Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Semua orang langsung mendongak saat sosok Natalia muncul dari balik dinding paviliun yang hancur. Debu masih berterbangan di sekelilingnya, langkahnya tetap tenang dan anggun. Wajahnya dingin tanpa emosi.
Lusi bergegas menghampiri Andra yang masih tergeletak, membantunya duduk dengan panik. Tangannya gemetar saat memegang bahu suaminya. “Suamiku, apa yang terjadi?” tanyanya cemas.
Belum sempat Natalia membuka mulut, Andra tiba-tiba berseru dengan suara penuh kepanikan. “Andrian! Ibu! Ayah! Lihat wanita itu!” teriaknya sambil menunjuk Natalia. “Dia mencoba memperkosaku, tapi aku melawan … makanya aku jadi seperti ini!”
Suasana langsung gempar. Mata semua orang membelalak, tak percaya dengan tuduhan yang baru saja dilontarkan. Li Anna langsung melangkah maju, wajahnya dipenuhi amarah.
“Beraninya kau melukai putraku!” bentaknya tajam ke arah Natalia. Tatapannya penuh kebencian, seolah sudah yakin dengan kebenaran cerita itu.
Karina ikut maju dengan wajah meremehkan. Ia menatap Natalia dari atas ke bawah dengan penuh hinaan. “Dasar perempuan murahan!” hardiknya tanpa ragu.
Lilith yang berdiri di samping Andrian ikut membuka suara, nadanya lembut namun penuh racun. “Mungkin dia melakukan itu karena tidak pernah disentuh oleh Andrian,” ujarnya pelan. “Kasihan sekali sampai harus mencari cara seperti itu.”
Andrian menatap Natalia dengan tajam, rahangnya mengeras. Tatapannya penuh kecurigaan dan kemarahan. “Benarkah itu, Natalia?” tanyanya dingin.
Andra langsung memotong sebelum Natalia menjawab. “Kau tidak perlu bertanya!” serunya tergesa. “Dia memang mencoba melakukannya, tapi aku menolak!”
Natalia tiba-tiba terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sinis di tengah suasana tegang. Ia menatap Andra dengan tatapan merendahkan. “Aku memperkosamu?” ulangnya dingin.
Ia melangkah sedikit maju, suaranya tetap tenang dan menusuk. “Apa tidak terbalik? Kalau aku yang ingin memperkosamu lalu kenapa kau yang datang ke paviliunku?” ujarnya tajam. “Bukankah seharusnya aku yang datang ke tempatmu? Hukumnya sudah seperti itu pelaku mendatangi korbannya.”
Semua orang terdiam. Kata-kata Natalia terdengar masuk akal, membuat suasana menjadi canggung sejenak. Natalia melanjutkan dengan nada datar, “Apalagi di tengah malam seperti ini bahkan sampai menaburkan bubuk tidur.”
Andra langsung panik. Wajahnya berubah pucat, namun ia segera menggeleng keras. “Dia bohong!” teriaknya. “Wanita jalang ini berbohong!”
Ia menunjuk Natalia dengan tangan gemetar. “Dia yang menggodaku! Karena dia tidak pernah disentuh oleh Andrian, dia mencari pelampiasan lain!” tambahnya, berusaha membalik keadaan.
Lusi langsung berdiri di depan suaminya, melindunginya. “Suamiku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!” serunya lantang. Ia menatap Natalia dengan penuh kebencian. “Kau pasti yang menggoda dia! Dasar jalang!”
“Lebih baik usir saja dia dari sini!” lanjut Lusi dengan nada tinggi. Wajahnya memerah karena emosi.
Li Anna mengangguk cepat, sepenuhnya percaya pada putranya. “Benar! Putraku tidak mungkin melakukan hal hina seperti ini!” katanya tegas. “Kau yang wanita murahan itu!”
Ia menatap Natalia dengan hina. “Harusnya kau masuk ke rumah bordil saja!” bentaknya tanpa ampun. “Andrian, lebih baik usir dia sekarang juga!”
Karina langsung menyahut dengan semangat. “Iya, Kak! Untuk apa mempertahankan wanita seperti itu?” ujarnya sinis.
Lilith tersenyum tipis, lalu menambahkan dengan nada halus namun tajam. “Lebih baik diusir saja daripada mempermalukan keluarga Li kita.”
Ayah mertua Natalia yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara, meski singkat. “Masalah ini sudah jelas,” katanya dingin. “Jangan biarkan nama keluarga kita ternoda.”
Andra tersenyum puas di balik rasa sakitnya. Matanya memancarkan kemenangan saat melihat semua orang berada di pihaknya.
Andrian menatap Natalia dengan penuh amarah. Semua emosi dalam dirinya bercampur, namun pada akhirnya ia memilih mempercayai keluarganya. “Pergi kau dari sini,” ucapnya dingin tanpa ragu.
Natalia menatapnya sejenak, namun tidak ada luka atau kekecewaan di wajahnya hatinya sudah mati rasa. Justru ketenangan yang membuat semua orang merasa asing. “Baiklah,” jawabnya ringan.
Ia mengangkat dagunya sedikit. “Tanpa kalian usir pun, aku sudah tidak ingin tinggal di sini.”
Andrian tertegun. Untuk sesaat, hatinya terasa kosong. Ia mengira Natalia akan memohon, menangis, atau setidaknya membela diri dengan panik. Namun wanita di hadapannya justru pergi dengan kepala tegak.
Tak lama, Wulan datang berlari kecil mendekat. Ia berdiri di samping Natalia dengan wajah tegas. Natalia meliriknya sekilas lalu berkata, “Ayo, Wulan. Kita pergi dari sini.”
Wulan mengangguk tanpa ragu. Ia berdiri di belakang Natalia, siap mengikuti ke mana pun wanita itu pergi.
Saat Natalia melangkah pergi tanpa menoleh, Li Anna berseru dengan marah. “Jangan pernah datang memohon kepada kami lagi! Tunggu saja Andrian akan menceraikan kamu,” teriaknya keras.
Natalia yang sudah beberapa langkah menjauh tiba-tiba berhenti. Ia berbalik perlahan, tatapannya menyapu seluruh keluarga Li dengan dingin. “Tentu saja,” ucapnya tenang, “aku menunggu surat perceraian itu.”
Ucapan itu membuat suasana seketika membeku. Andrian yang sejak tadi diam mendadak melangkah maju. “Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Natalia,” katanya tegas.
Semua orang langsung menoleh padanya dengan wajah terkejut.
Li Anna bahkan membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Apa maksudmu, Andrian?” bentaknya tajam.
“Kau tidak mau menceraikan wanita sialan itu?!” lanjutnya dengan suara meninggi. Wajahnya memerah karena marah.
Lilith menatap suaminya dengan sorot mata tajam. Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya. “Suamiku apa kau masih mencintainya?” tanyanya dengan suara kecewa.
Karina ikut menyela dengan nada tak kalah tajam. Ia melangkah mendekat, menatap kakaknya penuh selidik. “Benar, Kak? Apa Kakak masih mencintai wanita sial itu?”
Lusi yang masih memapah Andra pun tak tinggal diam. “Dia sudah mencelakai suamiku!” serunya kesal. “Bahkan mencoba menodainya, kenapa kau tidak menceraikannya saja?”
Andra mengangguk lemah, memanfaatkan situasi. “Wanita seperti itu tidak pantas dipertahankan, Andrian,” gumamnya, pura-pura terluka.
Andrian mengerutkan kening, lalu menggeleng tegas. “Tentu tidak!” jawabnya cepat. “Semua yang kalian katakan tidak benar.”
Ia menatap Natalia dengan dingin, suaranya berubah keras. “Aku tidak mencintai wanita kotor itu.”
Nyess!
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk, namun Natalia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Wajahnya tetap datar, meski tangannya perlahan mengepal di balik lengan bajunya.
Andrian melanjutkan dengan nada penuh penghinaan. “Aku tidak menceraikannya karena jika kami bercerai, dia akan leluasa menggoda para pejabat lain dengan wajahnya itu.”
Ia tersenyum miring, matanya merendahkan. “Bahkan bisa saja dia merangkak naik ranjang dan menjadi selir.”
Tangan Natalia semakin mengepal kuat. Amarahnya bergejolak dalam diam, namun sorot matanya justru semakin dingin dan berbahaya.
Andrian kemudian menundukkan suara, berbicara pada keluarganya seolah Natalia tidak mendengar. “Jika dia memanfaatkan seseorang untuk membalas dendam, bagaimana?” ujarnya pelan.
Semua orang langsung terdiam, mencerna kemungkinan itu. Wajah mereka berubah, perlahan menyetujui pemikiran Andrian.
“Jadi lebih baik aku tidak menceraikannya,” lanjut Andrian. “Biar saja dia terlunta-lunta di jalanan, tapi tetap terikat denganku.”
Ia menatap Natalia dengan senyum dingin. “Dengan begitu, tidak akan ada pria yang berani menikahi wanita yang belum bercerai.”
Suasana menjadi hening sejenak. Namun Natalia tiba-tiba melangkah maju satu langkah, suaranya terdengar jelas dan tegas. “Jika kau tidak mau menceraikanku ....”
Ia menatap Andrian lurus tanpa gentar. “Maka aku yang akan menceraikanmu.”
Andrian tertawa kecil, jelas meremehkan. Ia melipat tangannya di dada. “Dengan cara apa?” tantangnya sinis.
“Apa kau akan menemui Yang Mulia Kaisar begitu saja?” lanjutnya dengan nada mengejek. “Masuk ke istana kekaisaran sangat ketat.”
Li Anna ikut menimpali dengan tawa merendahkan. “Dengan orang sepertimu? Jangan bermimpi,” katanya sinis. “Kau bahkan tidak akan diizinkan mendekat. Kau akan langsung diusir.”
Natalia hanya tersenyum tipis. Senyum itu tenang, namun mengandung keyakinan yang membuat beberapa orang tanpa sadar merasa tidak nyaman.
“Kita lihat saja nanti,” ucapnya ringan. “Dan ingat jangan pernah memohon padaku.”
Setelah itu, Natalia berbalik tanpa ragu. Langkahnya mantap, tidak ada sedikit pun keraguan dalam hatinya.
Wulan segera mengikuti di belakangnya, meninggalkan keluarga Li yang masih berdiri dengan berbagai ekspresi.
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah