Setelah meninggalkan Planet Vermilion, Zhao Xuan, Long Chen & Gu Tianxue menginjakkan kaki di Planet Shenzue sebuah dunia yang menjadi pusat dari Tiga Puluh Tiga alam Immortal Kuno.
Planet Shenzue terbagi menjadi Empat Benua Utama (Timur, Barat, Selatan, dan Utara) yang dikuasai oleh berbagai sekte tingkat puncak, klan kuno, dan kekaisaran raksasa. Lautan Shenzue yang tak berujung dikuasai oleh Ras Laut yang arogan dan tertutup, dipimpin oleh Kaisar Laut dan para keturunan naga airnya. Permusuhan antara kultivator daratan yang serakah dan Ras Laut yang kejam telah berlangsung selama ribuan tahun, menciptakan batas wilayah yang dipenuhi peperangan dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Lautan Kekosongan
Tiga hari telah berlalu sejak perayaan kecil di Benteng Puncak Gerhana. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Patriark Gu Cang dan ribuan loyalis yang bersujud mengantar kepergian mereka, Kapal Bayangan Naga kembali mengudara.
Kali ini, haluan kapal tidak lagi membelah badai salju, melainkan menembus sebuah tabir kabut abu-abu yang luar biasa tebal dan misterius.
Lautan Kekosongan.
Ini bukanlah lautan air, melainkan sebuah spasial raksasa yang memisahkan empat benua luar dari Benua Tengah. Di tempat ini, gravitasi bekerja secara acak, ruang dimensi bisa terlipat dengan sendirinya, dan monster-monster kekosongan bersembunyi di balik kabut ilusi. Tanpa Peta Arus Bintang dari Klan Iblis Surgawi, kapal mereka pasti sudah berlayar berputar-putar selama ratusan tahun.
Namun, di atas geladak kapal, suasana yang seharusnya tegang dan penuh kewaspadaan itu... sama sekali tidak terlihat.
Di tepi geladak, Zhao Xuan sedang duduk santai di kursi malas. Jubah hitamnya berkibar pelan. Rambut merahnya yang mencolok diikat longgar di belakang leher. Tangan kanannya memegang sebuah joran pancing bambu biasa, dengan tali pancing yang menjuntai ke dalam awan kabut di bawah kapal.
Tiba-tiba, tali pancingnya menegang.
"Oh? Sepertinya ada yang menggigit," gumam Zhao Xuan datar. Ia menarik joran bambu itu ke atas dengan satu tarikan ringan yang mengandung Niat Tirani.
WUSSSSH!
Seekor ikan bersisik perak dengan empat sayap dan gigi setajam gergaji Ikan Terbang Pemakan Ruang tingkat Ascendant terlempar ke udara dan mendarat di atas geladak. Ikan buas itu menggelepar ganas, mencoba menggigit kaki Zhao Xuan.
Zhao Xuan tidak menghindar. Ia hanya mengulurkan tangan kirinya dan meraih ekor ikan tersebut.
Detik ketika kulit Zhao Xuan bersentuhan dengan sisik ikan itu...
TSSSSS! SREEEENG!
Suara mendesis keras terdengar. Ikan tingkat Ascendant yang memiliki ketahanan fisik sekeras baja itu seketika berhenti menggelepar. Matanya memutih, sisiknya berubah warna menjadi kecokelatan yang renyah, dan aroma daging panggang yang luar biasa harum langsung memenuhi seluruh kapal.
Hanya dalam tiga detik dipegang oleh tangan kosong Zhao Xuan, ikan monster itu matang sempurna hingga ke tulangnya akibat suhu tubuh Sang Tiran yang kini mengandung Api Nirwana!
"HAHAHA! LEMPAR KE SINI, BOS!"
Dari sisi lain geladak, Long Chen yang sudah menunggu sambil memegang mangkuk berisi saus spiritual dan bubuk cabai melompat kegirangan.
Zhao Xuan melemparkan ikan matang itu ke arah Long Chen dengan santai. "Bagian luarnya mungkin agak kering. Lain kali aku akan menahan suhuku sedikit lebih rendah agar daging dalamnya tetap basah."
Jian Zui yang sedang memegang kemudi kapal tertawa terbahak-bahak melihat adegan itu. "Tuan Zhao, jika para tetua alkemis di Benua Tengah tahu bahwa Anda menggunakan Api Nirwana Primordial api suci penyembuh dan penghancur hanya untuk memasak ikan tanpa wajan, mereka pasti akan memuntahkan darah karena marah!"
