NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip Kampus

Bab 27 — Gosip Kampus

Pertanyaan “Ini kamu… kan?” dari Rina masih terngiang di kepala Alena, belum sempat terjawab, namun dampaknya sudah mulai terasa seperti gelombang pasang yang menghantam pantai.

Hanya dalam hitungan hari, suasana di kampus berubah drastis. Apa yang tadinya hanya bisikan kecil di grup WhatsApp, kini berubah menjadi api yang menjalar cepat di seluruh sudut gedung fakultas.

Kingston University, yang biasanya tenang dan penuh semangat belajar, kini berubah menjadi ladang gosip yang panas. Dan korban utamanya... adalah Alena.

 

🔥 Api yang Menjalar

"Eh, lo denger belum gosip terbaru?"

"Yang mana? Yang soal dosen sama mahasiswi?"

"Iya tuh! Katanya ada dosen muda yang lagi 'dekat' banget sama salah satu mahasiswinya. Saking dekatnya sampai sering bolak-balik apartemen lho!"

"Wah gila! Serius? Siapa tuh dosennya? Siapa ceweknya?"

"Gak boleh disebutin nama jelasnya sih, tapi posturnya tinggi, galak, pinter banget, dan kaya raya. Udah tau kan siapa?"

"Jangan bilang... Dr. Adrian Vale?!"

"Itu dia! Dan ceweknya... katanya sih anak tahun kedua yang polos-polos manis gitu."

Obrolan seperti itu terdengar di mana-mana. Di kantin, di lorong kelas, di perpustakaan, bahkan di area parkir.

Nama mereka belum disebut secara eksplisit di papan pengumuman, tapi deskripsinya terlalu spesifik, terlalu jelas, dan terlalu menunjuk pada satu pasangan saja: Adrian dan Alena.

Foto buram itu menjadi bukti saksi yang terus disebar, di-forward dari satu HP ke HP lain, dibahas, diperbesar, dan diperdebatkan.

Ada yang bilang itu cuma kebetulan.

Ada yang bilang itu rekayasa.

Tapi semakin banyak yang membicarakan, semakin orang percaya bahwa itu pasti benar.

 

🧱 Dinding Pengucilan

Akibatnya, Alena mulai merasakan perlakuan yang sangat berbeda.

Dulu, dia punya banyak teman, sering diajak ngobrol, sering diajak kumpul-kumpul. Tapi sekarang...

Saat Alena berjalan masuk ke dalam kelas, suasana yang tadinya ramai mendadak hening seketika. Semua mata tertuju padanya, lalu mereka saling berbisik, menyenggol lengan temannya, dan tertawa sinis.

"Eh itu dia..."

"Masuk tuh si 'Kesayangan'..."

"Hushh jangan keras-keras, nanti dia lapor ke 'Papa'-nya lho..."

Alena menelan ludah susah payah. Kakinya terasa berat sekali melangkah menuju kursinya di bagian tengah. Dia mencoba bersikap biasa, mencoba tersenyum pada teman sebangkunya, tapi teman itu justru menggeser kursinya menjauh, mengambil tas dan meletakkannya di antara mereka sebagai pemisah.

Penolakan yang halus tapi sangat menyakitkan.

Bahkan Rina, teman sekamar yang paling dekat pun, kini bersikap canggung. Rina tidak lagi mengajaknya makan siang bareng, tidak lagi mengobrol asik seperti dulu. Ada tembok tebal yang terbentuk karena rasa takut ikut-ikutan terkena imbas atau dianggap satu kelompok.

Alena menjadi sendirian. Benar-benar sendirian di tengah keramaian.

Dia merasa seperti orang yang terkena penyakit menular. Semua orang takut mendekat, semua orang menjauh, semua orang menatapnya dengan tatapan menghakimi.

 

📚 Di Mata Dosen

Tekanan tidak hanya datang dari teman-teman mahasiswa, tapi juga terasa dari sisi akademik.

Saat jam kuliah dimulai, Alena bisa merasakan pandangan mata rekan-rekan dosen lain yang tertuju padanya dan pada Adrian.

Mereka tidak berkata apa-apa, tapi tatapan itu penuh arti. Penuh kecurigaan.

