NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafia

Tawanan Hasrat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Julianto

Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.

Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.

Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.

Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.

Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memanjakan Icibos

Rayga menyibak helaian rambut yang berada di wajah Aurellia, hingga tak ada lagi sehelai rambut pun yang menghalangi matanya memandang wajah wanita yang telah berstatus istri baginya.

"Apa Tuan sedang ingin melakukan itu ...?" tanya Aurellia cemas.

Wajah Aurellia semakin memucat saat dia merasakan gerakan Rayga mulai menuntut.

Aurellia takut jika nanti Rayga memaksa untuk melayaninya, sedangkan kondisi Aurellia masih lemah.

Aurellia kehilangan tenaga, bahkan tubuhnya lunglai bak tidak ada tulang penyangga.

Rayga tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi memberikan jawaban dengan gerakan tangannya yang bergerilya kian-kemari.

Bahkan gunung Teletubbies nan empuk bak squishy menjadi santapan jemarinya.

Telapak tangannya menelungkup di atas bukit Teletubbies sebelah kiri.

Memainkan bukit Teletubbies itu seperti sedang bermain Squishy yang empuk.

Bukit Teletubbies dengan ukuran 36B sudah sangat pas untuk memanjakan tangan Rayga yang sedang menjelajah dan bermain di area sana.

Bahkan Rayga sampai lupa bagaimana caranya berbicara untuk menjawab pertanyaan Aurellia di saat dia bermain dengan permainan barunya.

"Agghh ... Tuan." Aurellia menggelinjang saat telunjuk tangan kiri Rayga menerobos masuk ke dalamn sumur di tengah hutan belantara, sedangkan tangan kanannya masih bertamasya di area bukit Teletubbies.

Suara tertahan Aurellia membuat adrenalin Rayga semakin tertantang.

Sedangkan Icibos semakin mengeras dan menuntut untuk dikandangin.

"Aggh... Tuan, jangan sekarang." Nafas Aurellia tersengal-sengal di antara kalimat terbata yang dia ucapkan.

Saat telunjuk Rayga bergerak dengan arah maju dan mundur secara cepat, Aurellia malah meracau dengan napas seperti orang habis berlari.

"Aku akan melaksanakan tugasku dengan baik, tapi bukan sekarang" Aurellia mencoba meraih tangan Rayga untuk menghentikan game yang dimainkan Rayga, tetapi itu hanya sia-sia.

Karena Rayga semakin mempercepat gerakan tangannya untuk maju dan mundur di jalan becek tengah hutan belantara.

"Kondisiku masih lemah, Tuan. Aku berjanji saat kondisiku telah membaik, aku akan memberikan servis dengan gaya dan metode apa pun yang Tuan inginkan," ujar Aurellia masih dengan napas tersengal-sengal.

"Kamu tinggal diam dan menikmati saja, tidak perlu ikut bergoyang, cukup aku saja yang menyodokmu," sahut Rayga dengan bahasa vulgar nya, dia mencabut telunjuknya dari dalam sumur di tengah hutan belantara.

Aurellia hanya bisa pasrah dan diam.

Percuma dia membantah Rayga, karena pria itu juga tidak akan menghiraukannya.

Makanya Aurellia memilih diam daripada buang-buang tenaga untuk menolak dan membantah keinginan pria itu.

Rayga menarik dan menyibak kedua kaki Aurellia, memberi ruang untuk dia berada di tengah-tengahnya.

"Lihatlah, dia sudah bangun dan siap berperang." Rayga mengarahkan kepala botak Icibosnya pada tepi sumur yang ditumbuhi semak belukar di sekelilingnya.

Sengaja Rayga menggesekkan kepala Icibos ke tepian sumur sebelum diceburkan ke dalamnya.

Selain memancing agar Aurellia ikut bersiap untuk bertarung selain itu agar lubang sumur sempit itu menjadi becek dan pasti nya berguna saat proses penyemaian Benih.

Rayga juga menyukai sensasi| di saat kepala Icibos membentur tepi sumur di tengah kebun semak belukar.

Ketika tepian sumur mulai becek, baru Rayga memposisikan kepala Icibos dengan benar.

Dia berikan sedikit dorongan sampai kepala batang nya tergelincir masuk ke dalam sumur, lalu kembali ditariknya keluar.

Beberapa kali terus begitu, hingga akhirnya dorongan sedikit kuat dia berikan.

Jlep!

"Agghh..."

Akhirnya Icibos tenggelam sempurna di dalam sumur.

Jika sebelumnya selalu gagal masuk sumur di tengah hutan keramat karena masih tersegel, berbeda cerita dengan yang sekarang.

Rayga sudah sangat hafal jalan mana yang harus dia tempuh agar bisa tergelincir masuk sempurna ke tempat tujuannya.

Rayga memejamkan mata sambil mendongak ke atas.

Gerakannya ditahan sejenak, dia benar-benar mabuk karena rasa khas di bagian bawah yang tidak bisa dia jabarkan dengan kata-kata.

Rayga menjadikan bukit Teletubbies sebagai tempatnya berpegangan agar semakin bisa menikmati sensasi bagia bawah.

Beberapa detik kemudian dia baru mulai bergerak pelan.

Sedangkan Aurellia seperti yang dikatakan Rayga sebelumnya.

Dia hanya diam menerima saja gimana batang berurat telah menguasai medan pertempuran.

Sesak dan penuh, tetapi memabukkan.

