Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Terakhir
Bab 25
Mereka menghabiskan sisa siang dan seluruh malam untuk mempersiapkan segalanya. Bang Anton meminjamkan bengkelnya sebagai tempat persembunyian sekaligus markas. Di ruangan belakang yang sempit itu, Dewi membuka koper besarnya dan mengeluarkan alat-alat yang tidak pernah Bambang bayangkan sebelumnya. Kamera kecil sebesar ujung jari. Alat perekam yang bisa menyala otomatis saat mendeteksi suara. Ponsel-ponsel bekas yang dimodifikasi khusus untuk komunikasi jarak dekat tanpa sinyal.
"Ini namanya kamera pinhole," kata Dewi sambil memegang sebuah benda hitam mungil. "Kita bisa pasang di mana saja. Di celah pintu. Di lubang kunci. Di balik lukisan. Orang tidak akan sadar mereka sedang direkam."
"Apakah alat ini bisa bekerja di kegelapan?" tanya Ucok.
"Bisa. Ada lampu inframerah kecil. Gambarnya hitam putih, tapi cukup jelas untuk melihat wajah dan mendengar suara."
Dewi juga mengeluarkan beberapa botol plastik kosong. Botol air mineral bekas yang sudah dibersihkan. "Ini untuk darah," katanya. "Kita isi dengan darah kita masing-masing. Satu botol penuh. Setelah itu, kita tutup rapat. Nanti saat kita di gudang produksi, kita siramkan ke kolam."
"Satu botol penuh?" Bambang menelan ludah. "Itu banyak."
"Satu botol lima ratus mililiter. Tubuh manusia dewasa punya sekitar lima liter darah. Kehilangan setengah liter masih aman. Lebih dari itu, kamu bisa pingsan. Tiga botol berarti satu setengah liter. Aku akan ambil setengah liter. Kalian juga. Total satu setengah liter. Cukup untuk meracuni kolam kecil."
"Kolam itu tidak kecil," kata Ucok. "Kolam itu besar. Mungkin diameter tiga meter. Dalamnya dua meter. Satu setengah liter darah tidak akan cukup."
"Maka kita tambah dengan bensin," kata Bambang. "Darah untuk melemahkan. Bensin untuk membakar. Api akan menyelesaikan sisanya."
Bang Anton yang selama ini diam di sudut ruangan angkat bicara. "Saya punya bensin di bengkel. Dua jeriken. Masing-masing lima liter. Cukup untuk membakar kolam sebesar itu."
"Terima kasih, Bang Anton," kata Bambang. "Kami tidak tahu harus membalas apa."
"Balas dengan selamat. Itu semua yang saya minta."
Mereka bekerja sepanjang malam. Bambang dan Ucok menyiapkan jeriken bensin, memindahkannya ke botol-botol plastik yang lebih kecil agar mudah dibawa. Dewi menyiapkan kamera dan alat perekam, menguji satu per satu, memastikan baterai penuh dan memori kosong.
Sekitar pukul tiga pagi, mereka beristirahat. Bambang berbaring di lantai bengkel yang dingin dan keras. Ucok duduk di kursi plastik, matanya tertutup tapi tidak tidur. Dewi masih sibuk dengan laptopnya, menuliskan rencana langkah demi langkah.
"Kita harus masuk dari mana?" tanya Dewi tanpa menoleh.
"Dari belakang," jawab Ucok. "Pagar belakang paling mudah dipanjat. Tidak ada lampu. Tidak ada kamera CCTV sebanyak di depan. Tapi kita harus hati-hati dengan hutan. Makhluk-makhluk itu berkumpul di tepi hutan."
"Jam berapa pertemuan itu?"
"Sumber saya bilang tengah malam. Tapi Pak Toni biasanya datang lebih awal. Satu jam sebelum pertemuan. Untuk memeriksa keamanan."
"Maka kita harus sudah di dalam sebelum jam sebelas malam. Kita pasang kamera di ruang pertemuan. Lalu kita bersembunyi. Setelah pertemuan selesai, kita siram darah dan bensin ke kolam. Lalu kita bakar."
"Tapi kalau pertemuan belum selesai?" tanya Bambang.
"Kita tunggu. Jangan terburu-buru. Yang penting kita dapat rekaman."
Bambang memejamkan mata. Rencana ini terdengar sederhana. Tapi dia tahu, tidak ada yang sederhana di pabrik itu. Setiap langkah bisa menjadi jebakan. Setiap bayangan bisa menjadi makhluk. Setiap suara bisa menjadi teriakan maut.
