NovelToon NovelToon
Lembayung Di Batas Timur

Lembayung Di Batas Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:189.7k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.

Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.

Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Orang bilang tanah kita tanah surga

Gege langsung ngibrit ke dalam kamar mandi dan mengusir Gabriel segera, "elah, giliran udah ada air gue ditendang! Ngga mau gue cebokin sekalian, Ge ?" tawanya kembali keluar tapi sebelum itu terjadi, Raudhah bertanya, "ada siapa di depan, Gab? Rame bener."

"Oh, itu bang Panji, perwira lanal yang kemaren nganter...tadi mampir ke rumah ema Flo, buat ngomongin apalah gue ngga paham, liat kita ngangkut air, sempet ngikutin eh malah dibantuin, katanya kasian gue sama Nanda cuma berdua."

Nanda mengangguk sembari mengunyah urap singkong.

"Lah, bang Panji yang itu?" Imel justru lebih semangat menghentikan sejenak kegiatannya membantu Raudhah demi mengekori Gabriel kembali ke depan.

"Lah si anjir." Nanda dibuat terkekeh.

Ivy, awalnya sempat mematung melihat Panji...tapi Panji justru menunjuknya, "Kamu bantu saya," ucapnya berkacak pinggang menahan lelah, untuk kemudian menyeka keringat di dahi yang mengucur dengan lengan kaosnya.

Ivy celingukan ke kanan dan kiri, tentu saja hanya ada dirinya disana, setelah Gege ngibrit diikuti Gabriel menaruh air dan Nanda berada di dalam untuk sekedar ngopi dan makan singkong.

"Gue? Bantu apa?" wajah Ivy itu sudah sewot, "ngangkut air? Ngga mau ah! Berat, ngga kuat." gidignya menolak bahkan hampir ia ikut masuk, tapi Panji tak hilang akal untuk menahannya, "Bawakan seragam, udah itu aja. Tadi saya tinggal seragam di dekat penampungan air." Ujar Panji lagi.

Ivy menghela nafasnya berat, meniup rambut yang jatuh di dahi, "ha! Nyusahin." Gerutunya.

Tapi kehadiran Imel justru menahan sejenak langkah Ivy, "eh mau pada kemana?"

"Ke penampungan air." Jawab Ivy melanjutkan dengan wajah cemberutnya.

"Bawa air?! Wah Ivy seriusan mau bawa air?" memang sorot matanya itu menunjukan rasa tak percaya Imel.

"Ya engga lah. Cuman mau bawain seragamnya nih orang."

Nih orang. Catat nih orang bukan kepala suku monyet.

Imel mengernyit, tapi Ivy dan Panji sudah kepalang jalan dimana Panji menenteng dua wadah bekas jerigen berukuran 25 liter air dan Ivy berjalan sambil misuh-misuh manyun tepat di belakangnya.

"Mandi ngabisin berapa liter air?" tanya Panji mengawali perbincangan mereka selama berjalan.

"Ngga tau, kemarin sih 3 ember cat ukuran gede. Ngga tau deh berapa ukurannya. ada kaliii seukuran ini." Ia menepuk jerigen kosong yang telah dipindah airnya tadi dengan sebal. Memang begitu nada bicara seorang Pravita mungkin jika lawan bicaranya itu lawan jenis.

"75 liter?" lagi, Panji memastikan, sekali lagi ia menyeka keringatnya.

"Iya kali." alisnya menukik lalu mengernyit, "ngga tau ah, segitu tuh udah dihemat-hemat. Ngga bisa lebih hemat lagi, masa iya bekas gosok gigi mesti di pake mandi ke badan." lagi, ia sewot. Sampai-sampai kambing dan kucing yang berseliweran saja melihat keduanya saling nada bicara Ivy yang ketus dan sewot memancing Panji untuk sedikit....kesal.

"Ya dihematlah. Segitu tuh masih boros, coba tanya warga disini kalau mandi satu orang bisa pakai berapa liter. Paling sepertiganya kamu. Kasian itu temen temenmu angkatin air berat."

Ivy masih memasang tampang keruh dan manyun, "Gimana caranya? Gue mandi di dalem ember, airnya jadi jatuh ketampung lagi ke ember, gue pake lagi begitu?" Bibirnya sudah terangkat julid.

"Nah itu tau."

"Hihh jorok! Ogah, bisa gatel-gatel guenya!"

"Ya kamu pikir lah caranya, entah itu kamu sekali ambil cuma setengah gayung terus digosok sabun dengan busa yang ngga terlalu banyak. Ini tanah timur bukan Ibukota. Harus bisa adaptasi, kalo kamu aja sendiri pake segitu, pasokan air warga langsung surut."

"Ya ngga bersih lah, masa sabunnya seuprit, mana bersih!"

Keduanya langsung diam menyadari jika sepagi ini sudah berdebat saja di desa orang pula, "hish, pagi-pagi malah ngajakin ribut, buruan lah dimana penampungan airnya!" Ivy bersungut-sungut. Sungguh tensi sewotnya itu sama sekali tak berkurang bahkan semakin ketus dan sengit saja.

