Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Langit sudah mulai berubah warna saat mobil yang ditumpangi Adinda berhenti di depan rumah. Sisa-sisa sore menggantung di langit, tapi suasana di dalam dirinya justru terasa jauh lebih berat dibanding saat ia berangkat tadi pagi.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak banyak kata yang terucap. Naya sempat beberapa kali melirik ke arah Adinda, memastikan temannya itu baik-baik saja, tapi Adinda hanya menatap lurus ke depan. Diam. Terlalu diam.
Mobil akhirnya berhenti.
“Din…” panggil Naya pelan.
Adinda menoleh sedikit, lalu memaksakan senyum tipis. “Aku gak apa-apa.”
Naya tidak langsung percaya, tapi ia juga tahu kapan harus memberi ruang. “Kalau ada apa-apa, telepon aku. Jangan dipendam sendiri.”
Adinda mengangguk. “Iya.”
Beberapa detik hening, sebelum akhirnya ia membuka pintu mobil dan turun. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang ikut pulang bersamanya—bukan benda, tapi potongan masa lalu yang belum utuh.
Pintu rumah terbuka, suasana ramai, orang-orang berkumpul di ruang tamu, tapi Adinda tetap melewati keramaian itu.
"Din," panggil Arya.
Adinda menoleh sejenak. "Ada apa?"
"Duduk dulu lah," pintanya sambil menggendong Exel.
"Aku capek," sahut ha singkat.
"Din, dia gak salah loh, kenapa kamu harus ikut mendiamkan juga," ucap Arya seolah ingin Adinda juga ikut menyayangi anaknya dengan istri keduanya.
"Aku gak mendiamkan, cuma aku sedang capek," jelas Adinda kali ini lebih tegas.
Arya mengangguk pasrah pria itu hanya bisa menatap punggung Adinda dari kejauhan.
Adinda berdiri di ambang pintu kamarnya beberapa saat, menatap ke dalam. Entah kenapa… ada rasa asing. Padahal ini kamarnya sendiri.
Ia melangkah masuk pelan.
Diatas meja rias terlihat sedikit berantakan. Bukan kacau, tapi seperti tidak terurus. Beberapa majalah berserakan di nakas, selimut ranjang tidak rapi, dan ada gelas bekas yang belum dipindahkan.
Adinda menghela napas pelan.
“Mungkin aku terlalu lama di luar…” gumamnya.
Ia meletakkan tasnya, lalu tanpa banyak pikir, mulai merapikan. Tangannya bergerak otomatis—mengangkat majalah, merapikan selimut membawa gelas ke dapur. Hal-hal kecil. Sederhana.
Tapi entah kenapa… justru di momen itu pikirannya mulai kembali berisik.
Suara di rumah sakit. Kata-kata suster. Bekas luka dan parfum serta bayangan gelang bayi.
Tangannya sempat berhenti di udara. Napasnya tertahan sejenak, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap bergerak.
“Jangan sekarang…” bisiknya pelan.
Namun semakin ia menahan, semakin kuat rasa itu muncul.
Adinda mengalihkan dirinya. Ia melihat beberapa kardus kecil di sudut ruangan—barang-barang lama yang tampaknya belum dibereskan.
“Sekalian aja…” gumamnya.
Ia mengambil kardus itu satu per satu, membawanya ke arah gudang besar di dekat dapur. Pintu gudang sedikit berdebu saat dibuka. Aroma lama langsung menyambut—bau kayu, kertas, dan waktu yang tertinggal.
Lampu dinyalakan. Ruangan itu sempit, tapi cukup untuk menyimpan barang-barang yang sudah lama tidak disentuh.
Adinda mulai meletakkan kardus, lalu tanpa sadar duduk di lantai. Tangannya membuka satu per satu isi kotak itu—baju lama, buku catatan, beberapa barang kecil yang tidak lagi ia ingat fungsinya.
Hingga— tangannya berhenti. Satu map cokelat tipis terselip di bagian bawah. Entah kenapa jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Perlahan, ia menarik map itu keluar. Tangannya sedikit gemetar. Ia membukanya.
