NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Rumah Singgah Tua

Mereka berjalan lebih jauh ke barat saat malam mulai semakin pekat.

Jalur yang dipilih Jaya kali ini bukan lagi sekadar lintasan sempit di antara semak, melainkan bekas jalan lama yang hampir hilang tertutup akar dan rumput liar. Di beberapa bagian, batu-batu datar masih tersusun seperti sisa peradaban yang pernah sibuk dilalui orang. Namun kini tempat itu sepi, gelap, dan hanya sesekali diterangi cahaya bulan yang turun di sela daun. Wira berjalan di tengah rombongan dengan napas masih belum stabil. Kakinya pegal, bahunya terasa berat, dan kepalanya penuh oleh berbagai potongan cerita yang belum tersusun rapi.

Ki Rangga tetap berada di depan, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan mereka tidak tertinggal terlalu jauh. Panca berjalan sambil mengusap tengkuk, wajahnya lelah dan jengkel, seolah sejak sore hingga malam hidupnya hanya diisi oleh lari dan rahasia. Jaya memimpin tanpa banyak bicara. Lelaki itu tampak sangat hafal jalan ini, bahkan di bagian yang sudah nyaris hilang. Setiap beberapa langkah ia berhenti sebentar, memeriksa arah, lalu melanjutkan lagi dengan yakin.

Wira akhirnya tidak tahan diam.

“Tempat yang kau maksud masih jauh?” tanyanya pelan.

Jaya menoleh sekilas. “Tidak jauh lagi.”

Panca langsung mendengus. “Jawabanmu selalu sama.”

“Karena kondisi jalannya juga hampir sama,” balas Jaya.

Wira menatap gelap di depan mereka. “Kita sebenarnya menuju apa?”

Jaya tidak langsung menjawab. Ia menunggu sampai mereka melewati sebuah pohon besar dengan akar yang menonjol seperti kaki-kaki raksasa. Setelah itu barulah ia berkata, “Sebuah rumah singgah lama. Dulu dipakai orang-orang tertentu saat berpindah antara jalur barat dan timur. Sekarang sudah lama ditinggalkan.”

Ki Rangga meliriknya. “Dan tetap kau anggap aman?”

“Tidak aman sepenuhnya,” kata Jaya. “Tapi bangunannya masih kokoh. Dan ada lorong belakang yang tidak mudah terlihat.”

Panca menyipit. “Kedengarannya seperti tempat yang sering dipakai untuk bersembunyi.”

Jaya mengangguk. “Memang itu fungsinya.”

Wira menatap Jaya lebih lama. Lelaki itu menjawab semua pertanyaan dengan tenang, tetapi ada sesuatu di balik ketenangan itu yang membuat Wira yakin: Jaya bukan sekadar pengantar kabar. Ia orang yang pernah berada sangat dekat dengan rahasia besar ini, lalu terseret keluar oleh keadaan. Atau mungkin ia sengaja menjauh, dan sekarang kembali karena sesuatu yang belum sepenuhnya ia ungkap.

Mereka terus berjalan hingga udara berubah lebih dingin. Bau lembap dari tanah basah mulai lebih kuat, menandakan ada aliran kecil atau lembah di sekitar mereka. Jalur lama yang tadi mereka lalui makin menyempit, seolah mengarah ke sebuah tempat yang memang sengaja disembunyikan dari mata umum. Di kejauhan, Wira melihat siluet bangunan rendah dengan atap miring yang hampir menyatu dengan gelap malam.

“Di sana?” tanyanya.

Jaya mengangguk.

Rumah singgah tua itu berdiri di tepi cekungan tanah yang dikelilingi pohon-pohon besar. Dari luar, bangunannya tampak tidak terurus. Dinding kayunya kusam, beberapa papan miring, dan atap jeraminya tampak telah banyak diganti tambal sulam. Namun bangunan itu masih berdiri, bahkan terlihat lebih kuat daripada pondok sebelumnya. Di sisi kiri ada bangunan kecil lain yang mungkin dulu dipakai untuk dapur atau gudang.

Wira merasakan bulu kuduknya meremang. Tempat seperti ini selalu punya cerita. Tempat yang lama ditinggalkan jarang benar-benar kosong. Ia sudah belajar itu.

Ki Rangga mendekat lebih dulu, lalu memeriksa sekitar bangunan dari samping. Jaya mengikutinya, sementara Panca tetap di belakang Wira sambil memandang sekitar dengan gelisah.

“Kalau ini jebakan?” bisik Panca.

“Kalau itu jebakan,” kata Wira, “berarti kita sudah masuk ke banyak jebakan sebelumnya.”

Panca memutar mata. “Itu tidak membuatku lebih tenang.”

