Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAM ISTIRAHAT
Bel sekolah berbunyi nyaring.
Teeeeetttt—!
Suara kursi bergeser hampir bersamaan di seluruh kelas, beberapa siswa langsung berdiri, ada yang mengeluh karena tugas, ada yang tertawa lega.
Senja menutup bukunya pelan.
benar-benar fokus, tulisan di papan tulis seperti masuk… tapi tidak benar-benar tinggal di kepalanya.
Bukan karena pelajaran sulit.
Tapi karena satu hal, yaitu Keano, semenjak dekat beberapa hari ini, Keano selalu ada di dalam pikirannya, tangannya tanpa sadar menyentuh meja. Masih terasa hangat… seperti sisa perjalanan pagi tadi.
"Senjaaa!"
Arelina sudah muncul di samping bangkunya entah sejak kapan.
"Astagaaa muka lu beda banget hari ini."
Senja mengerjap.
"Beda gimana?"
Arelina menyipitkan mata seperti detektif profesional.
"Ini muka orang yang abis boncengan romantis."
Senja langsung menoleh cepat. "Apaan sih!"
Arelina duduk di meja depan sambil mencondongkan badan.
"Gue liat sendiri tadi pagi ya. Motor hitam. Cowok IPS. Tinggi. Tatapan tajam tapi bucin. Itu Keano kan, akhirnya dia tepati janjinya buat jemput ."
Senja menunduk, berusaha biasa saja.
"...dia cuma nganter, kan emang biasanya gitu"
Arelina langsung menunjuk dramatis.
"CIE...yang udah mulai terbiasa." ledek Arelina
Senja hampir tertawa tapi menahannya.
Belum sempat membalas—Pintu kelas terbuka.
Seorang anak kelas lain muncul di depan pintu.
"Senja?"
Beberapa siswa langsung menoleh. "Iya?"
"Lo ditunggu di kantin."
Arelina langsung menepuk meja keras.
"GUE TAU SIAPA!"
Senja menelan ludah kecil.
Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
"Ayo!" Arelina sudah berdiri duluan. "Gue ikut. Sebagai pengawas hubungan sehat."
"Astaga rell…"
"Gak ada penolakan."
Kantin sekolah ramai seperti biasa.
Suara sendok, tawa siswa, dan aroma gorengan bercampur di udara.
Dan di salah satu meja—Keano duduk santai sambil memainkan sedotan minumannya.
Saat melihat Senja datang…
Matanya langsung berubah lembut, senyum kecilnya langsung muncul, seolah memang hanya menunggu dia.
Arelina berhenti dua langkah sebelum meja.
Pelan dia berbisik:
"...oke.ini yang namanya sudah terbiasa."
Senja memutar mata, tapi pipinya sudah memerah.
Keano berdiri sedikit. "Gue pikir lo gak dateng."
Senja duduk di depannya. "Kamu nyuruh orang manggil segala."
Keano mengangkat bahu ringan.
"Soalnya gue sengaja pengen nungguin lo disini, ini akan jadi tempat favorit kita."
Arelina langsung menyela.
"Halo... Gue Arelina ada di sini Lo, pada bucin banget lo berdua"
Keano tertawa kecil.
" siapa yang nyuruh lo ikut." Keano menjawab santai.
Arelina menatap Senja lalu Keano… lalu Senja lagi.
Lalu berbisik dramatis:
"Oke fix.gue hari ini bakal jadi bodyguard lo."
" Iya aku sih terserah kamu aja, malah senang kalau kamu gabung." Senja terlihat tenang
Keano hanya tersenyum, jelas tidak keberatan.
Ia lalu mendorong minuman dingin ke arah Senja.
"Ini buat lo."
Senja sedikit terkejut. "Kamu udah pesenin?"
"Iya, dari tadi dinginnya hampir abis gara-gara gue nunggu."
Kalimat sederhana, tapi membuat Senja diam.
Hangat kecil muncul lagi di dadanya, di tengah keramaian kantin—
rasanya dunia mereka bertiga seperti punya ruang sendiri.
Dan tanpa mereka sadari…
dari kejauhan, seseorang berdiri memperhatikan meja itu, seperti sedang mengabsen satu-satu orang di sana dan akhirnya dia tersenyum ketika melihat meja Keano.
Tengah obrolan mereka—
Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar dari belakang.
"Anjirrr… jadi ini alasan lo tiap istirahat ilang duluan."
Sebuah tangan menepuk bahu Keano cukup keras.
Keano bahkan tidak kaget.
"Telat lo."ucap Keano
Seorang cowok tinggi dengan seragam sedikit berantakan berdiri di samping meja, rambutnya agak acak, ekspresinya santai tapi matanya jahil.
Ia menarik kursi tanpa izin lalu duduk.
"Gue nyariin dari tadi, ternyata lagi… kencan pagi."
Senja langsung salah tingkah.
