NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Darah di Jurang Pemakaman

Bau anyir darah bercampur dengan tanah basah menusuk hidung Xiao Chen. Langit senja di atas Jurang Naga Pemakaman hanya selebar telapak tangan, dihiasi warna merah saga seperti luka menganga. Tubuhnya setengah terkubur di antara tumpukan tulang belulang dan sisa-sisa pedang berkarat—tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang dianggap tidak layak hidup oleh Sekte Langit Pedang.

Ternyata... mati di tempat sampah.

Rasa sakit menjalar dari tulang rusuk yang patah. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pecahan kaca. Dantian di perutnya terasa seperti bara api yang padam, kosong melompong. Tidak ada setetes Qi pun yang tersisa. Bahkan akar spiritualnya—yang sejak awal sudah retak dan rapuh—kini benar-benar hancur berkeping-keping.

Xiao Chen memaksakan kelopak mata terbuka. Di atas sana, di bibir jurang, samar-samar ia masih bisa mendengar tawa. Tawa itu bukan tawa monster atau iblis. Itu tawa manusia. Tawa murid-murid sekte yang dulu pernah ia layani dengan membawakan air dan memotong kayu bakar. Tawa Zhao Ling'er, wanita yang sejak kecil dijanjikan menjadi istrinya.

Bayangan pagi tadi kembali berputar di kepalanya seperti lukisan yang dibakar perlahan.

---

Pagi itu, Lapangan Latihan Pedang dipenuhi ratusan murid. Xiao Chen berdiri di sudut, memeluk setumpuk jubah kotor yang harus dicucinya sebelum matahari tenggelam. Tangannya kasar, penuh kapalan—bukan dari berlatih pedang, melainkan dari menggosok lantai dan memikul air.

"Xiao Chen."

Suara itu dingin. Seperti tetesan air dari atap kuil di musim dingin. Zhao Ling'er melangkah maju dari barisan Murid Inti. Gaun biru langitnya berkibar ditiup angin gunung, rambut hitamnya diikat tinggi dengan pita perak. Di pinggangnya tergantung pedang roh kelas menengah—hadiah dari Tetua Agung karena ia telah menembus Alam Fondasi Pendirian dalam waktu kurang dari tiga tahun.

Wajahnya cantik. Selalu cantik. Tapi matanya yang dulu pernah menatap Xiao Chen dengan rasa ingin tahu seorang gadis kecil, kini hanya berisi... jijik.

"Aku, Zhao Ling'er, murid Inti Sekte Langit Pedang, di hadapan para Tetua dan saudara seperguruan, menyatakan memutuskan pertunangan denganmu."

Kalimat itu jatuh seperti palu godam. Murid-murid lain berbisik, sebagian menyeringai, sebagian lagi memandang Xiao Chen dengan ekspresi kasihan yang lebih menyakitkan daripada cacian.

"Mengapa...?" Hanya satu kata yang mampu keluar dari mulut Xiao Chen.

Zhao Ling'er tidak menjawab langsung. Ia menoleh pada seorang pemuda berjubah emas yang berdiri di sampingnya—Wei Tianxing, putra mahkota Keluarga Wei, jenius yang baru saja mencapai Pendirian Fondasi tingkat menengah di usia sembilan belas tahun. Wei Tianxing tersenyum tipis, lalu melangkah maju.

"Akar spiritualmu retak, Xiao Chen. Kau bahkan tidak bisa menyimpan Qi lebih dari satu jam. Ling'er pantas mendapatkan pendamping yang bisa melindunginya, bukan beban yang akan menyeretnya ke bawah."

Tangan Xiao Chen mengepal. Kuku-kukunya yang kotor menggigit telapak tangan.

"Pertunangan ini adalah wasiat kakekku dan kakek Ling'er," suara Xiao Chen bergetar. "Kalian tidak bisa begitu saja—"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Bukan dari Zhao Ling'er. Bukan dari Wei Tianxing. Tapi dari Tetua Ma, pengawas Paviliun Pelayan.

