NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 Dibawah Atap yang Sama

Suasana di rumah sakit mendadak menjadi kacau dan panik. Petugas medis segera membawa Arga masuk ke ruang UGD dengan tandu darurat. Kirana berlari kecil di sampingnya, tangannya tak lepas dari genggaman tangan besar suaminya yang terasa dingin dan lemas.

Air mata Kirana mengalir tanpa henti. Rasa marah, kecewa, dan egonya seketika lenyap terbawa angin. Yang tersisa sekarang hanyalah rasa takut yang luar biasa. Takut kehilangan, takut jika sesuatu yang buruk menimpa Arga.

"Arga... bertahan ya... sayang... jangan tinggalkan aku..." bisiknya terus menerus, suaranya pecah menahan isak tangis.

Beberapa jam kemudian, dokter akhirnya keluar dari ruang perawatan dengan wajah lelah namun lega.

"Bagaimana keadaan suami Ibu?" tanya Kirana langsung menyergah, wajahnya pucat dan cemas.

Dokter itu tersenyum tipis. "Alhamdulillah tidak ada hal yang berbahaya, Bu. Suami Ibu hanya mengalami kelelahan ekstrem, dehidrasi parah, dan tekanan darahnya turun drastis karena kurang makan dan kurang istirahat. Sepertinya dia sedang mengalami stres yang sangat berat belakangan ini."

Kirana menunduk, dadanya sesak mendengarnya. Ia tahu persis siapa penyebab semua ini. Ia tahu Arga melakukan ini pada dirinya sendiri karena terlalu memikirkannya.

"Jadi... dia kenapa sampai pingsan, Dok?"

"Tubuhnya habis, Bu. Energinya terkuras habis. Dia butuh banyak istirahat, makanan bergizi, dan yang paling penting... suasana hati yang tenang dan bahagia," jawab dokter itu bijak, lalu menatap Kirana dalam-dalam. "Saya rasa suami Ibu sangat menyayangi Ibu. Sampai rela mengorbankan kesehatannya sendiri."

Kata-kata dokter itu bagaikan tamparan keras bagi Kirana. Ia semakin merasa bersalah.

"Iya, Dok. Makasih banyak," ucapnya lirih.

Arga akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan kelas VIP yang sangat nyaman. Saat Kirana masuk ke dalam kamar, ia melihat suaminya sudah terbaring lemah dengan selang infus menancap di tangan kanannya. Wajahnya masih pucat, namun napasnya sudah terlihat lebih teratur.

Kirana duduk di kursi sebelah ranjang, matanya tak lepas menatap wajah itu. Dengan tangan gemetar, ia mengusap pelan pipi suaminya yang terasa hangat.

"Maafin aku, Arga... maafin aku yang egois..." isaknya pelan. "Aku nggak bermaksud bikin kamu jadi begini. Bangun ya... ayo kita baikan. Aku janji nggak bakal pergi lagi."

Malam itu, Kirana tidak pulang. Ia memutuskan untuk menunggui Arga sepenuhnya. Ia sendiri yang menyuapi makan, membasuh wajah, dan memijat kaki suaminya yang kram karena kurang gerak. Rasa sayang dan rasa bersalah itu bercampur menjadi satu, membuatnya ingin membalas semua perhatian Arga selama ini.

Pukul dua dini hari, Arga akhirnya membuka matanya perlahan. Pandangannya masih kabur, namun ia bisa melihat sosok yang paling ia rindukan sedang duduk tertidur lelap dengan kepala bersandar di tepi ranjang, tangannya masih menggenggam tangannya erat.

"Kirana..." gumamnya pelan, suaranya serak.

Mendengar suara itu, Kirana langsung terbangun kaget.

"Arga! Kamu sudah sadar! Alhamdulillah..." serunya bahagia namun tetap berusaha pelan agar tidak berisik. Wajahnya berseri-seri melihat suaminya sudah sadar.

Arga menatap istrinya lekat-lekat, seolah tak percaya wanita itu ada di sana, begitu dekat dan merawatnya.

"Kamu... kamu di sini?" tanyanya lemah. "Kamu nggak benci aku lagi?"

Pertanyaan itu membuat hati Kirana hancur. Ia menggeleng cepat, air mata kembali menetes.

"Enggak... aku nggak benci kamu lagi. Aku sayang kamu, Arga. Sangat sayang," jawab Kirana tulus. "Maafin aku ya yang udah bikin kamu sakit. Maafin aku yang keras kepala."

Mendengar jawaban itu, senyum tipis terukir di bibir Arga. Ia merasa lelahnya hilang seketika. Rasanya hidupnya kembali berwarna.

"Jangan tinggalin aku lagi ya..." pinta Arga memelas. "Aku nggak kuat kalau jauh dari kamu."

"Iya, aku janji. Aku nggak bakal pergi ke mana-mana. Aku bakal selalu di sini sama kamu," janji Kirana, lalu ia mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih sayang.

Malam itu menjadi malam rekonsiliasi mereka. Tanpa perlu penjelasan panjang lebar, tanpa perlu berdebat lagi tentang Alya. Cinta dan rasa takut kehilangan telah menyatukan mereka kembali.