Pagi datang lebih cepat dari yang dia duga. Matahari baru saja terbit ketika Bang Anton membangunkan mereka dengan segelas kopi panas dan sepiring nasi goreng.
"Makan dulu," kata Bang Anton. "Kalian butuh tenaga."
Mereka makan dalam diam. Tidak banyak bicara. Pikiran masing-masing sibuk dengan rencana yang akan mereka jalani malam ini.
Setelah makan, Dewi mengeluarkan tiga buah pisau lipat kecil. "Ini untuk kalian," katanya. "Bukan untuk melukai makhluk. Pisau tidak akan mempan pada mereka. Tapi untuk... mengambil darah kita sendiri. Lebih mudah dan lebih steril daripada pakai pecahan kaca."
Bambang menerima pisau itu. Bilahnya tajam. Mengkilap. Dia membayangkan bilah itu mengiris kulitnya sendiri. Darah mengalir ke botol. Perutnya mual.
"Kita lakukan pengambilan darah di sini," kata Dewi. "Sebelum berangkat. Bawa botol yang sudah berisi darah. Jangan sampai tumpah."
"Aku tidak bisa," kata Bambang. "Aku takut darah."
"Aku juga takut," kata Dewi. "Tapi kita tidak punya pilihan."
Dewi membuka botol pertamanya. Dia membersihkan lengan kirinya dengan kapas alkohol. Tangannya gemetar. Tapi matanya mantap. Dia mengambil pisau lipat itu, menempelkan bilahnya ke kulit di lengannya, dan menyayat. Cukup dalam. Darah langsung mengalir.
Bambang menutup matanya. Dia tidak tega melihat. Tapi dia mendengar suara darah menetes ke dalam botol. Pluk. Pluk. Pluk. Setiap tetes terdengar seperti pukulan di dadanya.
Setelah botol penuh, Dewi membalut lukanya dengan perban. Wajahnya pucat. Bibirnya putih. Tapi dia tersenyum.
"Giliran kamu," katanya.
Bambang membuka mata. Botol di depannya kosong. Pisau di tangannya terasa berat. Dia membersihkan lengannya dengan kapas alkohol. Tangannya gemetar hebat.
"Aku tidak bisa," bisiknya.
"Kamu bisa," kata Ucok. "Lihat aku."
Ucok mengambil pisaunya. Tanpa ragu, dia menyayat lengannya. Darah mengalir deras ke botol. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada rasa sakit yang terlihat. Hanya tekad.
Botol Ucok penuh dalam beberapa menit. Dia membalut lukanya dengan perban. Lalu dia menatap Bambang.
"Sekarang kamu," kata Ucok.
Bambang menarik napas panjang. Dia memejamkan mata. Bilah pisau itu dingin di kulitnya. Dia menarik napas sekali lagi. Lalu dia menyayat.
Rasa sakit yang tajam langsung menyambarnya. Dia menggigit bibirnya tidak sampai berdarah. Darah mengalir dari lukanya. Dia segera mengarahkan aliran darah itu ke mulut botol.
Pluk. Pluk. Pluk.
Dia membuka mata. Darahnya sendiri. Warna merah pekat. Mengalir perlahan. Mengisi botol sedikit demi sedikit.
Ketika botol hampir penuh, Bambang meletakkan pisau dan menekan lukanya dengan kain bersih. Darah masih mengalir meskipun tidak deras. Ucok membantunya membalut luka itu dengan perban.
"Kamu hebat," kata Ucok.
"Aku tidak hebat. Aku hanya tidak punya pilihan."
Mereka bertiga kini memiliki luka di lengan kiri masing-masing. Perban putih melilit kulit. Dan di depan mereka, tiga botol plastik berisi darah merah pekat. Senjata paling ampuh yang mereka miliki.
"Simpan botol ini di tas ransel," kata Dewi. "Bungkus dengan plastik. Jangan sampai tumpah. Jangan sampai pecah."
Bambang membungkus botol darahnya dengan kantong plastik, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel pemberian kepala desa. Tas itu sekarang berisi buku harian Dul, kontrak kerja, kamera pinhole, alat perekam, dan sebotol darahnya sendiri. Berat. Tapi bukan karena barang-barang itu. Tapi karena beban di hatinya.
Mereka beristirahat sampai sore. Bambang mencoba tidur, tapi tidak bisa. Setiap kali dia memejamkan mata, yang muncul adalah botol darah merah itu. Darahnya sendiri. Darah yang akan dia gunakan untuk membunuh kolam. Atau untuk bunuh diri.
