Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Gua dan Pemburu
Arga membuka matanya perlahan. Di sekelilingnya, dinding gua yang dingin dan lembap. Di luar, suara jangkrik hutan berdengung ritmis, bercampur dengan desiran angin yang menyusup melalui celah-celah batu. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara napas selain napasnya sendiri.
Untuk sekarang, aman.
Ia menatap tangannya. Inti Monster Tingkat Raja masih di sana—bola emas yang kini berpendar lembut, seukuran kepalan tangan. Panasnya sudah mereda, berubah menjadi kehangatan yang mengalir pelan ke telapak tangannya. Seolah-olah inti itu perlahan mengenalinya, menerimanya sebagai pemilik baru.
Tapi Arga tahu ini baru permulaan. Inti monster tingkat raja bukanlah benda yang bisa begitu saja diserap. Ia harus diolah, dimurnikan, diselaraskan dengan energi tubuhnya sendiri. Proses itu bisa memakan waktu berhari-hari. Dan selama proses itu, ia akan sangat rentan.
Pemburu itu masih di luar sana. Aku harus bergerak sebelum fajar.
Ia bangkit dengan susah payah. Tulang rusuknya masih sakit—luka dari festival belum sembuh sepenuhnya, ditambah kelelahan setelah pencurian inti tadi. Setiap gerakan terasa seperti mengangkat beban berat. Tapi ia memaksakan diri. Tidak ada pilihan lain.
Gua ini terlalu dekat dengan lembah. Pemburu itu pasti masih mencari di sekitar sini. Ia harus menemukan tempat yang lebih tersembunyi, lebih dalam di jantung Hutan Timur.
Arga mengintip keluar dari mulut gua. Hutan malam terbentang gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang menerobos celah-celah kanopi. Tidak ada tanda-tanda pergerakan. Ia melangkah keluar, kaki telanjangnya menginjak tanah dingin dan daun-daun kering.
Langkah Bayangan Bulan. Energi Benang Perak-nya sudah pulih sedikit—cukup untuk membuat gerakannya senyap. Ia bergerak ke utara, semakin menjauhi lembah, semakin dalam ke wilayah yang belum pernah ia jelajahi.
Semakin ia berjalan, semakin tua pepohonan di sekitarnya. Batang-batang raksasa dengan diameter lima rentangan tangan menjulang ke langit, akar-akar mereka membentuk labirin alami di atas tanah. Lumut tebal menutupi hampir setiap permukaan, memancarkan cahaya redup kebiruan. Udara terasa lebih berat, lebih purba.
Ini wilayah yang bahkan pemburu profesional pun akan berpikir dua kali untuk memasukinya.
Setelah dua jam berjalan, ia menemukannya. Sebuah pohon raksasa dengan batang yang berlubang di bagian dasarnya—lubang yang cukup besar untuk dijadikan tempat persembunyian. Pohon itu masih hidup, daun-daunnya lebat di atas sana, tapi bagian dalam batangnya kosong, mungkin bekas sarang monster yang sudah lama ditinggalkan.
Arga menyelinap masuk. Bagian dalamnya sempit, hanya cukup untuk duduk bersila. Tapi tersembunyi—dari luar, lubang itu tertutup akar-akar gantung dan semak belukar.
Sempurna.
Ia duduk dan mengeluarkan Inti Monster Tingkat Raja dari sakunya. Bola emas itu masih berpendar lembut, menerangi ruang sempit di dalam pohon dengan cahaya hangat. Arga meletakkannya di pangkuannya, lalu menutup mata.
Sekarang. Saatnya memulai.
---
Proses penyerapan inti monster bukanlah hal yang asing bagi Arga. Sebagai Kaisar Langit, ia telah menyerap puluhan—bahkan ratusan—inti monster tingkat tinggi. Tapi itu dulu, saat tubuhnya masih tubuh seorang Kaisar Abadi. Sekarang, dengan tubuh Pemurnian Qi tahap ketiga, proses yang sama terasa seperti mencoba menelan lautan.
Ia memulai dengan Teknik Pernapasan Kaisar Kuning. Napasnya melambat, masuk dan keluar dalam ritme yang teratur. Perlahan, ia mengarahkan aliran napasnya ke arah inti di pangkuannya.
Sambungkan. Bukan dengan paksaan. Tapi dengan undangan.
Inti itu merespons. Bola emas mulai berdenyut, seirama dengan napas Arga. Dari permukaannya, seutas benang energi emas tipis mulai merambat keluar, melayang di udara, lalu menyentuh dada Arga—tepat di atas Dantian-nya.
BZZZT!
Sengatan energi menjalar ke seluruh tubuhnya. Lebih kuat dari yang ia duga. Energi monster tingkat raja sangat liar, tidak terlatih, penuh dengan naluri buas Naga Bumi. Arga merasakan dorongan untuk mengaum, untuk mencakar, untuk menghancurkan. Itu adalah sisa-sisa kesadaran monster yang masih melekat pada intinya.
