NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Jejak yang Tertinggal

Langit di atas Gedangan mendadak pekat seolah tinta hitam tumpah dari langit. Guntur menggelegar tanpa henti, namun tak ada setetes pun air hujan yang turun. Di depan gerbang utama Pesantren Al-Huda, Faris Arjuna berdiri paling depan. Angin kencang memainkan ujung sarung batiknya, namun tubuhnya tetap kokoh bak karang.

Di belakangnya, Jono, Brewok, dan tiga puluh pria mantan penguasa terminal berbaris rapi. Pemandangan itu sangat ganjil: pria-pria bertato, bertampang garang, namun semuanya memakai baju koko dan melilitkan sarung di pundak mereka.

"Jangan ada yang gentar! Ingat, kalian tidak lagi bertarung untuk memperebutkan lapak parkir. Kalian bertarung untuk melindungi rumah Tuhan!" teriak Faris, suaranya mengalahkan deru angin.

"SIAP, PANGLIMA!" sahut mereka serempak.

Dari balik kegelapan jalan raya, muncul puluhan sosok berjubah hitam. Mereka berjalan lambat, menyeret langkah kaki yang mengeluarkan asap tipis nan busuk. Di tengah barisan itu, muncullah sosok bertopeng kayu yang semalam dikalahkan Faris, didampingi oleh Herman yang tampak gemetar namun berambisi.

"Faris! Serahkan tasbih itu dan tunjukkan di mana Paku Bumi berada, atau malam ini Al-Huda akan menjadi sejarah!" teriak Herman dari kejauhan.

Faris tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan melilitkan tasbih kayu cendana itu ke kepalan tangan kanannya. Seketika, cahaya keemasan merambat dari tasbih, menyelimuti seluruh kepalan tangannya hingga ke siku.

"Langkahi dulu mayat kami, Herman!" sahut Faris dingin. "Pasukan Sarung... SERBU!"

Perang pecah di depan gerbang. Para preman terminal itu merangsek maju dengan gaya bertarung jalanan yang brutal namun kini lebih terukur. Jono menggunakan sarungnya yang dililitkan ke tangan untuk menangkis serangan asap hitam, sementara Brewok mengh

sementara Brewok menghantamkan sandal jepit andalannya yang sudah ia bacakan sholawat singkat tadi pagi. Setiap kali sandal itu mendarat di wajah sosok berjubah hitam, terdengar suara "PLAK!" yang dibarengi dengan percikan api putih.

"Mangan iki, Setan! Iki sandal swallow sakti peninggalan terminal!" teriak Brewok sambil jungkir balik menghindari kepulan asap hitam.

Di tengah kekacauan itu, Faris langsung melesat menuju Herman dan si Topeng Kayu. Langkahnya sangat ringan, setiap kali kakinya menyentuh tanah, muncul riak cahaya emas yang menghalau energi negatif di sekitarnya.

Si Topeng Kayu mengangkat tangannya, merapal mantra kuno yang membuat tanah di bawah kaki Faris mendadak lembek seperti lumpur hisap. "Matilah kamu dalam kegelapan, Penjaga!"

Faris terperosok hingga lutut, namun ia tidak panik. Ia memejamkan mata, memegang tasbih di tangannya, dan membayangkan wajah Kyai Ahmad serta almarhum ayahnya. “Bismillahi, tawakkaltu ‘alallah!” gumamnya lirih.

Seketika, ledakan cahaya emas meledak dari tubuh Faris. Tanah yang tadinya lumpur mendadak mengeras kembali, bahkan retak hingga ke arah si Topeng Kayu. Faris melompat tinggi, kepalan tangannya yang bersinar emas mengarah tepat ke dada lawan mistisnya itu.

DUAARRR!

Benturan kekuatan itu menciptakan gelombang kejut yang membuat kaca-kaca jendela di sekitar gerbang bergetar hebat. Si Topeng Kayu terpental sejauh sepuluh meter, menabrak pohon tanjung sampai tumbang. Topeng kayunya retak, memperlihatkan wajah aslinya yang pucat pasi dan penuh urat hitam.

Herman yang melihat pelindungnya kalah, langsung pucat. Ia mencoba lari menuju mobil SUV-nya, namun Jono dengan sigap melemparkan sarungnya hingga melilit kaki Herman seperti jerat laso.

"Mau lari kemana, Bos? Parkirannya belum dibayar!" ejek Jono sambil menarik Herman hingga tersungkur di tanah.

Pasukan berjubah hitam yang kehilangan komando mulai kocar-kacir. Satu per satu mereka berubah menjadi asap hitam dan terbang menghilang ke langit malam. Awan pekat di atas Gedangan perlahan mulai tersingkap, memperlihatkan kembali sinar rembulan yang tenang.

Faris berdiri di depan si Topeng Kayu yang terengah-engah. "Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu mencari Paku Bumi?"