Jaya kembali pada mereka. “Masuk lewat belakang.”

Mereka berjalan memutari bangunan. Di belakang rumah singgah itu terdapat sebuah teras kecil yang sudah lapuk, menyambung ke pintu samping yang setengah tertutup. Jaya mendorong pintu itu pelan. Engselnya berdecit rendah, namun tidak terdengar keras dalam malam. Di dalam, ruangan tampak gelap dan berdebu. Bau kayu tua, tanah lembap, dan asap lama bercampur jadi satu.

Ki Rangga menyalakan api kecil dari batu api yang dibawanya. Cahaya redup langsung menyingkap ruangan sempit berisi bangku kayu, meja rendah, beberapa tikar yang sudah menguning, dan rak kosong di sudut. Di lantai, ada bekas roda atau jejak barang besar yang dulu pernah sering dipindahkan. Rumah itu jelas pernah digunakan, bukan sekadar ditinggalkan begitu saja.

Wira berjalan pelan menyusuri dinding. Tangannya menyentuh papan kayu yang kasar. “Tempat ini benar-benar tua.”

“Dan pernah dipakai dengan baik,” jawab Jaya.

Panca mengendus pelan. “Aku tidak suka kalau suatu tempat terlihat pernah dipakai untuk hal-hal yang tidak ingin dijelaskan.”

“Kalau kau suka tempat terang dan jujur, sayangnya hidup kita sedang tidak mengarah ke sana,” kata Ki Rangga.

Panca mendengus, lalu duduk di bangku terdekat. Wira melihatnya merebahkan punggung sebentar, seolah tulangnya benar-benar protes. Ia sendiri tetap berdiri dekat pintu, masih tidak sepenuhnya percaya bahwa mereka bisa berhenti begitu saja.

Ki Rangga menutup pintu belakang lalu memeriksa kunci kayu yang tergantung di situ. “Tempat ini sepi.”

“Tidak untuk lama,” kata Jaya. “Kalau mereka punya cukup banyak orang, mereka akan menyisir jalur tua dan menemukan bangunan ini.”

Wira menatap Jaya. “Kau yakin mereka akan mengejar sampai sejauh ini?”

Jaya mengangguk. “Kalau yang mereka cari benar-benar ada padamu, ya.”

Wira meremas lempeng kayu di pinggangnya. Semakin lama benda itu terasa bukan lagi seperti tanda, melainkan beban. Ia pun bertanya, “Kau masih belum menjelaskan kenapa semua orang begitu ingin benda ini.”

Jaya memandangnya dalam diam beberapa saat. “Karena benda itu tidak berdiri sendiri.”

“Artinya?”

“Artinya ada bagian lain yang cocok dengannya.”

Panca langsung menegakkan badan. “Bagian lain?”

“Ya,” kata Jaya. “Kalau keduanya disatukan pada tempat yang tepat, sesuatu bisa dibuka.”

Wira mengernyit. “Buka apa?”

Jaya terdiam. Ki Rangga menoleh tajam. “Kau sengaja menahan jawaban.”

“Aku menahan karena ada hal yang belum pasti,” jawab Jaya. “Kalau aku salah bicara, kalian mungkin akan salah melangkah.”

Panca mendecak. “Kau ini lucu sekali. Saat orang lain ditanya, jawabannya pendek. Saat kau ditanya, jawabannya seperti surat wasiat.”

Jaya menatapnya datar. “Setidaknya surat wasiat berguna.”

Panca langsung mengangkat alis. “Kau benar-benar menjengkelkan.”

Wira seharusnya marah, seharusnya mendesak lebih jauh, tetapi yang muncul justru rasa lelah yang dalam. Semua jawaban yang digantung membuat pikirannya seperti ditarik ke berbagai arah. Namun di sela rasa lelah itu ada satu perasaan lain yang makin jelas: ia tidak lagi sekadar menjadi anak desa yang diburu. Ada sesuatu yang menempatkannya di pusat pusaran lama. Dan pusat pusaran itu berkaitan dengan ibunya.

Ia menatap Ki Rangga. “Apa kita akan dapat jawaban malam ini?”

Ki Rangga menatapnya dengan tenang. “Sebagian.”

Wira menunggu.

“Dan sebagian lagi mungkin justru datang dari tempat ini,” lanjut Ki Rangga sambil memandang sekeliling ruangan.

Jaya langsung mengerti arah pandangannya. Ia bergerak ke rak kosong di sudut, lalu mencondongkan badan. Ada papan kayu yang tampak lebih baru dibanding yang lain, seakan pernah dibongkar lalu dipasang kembali. Ia menekan bagian tertentu, lalu terdengar bunyi kecil dari dalam dinding.

Wira dan Panca langsung menatapnya.