Sekitar pukul lima sore, mereka bersiap berangkat. Bang Anton meminjamkan mobil tua yang biasa dipakai untuk mengantar suku cadang bengkel. Mobil pikap dengan bak terbuka di belakang.
"Kita naik ini," kata Dewi. "Aku yang nyetir. Kalian di belakang. Tutup badan kalian dengan terpal. Jangan sampai terlihat dari jalan."
"Kenapa tidak pakai mobilmu saja?" tanya Bambang.
"Mobilku sudah dikenal orang. Mobil ini tidak. Perusahaan tidak akan curiga."
Mereka naik ke mobil pikap itu. Bambang dan Ucok duduk di bak belakang, menutupi tubuh mereka dengan terpal plastik hitam. Udara di bawah terpal panas dan pengap. Bau plastik dan oli bercampur menjadi satu.
"Kalian siap?" teriak Dewi dari depan.
"Siap!" teriak Bambang.
Mesin mobil menyala. Mobil bergerak perlahan meninggalkan bengkel. Bambang tidak bisa melihat apa-apa di balik terpal. Yang dia lihat hanya kegelapan. Yang dia dengar hanya suara mesin dan suara angin.
Dia mengingat-ingat perjalanan pertamanya ke pabrik. Juga dalam gelap. Juga dalam ketakutan. Tapi kali ini berbeda. Kali ini dia bukan korban yang pasrah. Kali ini dia adalah pejuang yang kembali untuk menghancurkan.
"Kita akan menang," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kita akan menang."
Mobil melaju selama berjam-jam. Sesekali berhenti di lampu merah. Sesekali bergerak pelan karena macet. Sesekali melaju kencang di jalanan sepi.
Bambang tidak tahu sudah di mana mereka. Yang dia tahu, malam semakin gelap. Udara semakin dingin. Dan ketakutan semakin mengental di dadanya.
"Ucok," bisik Bambang.
"Iya."
"Kamu takut?"
"Takut."
"Tapi kamu tetap mau melawan."
"Karena tidak ada lagi yang bisa aku takutkan selain tidak pernah melihat Laras lagi. Dan kalau aku tidak melawan sekarang, aku tidak akan pernah bisa pulang."
Bambang menggenggam tas ranselnya erat-erat. Botol darah di dalamnya terasa hangat. Hangat seperti kehidupan. Hangat seperti harapan.
Mobil berhenti.
"Ini dia," suara Dewi dari depan. "Kita sudah sampai di pinggir hutan. Dari sini kita jalan kaki."
Bambang membuka terpal. Udara malam menyambutnya. Dingin. Lembab. Bau tanah dan dedaunan. Bau yang terlalu familiar. Bau yang sama dengan malam-malam di hutan.
Dia menatap ke depan. Di antara pepohonan, samar-samar, dia melihat cahaya. Cahaya dari pabrik. Cahaya dari tempat di mana semua mimpi buruk ini bermula.
"Kita masuk," kata Dewi.
Mereka bertiga berjalan menembus pepohonan. Bambang di depan. Ucok di belakangnya. Dewi di belakang Ucok. Jarak di antara mereka hanya satu meter. Cukup dekat untuk saling melindungi. Cukup jauh untuk tidak mengganggu gerakan masing-masing.
Pagar besi pabrik terlihat dari kejauhan. Tinggi. Berduri. Berkarat. Sama seperti yang Bambang ingat. Tapi kali ini tidak ada satpam yang berjaga. Herman sudah tewas. Joni sudah berubah. Dul sudah jadi makhluk. Ucok dan Bambang ada di sini, di sisi lain pagar, bersiap untuk masuk.
"Ini pagar yang sama?" bisik Dewi.
"Iya," bisik Ucok. "Tapi kita tidak akan panjat di sini. Terlalu terbuka. Kita ikuti pagar ke samping. Cari tempat yang lebih gelap."
Mereka berjalan menyusuri pagar. Rumput-rumput tinggi menggesek kaki mereka. Sesekali Bambang mendengar suara aneh dari kejauhan. Suara seperti karet diregangkan. Masih jauh. Tapi semakin lama semakin dekat.
Mereka berhenti di sebuah tempat di mana pohon-pohon tumbuh sangat dekat dengan pagar. Daun-daunnya rimbun, menutupi cahaya bulan. Gelap. Sunyi.
"Di sini," bisik Ucok. "Kita panjat di sini."
