❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: KESOMBONGAN YANG TAK BERALASAN
Sementara di rumah megah keluarga Singhania, suasana masih terasa sangat dingin dan tegang.
Ny. Savitri duduk bersandar di sofa mewahnya yang empuk, wajahnya terlihat masam dan penuh keangkuhan. Di tangannya ia memegang cangkir teh mahal, namun matanya terus melirik ke arah pintu utama seolah sedang menunggu seseorang.
"Hmph! Sudah berhari-hari dia pergi tapi belum juga pulang. Memang keras kepala anak itu!" gerutunya dalam hati.
Mr. Ranveer yang sedang membaca koran di seberangnya, menghela napas panjang melihat tingkah istrinya.
"Sudahlah, Savitri. Jangan terus menerus memikirkan hal itu. Biarkan saja Aaryan menjalani hidupnya. Dia sudah dewasa, dia tahu apa yang dia lakukan," ucap Mr. Ranveer mencoba menenangkan.
Namun, bukannya tenang, Ny. Savitri malah mendengus kesal dan meletakkan cangkir tehnya dengan keras di atas meja.
"Brak!"
"Tahu apa dia?! Dia itu bodoh, Ayah! Benar-benar bodoh!" seru Ny. Savitri dengan nada tinggi dan penuh penghinaan. "Dia pikir hidup itu mudah? Dia pikir dia bisa bertahan hidup tanpa uang dan kekuasaan kita?"
Wanita itu tertawa sinis, tawanya terdengar sangat menyakitkan dan meremehkan.
"Dia itu kan manja, Ayah. Seumur hidup dia makan enak, pakai mahal, dihormati orang banyak. Tiba-tiba sekarang dia mau hidup susah, tinggal di gubuk reot, makan seadanya? Jangan mimpi!"
"Aku yakin sekali... saat ini dia pasti sudah menyesal. Perutnya pasti keroncongan, badannya pasti capek, dan dia pasti sadar bahwa dia tidak bisa hidup tanpa aku! Tanpa keluarga ini!"
Ny. Savitri melipat tangannya di dada, wajahnya penuh keyakinan yang buta.
"Anak sebaik dan sekeren Aaryan Singhania mana mungkin mau bertahan lama dengan wanita rendahan seperti itu? Pasti dia sekarang sudah muak! Pasti dia sadar bahwa dia sudah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya!"
"Tunggu saja... sebentar lagi dia pasti akan menelepon. Dia akan menangis meminta maaf, dan memohon supaya kami mau menerimanya kembali. Dan saat itu terjadi... aku akan membuatnya berlutut! Aku akan membuatnya sadar posisinya yang sebenarnya!"
Mr. Ranveer menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Kau ini... terlalu sombong, Savitri. Kau tidak mengenal anakmu sendiri. Aaryan itu keras kepala dan punya prinsip yang kuat. Kalau dia sudah mengambil keputusan, dia tidak akan mudah mundur."
"Prinsip apa?! Prinsip bisa dimakan?!" potong Ny. Savitri tak terima. "Itu bukan prinsip, tapi kebodohan belaka! Dia pikir cinta itu bisa mengenyangkan perut? Cinta itu bisa bayar listrik? Bisa bayar air? Hahaha... lucu sekali!"
"Lihat saja nanti! Saat dia kelaparan, saat dia sakit dan tidak ada yang mengobati, saat dia melihat wanita itu tidak bisa memberikan apa-apa selain senyum... saat itulah dia akan sadar siapa yang terbaik untuknya!"
"Aku yakin... dia tidak akan bertahan lebih lama lagi. Dia pasti akan kembali merangkak ke rumah ini. Dan aku... aku tidak akan langsung memaafkannya! Aku akan membuatnya menunggu!"
Ny. Savitri benar-benar merasa dirinya paling benar. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bahwa putranya yang dulu hidup bergelimang harta, bisa bahagia dan tersenyum lebar di tempat yang sangat sederhana.
Baginya, uang dan status adalah segalanya. Dan ia meremehkan sepenuhnya kekuatan cinta yang dimiliki Aaryan dan Maheera.
Ia merasa yakin, bahwa "drama" kemandirian anaknya itu hanya akan berlangsung sebentar. Paling lama seminggu, atau dua minggu... Aaryan pasti akan menyerah dan pulang menangis.
"Dasar anak tidak tahu diri... sudah kubilang jangan berurusan dengan wanita kelas bawah, eh malah ngotot. Nanti juga rasakan sendiri!" umpatnya lagi dengan penuh kesombongan.
Di dalam keangkuhannya itu, Ny. Savitri sama sekali tidak menyadari... bahwa justru di tempat yang jauh dan sederhana itu, Aaryan sedang menjadi pria yang jauh lebih dewasa, jauh lebih kuat, dan jauh lebih bahagia daripada saat ia masih tinggal di istana megah ini.