NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Salju dan Dilema Matematika

Sektor Tujuh pagi itu tampak seperti negeri dongeng yang salah tempat. Di atas trotoar logam dan di sela-sela kabel optik yang menjuntai, lapisan tipis kristal es masih bertahan, berkilauan di bawah sinar matahari yang kini kembali normal. Masyarakat menyebutnya sebagai Salju Keadilan, sebuah fenomena ajaib yang dianggap sebagai sisa-sisa energi dari teknologi pendingin atmosfer milik Valerius.

Arthur berjalan menuju halte bus dengan langkah santai, sesekali menendang tumpukan es kecil di pinggir jalan. Baginya, es itu hanyalah residu energi yang tidak terbuang sempurna saat ia menyeimbangkan suhu kemarin. Namun, bagi warga kota, itu adalah bukti nyata bahwa pahlawan mereka telah melakukan hal yang mustahil.

"Lihat itu, Arthur! Esnya belum mencair!" Mia berlari menghampirinya, mencoba menangkap serpihan es yang mulai menguap. "Ibu bilang ini adalah berkah. Kita sangat beruntung tinggal di sektor yang dijaga oleh Valerius."

Arthur hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Ya, beruntung sekali. Tapi kurasa es ini akan hilang sebelum jam istirahat. Ini hanya... anomali cuaca."

"Kau selalu saja begitu, tidak pernah bersemangat," keluh Mia sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. "Tapi jujur saja, kemarin benar-benar menakutkan. Saat langit berubah kuning, aku pikir kita semua akan terpanggang seperti roti bakar."

Arthur terdiam sejenak. Ia teringat betapa tipisnya batas antara kehidupan dan kehancuran kemarin. Jika ia terlambat satu detik saja menaruh tangannya di lantai kelas, Sektor Tujuh saat ini hanyalah tumpukan abu yang tertiup angin. Namun, di dunia ini, kehancuran itu digantikan oleh cerita tentang salju dan pahlawan berbaju emas.

Sementara itu, di sebuah laboratorium rahasia jauh di bawah tanah Sektor Satu, Valerius sedang berdiri di depan tabung pemulihan energi. Tubuhnya tidak terluka secara fisik, namun secara mental, ia berada di titik nadir. Ia baru saja menyelesaikan konferensi pers selama tiga jam, menjelaskan Project Blizzard yang sebenarnya tidak pernah ada.

"Silas," panggil Valerius tanpa menoleh. "Berapa banyak lagi kebohongan yang harus kita buat?"

Silas berdiri di kegelapan sudut ruangan, memegang sebuah tablet yang menampilkan laporan sensor dari meteor yang menghilang kemarin. "Sebanyak yang dibutuhkan untuk menjaga bocah itu tetap tenang, Komandan. Jika dunia tahu dia yang melakukannya, mereka akan menuntut lebih. Dan jika mereka menuntut lebih, Arthur mungkin akan bosan dan benar-benar membiarkan kiamat terjadi."

Valerius menghela napas panjang, menempelkan dahinya ke kaca tabung yang dingin. "Kemarin... meteor itu tidak hancur, Silas. Radar menunjukkan meteor itu masuk ke dalam celah hampa dan muncul di koordinat yang tidak diketahui. Itu bukan kekuatan fisik. Itu adalah manipulasi dimensi tingkat tertinggi."

"Saya tahu," jawab Silas pendek. "Saya sudah menghapus data koordinat kemunculannya. Meteor itu muncul di sebuah planet mati di Galaksi Andromeda. Arthur tidak hanya membuangnya; dia memindahkannya ke tempat di mana ledakannya tidak akan melukai satu jiwa pun."

Valerius memejamkan matanya. Ia menyadari betapa kecilnya ia di hadapan kekuatan Arthur. Ia dipuja sebagai dewa, namun ia hanyalah seorang aktor yang membacakan naskah di panggung yang dibangun oleh seorang anak kecil.

Di apartemen nomor 402, Clara sedang sibuk membersihkan ruang tamu. Ia menyadari ada sesuatu yang aneh sejak Arthur membawa tas sekolahnya pulang kemarin. Tanaman hias di sudut ruangan yang tadinya hampir mati, tiba-tiba tumbuh subur dan mengeluarkan bunga yang sangat harum dalam waktu satu malam. Udara di dalam apartemen juga terasa sangat segar, seolah olah mereka tinggal di tengah hutan pinus, bukan di pusat distrik industri yang berpolusi.

"Arthur benar-benar membawa keberuntungan," gumam Clara sambil menyiram tanaman itu.

Ia tidak tahu bahwa di dalam kamar Arthur, di bawah tumpukan buku gambar, Heart of Gaia sedang memancarkan aura kehidupan yang sangat kuat. Kristal itu terus menyerap energi negatif dari atmosfer bumi dan mengubahnya menjadi energi vitalitas murni sebagai bentuk terima kasih kepada Arthur yang telah menjaganya.

Namun, kedamaian di apartemen itu terusik oleh suara getaran rendah yang berasal dari dasar laut Pasifik. Getarannya semakin sering dan semakin kuat. Jika sebelumnya itu seperti detak jantung, kini getarannya lebih mirip dengan suara mesin raksasa yang sedang dinyalakan dengan paksa.

Arthur, yang saat itu sedang berada di tengah pelajaran matematika di sekolah, tiba-tiba menjatuhkan pensilnya. Ia bisa merasakan frekuensi itu. Fase Ketiga telah gagal, dan mereka langsung melompat ke Fase Final, batin Arthur.

