"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Lampu neon di area parkir mall mewah itu berkedip-kedip, memantul di atas kap mobil sport yang mengilat. Keheningan yang canggung menyelimuti keempat orang yang baru saja keluar dari bioskop.
Ailen, dengan rahang yang tampak lebih santai namun mata yang berkilat penuh kemenangan, menggenggam pergelangan tangan Theana yang wajahnya masih semerah kepiting rebus.
"Bantu aku sekali lagi, brother," ucap Ailen, menatap Apolo dengan kode yang sangat jelas. "Antar sahabat Theana ke kampus, atau ke mana pun dia ingin pergi. Aku akan pulang bersama Theana. Ada urusan yang belum selesai di antara kami."
Veronica dan Apolo saling pandang selama beberapa detik. Di bawah lampu parkir yang terang, mereka kembali mengenakan topeng masing-masing—si Bangsawan yang dingin dan si Gadis Beasiswa yang tak tersentuh. Sejak keluar dari studio, mereka bersikap seolah ciuman panas di tengah film tadi hanyalah halusinasi kolektif.
Apolo mengangguk singkat, suaranya kembali ke nada bariton yang stabil. "Baiklah. Hati-hati, Ai."
"Thanks, brother!" Ailen melambaikan tangan, hampir setengah menyeret Theana masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu menderu, meninggalkan decitan ban yang bergema di beton parkiran.
Kini hanya tersisa Apolo dan Veronica. Angin malam Manhattan bertiup kencang, memainkan ujung dress musim gugur Veronica.
"Mau ke apartemen?" tanya Apolo langsung ke intinya. Tidak ada basa-basi, tidak ada pertanyaan tentang bagaimana harinya.
Di dunia mereka, kata-kata seringkali menjadi penghalang bagi keinginan yang lebih primitif.
Veronica mengangguk pelan. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Sejujurnya, ia sedang berperang dengan logikanya sendiri. Ia tahu ia harus berhenti, namun rasa ketagihan itu—sensasi saat kulit Azeant bersentuhan dengan miliknya—terasa seperti obat terlarang yang dosisnya terus bertambah.
Kenapa dia tidak mencoba mengajakku bercinta di bawah cahaya lampu? batinnya menantang. Ia ingin melihat wajah pria yang selama ini hanya ia kenali dalam remang.
Begitu pintu apartemen mewah di Tribeca itu tertutup rapat, suasana mendadak berubah menjadi elektrik.
Apolo tidak lagi menunggu kegelapan. Ia menyalakan lampu ruang tamu, membiarkan cahaya hangat dari lampu desainer memenuhi ruangan, memperlihatkan detail kemewahan yang biasanya tersembunyi.
Rasa rindu Apolo selama seminggu ini meledak. Begitu pula dengan Veronica. Tanpa sepatah kata pun, mereka langsung terlibat dalam ciuman panas di balik pintu.
Tangan Apolo menelusuri lekuk tubuh Veronica yang kini terlihat jelas di bawah cahaya lampu, sementara Veronica mencengkeram bahu kokoh Apolo, menghirup aroma maskulin yang kini ia tahu adalah milik sang "Bangsawan" kampus.
"Mau coba bercinta di dapur?" bisik Apolo dengan nada gila, napasnya memburu di telinga Veronica.
Veronica tertawa kecil, sebuah tawa yang sarat akan tantangan. Ia mengangguk dan mereka berjalan setengah berlari ke arah dapur beraksen marmer hitam itu.
"Aku ingin mencoba semua gaya bercinta di setiap sudut apartemen ini," ucap Veronica nakal saat Apolo mengangkat tubuhnya ke atas meja marmer yang dingin.
Di dalam hatinya, Veronica sedang membuat sebuah kesepakatan dengan dirinya sendiri.
Ini untuk yang terakhir kalinya, pikirnya. Ia tidak suka terikat. Ia benci ketergantungan. Kehidupan yang sudah ia susun dengan sempurna sebagai mahasiswi beasiswa yang mandiri tidak boleh hancur hanya karena seorang pria bangsawan. Maka, ia memutuskan untuk menghabiskan seluruh hasratnya malam ini. Sebuah pesta perpisahan yang intim sebelum ia kembali menjadi asing.
"Kau cantik sekali, Sayang... matamu, aku baru sadar matamu seindah ini," gumam Apolo. Ia terus menatap mata Veronica, membiarkan intensitas tatapan itu membakar mereka berdua.
