karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di tengah ketegangan itu, seorang pelayan masuk dengan terburu-buru. "Tuan Doni, maaf mengganggu. Di depan gerbang ada sebuah mobil box logistik yang meninggalkan sebuah paket besar. Mereka bilang itu hadiah untuk kepulangan Tuan Besar Harison."
Kakek Harison menaikkan sebelah alisnya. "Hadiah? Siapa pengirimnya?"
"Tidak ada nama, Tuan. Tapi paketnya... bergerak-gerak di dalam karung," ucap pelayan itu dengan wajah pucat .
Doni berdiri. "Ayo kita lihat."
Saka, Eliza, dan Seina mengikuti dari belakang. Maudi mendorong kursi roda Kakek Harison dengan tenang. Di teras depan, sebuah karung goni besar tergeletak. Ikatan karung itu tampak longgar. Begitu Doni mendekat dan membukanya, semua orang tersentak mundur.
Bram!
"Aaaaaaaa" teriak Eliza ketakutan,ia langsung memeluk Saka yang kebetulan ikut berdiri di samping Eliza, saat ada keributan di luar, Saka yang sedang mengerjakan tugas langsung berlari ke luar.
Pria itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tangan terikat, mulut dilakban, dan di dadanya tertempel sebuah kertas bertuliskan "HADIAH UNTUK PENGKHIANAT."
Seina menjerit kecil dan hampir jatuh pingsan jika tidak berpegangan pada pilar. Ia mengenali Bram, orang kepercayaannya yang seharusnya melaporkan kematian Kakek Harison.
Eliza mengintip lalu berteriak lagi...."Siapa itu, lagi-lagi ada yang wajahnya jelek seperti Maudi" Saka memutar bola matanya malas.
Sementara Maudi hanya tersenyum sedikit melihat tingkah Eliza, gadis manja tapi sangat penakut.
"Papa...cepat lapor polisi, Pasti itu orang jahat, lihatlah wajahnya jelek, babak belur, dia sepertinya sengaja di buang kesini, atau...atau ...ada orang yang berniat jahat dengan keluarga kita yang kaya ini" Cerocos Eliza yang masih memeluk Saka.
"Bisa diam tidak Eliza, suara cempreng mu itu bikin Papa pusing.
Sementara Seina masih ketakutan setengah mati.
Saka melepaskan pelukan adiknya yang membuatnya sesak.lalu mendekat ke arah orang tersebut, ia menarik paksa lakban yang menempel di mulut Bram....namun saat Bram akan minta tolong pada Seina, suaranya tidak keluar sama sekali, Mata Bram melotot hampir keluar...." ada apa dengan ku, kenapa... Kenapa suaranya tidak ada" tanpa sepengetahuan Bram, tekan Maudi memberikan pil bisu sesaat yang akan bertahan tanpa mengeluarkan suara selama 24 jam.
Di tengah keributan, akhirnya Doni memanggil pihak keamanan karena ia tidak tahu siapa orang yang terbungkus karung itu, ia takut kalau orang tersebut menjadi ancaman keluarga nya , Maudi mendekati Seina yang sedang mematung ketakutan. Maudi berdiri tepat di samping telinga Seina, memastikan suaranya tidak terdengar oleh orang lain.
"Ibu," bisik Maudi dengan nada yang sangat rendah namun tajam seperti sembilu. "Lain kali, jika ingin menaruh serbuk di makanan Kakek, pastikan Ibu punya penawarnya. Karena tidak selamanya aku akan sebaik ini."
Seina menoleh dengan mata melotot. "K-kamu... kamu tahu?!"
Maudi hanya memberikan tatapan mata yang begitu dingin, tatapan yang sama dengan bidadari bersyal pink yang menembak jatuh drone Rasya. "Ini baru permulaan, Ibu. Jangan coba-coba menyentuh Kakek lagi, atau aku akan memastikan Ibu memakan racun yang asli di depan Papa Doni."
Maudi kemudian kembali ke mode gadis bodoh saat Doni menoleh ke arah mereka. "Ibu Seina sepertinya sangat syok, Pa. Biar Maudi antar Ibu ke kamar untuk istirahat."
"iya Maudi, Papa akan mengurus ini, sebaiknya kalian masuk saja" Sahut Doni dengan tegas.