Panji menggeleng dan mengambil langkah besar-besar sekarang serta cepat, memancing Ivy untuk setengah berlari menyusulnya, "ihhh, Panji! Tunggu!" teriaknya lagi kini.

"Ya ampun... pagi-pagi udah disuruh olahraga begini!" omelannya itu, entahlah...Panji justru jadi membayangkan tokoh kartun gurita yang senang marah-marah tontonan Faraaz. Dan itu sungguh lucu sekali, lucu dalam artian membuat tertawa.

"Duhh, ngga pake pemanasan tiba-tiba disuruh lari pagi. Emang dasar, Panji gue bukan tentara...bukan atlit lari juga, Panji..."

Dan Panji masih tertawa di balik badannya.

"Panji, gue belum makan, kalo tiba-tiba semaput gimana? Pelan lah jalannya." Kini nadanya sudah sedikit melunak, ngos-ngosan dan merengek.

/

Disana, bukan hanya dirinya dan Panji saja yang tengah mengambil air, tapi warga se-Tanjung komodo sepertinya yang juga hanya mengandalkan penampungan air disini.

Ivy langsung dibuat speechless dengan ramainya orang, seperti sedang mengantre sembako gratis. Ah iya, benar...air gratis lebih penting ketimbang sembako gratis. Ada ibu-ibu yang membawa anak, sambil membekali diri dengan kain samping dan ubi bakar.

Lalu nyanyian pengamen lelaki dengan biolanya siang itu, siang dimana ia masih memakai seragam putih abunya sembari menunggu lampu merah tiba-tiba terbersit di ingatan Ivy.

Ku lihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati...

Air matamu berlinang, mas intannya terkenang, hutan gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan...

Kini ibu sedang lara merintih dan berdoa....

Lalu---orang bilang tanah kita tanah surga....

Seorang bapak dengan rokok lintingan di tangannya melambai pada Panji, "Ema Waro."

"Om,"

Benar, seragam milik Panji berada di tangannya.

Panji lantas menoleh ke arahnya, "kamu ngantri disana." Tunjuk Panji ke arah antrian orang yang sedang mengambil air.

Ivy benar-benar dibuat tak berkutik sekarang, berbeda dengan Ivy sedetik yang lalu yang masih bisa mengomel tentang air.

Langkah Ivy menurut untuk mengantre, sementara Panji kini sudah menghampiri Ema Waro dan duduk di sampingnya, bukan kursi di ruang tunggu loby hotel melainkan hanya duduk di atas batu.

Ada tatapan sekaligus senyuman para ibu, para bapak disana. Terlebih, amma Yani ada juga disana, "kak!"

"Mama,"

Ia tersenyum di balik jilbab instannya, "mengantre juga akhirnya? Untung dibantu om Panji ya..." ucapnya. Ia hanya---ah iya...sambil meringis.

Bak penampungan yang dibangun secara swadaya dan tak terlalu besar itu dialiri oleh satu pancuran dengan debit air yang mengalir tak terlalu besar.

Sungguh miris sekali, Ivy menunduk merasakan perasaan yang campur.

Namun ketika ia sibuk memainkan sendal jepit di tanah yang sedikit terasa gersang, tiba-tiba tersodor di depannya keranjang dengan isian cemilan olahan ikan, "ayo Kaka. Diambil, sembari menunggu air."

Ivy mendongak tersenyum pada seorang ibu lain, "ah terimakasih mama. tapi----"

"Diambil kak Ivy," mama Yani mengangguk meminta Ivy mencicipinya sebagai tanda menghargai.

"Oh iya, saya ambil satu ya mama...terimakasih." Ivy mengambilnya satu dan melahapnya disana.

Panji, ia beberapa kali melihat Ivy disana, mengambil satu penganan yang sengaja dibawa oleh seorang mama. Ia terlihat lebih senyap setelah cerewet dan mengomel-ngomel sepanjang jalan tadi, bibirnya tersungging lalu obrolan dengan Ema Waro ia akhiri dengan menenteng seragam miliknya, kemudian menghampiri Ivy yang sudah siap menampung air.

Ia berjalan pelan-pelan takut terpeleset dan jatuh, lalu mendekatkan jerigen air tepat di bawah kucuran air.

"Harusnya tadi gue kesini bawa sabun muka sekalian tau ngga?!" sebab Ivy melihat juga di samping bak penampungan air ada satu bilik kamar mandi umum yang juga ramai dipakai, bahkan saat ini saja terisi.

"Nah itu. Harusnya sekalian bawa handuk, baju ganti. Jadi ke rumah tinggal bawa air buat cebok seharian." Jawab Panji berada di sampingnya.

Satu jerigen penuh, kini jerigen lain.