Adrian sendiri tampak sangat berbeda. Pria itu terlihat lebih tegang dari biasanya. Wajahnya lebih dingin, lebih keras, dan suaranya saat mengajar terdengar lebih menggelegar dan menakutkan, seolah dia sedang melampiaskan frustrasi dan tekanan yang dia rasakan.

Saat Adrian meminta mahasiswa untuk maju ke depan, Alena sengaja menundukkan kepalanya, berharap tidak dipanggil. Tapi dia sadar, di bawah meja, tangan Adrian terkepal kuat-kuat.

Mereka berdua sedang berada di atas kawah gunung berapi yang siap meletup kapan saja.

 

🗡️ Kata-kata yang Menusuk Hati

Siang harinya, Alena memutuskan untuk pergi ke rooftop gedung, tempat yang biasanya sepi dan dia jadikan tempat untuk menenangkan diri sambil makan siang. Dia butuh udara segar, butuh tempat untuk bernapas tanpa merasa diawasi.

Dia duduk di sudut yang teduh, memeluk lututnya, membuka kotak makan yang dia bawa dari rumah. Tapi suapan pertama saja sulit sekali ditelan. Dadanya sesak, perih, dan sakit sekali.

Air matanya hampir jatuh, tapi dia paksa menahan. "Jangan menangis, Alena. Jangan tunjukkan kalau kau lemah."

Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Suara langkah kaki dan tawa beberapa mahasiswi terdengar mendekat ke arah rooftop. Mereka tampak sedang asyik mengobrol dan tidak menyadari keberadaan Alena yang bersembunyi di balik tiang besar dan tumpukan barang bekas.

Mereka duduk tidak jauh dari sana.

"Eh gimana kabar si 'Bintang Lapangan' itu?" tanya salah satu suara cewek, nada suaranya sangat ketus dan sinis.

"Siapa lagi? Si Alena dong," jawab temannya tertawa. "Hahaha! Dasar cewek matre. Pinter banget caranya naik pangkat ya."

"Iya sih, emang wajahnya polos kelihatan suci banget, tapi siapa sangka kelakuannya..." suara lain menimpali dengan tawa mengejek. "Main sama bos besar ya enak, nilai pasti aman, hidup pasti enak, apa-apa pasti dibayarin."

"Gak heran sih dia bisa cepat naik kelas dan sering dipuji Bapak Dokter. Tahu sendiri kan cara kerjanya gimana?"

"Maksud lo?"

"Ya ituuu... lewat atas ranjang dong!" cewek itu tertawa keras sekali. "Mana ada dosen baik banget mau bimbingin sampai malam-malam kalau cuma soal tugas doang. Pasti ada 'jasa' lain yang dibayar kan?"

"Hahaha iya bener! Pantesan aja sombong sekarang, merasa punya pelindung kuat."

"Pokoknya mah... cewek macam gitu paling gak bisa dihargain. Sukanya juga bukan karena usaha sendiri, tapi karena dia naik karena tidur dengan dosen."

 

💥 Hancur Berkeping-keping

BRUK!

Kalimat terakhir itu jatuh tepat di hati Alena seperti palu godam yang menghancurkan segalanya.

“Dia naik karena tidur dengan dosen.”

Bukan! Bukan itu! Mereka saling mencinta! Mereka saling sayang! Tapi kenapa dunia melihatnya begitu kotor?! Kenapa cinta mereka dianggap sebagai transaksi kotor dan murahan?!

Dada Alena terasa sesak sampai rasanya dia mau muntah. Tangannya gemetar hebat, kotak makan di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai, bunyinya terdengar cukup keras di tengah tawa mereka.

BRUK!

Suasana langsung hening.

Ketiga cewek itu kaget dan menoleh cepat ke arah sumber suara. Wajah mereka berubah kaget saat melihat Alena berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, mata merah, dan air mata yang akhirnya tidak bisa ditahan lagi mengalir deras membasahi pipi.

"K-Kak Alena?!"

Alena tidak peduli. Dia tidak peduli mereka melihatnya menangis. Dia tidak peduli mereka tahu dia mendengar semuanya.

Dengan pandangan kabur karena air mata, Alena berlari menjauh dari tempat itu. Menuruni tangga secepat mungkin, meninggalkan rasa malu, rasa sakit, dan rasa hancur yang luar biasa.

Dunianya sudah hancur lebur. Cintanya yang suci, kini diinjak-injak dan dicemarkan dengan kata-kata najis yang begitu menyakitkan.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!