Sementara itu, beberapa ratus meter dari mansion, di dalam van pusat kendali yang tersembunyi, Rasya sedang menatap layar tabletnya. Meskipun drone-nya hancur, ia telah menanam mikro-pelacak pada baju Bram saat Bram masih pingsan dan akan di angkat ke mobil box melalui orang suruhannya.
"Tuan, Bram baru saja dibuang di depan rumah Daneswara," lapor Kevin.
Rasya menyilangkan kakinya, menyesap kopi dari cangkir yang telah disterilkan dengan sinar UV. "Dia membuang sampahnya di depan rumahnya sendiri? Maudi... kau benar-benar gadis yang kejam dan rapi."
Rasya melihat data sensor dari lokasi. "Kevin, perintahkan tim untuk menyadap frekuensi komunikasi di dalam mansion itu. Aku ingin tahu apa yang dibisikkan gadis itu pada Seina. Dan satu lagi..."
Rasya berhenti sejenak, matanya berkilat penuh obsesi. "Cari tahu siapa pembuat bubuk penetral yang dia gunakan. Jika dia bisa menetralisir racun saraf Bram dalam hitungan detik, dia memiliki kecerdasan medis yang melampaui standar laboratorimku.., kalau aku bisa mendapatkan nya, aku akan memanfaatkannya untuk kepentingan perusahaanku agar bisa menjadi perusahaan farmasi terbesar di dunia." Rasya tersenyum penuh arti.
Bagi Rasya, Maudi bukan lagi sekadar bakteri yang mengganggu. Maudi adalah subjek penelitian yang paling menarik, dan ia akan melakukan segala cara untuk mengisolasi gadis itu dalam jangkauannya.
Rasya menyemburkan kopinya Saat layarnya tiba-tiba berubah warna menjadi gelap gulita....
"ada apa ini?!!!"....
Rasya menggeram rendah, sebuah ekspresi langka yang menunjukkan rasa frustrasi di balik wajah datarnya yang sempurna. Di hadapannya, belasan layar monitor di dalam mobil van pusat kendali mendadak berubah menjadi gelap, hanya menyisakan satu kalimat singkat dengan font digital berwarna merah darah.
"STOP PEEPING, MR. CLEAN."
"Tuan! Sistem kita dipukul mundur!" Kevin berseru panik, jemarinya menari gila di atas papan ketik. "Bukan hanya drone yang hancur, tapi semua akses backdoor yang kita tanam di CCTV Mansion Daneswara telah diputus secara paksa. Dia melakukan enkripsi dua arah dalam hitungan detik. Ini mustahil dilakukan oleh seorang mahasiswa!"
Rasya melemparkan tabletnya ke kursi kulit yang steril... Kevin segera menyemprotkan cairan desinfektan pada area di depan Rasya yang terkena semburan kopi Rasya....
Rasya menatap tajam ke arah dinding mansion yang berdiri angkuh di kejauhan. "Dia mengunci pintunya tepat di depan mukaku," bisik Rasya syok,ia menunjuk wajahnya sendiri di depan Kevin.
Rasa penasaran itu kini berubah menjadi obsesi yang membakar. Sebagai orang yang mengendalikan jaringan farmasi dan keamanan siber global, Rasya terbiasa melihat segala sesuatu dengan transparan. Baginya, tidak ada rahasia yang tidak bisa ditembus oleh teknologinya. Namun Maudi, gadis yang ia anggap sebagai bakteri itu, justru membangun benteng yang jauh lebih steril dari laboratorium miliknya sendiri.
"Siapkan tim pemantau jarak jauh dengan sensor termal. Jika kita tidak bisa melihat wajahnya, kita akan pantau pergerakannya melalui panas tubuh," perintah Rasya dingin. "Aku ingin tahu setiap langkah yang dia ambil di dalam rumah itu."
"Tuan... bagaimana kita culik saja besok, tapi kita pura-pura berbunyi,atau kita pura-pura jadi penyelamat nya ,dan nanti Maudi akan berterima kasih dengan memberi apapun yang anda minta" tawar ke Indonesia dengan wajah polosnya.
Plakkkk...
Rasya memukul bahu asistennya " idemu sangat gila, bagaimana nanti dia menembak mati kamu" seru Rasya menggelengkan kepalanya.
"cari cara, agar aku bisa bertemu langsung dengan nya" ucap Rasya dengan wajah dinginnya.
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.