Ia menatap papan tulis di depan kelas. Bu Hera sedang menjelaskan tentang pembagian angka ribuan. Bagi Arthur, soal di papan tulis itu jauh lebih sulit dihadapi daripada armada Architects. Ia harus berpura-pura berpikir, menghitung dengan jari, dan sesekali menggaruk kepala agar tampak seperti murid normal yang sedang kesulitan.

"Arthur? Kau bisa mengerjakan soal nomor lima?" panggil Bu Hera.

Arthur berdiri dengan ragu. Di papan tulis tertera: 4.500 : 15 \= ...

Arthur berjalan maju, memegang kapur dengan tangan gemetar, akting yang ia asah dengan sempurna. Ia menghabiskan waktu tiga puluh detik hanya untuk menatap angka tersebut. Di dalam kepalanya, ia sedang memikirkan bagaimana cara menstabilkan lempeng tektonik Pasifik yang mulai retak akibat tarikan portal Architects.

Tiga ratus... tidak, jangan jawab terlalu cepat, batin Arthur.

Ia menuliskan angka 200, lalu menghapusnya lagi. Ia menuliskan angka 350, menggelengkan kepala, dan akhirnya menuliskan jawaban yang benar: 300.

"Bagus, Arthur. Meskipun agak lama, tapi jawabanmu benar," puji Bu Hera.

Arthur kembali ke kursinya dengan helaan napas lega. Namun, saat ia duduk, Mia berbisik padanya. "Arthur, kau tadi melamun, ya? Kau melihat ke arah jendela terus. Ada apa?"

"Tidak ada," jawab Arthur pelan. "Aku hanya berpikir... sepertinya sore ini akan turun hujan deras."

"Hujan? Tapi ramalan cuaca bilang langit akan cerah selama seminggu ke depan," Mia mengernyitkan dahi.

Arthur tidak menjawab. Ia tahu ramalan cuaca GDC tidak akan bisa memprediksi badai dimensional yang akan segera pecah. Ia melirik tas sekolahnya yang ada di samping meja. Heart of Gaia di dalamnya mulai bergetar, memberikan sinyal bahwa Jembatan itu akan terbuka sepenuhnya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Sore harinya, saat bel pulang berbunyi, Arthur tidak langsung pulang ke apartemen. Ia berjalan menuju sebuah taman kota yang sepi, tempat di mana Silas biasanya menunggunya dalam penyamaran.

Silas berdiri di balik pohon besar, mengenakan topi tua dan kacamata hitam. Ia tampak seperti orang asing yang sedang membaca koran fisik. Arthur duduk di bangku taman di depannya, berpura pura sedang mengikat tali sepatu.

"Waktunya sudah habis, Silas," bisik Arthur tanpa menoleh. "Besok pagi, Jembatan itu akan terbuka sepenuhnya. Architects tidak akan mengirim satelit atau pembersih lagi. Mereka akan datang dengan armada utama."

Silas menurunkan korannya sedikit. "Valerius sudah mengevakuasi sektor pantai. Tapi dia tidak bisa mengevakuasi seluruh kota tanpa alasan yang jelas. Dewan pusat akan memecatnya jika dia memicu kepanikan masal tanpa bukti fisik."

"Katakan padanya untuk melakukan latihan militer skala besar di Sektor Empat," perintah Arthur. "Gunakan alasan 'uji coba senjata baru'. Itu akan menjauhkan warga sipil dari garis pantai. Dan Silas... pastikan Clara mendapatkan peringatan khusus untuk tetap di dalam perlindungan bunker apartemen."

"Aku akan mengaturnya," jawab Silas. "Tapi Arthur... apa kau benar-benar bisa menahan mereka sendirian? Armada utama Architects adalah penghancur peradaban. Mereka memiliki teknologi yang bisa menghapus seluruh sistem tata surya."

Arthur berdiri, membersihkan debu di celananya. Ia menatap matahari yang mulai terbenam dengan warna merah yang tidak wajar.

"Mereka memiliki teknologi," ucap Arthur datar. "Tapi aku adalah alasan mengapa teknologi itu ada di tangan mereka. Mereka lupa siapa yang menciptakan hukum fisika yang mereka gunakan sekarang."

Arthur berjalan pergi, meninggalkan Silas yang tertegun di bangku taman. Kalimat Arthur barusan memberikan gambaran tentang siapa sebenarnya bocah itu di masa lalu. Bukan sekadar pahlawan atau dewa, tapi sang Arsitek asli dari keberadaan itu sendiri.

Malam itu, Sektor Tujuh terasa sangat sunyi. Tidak ada burung yang berkicau, dan angin seolah berhenti bertiup. Masyarakat sedang tidur dengan tenang, tidak menyadari bahwa di kedalaman samudra Pasifik, sebuah lubang hitam raksasa dengan cahaya ungu sedang mengembang, menelan jutaan galon air laut setiap detiknya.

Arthur duduk di balkon apartemennya, memegang Heart of Gaia di pangkuannya. Kristal itu kini bersinar dengan cahaya putih yang murni, siap untuk digunakan sebagai senjata terakhir.

"Besok akan menjadi hari yang sangat panjang," gumam Arthur. "Dan aku belum mengerjakan PR bahasa Inggris."

Ia tersenyum kecut, lalu memejamkan matanya, membiarkan kesadarannya meluas ke seluruh planet, mempersiapkan diri untuk menyambut tamu-tamu yang tidak diinginkan dari dimensi tinggi.

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!