Itu yang dirasakan Aurellia saat batang berurat terus bergerak keluar masuk sumur hingga terdengar suara percikan dari cairan yang dikeluarkan oleh sumur itu.

Dinding sumur terus berdenyut, mencengkram tubuh Icibos nya Rayga.

Pusaran sumur juga menghisap dan menyedot kepala batang berurat itu hingga jarak antara mulut Icibos dengan inti sumur tidak ada alias menempel rapat, terutama saat batang berurat bergerak mundur keluar, pusaran di dalam sumur malah terasa menariknya dan menahan agar batang berurat tidak keluar.

"Hmm... Agghh ..." Suara Aurellia bak irama syahdu menghiasi gendang telinga Rayga yang sedang memanjakan Icibos nya didalam sarangnya, sehingga dia makin bersemangat memacu kuda di arena pertarungan.

Suhu Ac di kamar itu tidak ada gunanya.

Hawa panas tetap menyelimuti Rayga dan Aurellia yang sedang olahraga extreme.

Keringat keduanya keluar membasahi pori-pori kulit mereka.

Saat Rayga fokus bergoyang dengan mata terpejam, tiba-tiba posisinya berubah terbalik.

Tadi Rayga yang memegang kendali memacu kuda liar, sekarang Aurellia yang mengambil alih posisinya.

Tadi sebelum olahraga bertemu Rayga, Aurellia merasa tak berdaya sama sekali.

Tenaganya sangat lemah, tetapi setelah Batang berurat menyuntik dan tergelincir masuk sumur, tenaga Aurellia tiba-tiba saja pulih walau wajahnya masih pucat seolah batang berurat milik Rayga memberikan sensasi nikmat agar pemilik sumur ikut merasakan kenikmatan.

"Bisa?" Tanya Rayga ragu pada kemampuan Aurellia.

"Begini, "kan?" tanya Aurellia.

Jurus bor naik turun dia praktekkan.

Aurellia bergoyang dengan gerakan tidak teratur.

Kadang naik turun, kadang melingkar.

Pacu kuda dikendalikannya sampai titik finish tercapai di babak pertama, dengan Rayga yang menyemprotkan cairan nutrisi kehidupan ke dalam sumur yang sudah becek.

***

Pukul sembilan pagi, ponsel Rayga terus berdering.

Dua kali panggilan terlewat begitu saja dan panggilan ketiga baru diangkatnya.

"Halo," jawabnya dengan suara parau khas orang bangun tidur.

"Tuan Dekha menunggu kalian untuk sarapan bersama di restoran X."

Terdengar suara Xander melalui panggilan telepon di ponsel Rayga.

"Sampaikan pada Kakek, nanti aku sarapan di kamar ini saja," sahut Rayga, matanya masih mengantuk berat dan tidak memperhatikan saat ini sudah pukul berapa.

"Kau menolak sarapan bersamaku?" Rayga duduk dengan gerakan cepat saat mendengar suara Kakeknya yang terdengar marah.

"Aku akan segera ke sana," jawab Rayga, setelah itu panggilan teleponnya langsung terputus karena Tuan Dekha mematikannya.

Rayga menoleh pada Aurellia yang tertidur pulas di sampingnya, jangan tanyakan apa penyebab nya karena sudah pasti penyebab nya adalah sesuatu yang ada di balik celana Rayga.

Bahkan tidak ada tanda-tanda wanita itu akan terbangun dari alam mimpinya.

Mau tidak mau Rayga harus membangunkan Aurellia, karena Tuan Dekha telah menunggu mereka di salah satu restoran ternama di seberang hotel yang mereka tempati.

"Rel... Aurellia ...!" Rayga menggoyang-goyangkan bahu Aurellia agar wanita itu terbangun.

Beberapa kali Rayga memanggil namanya, mata Aurellia akhirnya terbuka juga.

"Kakek menunggu kita untuk sarapan bersama," ujar Rayga, lalu menyibakkan selimut Aurellia.

Aurellia yang tidak me:maka! apa-apa, merasakan hembusan angin dari selimut yang ditarik menerpa kulitnya.

Sedangkan mata Rayga terpana melihat jejak totol merah yang dia tinggalkan di beberapa bagian, terutama pada area gunung Teletubbies.

"Kita mandi bersama saja biar cepat," usul Rayga diangguki Aurellia, kepala Aurellia terasa berat dan seluruh badannya terasa remuk kehabisan tenaga, karena Rayga menyerangnya sampai tiga kali pertempuran. Waktu tidurnya juga baru sebentar, sekarang sudah dibangunkan kembali.

Melihat Aurellia meringis hanya untuk sekedar bangun dari posisinya yang semula tidur, Rayga langsung menggendongnya dan membawa menuju kamar mandi.

"Pria aneh! Kadang kasar dan kadang begini," gumam Aurellia dalam hati ketika diperlakukan baik seperti itu oleh Rayga.

1
Dalena Dalena
lanjut thor up nya jangan bertele tele donk, penasaran jadinya
Lian_06: Ini lagi up kak, saya kalo weekend sebisa mungkin up nya lebih sering. yng penting jangan lupa absen dengan like dan komen saja itu udah cukup kok 😁
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut donk🙏
Lian_06: kakak maaf ya ini saya lagi nulis kak😁. makasih banget ya udah mampir di cerita ini😉
total 1 replies
Dalena Dalena
kok ngak update lagi sih,,🙏 lanjut donk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!