Arelina malah langsung tertarik.
"Wah siapa nih, kayaknya gue pernah lihat, lo anak basket juga kan?"
Keano menghela napas kecil, tapi terlihat akrab.
"Denis temen sebangku gue."
Denis mengangkat tangan santai.
"Halo semuanya, gue saksi hidup perubahan drastis manusia bernama Keano, dan lo Arelina kan si paling berisik kalau kita lagi main?."
Arelina langsung menimpali ucapannya.
" Waaah.. ternyata gue cukup terkenal juga ya di kalangan kalian."
Keano menyenggol kakinya di bawah meja.
"Jangan banyak bacot."
Rafi tertawa. "Aelah ke, kalian tahu gak nih anak pas baru-baru masuk sekolah, biasanya jam istirahat itu suka tidur di kelas kalau gak latihan basket."
Arelina langsung menunjuk Denis
"NAH KAN! Validasi publik!"
Senja menunduk menahan senyum.
Denis lalu menatap Senja lebih sopan.
"Lo Senja ya?"
"Iya…"
Ia mengangguk pelan. "Pantes."
Keano langsung melirik tajam.
"Pantes apaan?"
"Cantik, pantes sekarang keano kalau di ajak latihan basket pas istirahat susah."
Keano langsung melotot ke arah temannya itu.
Hening satu detik.
Kalimat itu terdengar ringan… tapi jujur.
Keano tidak membalas, hanya mengambil sedotannya lagi, sedikit canggung.
Arelina langsung mode investigasi.
"Eh Denis, Keano emang gimana sih di kelas?"
Denis bersandar santai.
"Pendiem, galak dikit, banyak yang takut. Tapi sebenernya—"
"Udah," potong Keano cepat.
Denis tersenyum lebar.
"—sebenernya soft kalau udah nyaman."
Senja tanpa sadar melirik Keano.
Dan Keano… menangkap tatapan itu.
Ada senyum kecil yang hampir tidak terlihat.
Denis memperhatikan interaksi itu lalu berbisik ke Arelina:
"Oke gue ngerti sekarang."
Arelina membalas bisikan dramatis.
"LO SERIUS BARU TAHU HAL INI?"
Mereka berdua langsung seperti tim komentator rahasia.
Keano menggeleng pasrah.
"Gue salah duduk di meja ini."
Semua tertawa, suasana jadi lebih hidup.
Lebih ringan.
Lebih seperti… lingkaran kecil yang mulai terbentuk.
Tapi—di sisi lain kantin,
orang yang tadi memperhatikan mereka masih berdiri.
Tatapannya sekarang bukan hanya ke Senja…
melainkan ke Keano.
Dan ekspresinya jelas tidak suka.
Seorang gadis berdiri dekat tiang kantin. Rambut panjangnya diikat sederhana, seragam sekolah baru masih terlihat terlalu rapi… seperti belum benar-benar menjadi bagian dari tempat ini.
Matanya tertuju pada satu orang.
Keano.
Nara menghembuskan napas pelan.
"...jadi lo di sini."
Tangannya menggenggam map cokelat yang sejak tadi dibawanya.
Beberapa menit sebelumnya—
Di ruang Tata Usaha
Mama Ranti duduk berhadapan dengan staf sekolah. Wajahnya ramah seperti biasa, tapi sikapnya tegas.
"Terima kasih sudah membantu proses pindahan Nara."
Di sampingnya, Nara duduk diam.
"Kebetulan Keano juga sekolah di sini," lanjut Mama Ranti sambil tersenyum.
"Jadi Nara tidak akan sendirian."
Nara hanya mengangguk kecil.
Namun di matanya ada sesuatu yang tidak selesai.
Kenangan lama, perasaan lama.
Nama yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Keano adalah teman kecilnya dulu.
Kembali ke kantin.
Nara melangkah sedikit mendekat.
Dari jarak itu, ia bisa melihat jelas—Keano tertawa kecil dan duduk santai.
Dan di depannya…Senja.
Tatapan Nara berhenti di sana, ada jeda panjang di matanya.
Seperti seseorang yang baru menyadari bahwa waktu benar-benar sudah berjalan tanpa menunggunya.
Ia menunduk sebentar lalu berbalik.
Belum sekarang.
Sementara di meja kantin—
Denis tiba-tiba melirik ke arah belakang Keano.
"Eh ke'… kayaknya ada yang merhatiin lo dari tadi."
Keano menoleh sekilas, tapi Nara sudah tidak ada.
"Cuma perasaan lo kali."
Namun entah kenapa keano merasa ada yang aneh.
Dan tanpa mereka sadari—
hari itu bukan cuma awal kedekatan Senja dan Keano.
Tapi juga…
awal kedatangan seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidup Keano kecil..
Waaah ..senja ada saingan nih....yuk ikuti terus cerita nya di jamin seruuuuu🔥