Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Menjadi Mata-mata
"Eh, apa yang Anda lakukan?! Tuan!" Keyla membelalak saat kedua kakinya dibuka lebar oleh Dominic. Ia mencoba merapatkan pahanya kembali, namun tenaga Dominic terlalu kuat.
"Diam saja! Kubilang aku ingin memberikan pelayanan ekstra, bukan? Jangan bergerak," perintah Dom dengan tegas.
Wajah Keyla merona seketika karena malu luar biasa. Dominic kini sedang memegang sebuah salep dan dengan sangat telaten mengoleskannya pada area sensitif Keyla yang nampak memerah dan sedikit bengkak akibat kegiatan maraton mereka semalam.
"T–tapi... aku bisa sendiri, Tuan!" Keyla menutup wajahnya dengan bantal. Rasanya ia ingin menghilang dari bumi sekarang juga.
"Diam!"
"Astaga, pria ini benar-benar sengaja ingin menyiksaku dengan rasa malu!" batin Keyla menjerit.
Lima menit berlalu dan Dominic masih sangat fokus mengoleskan obat itu seolah sedang mengerjakan proyek bangunan yang sangat presisi.
Kaki Keyla mulai terasa kesemutan karena posisi yang dipaksakan.
"Berapa lama lagi?" tanya Keyla dari balik bantal.
"Sebentar."
"Dari tadi anda bilang sebentar! Anda sebenarnya mencari kesempatan dalam kesempitan, kan?!" maki Keyla spontan, suaranya melengking tinggi.
Dominic refleks menutup salah satu telinganya, namun tangannya tetap bekerja. Ia menatap wajah Keyla yang cemberut dan berkeringat dingin.
"Aku tidak bisa membayangkan jika nanti punya anak dari gadis ini. Apalagi jika sifatnya benar-benar mirip dengannya yang berisik dan suka memaki. Bisa pecah kepalaku setiap hari!" gumam Dom dalam hati.
Meskipun mulutnya ketus, gerakan tangan Dominic sangat lembut. Ia meniup pelan area yang diolesi salep agar rasa perihnya berkurang.
"Sudah selesai. Sekarang tutup kakimu dan jangan banyak tingkah lagi," ucap Dominic sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Keyla.
Keyla mendengus pelan. Diam-diam ia merasa tersentuh. "Terima kasih, meskipun anda tetap saja pria me-sum."
Dominic hanya menyeringai. "Sama-sama, istri kecil yang cerewet," jawabnya sembari masuk ke kamar mandi.
*****
"Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai mendapatkan luka seperti ini? Kau bukan pahlawan super anti peluru, Damian!" maki Clara dengan nada tinggi. Jemarinya yang terawat terlihat sedikit gemetar saat menekan kapas beralkohol ke lengan Damian yang bersimbah darah.
Damian meringis, namun ia tetap berusaha duduk tegak di sofa hotel mewah di Paris itu.
Begitu berhasil melarikan diri dari hadapan Dominic, ia langsung terbang menemui Clara. Ia butuh tempat bersembunyi sekaligus pengobatan cepat.
"Bertemu musuh lama di jalan," jawab Damian dengan berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia ditembak oleh suami Clara sendiri karena mencoba mencium Keyla.
"Ck! Kau pikir kau ini anggota mafia? Sok jagoan!" kesal Clara.
Meskipun mulutnya terus mengomel, ia tetap mengobati luka Damian dengan sangat telaten.
Damian terdiam, matanya terus menatap wajah Clara dari jarak dekat. Selama ini ia menganggap Clara hanyalah wanita manja yang menyebalkan dan haus harta, namun melihat bagaimana wanita ini fokus mengobatinya tanpa rasa jijik, ada secercah kekaguman yang sulit ia artikan.
"Ternyata kau bisa jadi sangat perhatian juga kalau sedang tidak marah-marah," bisik nya.
"Kau harus segera ke dokter setelah ini. Aku tidak mau lukamu infeksi lalu tanganmu membusuk. Pakai saja uangku seperti biasa," ucap Clara sembari membereskan kotak obatnya, tidak mempedulikan pujian Damian.