 

Tiga hari kemudian, Arga sudah boleh pulang ke rumah. Kondisinya sudah jauh lebih baik, meski masih terlihat sedikit lemah.

Sepulang dari rumah sakit, suasana di rumah kembali hangat. Namun kali ini, ada rasa yang lebih dewasa dan lebih dalam di antara mereka.

Kirana benar-benar merawat Arga dengan sepenuh hati. Ia sendiri yang memasakkan makanan, memastikan suaminya makan tepat waktu, dan menemaninya istirahat. Arga pun menjadi suami yang jauh lebih manja dan perhatian dari sebelumnya. Ia tidak mau melepaskan tangan Kirana sedetik pun.

Malam harinya, setelah Kirana memastikan Arga sudah tidur dengan nyenyak, ia hendak bangun untuk mengambil minum. Namun tangannya langsung ditarik.

"Mau ke mana?" tanya Arga dengan mata masih terpejam.

"Ambil minum, Sayang. Kamu haus nggak?" tanya Kirana lembut.

"Nggak. Sini... tidur lagi. Peluk aku," pinta Arga kekanak-kanakan, lalu ia menarik tubuh Kirana hingga berbaring kembali dan memeluknya erat-erat.

Mereka berbaring diam dalam gelap, menikmati detak jantung masing-masing.

"Ran..." panggil Arga pelan.

"Ya?"

"Aku tahu kita sudah baikan. Tapi aku tetap mau jelasin semuanya ke kamu. Biar kamu nggak ada prasangka buruk lagi sama aku," ucap Arga serius.

Kirana mengangguk di dada bidang itu. "Iya, aku dengerin."

"Alya itu cinta pertamaku. Kami pacaran selama 4 tahun. Dia wanita yang sangat baik, sabar, dan cantik. Kami bahkan sudah merencanakan pernikahan," cerita Arga pelan, suaranya terdengar sendu namun tidak lagi sesakit dulu.

"Tapi Tuhan berkehendak lain. Kecelakaan itu datang begitu cepat. Dia pergi dalam sekejap mata. Aku hancur, Ran. Aku merasa dunia sudah tamat. Aku janji pada diri sendiri nggak akan pernah cinta lagi, karena rasanya sakit banget kehilangan orang yang kita sayang."

Arga menghela napas panjang, mengeratkan pelukannya pada Kirana.

"Lalu aku dijodohkan sama kamu. Saat pertama kali lihat kamu, aku kaget setengah mati. Kamu mirip banget sama Alya. Mirip banget sampai aku kira dia hidup lagi. Awalnya ya... aku terima pernikahan ini karena aku kangen sama dia. Aku pikir mungkin ini cara Tuhan ngasih aku kesempatan kedua."

"Tapi..." Arga menunduk menatap wajah istrinya di kegelapan. "Semakin hari aku kenal kamu, semakin sadar kalau kamu itu beda. Kamu itu Kirana. Kamu punya senyum yang lebih hangat, kamu punya tawa yang lebih menular, kamu punya ketulusan yang nggak aku temuin di siapa pun. Alya itu seperti bunga yang indah tapi layu. Tapi kamu... kamu mataharinya. Kamu yang bikin hidup aku hangat dan terang."

Kirana terharu mendengarnya. Air mata haru membasahi baju Arga.

"Jadi jangan pernah merasa kamu pengganti ya. Kamu itu yang asli. Kamu itu pemilik hatiku sekarang dan selamanya. Alya cuma kenangan indah, itu saja. Dan aku bersyukur Tuhan kirim kamu ke hidupku, meski awalnya karena wajah yang mirip, tapi sekarang... aku cinta kamu karena jiwamu, Ran."

Kirana mengangkat wajahnya, menatap mata suaminya yang bersinar tulus.

"Makasih ya, Arga. Makasih sudah jujur. Aku ngerti sekarang. Dan aku juga minta maaf... maaf aku sempat ngerasa rendah dan ngerasa jadi boneka. Aku janji bakal lebih percaya sama kamu dan sama diri aku sendiri."

"Janji?"

"Janji."

Arga tersenyum lega. Beban berat di pundaknya akhirnya terangkat sepenuhnya. Ia menarik wajah Kirana mendekat, lalu mendaratkan ciuman panjang, lembut, dan penuh makna di bibir istrinya. Ciuman permintaan maaf, ciuman cinta, dan ciuman pengikat janji setia.

Malam itu, mereka tidur dengan hati yang damai. Luka lama telah sembuh, dan kepercayaan telah tumbuh jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Namun, di luar sana, di balik kegelapan malam, sepasang mata penuh kebencian sedang mengawasi rumah itu dari jauh. Natasha menyaksikan lampu kamar utama yang menyala dan akhirnya padam. Tangannya mengepal kuat di balik kemudi mobil.

"Belum selesai, Arga... Kirana... permainan kita belum selesai," gumamnya pelan dengan nada dingin yang mengerikan. "Kalian pikir bahagia itu mudah? Aku akan pastikan kalian merasakan penderitaan yang sama seperti aku."

Natasha memacu mobilnya pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi, membawa serta rencana jahat yang belum selesai. Badai mungkin sudah reda untuk saat ini, tapi awan hitam masih mengintai di kejauhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!