Zhao Xuan menyilangkan kakinya, kembali melempar tali pancingnya ke awan kekosongan. "Jika sebuah kekuatan tidak bisa digunakan untuk menikmati hidup, maka itu bukanlah Dao, melainkan beban."
Gu Tianxue berdiri di samping Zhao Xuan, mengangguk setuju dengan wajah sedingin es, seolah-olah ucapan absurd tuannya adalah kitab suci yang paling benar.
"Ngomong-ngomong, Kakek Jian," Long Chen berbicara sambil mengunyah kepala ikan dengan rakus. "Ceritakan lebih banyak tentang Benua Tengah. Selain Klan Han Kuno yang sudah mengirim pembunuhnya pada Bos, siapa lagi preman-preman lokal di sana?"
Jian Zui menenggak araknya, wajahnya menjadi sedikit lebih serius. "Benua Tengah adalah jantung Planet Shenzue. Qi di sana sepuluh kali lebih padat dari benua lain. Penguasanya disebut sebagai Tiga Klan Kaisar dan Dua Faksi Suci."
Jian Zui mulai menjelaskan fondasi dunia dengan tenang. "Klan Han Kuno adalah ahli manipulasi, formasi, dan pembunuhan. Klan Iblis Darah menguasai wilayah barat dengan kutukan dan seni berdarah. Dan yang ketiga, yang paling sombong dari semuanya... Klan Naga."
Mendengar kata "Naga", telinga Long Chen langsung berdiri. Cengirannya melebar.
"Klan Naga mengklaim memiliki garis keturunan Naga Langit yang murni," lanjut Jian Zui. "Mereka memiliki fisik terkuat di Benua Tengah. Setiap jenius mereka memandang manusia lain seperti semut. Selain itu, ada Dua Faksi Suci yang menjaga keseimbangan: Paviliun Bintang Jatuh yang netral dan mengetahui semua rahasia langit, serta Paviliun Pedang Bintang, kumpulan maniak pedang yang Hati Dao-nya hanya berisi hasrat untuk memotong bintang."
"Terdengar seperti tempat yang menyenangkan!" Long Chen menjilat bibirnya. "Aku ingin tahu apakah 'Naga' mereka akan menangis saat kutarik kumisnya."
Zhao Xuan tidak menanggapi. Ia hanya tersenyum tipis. Baginya, Tiga Klan Kaisar atau apa pun namanya, hanyalah variasi mainan yang berbeda bentuk.
Namun, pembicaraan santai mereka tiba-tiba terhenti.
Awan kabut kekosongan di depan Kapal Bayangan Naga mendadak terbelah oleh sebuah cahaya keemasan yang menyilaukan. Dari balik kabut, sebuah Kereta Giok Emas yang ditarik oleh empat ekor Burung Bangau Roh tingkat God King Awal melesat maju, menghalangi jalur pelayaran mereka.
Di atas kereta giok itu, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan jubah putih bersulam perak seragam resmi Utusan Klan Han Kuno. Pria itu memancarkan kultivasi God King Menengah, dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan arogansi khas perwakilan klan raksasa.
"Berhenti di sana, kapal kayu dari benua bawah!" teriak Utusan Klan Han itu, suaranya diperkuat dengan Qi, menggetarkan awan di sekitarnya.
Jian Zui segera menghentikan laju kapal. Long Chen mengerutkan kening, meletakkan sisa ikannya.
"Hei, anjing putih! Kau menghalangi jalan masuk kami!" teriak Long Chen dari geladak.
Utusan itu mendengus jijik menatap Long Chen, lalu pandangannya menyapu isi kapal dan berhenti pada sosok pemuda berambut merah yang sedang duduk santai di kursi malas. Mata sang Utusan sedikit menyipit.
Rambut merah? Intelijen mengatakan sosok itu bernama Zhao Xuan dan berambut hitam legam. Tapi fluktuasi Ketiadaan yang teredam di sekitarnya sangat identik dengan laporan, batin Utusan tersebut.
Mengabaikan hinaan Long Chen, Utusan Klan Han itu mengeluarkan sebuah gulungan emas yang memancarkan pendaran cahaya surgawi.
"Aku adalah Utusan Bintang dari Klan Han Kuno," pria itu mengumumkan dengan nada tinggi dan merendahkan. "Aku membawa Dekrit Emas langsung dari Putra Suci Han Tianyi! Apakah di antara kalian yang fana ini ada yang bernama Zhao Xuan? Jika ya, berlututlah dan terima undangan suci ini!"