"Beraninya kau membantah di depan para Tetua!" bentak Tetua Ma. "Kau hanyalah pelayan rendahan. Sampah yang bahkan tidak layak menyapu lantai Lapangan Latihan. Kau pikir kau masih punya hak bicara?"

Darah menetes dari sudut bibir Xiao Chen. Kepalanya berdengung. Di telinganya, suara bisikan para murid terdengar seperti dengungan serangga.

"Sampah memang sampah."

"Lihat wajahnya. Dia bahkan tidak bisa menerima tamparan dengan benar."

"Mengapa Sekte masih memelihara makhluk seperti dia?"

Xiao Chen tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Yang ia tahu, tubuhnya tiba-tiba melayang. Seseorang—mungkin Wei Tianxing, mungkin Tetua Ma—telah melemparkan satu pukulan telak ke dadanya. Tulang rusuknya retak. Dunia berputar. Dan kemudian... jatuh.

Jurang Naga Pemakaman menyambutnya dengan kegelapan.

---

Grrrrr...

Suara geraman rendah membuyarkan lamunannya. Xiao Chen memalingkan wajah susah payah. Rasa sakit di sekujur tubuh membuat gerakan sekecil apa pun terasa seperti siksaan.

Sepasang mata merah menyala, sebesar lentera, menatapnya dari balik kabut racun ungu yang menyelimuti dasar jurang. Monster itu mengendus. Napasnya yang panas dan busuk menerpa wajah Xiao Chen. Samar-samar, ia bisa melihat wujudnya—seekor Serigala Bumi Beracun, binatang buas tingkat dua yang biasanya bersarang di gua-gua terdalam.

Hewan itu menggeram lagi. Air liurnya menetes ke tanah, menimbulkan bunyi desisan saat mengenai dedaunan kering.

Jadi begini akhirnya, pikir Xiao Chen. Dimakan monster di dasar jurang. Bahkan tidak ada yang akan menguburkan jasadku.

Tapi kematian tidak datang.

Yang datang adalah nyeri.

Dadanya mendidih. Bukan dari luka pukulan, bukan dari gigitan monster. Tapi dari dalam. Sesuatu yang terkubur jauh di bawah tulang rusuknya, sesuatu yang selama tujuh belas tahun hidupnya tidak pernah ia sadari keberadaannya, kini terbangun.

Tulang belulangnya beresonansi. Suara dengung kuno menggema di dalam dirinya—seperti lonceng perunggu raksasa yang dipukul di kuil purba, seperti gema dari zaman yang bahkan tidak tercatat dalam kitab sejarah Sekte mana pun.

Cahaya redup berwarna emas pucat muncul dari dadanya. Bukan dari Dantian. Bukan dari akar spiritual. Tapi dari tulang-tulangnya. Sebuah simbol kuno—retak dan hampir hancur—terpahat di permukaan tulang dadanya. Simbol itu berdenyut seperti jantung kedua.

Serigala Bumi Beracun yang tadinya siap menerkam tiba-tiba mundur. Moncongnya yang beringas bergetar. Ekornya melengkung ke bawah di antara kedua kaki belakangnya. Dan kemudian... ia berlutut.

Xiao Chen menatap dengan mata terbelalak. Rasa sakit di dadanya mulai mereda, digantikan oleh sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan Qi. Bukan energi spiritual. Tapi sesuatu yang lebih padat. Lebih purba. Lebih... lapar.

Simbol retak di dadanya berdenyut sekali lagi. Kali ini lebih kuat. Dan sebuah suara—bukan suara manusia, bukan suara makhluk hidup—bergema di dalam benaknya.

"Tulang Patah Surga... Pewaris Terakhir... Akhirnya kau bangun."

Di kejauhan, di atas bibir jurang, murid-murid Sekte Langit Pedang sibuk mempersiapkan jamuan malam untuk merayakan pertunangan baru Zhao Ling'er dan Wei Tianxing. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang peduli.

Mereka pikir mereka baru saja membuang bangkai sampah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!