Tenang. Ia berbicara pada dirinya sendiri. Kau adalah Kaisar Langit. Energi ini bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang pernah kau taklukkan.
Benang Perak di Dantian-nya bergerak. Ia merespons kehadiran energi asing ini, melilit benang emas yang masuk, lalu mulai menyerapnya perlahan-lahan. Prosesnya lambat. Sangat lambat. Setiap serat energi emas yang diserap, Benang Perak berdenyut dan bertambah panjang sedikit demi sedikit.
Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.
Arga tenggelam dalam meditasi mendalam. Ia tidak merasakan waktu. Ia tidak merasakan dinginnya malam atau sakit di tulang rusuknya. Yang ada hanya aliran energi—dari inti emas di pangkuannya, melalui dadanya, ke dalam Dantian-nya, diserap oleh Benang Perak yang terus tumbuh.
Delapan ruas jari... delapan seperempat... delapan setengah...
Saat fajar mulai menyingsing di luar, Benang Perak di Dantian-nya telah mencapai delapan tiga perempat ruas jari. Hampir sembilan. Tapi inti di pangkuannya masih utuh, nyaris tidak berkurang. Energi yang ia serap semalaman hanyalah setetes dari lautan yang tersimpan di dalamnya.
Ini akan memakan waktu lebih lama dari yang kukira.
Ia membuka mata. Tubuhnya terasa lebih ringan, lebih kuat. Luka-lukanya masih ada, tapi rasa sakitnya berkurang. Energi dari inti monster tidak hanya memperpanjang Benang Perak—ia juga mempercepat penyembuhannya.
Tapi ia tidak bisa terus bermeditasi tanpa henti. Ia butuh makanan. Air. Dan ia harus memastikan pemburu itu tidak menemukannya.
Arga menyembunyikan inti di dalam lipatan bajunya, lalu keluar dari pohon berlubang. Hutan pagi terasa segar, dipenuhi kicauan burung dan aroma tanah basah. Ia mencari sungai kecil—ingatannya tentang peta Hutan Timur dari kehidupan sebelumnya memberinya gambaran kasar di mana sumber air berada.
Setelah setengah jam berjalan, ia menemukannya. Sebuah anak sungai jernih mengalir di antara batu-batu lumut. Arga berlutut dan meneguk air dingin itu. Rasanya seperti kehidupan itu sendiri mengalir ke tenggorokannya.
Saat ia mengangkat kepala, ia melihatnya.
Jejak kaki. Bukan jejak binatang. Jejak sepatu manusia, tercetak jelas di lumpur tepi sungai. Masih segar—mungkin baru beberapa jam.
Pemburu itu.
Arga menegang. Ia mengamati sekitar dengan waspada. Tidak ada suara mencurigakan, tidak ada aura yang terasa. Tapi jejak itu adalah bukti bahwa pemburu itu telah mencapai area ini. Mungkin ia juga mencari air.
Dia sendirian. Dua rekannya sudah mati di lembah. Dia terluka. Tapi dia pemburu profesional—dia mungkin punya lebih banyak pengalaman bertahan hidup di hutan daripada aku.
Arga harus membuat keputusan. Menghindarinya, atau... menghadapinya.
Jika ia terus menghindar, pemburu itu akan terus membayangi, menjadi ancaman konstan saat Arga mencoba menyerap inti. Satu kesalahan, satu momen lengah, dan pemburu itu bisa menyerang saat ia sedang bermeditasi tanpa pertahanan.
Tapi jika ia menghadapinya sekarang... dengan kondisinya saat ini, dengan energi Benang Perak yang belum pulih sepenuhnya...
Tidak. Aku belum siap.
Arga memutuskan untuk kembali ke pohon berlubang. Ia akan melanjutkan penyerapan inti. Satu atau dua hari lagi, Benang Perak akan mencapai sembilan ruas jari. Saat itu, ia akan cukup kuat untuk menghadapi pemburu.
Ia berbalik dan mulai berjalan kembali. Langkah Bayangan Bulan membuat gerakannya senyap.
Tapi setelah beberapa langkah, ia berhenti.
Di depannya, di antara pepohonan, sesosok tubuh berjubah hitam berdiri. Pemimpin pemburu. Lengan kirinya masih diperban, tapi di tangan kanannya, ia memegang tongkat kristal merah yang sama seperti sebelumnya.
"Kau," suaranya berat. "Akhirnya aku menemukanmu."
Arga tidak menjawab. Ia menghitung jarak, kemungkinan serangan, rute pelarian.
Pemburu itu melangkah maju. "Aku tidak tahu bagaimana bocah sepertimu bisa mencuri inti Naga Bumi. Tapi itu tidak penting. Yang penting, kau akan mengembalikannya. Sekarang."
"Aku tidak bisa," jawab Arga datar. "Inti itu sudah terikat denganku. Prosesnya tidak bisa dihentikan."
Wajah pemburu itu mengeras. "Kalau begitu, aku akan mengambilnya dari mayatmu."
Ia mengangkat tongkat kristalnya.
Dan Arga tahu, pertarungan ini tidak bisa dihindari.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga