NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamuflase sempurna

Lara berdiri di depan cermin kecil yang ada di dalam kamar perawatan. Ia menarik napas panjang, berusaha mengusir sisa-sisa rasa lemas yang masih menggelayut. Dengan telaten, ia merapikan almamaternya yang sempat kusut dan menyisir rambutnya agar kembali rapi.

​Lara merogoh tasnya, mengeluarkan bedak padat dan pewarna bibir tipis yang selalu ia bawa. Ia memoles wajahnya dengan hati-hati, menutupi rona pucat di pipinya agar terlihat seperti mahasiswa yang baru saja selesai mengerjakan tugas berat, bukan korban penyekapan di gudang.

​Baskara berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen sambil memperhatikan setiap gerakan Lara. Ada rasa kagum melihat bagaimana gadis itu berusaha tetap kuat dan terlihat baik-baik saja demi tidak mencemaskan orang tuanya.

​"Sudah oke, Kak? Nggak kelihatan habis pingsan, kan?" tanya Lara sambil menoleh, memberikan senyum tipis untuk memastikan.

​Baskara melangkah mendekat, matanya meneliti wajah Lara dari dekat. "Sudah jauh lebih baik. Tapi matamu masih sedikit layu, bilang saja ke Papa kamu kalau kamu mengantuk karena tadi harus riset banyak materi di perpustakaan."

​"Ide bagus," jawab Lara lega.

​Baskara kemudian mengambil tas Lara dan menyampirkannya di bahunya sendiri. "Ayo, saya antar pulang sekarang. Sudah larut."

​Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Saat masuk ke dalam mobil sport milik Baskara, suasana terasa berbeda dari keberangkatan mereka pagi tadi. Jika pagi tadi ada rasa canggung dan tegang, kini ada rasa saling percaya yang mulai tumbuh.

​Di sepanjang jalan menuju komplek perumahan mereka, Baskara melajukan mobilnya dengan sangat halus, seolah takut guncangan kecil akan mengganggu kenyamanan Lara. Sesampainya di depan gerbang rumah Lara, lampu teras terlihat masih menyala terang. Sosok Papa Lara tampak sedang duduk di kursi rotan sambil membaca koran digital.

​"Ingat, Lara," bisik Baskara sesaat sebelum Lara turun. "Besok pagi saya jemput lagi. Jangan berangkat sendiri."

​Lara mengangguk patuh. "Iya, Kak. Hati-hati pulangnya ya."

​Lara turun dari mobil dengan langkah yang dibuat seceria mungkin. Begitu sampai di depan Papanya, ia langsung mencium tangan sang Papa.

​"Pulang malam banget, Sayang? Tugasnya sudah beres?" tanya Papanya sambil menatap Lara dengan teliti.

​"Sudah, Pa. Tadi Kak Baskara bantu banyak banget, makanya bisa selesai malam ini," jawab Lara lancar, meskipun jantungnya berdegup kencang karena berbohong.

​Baskara yang masih di dalam mobil memberikan klakson singkat dan lambaian tangan sopan kepada Papa Lara sebelum perlahan melajukan mobilnya menuju rumahnya sendiri yang hanya berjarak beberapa blok.

Lara segera berpamitan kepada kedua orang tuanya, beralasan bahwa ia harus menyiapkan energi ekstra untuk hari esok. Langkah kakinya menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa jam yang lalu saat ia masih terperangkap di gudang yang dingin.

​Begitu pintu kamar tertutup rapat, Lara menyandarkan punggungnya di balik pintu dan mengembuskan napas lega yang panjang. Ia akhirnya bisa melepaskan "topeng" ketegarannya di depan orang tuanya.

​Lara berjalan menuju meja riasnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; rona merah di pipinya bukan lagi karena bedak, melainkan karena teringat bagaimana cara Baskara menjaganya sepanjang malam tadi. Tatapan mata Baskara yang biasanya dingin, berubah menjadi sangat protektif saat berada di rumah sakit.

​Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya, menatap langit-langit kamar sambil memutar kembali memori hari ini. Dari kursi mobil sport yang mewah, aroma parfum Baskara yang maskulin, hingga genggaman tangan pria itu saat ia terbangun dari pingsannya.

​Ting!

​Ponsel di atas nakas bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak ia duga.

​Baskara Langit:

sudah di kamar? Langsung istirahat. Jangan begadang cuma buat mikirin jadwal besok. Saya sudah siapkan semuanya. Good night, Lara.

​Lara tersenyum lebar, memeluk bantal gulingnya dengan perasaan yang membuncah. Ia tidak menyangka sang Ketua Panitia yang ditakuti banyak orang bisa menjadi seromantis ini di balik layar.

​"Selamat malam juga, Kak Baskara," gumamnya pelan sebelum akhirnya memejamkan mata, membiarkan rasa lelah membawanya ke alam mimpi.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!