sana,” jawab Nindi santai. “Makanya aku ke sini.”
Ia sudah mengambil adonan, siap bekerja.
Maria menghela napas kecil, tapi akhirnya mengalah. “Ya sudah. Tapi apa kamu tahu caranya?”
“Tidak, kamu bisa mengajariku.”
Maria mendekat, lalu mulai memberi contoh. Ia memotong adonan, menimbangnya dengan presisi, kemudian mengisinya dengan selai sebelum membentuknya rapi.
Nindi memperhatikan dengan bibir tersenyum tipis. Ada sesuatu yang terasa hangat melihat kesungguhan Maria menjelaskan setiap langkah itu.
Seandainya Maria tahu, bahwa resep roti ini sebenarnya berasal darinya, mungkin perempuan di hadapannya itu akan terkejut. Atau justru tidak percaya. Nindi menahan senyumnya. Ia memilih diam. Untuk saat ini, lebih baik semuanya tetap seperti ini.
“Begini,” katanya.
Nindi mengangguk.
“Oke… ternyata tidak serumit yang aku kira,” gumamnya.
Maria langsung melirik tajam. “Jangan sombong dulu. Kelihatannya memang gampang, tapi praktiknya tidak.”
Nindi tersenyum miring. “Tenang saja. Aku tidak akan sombong kalau aku tidak bisa.”
Maria tertawa kecil. “Nah, itu baru benar. Sombong harus pada tempatnya.”
Nindi pun mulai bekerja. Tangannya bergerak cepat, memotong, menimbang, mengisi, membentuk. Semua dilakukan dengan presisi yang hampir sama seperti yang dicontohkan Maria.
Maria memperhatikannya beberapa saat. Lalu tersenyum.
“Sombongmu sepadan dengan kemampuanmu.”
“Kamu baru sadar?” balas Nindi ringan.
Mereka tertawa kecil.
Beberapa menit berlalu, suasana dapur terasa lebih ringan. Nindi bahkan sempat melirik jam di dinding.
“Hari ini, aku akan membuatmu pulang lebih cepat, Maria,” katanya sambil tersenyum tengil.
Maria mengangkat alis. “Serius?”
“Serius.”
Maria tersenyum lebih lebar. “Kalau begitu, aku akan mengajakmu makan di rumahku kalau kamu berhasil melakukannya.”
“Wah, benar?” mata Nindi langsung berbinar. “Memang kamu mau memberiku makan apa?”
“Kamu tahu ramen?”
“He’e?”
“Aku akan buatkannya untukmu. Aku jago soal itu.”
Nindi tertawa kecil. “Baiklah. Kalau begitu aku jadi semakin semangat bekerja.”
Satu jam kemudian, semua adonan sudah selesai dibentuk. Loyang-loyang tersusun rapi, siap masuk tahap fermentasi. Tepat saat itu, Sonya masuk ke dapur.
“Wow… sudah selesai?” katanya terkejut.
“Berkat Nindi,” jawab Maria tulus.
“Berkat ramenmu,” ralat Nindi cepat.
“Ramen?” Sonya langsung mengernyit.
“Iya, aku mau ke rumah Maria nanti. ”
“Tidak boleh.” Nada Sonya langsung tegas.
Nindi terdiam. “Hah? Kenapa?”
“Anaknya,” jawab Sonya singkat. “Tidak bisa lihat perempuan cantik.”
“Hah?” Nindi makin bingung.
“Dion sudah tidak seperti dulu,” Bela Maria.
“Pokoknya tidak boleh,” potong Sonya tegas, nadanya tidak memberi ruang untuk dibantah. “Kalau kamu mau membuatkan ramen untuk Nindi, bawa saja besok ke sini.”
Maria yang sejak tadi tersenyum, perlahan kehilangan ekspresinya. Senyum itu memudar, tergantikan oleh raut yang sulit disembunyikan. Ada kecewa di sana. Tipis, tapi terasa.
Tangannya yang semula bergerak kini berhenti sejenak di atas meja. Ia menunduk, berusaha menata kembali perasaannya sebelum kembali mengangkat wajah.
“Baiklah,” ucapnya pelan.
Namun suaranya tidak lagi sehangat tadi. Nindi yang melihat itu ikut terdiam. Ada rasa tidak enak yang menyelinap, seolah ia tanpa sadar menjadi penyebab suasana berubah. Sementara Sonya tetap berdiri di tempatnya, sikapnya tegas, seolah keputusan itu sudah final dan tidak perlu diperdebatkan lagi.
Dan di antara mereka suasana yang tadi hangat, perlahan berubah menjadi kaku.
Nindi menatap Maria dengan rasa tidak enak. “Maaf…”
Maria tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Besok aku bawakan saja.”
Namun jelas senyum itu tidak sepenuhnya tulus.
“Sudah selesai di dapur, kan?” lanjut Sonya. “Kembali ke kasir.”
Nindi mengangguk pelan.
Dengan perasaan sedikit berat, ia kembali ke depan.
Kafe sudah tidak terlalu ramai.
Namun sebagian besar pelanggan yang datang adalah perempuan. Dan hampir semuanya memesan di kasir, tapi matanya mengarah ke satu tempat.
Yaitu ke Bar. Ke arah Clay.
Nindi memperhatikan itu. Ya, Clay memang idola disini.
Krincing…
Pintu terbuka. Seorang wanita masuk. Cantik. Tinggi. Elegan. Penampilannya rapi dan mahal. Cara berjalan, cara berdiri, semuanya memancarkan kepercayaan diri. Nindi langsung tahu. Wanita ini, bukan orang biasa.
“Namanya Alice. Mantan Clay.” Suara Cris tiba-tiba muncul di sampingnya.
Nindi menoleh kaget. “Sejak kapan kamu di sini?”
“Barusan,” jawab Cris santai.
“Oh…” Nindi kembali melihat wanita itu.
“Dia pacar sehari.”
“Pacar sehari??”
“Kata Clay, yang penting sudah pernah tidur bersama,” lanjut Cris santai.
Nindi langsung menatap Clay dengan kesal. “Brengsek…”
“Makanya jangan tergoda,” tambah Cris.
Nindi mendengus. “Seolah-olah aku yang bakal tergoda.”
Cris tersenyum tipis. “Bisa jadi sebaliknya.”
Nindi tertawa kecil. “Sudah sana, kerja. Kasihan Maron.”
Cris ikut tertawa lalu pergi.
Alice sudah berdiri di depan kasir.
“Cokelat hazelnut dan sandwich,” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari Clay.
“Oke. Totalnya 15 dolar.”
Setelah membayar, Alice tidak langsung pergi. Ia hanya bergeser sedikit. Lalu duduk di depan bar. Menghadap Clay. Dengan posisi terlalu mencolok. Nindi sampai terpana.
“Wow…”
Alice memang tahu caranya menarik perhatian. Namun Clay? Tidak bereaksi. Sama sekali.
“Maaf,” kata Nindi tiba-tiba, sedikit kikuk. “Kamu cantik sekali.”
Alice meliriknya sinis.
“Percuma cantik,” katanya dingin. “Kalau satu laki-laki saja tidak bisa didapat.”
Nindi terdiam. Alice menatap Clay. Yang bahkan tidak melirik.
“Kamu pegawai baru?” tanya Alice.
“Iya.”
“Bisa dekat dengannya pasti menyenangkan kan?"
Nindi melirik Clay. Lalu kembali ke Alice.
“Ya… anggap saja begitu.”
Kalimat itu keluar tanpa dipikir dan terkesan terpaksa. Dan Clay mendengarnya. Dan entah kenapa sedikit mengusik.
Beberapa detik kemudian langkah kaki terdengar mendekat. Nindi belum sempat bereaksi. Clay sudah berdiri di depannya. Dekat. Terlalu dekat.
“Benarkah dekat denganku menyenangkan?” tanyanya pelan. Nada suaranya aneh.
“Hah…” jawab Nindi kaget.
“Bagian mana yang menyenangkan?”
Nindi mundur. Satu langkah. Dua langkah. Sampai punggungnya menyentuh meja bar.
“Clay…?”
“Clay!”
Alice berdiri. Suasana langsung berubah. Beberapa pelanggan mulai memperhatikan.
Maron dan Cris saling melirik.
“Ini mulai,” gumam Maron.
“Bahaya,” balas Cris.
“Jawab,” kata Clay pelan.
Tatapannya intens. Menekan. Nindi tidak bisa berpikir.
“Clay,” Nindi memekik, dengan pikiran yang bingung. Tapi kemudian dia bisa menangkap maksudnya. Clay sedang memprovokasi Alice. Dan itu menggunakannya.
“Jawab.”
Suasana menegang. Nindi panik. Dan tanpa pikir Panjang, ia menunduk, lalu langsung menyelinap keluar dari sisi Clay. Berlari ke arah Cris.
“Nindi!”
Clay hanya tersenyum tipis. Smirk. Seolah menikmati reaksi itu.
Nindi berhenti di dekat Cris. Napasnya sedikit terengah. Lalu ia menoleh. Menatap Clay. Dan Alice. Bergantian.
“Tolong, jangan libatkan aku,” katanya tegas.
“Aku tidak ada urusan dengan hubungan kalian.”
Suasana hening. Dan untuk pertama kalinya, Clay tidak langsung membalas.