Desahan dan lenguhan Azeant yang memanggil nama "Vea" memenuhi ruangan dapur yang luas itu. Bunyi marmer yang dingin beradu dengan kulit yang hangat menciptakan irama yang liar.
"Ahhh... lebih cepat, Azeant..." rintih Veronica, kepalanya mendongak ke belakang, memperlihatkan tanda kemerahan.
"Aku datang, Sayang..." ucap Apolo parau, mencapai puncaknya bersamaan dengan Veronica di bawah terangnya lampu gantung dapur.
Malam terus berlanjut. Mereka berpindah ke kamar mandi utama yang lebih menyerupai sebuah spa pribadi. Di bawah kucuran air shower yang hangat, Azeant memeluk Veronica dari belakang.
"Boleh aku merekam kita?" tanya Azeant tiba-tiba.
Veronica terdiam sejenak. Ia menatap pantulan mereka di cermin besar yang berembun. Siluet tubuh mereka yang menyatu tampak seperti karya seni. Ini untuk terakhir kalinya, batinnya kembali mengulang mantra itu. Ia mengangguk.
Azeant keluar sejenak dan kembali dengan ponselnya. Ia meletakkannya di sudut yang tepat, merekam bagaimana mereka saling memuja di depan cermin besar itu. Desahan Veronica bersahutan dengan suara air yang jatuh.
"Ahhh..."
"Kau memakai kontrasepsi?" tanya Azeant di sela-sela kegiatannya, suaranya berat menahan nikmat.
"Yah... aku punya pilnya. Aku selalu sedia," jawab Veronica jujur.
Tiba-tiba, Azeant menghentikan gerakannya sejenak. Ia memutar tubuh Veronica agar menghadapnya, menatapnya dengan pandangan yang dalam, sesuatu yang lebih dari sekadar nafsu.
"Aku akan tanggung jawab kalaupun kau hamil, Vea. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
Deg.
Kalimat itu menghantam Veronica seperti palu godam. Kata "tanggung jawab" dan "tidak sendirian" adalah alarm bahaya bagi gadis yang sudah terbiasa hidup tanpa bergantung pada siapa pun. Itu terdengar seperti komitmen. Itu terdengar seperti jeratan.
Secara refleks, Veronica melepaskan diri dari dekapan Apolo. Ia melangkah keluar dari bawah pancuran air, membiarkan tubuhnya yang basah kedinginan.
"Sayang... ada apa? Nanggung... aku belum keluar," ucap Apolo dengan wajah bingung dan frustrasi.
"Aku akan pulang," kata Veronica tiba-tiba, suaranya datar dan dingin.
"Apa? Pulang? Ini jam dua pagi, Veronica! Kau gila?" Apolo melangkah keluar, menyambar handuk dan mencoba mendekati Veronica.
"Aku akan pulang," ulang Vea lagi, matanya menatap lantai, tidak berani menatap mata Apolo yang kini penuh luka.
"Kumohon, maafkan aku kalau aku salah bicara. Ada apa?" Apolo mencoba meraih tangannya.
Vea mendongak, menatap tajam ke dalam mata biru kelabu milik Apolo. "Kau lupa? Aku benci sebuah hubungan, Azeant. Aku tidak butuh tanggung jawabmu. Aku tidak butuh komitmenmu."
Apolo tertegun. "Tapi kita sudah di tahap ini, Vea... kita sudah saling mengenal, bahkan di kampus pun kita—"
"Di kampus kita adalah asing!" potong Veronica. "Bisakah kita tidak memulai hubungan apa pun? Ini hanya tentang fisik, Azeant. Hanya itu."
"Vea..."
Veronica mengambil handuk, membungkus tubuhnya dan berjalan menuju kamar untuk mengambil pakaiannya. "Aku akan tidur di sini malam ini karena tidak ada taksi, tapi jangan ganggu aku. Besok pagi, semuanya selesai."
Ia merebahkan dirinya di sisi ranjang yang jauh, membelakangi Apolo. Di bawah selimut, tangannya gemetar. Ia takut. Ia takut jika ia tetap di sana, ia akan mulai mencintai pria ini, dan cinta adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh anak panti asuhan sepertinya.
Apolo berdiri di ambang pintu kamar mandi, menatap punggung Veronica dengan perasaan hancur yang baru pertama kali ia rasakan. Sang Bangsawan yang biasanya mendapatkan segalanya, kini harus mengakui bahwa ia telah kalah oleh ketakutan seorang gadis yang ia puja.