Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
Begitu tiba di gerbang sekolah, Deva langsung berlari menuju kelas Asha tapi kosong. Ia ke kelas Cecilia. Namun, adiknya itu tampak duduk sendirian tanpa sosok Rayna di sampingnya. Dengan napas tersengal, Deva menghampirinya.
Cecilia hanya mengangkat bahu saat ditanya. “Aku berangkat bareng Kak Cloe. Rayna tidak masuk hari ini,” jawabnya datar.
“Sial!” umpat Deva pelan, merutuki kebodohannya sendiri.
Ia segera memacu motornya kembali ke rumah, berharap Rayna sudah pulang. Namun, sosok yang dicarinya tetap tidak ada di mana pun. Rasa panik mulai menggerogoti dadanya. Bayangan ucapannya sendiri yang menyuruh Rayna kembali ke Meksiko kini terus terngiang, membuat rasa bersalahnya semakin menyesak.
“Dev? Cari siapa, Nak?” Suara Alexa membuyarkan lamunannya.
“Mom, tahu Rayna di mana?” tanya Deva cepat, tak mampu menyembunyikan nada cemas.
“Oh, Rayna... tadi pagi dia pergi sama Chira.”
“Pergi ke mana, Mom?” desak Deva.
Alexa tampak berpikir sejenak. “Mom kurang tahu pastinya, tapi sepertinya ke rumah tantenya.”
“Rumah Tante Jovita?”
Deva menggerung frustrasi, suara knalpot motornya kini membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan yang tak masuk akal. Angin kencang yang menghantam wajahnya tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di hatinya. Pikirannya kacau balau, bayangan air mata Rayna di rumah pohon semalam terus menghantui seperti kaset rusak.
"Aku akan senang kalau dia kembali ke Meksiko dan tidak pernah lagi muncul di hadapanku."
Kalimat biadabnya sendiri terngiang-ngiang di telinga, seolah-olah sedang menertawakannya sekarang.
"Bodoh! Brengsek kau, Deva!" makinya pada dirinya sendiri di balik helm.
Setibanya di rumah Jovita, Deva tak mengetuk pintu. Ia tidak punya waktu untuk sopan santun. Dengan sekali hentakan bahu yang keras, ia membobol pintu kayu itu hingga terbuka paksa.
"Rayna?! Rayna, kamu di dalam?!"
Langkahnya bergema di ruangan yang sepi. Deva menggeledah setiap sudut dengan napas tersenggal, tangannya gemetar saat membuka laci demi laci di kamar yang dulu sering dipakai Rayna demi mencari petunjuk. Hingga matanya tertuju pada sebuah benda di atas meja rias yang berdebu. Di sana, tergeletak sebuah gelang giok yang warnanya sudah sedikit memudar, namun sangat ia kenali.
Jantung Deva seolah berhenti berdetak. Ia meraih gelang itu dengan ujung jari yang bergetar hebat.
"Ini... gelang yang kukasih sepuluh tahun lalu?"
Dada Deva terasa dihantam luar biasa. Ia teringat betapa kasarnya ia menuduh Rayna bersenang-senang di Meksiko, padahal gadis itu menjaga barang pemberiannya seperti nyawanya sendiri selama satu dekade. Ia merasa seperti monster yang baru saja menghancurkan satu-satunya tempat berlindung Rayna.
"Rayna! Keluar! Aku tahu kamu di sini! Maafin aku!" teriak Deva, suaranya pecah, serak karena emosi yang meluap.
Ia berlari ke arah dapur, ke balkon, hingga ke halaman belakang. Kesunyian di rumah itu terasa mencekam, seolah-olah setiap sudut ruangan sedang mengutuk kebodohannya.
"RAYNAAAAA! JANGAN PERGI!"
Deva jatuh berlutut di tengah ruang tamu yang kosong, tangannya meremas gelang giok itu kuat-kuat ke dadanya. Matanya panas, ia merasakan sesak yang luar biasa, seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
"Maafin aku... jangan kembali ke Meksiko... kumohon," lirihnya, suaranya tertahan di tenggorokan.
Namun, ia langsung bangkit lagi. Ego dan gengsinya sudah hancur lebur, digantikan oleh ketakutan yang nyata. Dengan sisa tenaga, ia kembali berlari menuju motornya. Ia harus mencari ke tempat lain. Bandara? Taman? Atau mungkin rumah sakit? Deva melajukan motornya seperti orang kesetanan, meliuk di antara kemacetan, matanya menyisir setiap trotoar dengan liar, berharap melihat sosok gadis yang baru saja ia hancurkan hatinya itu.
Deva mencengkeram stang motornya dengan tangan gemetar, napasnya memburu di balik helm. Kesunyian di rumah Jovita tadi hampir membuatnya gila. Ia tidak bisa mencari sendirian, Jakarta terlalu luas untuk satu orang yang sedang kehilangan arah.
Dengan gerakan kasar, ia merobek sarung tangannya dan menyambar ponsel. Ia langsung membuka grup percakapan markas besar geng motornya.
"NEXUS"
"Sialan! Semuanya bangun!" maki Deva, suaranya serak saat merekam pesan suara dengan nada memerintah yang tak terbantahkan.
"Gue butuh bantuan sekarang! Cari cewek dengan ciri-ciri bando biru, bawa anak kecil cadel. Cari di setiap sudut Jakarta! Bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, taman... JANGAN ADA YANG KELEWAT!"
Ia mengirimkan foto Rayna yang sempat ia ambil diam-diam saat pernikahan kemarin, foto di mana Rayna terlihat begitu cantik namun sedih.
"Siapa pun yang nemu, langsung kunci lokasi dan lapor ke gue! Jangan ada yang berani sentuh dia! Kalau sampai dia hilang dari Jakarta, gue habisin kalian semua!"
Dalam hitungan detik, ponselnya bergetar hebat. Ratusan balasan masuk. Raungan mesin motor mulai terdengar bersahutan dari berbagai penjuru markas saat anggota gengnya bergerak serentak memenuhi jalanan.
Deva kembali melesat, membelah kemacetan dengan nekat. Matanya menyisir setiap trotoar, setiap halte, bahkan setiap bayangan di bawah jembatan layang. Jantungnya berdegup kencang setiap kali melihat bando biru dari kejauhan, hanya untuk kecewa saat menyadari itu bukan Rayna.
"Rayna, ku mohon... jangan pergi dulu," bisik Deva dengan mata yang mulai memanas.
Ia benar-benar kalang kabut. Pria yang biasanya ditakuti di jalanan itu kini tampak hancur, hanya seorang pria yang ketakutan setengah mati karena baru menyadari bahwa dunianya baru saja ia usir dengan tangannya sendiri.
“Onty kita mau kemana?” lirih Chira di sisi Rayna yang hanya terdiam dengan tatapan kosong dan tak terusik dengan suara deru mesin yang membawanya pergi.
____
Jangan lupa, like, vote, komen dan favoritkan supaya author semangat nulis ceritanya sampai tamat, terima kasih...

semangat update trs ya sampai tamat💪🤗