"Ada kau, untuk apa aku ke dokter?" Damian mendekat, mengabaikan rasa perih di lengannya. Ia menyelipkan anak rambut Clara ke belakang telinga dan mengecup keningnya dengan lembut. "Kau sangat cantik jika kalem begini."
Clara memutar bola matanya dengan malas, meski pipinya sedikit merona. "Simpan gombalanmu. Aku masih ada jadwal pemotretan lain sebentar lagi. Kalau kau ingin kita bermain di ranjang, lupakan saja. Aku tidak bisa."
"Hanya sebentar, Sayang. Aku merindukanmu," Damian menarik pinggang Clara.
"Kau sedang sakit, bodoh!"
"Aku masih kuat untuk sekadar melayani mu!"
"Tidak ya tidak!"
Perdebatan itu berakhir dengan Clara yang kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas tubuh Damian.
Lelaki itu tidak menunggu aba-aba lagi, ia langsung mela-hap bibir tebal Clara yang sudah menjadi candu baginya. Persetan dengan luka tembak, gairahnya jauh lebih membara.
Katakanlah Damian brengsek karena menginginkan istri orang, tapi ia tidak peduli. Baginya, semua ini adalah permainan yang akan ada bayarannya nanti.
"Ah... Damian, cukup! Aku harus segera pergi!" rintih Clara di sela cum-buan mereka.
"Buka kakimu!" perintah Damian serak. Ia menarik pinggang wanita itu dan mulai melakukan kegiatan pa-nas mereka di balkon hotel, tepat di bawah langit Paris yang mulai senja dengan pemandangan menara Eiffel yang megah.
Sementara itu, di balkon seberang...
"Mereka benar-benar sudah tidak punya urat malu. Melakukan itu secara terbuka di depanku?" gerutu Marco yang masih setia memegang kamera jarak jauhnya.
Marco merekam setiap detil kegiatan menjijikkan itu dengan wajah datar, meski sebenarnya ia mulai merasa panas dingin melihat adegan live tersebut.
"Kira-kira tuan Dom akan murka atau justru biasa saja saat melihat video ini, ya?" gumamnya lagi. "Argh, shit! Sampai kapan aku harus jadi mata-mata?!"
Drt! Drt!
Ponsel di atas meja kecil itu bergetar hebat, memecah suasana panas di bawah langit Paris.
Damian mengerang frustrasi, gerakannya terhenti tepat saat napas Clara mulai memburu tidak beraturan.
"Damian! Aku baru akan sampai! Kenapa dilepas?!" maki Clara dengan wajah memerah. Ia merasa digantung di puncak kenikmatannya.
"Sebentar, Sayang. Siapa tahu itu panggilan penting yang tidak bisa menunggu," sahut Damian dingin. Tanpa rasa bersalah, ia melangkah menjauh, membiarkan tubuh Clara terekspos udara senja.
Clara mendengus kasar. Ia meraih sebatang rokok dari tasnya, menyalakannya dengan tangan gemetar, lalu berdiri membelakangi Damian. Ia mengembuskan asap tipis ke udara sembari menatap menara eiffel.
"Ya," balas Damian singkat begitu menempelkan ponsel di telinganya.
"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan informasinya?" tanya seseorang di seberang sana dengan suara berat yang menekan.
Damian melirik punggung Clara sekilas. "Aku sedang memastikannya."
"Jangan terlalu lama bermain-main dengan wanita, Damian! Ibumu sedang sekarat, dia butuh kepastian darimu!" gertak suara itu lagi.
"Aku tahu! Tunggulah sebentar lagi, semua butuh proses," desis Damian. "Setelah aku mendapatkan apa yang kita cari, aku akan segera membawanya pulang."
Damian memutuskan panggilan sepihak. Napasnya memburu, ada amarah yang mendidih di dadanya akibat desakan dari keluarganya. Ia menatap Clara yang masih asyik dengan rokoknya, seolah wanita itu adalah kunci sekaligus beban baginya.
Damian menghampiri Clara dari belakang, menarik pinggangnya dengan kasar dan kembali melakukan penyatuan paksa untuk melampiaskan segala kekesalan yang menghimpitnya.
"Ah, Damian... pelan sedikit!" rintih Clara kaget. Ia kembali tenggelam dalam gai-rah yang membakar akal sehatnya.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