“Apa itu?” tanya Wira.

Jaya tidak menjawab. Ia justru berjongkok dan menarik papan tipis di bagian bawah dinding. Di baliknya ada ruang sempit, dan di dalamnya terlihat sebuah bungkusan kain yang sudah pudar. Jaya mengeluarkannya dengan hati-hati, lalu menaruhnya di meja rendah.

Ruangan mendadak senyap.

Ki Rangga mendekat. Wira dan Panca ikut maju. Jaya membuka kain itu perlahan, memperlihatkan sebuah kotak kayu kecil yang diikat dengan tali tua dan masih terkunci. Ukurannya tidak besar, mungkin seukuran dua telapak tangan. Namun kotak itu terasa penting hanya dari cara Jaya memegangnya.

Wira menatap kotak itu. “Itu apa?”

“Benda yang ditinggalkan seseorang,” jawab Jaya.

“Siapa?”

Jaya menatap Wira. “Ibummu.”

Wira membeku.

Panca menoleh cepat ke arah Wira, lalu ke Jaya lagi. “Kau menyembunyikan ini di tempat begini?”

Jaya menggeleng. “Bukan aku yang menyembunyikannya. Aku hanya tahu tempatnya.”

Ki Rangga mengambil kotak itu, memeriksanya dari berbagai sisi. Di permukaannya ada ukiran kecil yang sudah hampir aus oleh waktu. Wira tidak bisa mengenali simbolnya, tetapi rasanya tidak asing. Seolah pernah ia lihat entah di mana, atau mungkin hanya di mimpi yang samar.

“Kenapa baru sekarang kau tunjukkan?” tanya Wira, suaranya pelan namun menekan.

“Karena sebelumnya kita belum cukup aman untuk berhenti dan mencarinya,” jawab Jaya.

“Jadi sejak awal kau tahu?”

“Ya.”

Wira menggigit bagian dalam pipinya. “Dan kau diam saja.”

“Kalau kuberi tahu lebih awal, kau akan memikirkan kotak ini terus. Itu berbahaya.”

Panca mendecak. “Kau tahu benar cara membuat orang ingin melemparmu keluar jendela.”

“Sayang sekali, kita sedang tidak di lantai dua,” kata Jaya.

Panca memandangnya dengan kesal, lalu menghela napas panjang. “Aku benar-benar capek dengan orang-orang yang selalu tenang seperti tidak terjadi apa-apa.”

Ki Rangga membuka tali pengikat kotak dengan hati-hati. Di dalamnya ada lipatan kain tipis, selembar kertas tua, dan satu benda kecil yang dibungkus lebih dalam. Wira menahan napas saat Ki Rangga mengangkat kertas itu terlebih dahulu. Tulisan di permukaannya sudah mulai pudar, tetapi masih bisa dibaca.

Ki Rangga memejamkan mata sejenak, lalu menyerahkannya kepada Wira.

Wira menerima kertas itu dengan jari gemetar.

Tulisan itu singkat.

“Jika kotak ini ditemukan, berarti waktunya hampir tiba. Jangan percayai mereka yang datang membawa nama lama. Cari pintu di tempat yang tak pernah dijaga.”

Wira membaca kalimat itu dua kali, lalu tiga kali. Dadanya sesak. Tulisan itu jelas milik ibunya, atau setidaknya ditulis oleh orang yang sangat dekat dengan ibunya. Ia merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya, semacam kehangatan aneh bercampur sakit. Ibunya benar-benar meninggalkan jejak. Artinya ibunya memang memikirkan kemungkinan bahwa ia akan menemukan kotak ini.

“Tempat yang tak pernah dijaga,” gumam Panca. “Itu maksudnya apa?”

Jaya menjawab, “Itu petunjuk.”

Ki Rangga mengambil benda kecil yang dibungkus lebih dalam. Saat kain pembungkus dibuka, tampak sebuah keping logam tipis berbentuk setengah lingkaran. Di permukaannya ada ukiran yang hampir sama dengan lempeng kayu milik Wira. Hanya saja yang ini tampak lebih tua dan lebih halus dibuatnya.

Wira langsung mengangkat kepala. “Itu pasangannya?”

Jaya mengangguk. “Kemungkinan besar.”

Wira menatap dua benda itu bergantian. Jantungnya berdetak lebih kencang. Selama ini ia hanya membawa satu bagian, dan sekarang ada bagian lain yang selama ini disembunyikan di tempat tua ini. Ibunya memang merencanakan sesuatu. Bukan pelarian tanpa arah, tapi perjalanan yang punya tujuan jelas.

Ki Rangga menaruh keping logam itu di sebelah lempeng kayu Wira. Keduanya hampir saling menyambung jika didekatkan, tetapi masih ada selisih kecil pada sisi lengkungnya.