Deg!
Napasnya langsung tercekat. Di dalamnya sebuah foto dirinya dengan perut yang jelas membuncit.
Adinda membeku. Matanya membesar, menatap foto itu tanpa berkedip. Tubuhnya terasa dingin, sementara jantungnya berdetak tidak karuan.
“Itu… aku…” bisiknya nyaris tanpa suara.
Tangannya menyentuh foto itu pelan, seolah memastikan itu nyata. Wajahnya memang dirinya. Tidak salah. Tidak mungkin salah.
Tapi— kenapa ia tidak ingat? Napasnya mulai memburu. Dan saat itulah— ingatan itu datang.
Tidak utuh, masih belum rapih. Tapi lebih jelas dari sebelumnya. Ia melihat dirinya… di sebuah kamar. Mengenakan daster cokelat. Tangannya memegang perutnya yang sudah besar. Wajahnya terlihat lelah… tapi bahagia dan di depannya
Sintia.
Wanita itu berdiri dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Jangan bilang dulu ya sama suamimu kalau kamu mengandung,” suara itu terdengar jelas.
Adinda dalam bayangan itu terlihat bingung. “Kenapa, Bu?”
Sintia tersenyum tipis. Tapi senyum itu… dingin.
“Biar surprise,” jawabnya santai. “Nanti kalau Arya pulang, dia pasti senang.”
Suasana hening sesaat. Namun entah kenapa— ada sesuatu yang tidak beres. Perasaan tidak nyaman yang samar.
“Ah—”
Adinda tersentak. Tangannya langsung memegang kepalanya.
“Naya…” bisiknya pelan, meski tidak ada siapa-siapa di sana.
Napasnya memburu. Bayangan itu belum berhenti, datang lagi kali ini lebih cepat, bahkan lebih kacau.
Malam, jalanan gelap dan suara hujan. Ia di dalam mobil. Tangannya memegang perutnya.
“Pelan, Pak…” suaranya terdengar panik.
Lampu dari arah berlawanan menyilaukan. Lalu—
BRAK!
Suara benturan keras. Tubuhnya terhentak. Sakit, udara serasa gelap bagi Adinda. Dan—suara orang-orang.
“Cepat! Kondisinya kritis!”
“Bawa ke rumah sakit”
“Kita selamatkan ibu dan bayinya—”
“Tidak…!”
Adinda terjatuh di lantai gudang. Foto itu masih tergenggam di tangannya. Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Tubuhnya gemetar hebat.
“Aku… hamil…” suaranya pecah.
Tangannya perlahan berpindah ke perutnya sendiri, kosong tapi rasa itu tidak hilang.
“Terus… bayinya…?” bisiknya lirih.
Tangisnya pecah lebih keras sekarang. Bukan tangis biasa. Tapi tangis seseorang yang baru menyadari… ada bagian hidupnya yang direnggut paksa.
Dan lebih menyakitkan lagi— ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengingatnya.
Adinda menunduk, bahunya bergetar. Semua mulai tersambung.
Rumah sakit.
Data yang hilang.
Wanita berkuasa.
Bekas luka.
Parfum.
Dan—
Sintia.
Tangannya mengepal kuat, meremas foto itu.
Air matanya masih jatuh, tapi kali ini— ada sesuatu yang berubah. Bukan hanya sedih ataupun kehilangan, tapi…
Marah.
“Kenapa…” bisiknya pelan, suaranya mulai bergetar oleh emosi yang berbeda.
Matanya terangkat perlahan.
“Tega banget…” lanjutnya lirih.
Ia menelan ludah, napasnya masih tidak stabil.
“Kalau benar…” suaranya semakin pelan, tapi tajam.
“…kalian tahu semuanya…”
Hening. Beberapa detik berlalu. Lalu—
“Berarti… kalian sengaja.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat ia mengepalkan tangannya. Kali ini Adinda tidak hanya ingin tahu kebenaran.
Tapi ingin menuntutnya.
Bersambung ...
Assalamualaikum selamat sore semoga suka ya Kak.