Gu Tianxue langsung mencabut pedang bayangannya setengah jalan, Niat Pembunuhnya meledak. Menyuruh Tuan nya berlutut adalah penghinaan yang pantas dibayar dengan pemenggalan!
Namun, Zhao Xuan mengangkat tangannya perlahan, mengisyaratkan Tianxue untuk tenang.
Zhao Xuan tidak berdiri. Ia bahkan tidak melepaskan joran pancingnya. Ia hanya menoleh perlahan, menatap utusan yang melayang tinggi di atas keretanya itu dengan tatapan kosong.
"Turunkan pandanganmu saat berbicara denganku," ucap Zhao Xuan datar.
Suaranya tidak keras. Tidak ada raungan Qi yang menyertainya. Namun, sebuah fragmen Otoritas Asura bercampur Hukum Tirani meledak dari sepasang matanya yang berbingkai emas!
BOOOOOOM!
Tekanan mental yang tidak kasat mata menghantam kereta giok itu seperti palu godam surga!
"KAAAK!" Empat ekor Bangau Roh tingkat God King itu menjerit ngeri. Sayap mereka seketika lemas, dan mereka langsung menukik jatuh seperti batu ke dalam lautan kabut.
"A-Apa?!" Utusan Klan Han itu terkesiap, kehilangan keseimbangan. Keretanya terbalik, memaksanya melompat dengan panik agar tidak ikut jatuh.
Ia mendarat dengan kasar di ujung haluan Kapal Bayangan Naga, terhuyung-huyung, dan tanpa sadar jatuh dengan satu lutut membentur geladak kayu kapal tersebut.
Hening seketika.
Pria arogan yang sedetik lalu menyuruh Zhao Xuan berlutut, kini justru yang berlutut di hadapan Sang Tiran. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi punggung utusan tersebut. Jantungnya berdetak liar. T-Tekanan macam apa ini?! Hanya dengan tatapan?!
Zhao Xuan masih duduk bersandar santai. Ia mengulurkan tangannya yang bebas.
"Gulungannya," pinta Zhao Xuan singkat.
Tangan utusan itu gemetar. Arogansinya telah dihancurkan dalam satu kedipan mata. Ia dengan patuh menyerahkan gulungan emas tersebut.
Zhao Xuan membuka gulungan itu. Matanya menyusuri tulisan kaligrafi energi yang memuat undangan penuh basa-basi dari Han Tianyi, mengundangnya ke Perjamuan Resonansi Dao Surgawi sebagai "Tamu Kehormatan".
"Sebuah perjamuan untuk para jenius Benua Tengah," Zhao Xuan terkekeh pelan, tawa yang membuat darah utusan itu serasa membeku.
Sang Tiran melempar gulungan itu kembali ke dada utusan yang sedang berlutut. Gulungan emas tingkat pusaka itu tanpa sengaja menyentuh jari Zhao Xuan, dan seketika pinggirannya hangus terbakar menjadi arang!
"Sampaikan pada Putra Sucimu," ucap Zhao Xuan sambil kembali menatap tali pancingnya ke dalam kabut. "Aku menerima undangannya. Jika hidangan di perjamuan itu tidak sesuai dengan seleraku, aku akan menjadikan kepalanya sebagai cangkir arakku. Sekarang, menyingkirlah dari kapalku."
Utusan itu menelan ludah dengan susah payah, meraih gulungannya yang setengah hangus, lalu dengan cepat membungkuk, melompat dari kapal, dan melarikan diri ke dalam kabut sekencang yang ia bisa tanpa memperdulikan kereta gioknya yang telah jatuh.
Long Chen tertawa sambil memegangi perutnya. "Hahaha! Lihat cara dia lari! Seperti anjing yang ekornya diinjak! Bos, undangan itu jelas sebuah jebakan!"
"Tentu saja itu jebakan," Jian Zui membelokkan kemudi, kembali melanjutkan pelayaran. "Klan Han terkenal dengan taktik meminjam pisau orang lain untuk membunuh. Mereka ingin menempatkan Anda di tengah-tengah kebanggaan jenius klan lain agar Anda dikeroyok, Tuan."
Zhao Xuan tersenyum miring, Seringai Asura-nya tampak semakin garang dengan kontras rambut merahnya.
"Jebakan hanya berfungsi jika mangsanya lebih lemah dari pemburunya," Zhao Xuan meletakkan pancingannya dan berdiri. Ia menatap ke ujung cakrawala, di mana cahaya keemasan Benua Tengah mulai terlihat menembus kabut.
"Mari kita lihat, seberapa keras panggung para jenius ini ketika kita sampai disana."
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️