“Belum lengkap,” kata Ki Rangga.

“Berarti masih ada satu lagi?” tanya Wira.

Jaya menatapnya. “Bisa jadi.”

Panca mengangkat tangan seperti menyerah. “Bagus. Jadi sekarang kita mengejar benda lain lagi.”

Wira tidak memedulikan keluhan itu. Ia menatap kotak dan kertas di tangannya. “Kalau ini milik ibu, kenapa ia menaruhnya di tempat seperti ini?”

Jaya menjawab pelan, “Karena tempat ini dulu aman. Dan karena ia tahu suatu hari seseorang akan mencarinya.”

Wira menelan ludah. “Aku?”

“Bisa jadi kau, bisa jadi orang lain,” jawab Jaya. “Tapi kemungkinan besar memang kau.”

Suasana ruangan kembali tenang, namun bukan tenang yang nyaman. Ini lebih seperti ketegangan yang baru saja menemukan bentuknya. Wira merasa semua petunjuk yang selama ini berserakan mulai mengarah ke satu pintu. Masalahnya, pintu itu belum terbuka. Dan sekarang ia tahu pintu itu bukan hanya rahasia keluarganya, tapi juga sesuatu yang diincar banyak orang.

Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Dinding rumah singgah tua berderit pelan. Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara burung malam. Wira mendengarnya seperti suara peringatan.

Ki Rangga menatap Jaya. “Kau masih belum menjelaskan siapa yang pertama kali memintamu menyimpan ini.”

Jaya terdiam cukup lama. Wira bisa melihat pertarungan kecil di wajah lelaki itu. Seolah ada nama yang tidak ingin ia sebut karena konsekuensinya terlalu besar.

Akhirnya Jaya berkata, “Seseorang yang dulu dekat dengan ibumu. Dan yang sekarang mungkin sudah berpihak ke sisi lain.”

Wira menegang. “Siapa?”

Jaya menatapnya, lalu menjawab, “Mbah Sura tidak berdiri sendirian.”

Ruangan terasa lebih dingin.

Panca langsung menegakkan tubuh. “Apa maksudmu?”

Jaya memandang mereka satu per satu. “Ada orang dalam lingkaran lama yang masih hidup. Dan jika dia sudah bergerak, maka keberadaan kalian di rumah singgah ini tidak akan lama tetap rahasia.”

Ki Rangga mematikan api kecil yang tadi menyala di meja. “Kalau begitu kita tidak punya waktu.”

Wira memandang kotak kayu, lempeng kayu miliknya, dan keping logam yang baru ditemukan. Semua ini terasa seperti pecahan peta yang perlahan menyusun jalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar. Ia akhirnya mengerti satu hal: ibunya tidak sekadar menyuruhnya lari. Ibunya sedang mengarahkannya ke sebuah titik. Dan titik itu mungkin adalah tempat di mana seluruh rahasia akan terbuka.

Namun sebelum sempat ia berkata apa-apa, terdengar suara dari luar.

Bukan satu.

Melainkan banyak.

Langkah kaki.

Orang-orang berhenti di luar rumah singgah.

Ki Rangga langsung mengangkat tangan. “Mereka datang.”

Jaya menatap pintu samping. “Mereka terlalu cepat.”

Panca berdiri mendadak. “Jadi mereka sudah sampai?”

Wira meremas kertas tua di tangannya. Jantungnya serasa jatuh ke dasar perut.

Ki Rangga bergerak ke jendela kecil di sisi ruangan dan mengintip keluar. Setelah itu ia menoleh, wajahnya tetap tenang tetapi sorot matanya lebih tajam dari sebelumnya.

“Bukan hanya pengejar biasa,” katanya. “Ada satu orang yang memimpin mereka.”

Jaya langsung menatapnya. “Siapa?”

Ki Rangga menjawab pendek, “Orang yang aku kenal.”

Wira memandang gurunya. “Siapa?”

Ki Rangga menatap malam di luar, lalu berkata pelan, “Dan itu justru yang membuatnya berbahaya.”

Langkah di luar semakin rapat. Seseorang mengetuk pintu rumah singgah itu sekali, sangat pelan, lalu terdengar suara laki-laki dari balik kayu tua.

“Buka. Aku datang untuk mengambil yang seharusnya kembali.”

Wira langsung membeku.

Jaya menutup mata sesaat.

Ki Rangga menatap pintu tanpa berkedip.

Dan malam itu, di rumah singgah tua yang selama ini dianggap aman, mereka akhirnya tahu bahwa pengejaran bukan lagi soal melarikan diri. Kini mereka sudah dikejar langsung oleh masa lalu.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!