Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Apa Kartika pergi? Apa dia marah besar? Apa anak-anak kenapa-kenapa? Deva merasa takut pulang ke rumah kosong.
Namun, beberapa detik kemudian terdengar suara tawa kecil dari arah kamar Kalingga. Disusul suara Kaivan yang berteriak tidak jelas.
Deva langsung mengembuskan napas lega. Tegang di pundaknya sedikit mengendur. Ia berjalan menuju kamar Kalingga lalu membuka pintunya perlahan.
Seketika suasana hangat langsung menyambut mata Deva. Kartika duduk di lantai beralaskan karpet sambil bersandar ke tempat tidur. Rambutnya masih sedikit basah, mungkin baru selesai mandi bersama Kaivan.
Di belakangnya, Kalingga memeluk leher ibunya erat-erat sambil tertawa jahil. Sementara Kaivan yang tubuhnya lebih kecil sibuk menarik tangan Kartika dengan wajah cemberut.
“Awas, Kakak!” protes Kaivan gemas. “Ini Mama adek!”
“Enggak mau!” balas Kalingga sambil makin memeluk ibunya. “Ini Mama Kakak juga!”
“Mama adeeek!”
“Mama Kakaaak!”
Kaivan sampai berdiri di atas lutut kecilnya demi merebut pelukan Kartika. Sedangkan Kartika hanya bisa tertawa kecil sambil mencoba melerai dua anaknya.
“Udah, udah ... Mama buat dua-duanya.”
Namun Kalingga malah menggoda adiknya lagi. “Enggak! Mama lebih sayang Kakak.”
Kaivan langsung memekik kesal. “Mama cayang adek!”
“Sayang Kakak!”
“Adik!”
“Kakak!”
Suara mereka memenuhi kamar kecil itu dengan kehangatan yang sederhana. Dan lucunya mereka bertiga sama sekali tidak sadar kalau Deva sudah berdiri di depan pintu sejak tadi.
Deva hanya diam memperhatikan. Entah kenapa dadanya terasa hangat. Pemandangan di depannya begitu sederhana, tetapi mampu membuat rasa lelahnya sejak tadi perlahan menghilang.
Baru saat itulah Deva sadar, rumah ini terasa hidup karena Kartika. Istrinya itu selalu menjadi pusat kehangatan di rumah kecil mereka. Kartika yang membuat anak-anak tertawa. Kartika yang membuat rumah terasa nyaman untuk pulang. Kartika yang selama ini diam-diam menjaga semuanya tetap utuh.
“Pantas aja enggak ada yang nyambut Papa,” ujar Deva akhirnya sambil tersenyum kecil. “Ternyata lagi rebutan Mama.”
Kartika dan kedua anaknya langsung menoleh bersamaan.
“Papaaaa!” Kalingga langsung berlari lebih dulu memeluk ayahnya.
Kaivan tidak mau kalah. Anak kecil itu buru-buru ikut memeluk kaki Deva sambil tertawa.
Deva terkekeh kecil lalu mengangkat Kaivan ke gendongan. “Aduh, berat banget sekarang.”
“Hehe!” Kaivan memeluk leher ayahnya erat.
Kalingga ikut bergelayut di lengan Deva sambil bercerita cepat tentang kesehariannya di sekolah hari ini.
Dan di tengah pemandangan hangat itu Kartika hanya diam memandang mereka. Dadanya terasa nyeri. Karena sebenarnya Deva bukan suami yang jahat.
Pria itu penyayang, bertanggung jawab, dan sangat mencintai anak-anak mereka.
Itulah yang membuat Kartika bertahan selama ini. Karena setiap kali ingin menyerah, ia selalu melihat bagaimana hangatnya Deva bersama anak-anak.
Namun, justru itu juga yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan. Karena laki-laki sebaik ini kenapa tidak bisa tegas kepada keluarganya sendiri?
“Seandainya saja kamu bisa adil, Mas...” batin Kartika lirih sambil memandangi suami dan anak-anaknya. “Mungkin aku akan jadi perempuan paling beruntung.”
Namun, kenyataannya tidak seindah itu. Deva selalu luluh pada keluarganya. Selalu merasa tidak enak menolak mereka. Dan tanpa sadar hal itu perlahan menghancurkan rumah tangganya sendiri.
“Sayang ....”
Suara Deva terdengar lebih lembut dibanding pagi tadi. Pria itu duduk di tepi tempat tidur Kalingga sambil mendudukkan Kaivan di pangkuannya. Kaivan langsung memainkan kancing kemeja ayahnya sambil tertawa kecil.