Sosok itu hanya menyeringai, mengeluarkan darah hitam dari mulutnya. "Ini... ini baru permulaan, Faris Arjuna. Sang Pemilik Kegelapan sudah terbangun... dan dia sangat haus akan darahmu."

Setelah mengucapkan itu, tubuh si Topeng Kayu mendadak hancur menjadi abu, hanya menyisakan potongan topeng yang pecah dadi loro. Faris mengambil potongan topeng itu, hatinya merasa tidak tenang. Ia tahu, ancaman yang lebih besar sedang bergerak menuju Al-Huda.

"Mas Faris! Kita menang!" teriak pasukan preman terminal sambil bersorak-sorai. Ada yang sujud syukur, ada yang sibuk membenarkan sarung, dan Brewok sibuk mencari sandal jepitnya yang hilang sebelah saat bertarung tadi.

Kyai Ahmad berjalan mendekati Faris, matanya menatap potongan topeng di tangan Faris. "Perang fisik mungkin sudah selesai malam ini, Le. Tapi perang yang sebenarnya baru saja dimulai di alam batin. Simpan potongan topeng itu, itu adalah kunci."

Faris mengangguk mantap. Sang Panglima Terminal kini benar-benar telah lahir kembali sebagai Sang Penjaga Pesantren.

Debu dari knalpot mobil SUV Herman masih menggantung tipis di udara, menandakan betapa paniknya pria itu saat melarikan diri dari depan gerbang Al-Huda. Faris hanya menatap lampu belakang mobil itu yang semakin menjauh hingga hilang di tikungan jalan raya Gedangan.

"Yah, Mas! Kok dibiarin kabur sih si botak itu? Padahal mau saya ajak ngopi pahit di selokan!" gerutu Jono sambil membuang sarung lorengnya yang tadi sempat mau dipakai buat menjerat mobil.

Faris menghela napas panjang, matanya kembali tenang. "Biarkan saja, Jon. Herman itu pengecut. Tanpa si Topeng Kayu, dia cuma orang biasa yang ketakutan. Lagipula, kita punya urusan yang lebih penting di sini."

Faris menoleh ke arah teman-temannya yang lain. Meski tubuh mereka tampak lunglai dan ada yang terluka, namun mata pria-pria terminal itu memancarkan cahaya yang berbeda—tak ada lagi tatapan sangar yang kosong, yang ada hanyalah rasa bangga karena telah membela jalan yang benar.

"Brewok, kumpulin anak-anak. Obati yang luka. Pastikan nggak ada santri atau warga yang trauma gara-gara keributan tadi," perintah Faris berwibawa.

"Siap, Bos! Eh, Mas Faris maksudnya! Tapi Mas, sandal saya hilang sebelah... kayaknya ikut terbang pas nimpuk setan tadi," keluh Brewok sambil berjalan jinjit.

Tiba-tiba, dari balik tembok, seorang santriwati keluar membawa kotak P3K. "Ini... untuk mengobati lukanya, Kang," ucapnya lirih sambil menunduk. Brewok yang tadinya mau mengeluh soal sandal, mendadak diam seribu bahasa dan jadi salah tingkah. Teman-temannya langsung menyoraki Brewok, memecah ketegangan malam dengan tawa renyah.

Faris berjalan menuju undak-undakan masjid. Di sana, ia kembali menatap potongan topeng kayu yang pecah menjadi dua. Cahaya rembulan membuat ukiran kuno di topeng itu seolah bernapas.

Kyai Ahmad datang menghampiri, duduk di samping Faris. Beliau menyentuh tasbih peninggalan ayah Faris yang masih melilit di tangan Faris. Aroma cendana yang kuat langsung menyeruak, menenangkan hati Faris yang tadi sempat panas.

"Kamu tahu, Faris? Ayahmu dulu pernah berpesan... bahwa Panglima yang sejati bukanlah dia yang paling banyak memenangkan perang, tapi dia yang paling bersedia menundukkan dirinya di hadapan Tuhan setelah perang usai," ucap Kyai Ahmad dengan senyum tulus.

Faris merasakan matanya panas. Ia sadar, Herman mungkin kabur, tapi ancaman yang lebih besar justru baru saja menampakkan wajahnya. "Mbah, Herman pasti bakal balik lagi sama orang yang lebih kuat, kan?"

"Mungkin saja. Tapi selama kamu memegang amanah ini dengan hati bersih, pesantren ini akan tetap menjadi benteng yang tak tertembus," jawab Kyai Ahmad mantap.

Suara adzan Subuh mulai berkumandang dari menara masjid. Suaranya bening, menghapus sisa-sisa kegelapan malam. Faris berdiri, merapikan sarungnya, dan mengajak semua barisan "Preman Sarungan" itu untuk masuk ke masjid.

Malam ini, Herman boleh saja lari, tapi Faris Arjuna telah memenangkan pertempuran pertamanya. Sang Panglima Terminal kini benar-benar telah membuka lembaran baru sebagai Sang Penjaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!