Panji menutup lubangnya dan mengangkat itu lebih ke samping, otot-otot tangannya seketika terlihat kala ia mengangkatnya, membuat Ivy sedikit meringis. Terbayang jika dicekik langsung mamposss. Pantas saja Zein kalah telak kemarin, ngeri! Ia tak terbayang siapapun yang akan jadi istri Panji.

"Saya bawa satu, kamu satu." Ucap Panji langsung membuat Ivy tersedak salivanya sendiri.

Ia membeliak, "Yang bener aja! Lo aja keberatan begitu apalagi gue..."

Panji cengengesan, "terus guna kamu makan buat apa? Kemana sumber energi yang udah masuk? Ngangkat barang aja ngga bisa."

Ivy selesai, lalu Panji menepikan jerigen itu, tanpa sadar Ivy berjalan menjauh dari sana dengan cara mencengkram kaos Panji sebagai tumpuan dan Panji tak keberatan itu.

"Jadi ta-i."

Panji tergelak mendengar jawaban Ivy.

"Bawain lah, Lo ini kan yang sejak awal mau bawa...gue cuma bawain baju Lo doang!"

"Sshh...minta tolong tapi sewot. Kalo minta tolong tuh harusnya dibaik-baikin di bujuk."

"Lah, kan dari awal gue ngga minta tolong lo, minta tolong temen temen gue...ishhh, tau gini!" Ivy manyun. Panji menyebalkan!

"Bujuk saya buat nolong..."

Hah?! tentu saja Ivy mengernyit, "apaan sih, niat ngga sih bantu? Ah elah..."

Panji hampir pergi sekarang, dan okee! Ivy menahan tangannya, "gue ngga bisa bujuk orang! Maunya apa sih...ribet banget."

"Coba nyanyi..." pinta Panji.

"Hah?! Nyanyi...nyanyi apa sih, pagi-pagi begini belum mandi belum makan mana mau nyanyi, dalam rangka apa? Lo ultah?"

.

.

.

1
sweet escape
Sedih ya, sementara dulu kadang diri ini masih ada niatan pengen bolos sekolah, padhal malu lah kl d bandingkan mereka yg fasilitas minim tp semangat banget ke sekolah🥹
Baek chanhun
teh. sin 😭😭😭😭😭
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati
Linda ray
yg hrsnya seusia anak SD atw SMP dan lainnya belajar sambil bersenda gurau dan bercanda dengan teman sebaya dan serius dlm pelajaran apapun ini mlh mereka di perbatasan timur hrs belajar dengan hati was wass dan tak tenang tapi mereka tetep semangat tanpa lelah mereka bnerxx jiwa anakxx tangguh ... di setiap cerita teteh selalu dibikin terenyuh dan selalu bersyukur dengan keadaan apapun mksih teteh 🙏🙏🙏😍
Visencia Alingga
kek emak lo nji, si eyi lovely 😎
Visencia Alingga
gpp mateng pohon asal ga keburu busuk di pohon
Kh2103💙
emang miris bgt di dunia pendidikan dikita tuh, keliatan bgt jomplangnya, pembangunannya gak merata...😢😢
Visencia Alingga
alah denial mulu lo nji
Visencia Alingga
abi buaya 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
gpp nji, lo sm Russell kan masuknya reptil jg 🤣🤣🤣🤣
Tuty Ismail
meeooonngg
Visencia Alingga
lah jd itu dr lo nji, kirain inisiatif kelana 🤭🤭🤭
Visencia Alingga
eaaaa udh mulai ❤ yaaa nji, walaupun msh samar2 🤣🤣🤣🤣
nurul @zna
Nahh... kaget ya, kucing kesayangan mami Ivy loh itu, nti bang Panji hrs ikut sayang ya sm Velvet... biar jadi Papinya Velvet... 🤭🤭
lestari saja💕
utk berjaga2 ivy
Miko Celsy exs mika saja
tp emng ini nyta adanya,mgkn di daerah timur yg msh ada bgini,,kita hrs byk2 bersyukur kita tinggal di bgian barat yg msh tergolong sangat mudah
lestari saja💕
jadi banyak syukur dan instropeksi diri kan ge?
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤѵїёяяа
untung aku baca bab ini gak di gabung bab sebelum nya, masih ada jeda
habis dibikin ketawa ngik ngik , di bab ini hati rasanya clekit clekit.
semangatnya mereka sekolah dg keterbatasan fasilitas sekolah, mana kadang ada anak berprestasi tapi GK bisa melanjutkan sekolah🥺
lestari saja💕
kenyataan yg...bikin sedih,
banyak2 bersyukur ma Allah ditempatkan ditempat yg baik
Eci Rahmayati
mirissssssss 😭
😔 mereka yg di gedung DPR tutup mata sungguh neraka bagimu wahai para koruptor 👊👊👊
lestari saja💕
meski ga bentrok antar negara atau te ro ris yg sering bentrok antar suku n kampung
letviana
yg kaum elit harus bnget baca karya ini, biar tau alur susahnya saudar kita yg berada di pelosok negri 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!