“Malam ini masak apa?”
Pertanyaan itu terdengar biasa dan hal yang sederhana. Sama seperti pertanyaan yang hampir setiap hari Deva lontarkan sepulang kerja.
Biasanya Kartika akan langsung menjawab sambil tersenyum, "Ada ayam kecap sesuai request anak-anak, Mas." atau "Aku bikinin sop buntut kesukaan Mas."
Kadang wanita itu bahkan sudah menyiapkan camilan dan teh hangat sebelum Deva selesai mandi. Namun, malam ini berbeda. Kartika tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang suaminya beberapa detik dengan tatapannya yang datar, tidak marah, tidak juga lembut. Justru itu yang membuat Deva mulai merasa tidak nyaman.
Lalu, dengan suara tenang, Kartika berkata,
“Kalau Mas mau aku masakin, bayarannya seratus lima puluh ribu.”
Deva langsung melongo. “Hah?”
Saking kagetnya, Deva sampai tidak sadar menurunkan Kaivan dari pangkuannya. Anak kecil itu pun sibuk menarik tali sepatu ayahnya tanpa peduli suasana yang mulai berubah tegang.
“Kok, harus bayar?” tanya Deva sambil mengernyit.
Kartika menyandarkan tubuh santai ke kursi belajar milik Kalingga. Wajahnya terlihat tenang sekali. Seolah apa yang baru saja ia katakan adalah hal paling wajar di dunia.
“Ya, iyalah,” jawabnya ringan. “Koki di warung nasi juga dibayar karena masak.”
Deva menghela napas pendek. “Tapi, kan aku sudah beli bahan makanannya.” Nada suaranya mulai terdengar tidak sabar. “Kamu tinggal masak aja.”
Kartika tersenyum tipis. Namun, senyum itu justru membuat dada Deva terasa makin tidak enak. Karena senyum itu bukan senyum manis istrinya yang biasa, melainkan senyum seseorang yang sedang menyindir.
“Masak itu capek, Mas,” ucap Kartika pelan sambil menatap lurus mata suaminya. “Pakai tenaga. Pakai waktu.”
Wanita itu berhenti sebentar lalu melanjutkan, “Dan juga butuh kreativitas supaya rasanya enak.”
Deva membuka mulut, tetapi tidak langsung bisa membalas.
Sementara itu Kalingga mulai melirik ayah dan ibunya bergantian. Bocah itu cukup besar untuk menyadari kalau kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan Kaivan ikut diam meski belum benar-benar mengerti.
“Nanti juga makannya buat kita bareng-bareng,” kata Deva lagi, kali ini nadanya lebih rendah seperti mencoba membujuk.
Biasanya kalimat itu cukup membuat Kartika luluh. Namun, sekarang tidak. Kartika hanya mengangguk kecil.
“Iya.” Suaranya tetap tenang. “Tapi, tetap enggak sebanding sama tenaga yang aku keluarin.”
Kalimat itu membuat Deva terdiam. Entah kenapa, ucapan sederhana itu terasa seperti tamparan keras. Karena selama ini ia memang tidak pernah benar-benar menghitung lelah istrinya.
Deva hanya terbiasa melihat semuanya sudah tersedia. Makanan selalu ada di atas meja. Baju selalu bersih, wangi, dan rapi. Rumah selalu bersih. Anak-anak selalu terurus.
Sampai akhirnya ia lupa semua itu tidak terjadi begitu saja. Ada tenaga Kartika di balik semuanya. Ada waktu yang dikorbankan. Ada tubuh yang lelah. Ada jam tidur yang berkurang. Namun, semua itu dia anggap biasa saja selama ini.
Kartika berdiri perlahan dari kursi. Rambut panjangnya jatuh berantakan karena tadi dipeluk Kaivan. Ia menatap Deva sambil tersenyum kecil.
“Kalau mau hemat,” katanya santai, “beli aja nasi warung.” Ia mengambil botol minum Kaivan di meja lalu melanjutkan, “Sepuluh ribu atau dua puluh ribu juga kenyang.”
Deva benar-benar kehabisan kata-kata. Ia hanya menatap istrinya tidak percaya. Biasanya Kartika paling tidak tega membiarkannya kelaparan. Bahkan saat mereka bertengkar dulu, wanita itu tetap diam-diam menyiapkan makanan. Namun sekarang, Kartika benar-benar berubah. Bukan cuma ucapan, tetapi sikapnya juga.
Lalu, yang paling membuat Deva mulai gelisah, Kartika tampak serius. Tidak ada tanda-tanda wanita itu akan mengalah seperti biasanya.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