Ucok memanjat pagar dengan gerakan yang cepat meskipun tubuhnya besar. Bambang mengikutinya. Tangannya terasa sakit memegang besi berkarat. Tapi dia terus memanjat. Begitu sampai di atas, dia melihat ke bawah. Di sisi lain pagar, halaman belakang pabrik terbentang. Rumput tinggi. Genangan air. Bangunan-bangunan tua. Dan di kejauhan, gudang produksi. Gelap. Sunyi. Menunggu.
Mereka turun satu per satu. Kaki Bambang mendarat di tanah yang lembab. Dia hampir terjatuh, tapi Ucok menangkapnya.
"Hati-hati," bisik Ucok.
Mereka berjongkok di balik drum kosong yang sama yang dulu digunakan Dewi untuk bersembunyi. Dari sini, mereka bisa melihat halaman belakang dan gudang produksi.
"Kita pasang kamera di dalam gudang," bisik Dewi. "Tapi kita harus masuk dulu. Dan kita harus pastikan tidak ada orang di dalam."
"Gudang itu terkunci," kata Bambang. "Dulu Herman yang pegang kuncinya. Sekarang Herman sudah mati. Mungkin kuncinya ada di pos satpam."
"Aku akan ambil," kata Ucok. "Aku tahu di mana Herman menyimpan kunci."
"Tidak. Itu terlalu berbahaya. Kalau ada yang melihatmu..."
"Aku sudah lima tahun di sini. Aku tahu cara menghindari kamera CCTV. Aku tahu jalan-jalan gelap. Aku bisa."
Sebelum Bambang sempat menolak, Ucok sudah berjalan menjauh. Tubuhnya yang besar bergerak dengan gesit di antara bayangan-bayangan. Dalam hitungan detik, dia sudah menghilang di balik bangunan.
"Ucok," bisik Bambang. Tapi tidak ada jawaban.
Mereka menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Ucok tidak kunjung kembali.
Bambang mulai gelisah. "Aku harus cari dia."
"Tunggu," bisik Dewi. "Dia bilang dia bisa."
"Tapi sudah lama."
"Kita tunggu sepuluh menit lagi. Kalau tidak datang, kita cari."
Mereka menunggu. Detik-detik terasa seperti jam. Keringat dingin membasahi punggung Bambang. Matanya tidak berkedip menatap ke arah Ucok pergi.
Tepat sepuluh menit kemudian, sebuah bayangan muncul dari balik bangunan. Besar. Bergerak cepat.
Itu Ucok.
Dia berjongkok di samping Bambang. Napasnya tersengal. Tangannya memegang sebuah gantungan kunci besi.
"Aku dapat," bisik Ucok. "Tapi ada masalah."
"Apa?"
"Mereka sudah datang. Pak Toni dan orang-orangnya. Ada empat mobil terparkir di depan. Mereka sedang di kantor. Mungkin sebentar lagi ke gudang."
"Kita harus cepat," kata Dewi. "Pasang kamera sekarang."
Mereka berjalan merangkak menuju gudang produksi. Ucok di depan. Bambang di tengah. Dewi di belakang. Tanah basah membasahi lutut mereka. Rumput-rumput tinggi menyembunyikan gerakan mereka.
Pintu gudang produksi masih sama seperti yang Bambang ingat. Besi. Berkarat. Kokoh. Ucok memasukkan kunci ke lubang. Diputarnya perlahan. Terdengar bunyi klik pelan.
Pintu terbuka.
Kegelapan di dalam menyambut mereka. Udara dingin dan lembab keluar dari dalam gudang, membawa bau yang tidak pernah Bambang lupakan. Bau anyir. Bau kolam. Bau kematian.
"Masuk," bisik Ucok.
Mereka masuk satu per satu. Begitu kaki Bambang menginjak lantai gudang, dia merasakan sesuatu yang aneh. Lantainya terasa hangat. Tidak dingin seperti yang dia kira. Hangat seperti kulit manusia.
Dewi menyalakan senter kecil. Cahaya redup menerangi ruangan.
Di tengah gudang, kolam hitam itu masih ada. Diam. Sunyi. Tapi bergerak. Pelan-pelan. Seperti sedang bernapas.
Bambang merasakan bulu kuduknya berdiri. "Itu dia," bisiknya. "Kolam induk."
Dewi mengeluarkan kamera pinhole. "Aku pasang di sini. Di balok kayu ini. Menghadap ke kolam. Juga ke pintu. Setiap orang yang masuk akan terekam."
Dia memanjat balok kayu dengan gerakan cepat. Kamera kecil itu ditempelkan dengan selotip hitam. Tidak terlihat dari bawah.
"Aku pasang alat perekam di sini," kata Dewi sambil menempelkan sebuah benda kecil di bawah meja kayu dekat pintu. "Suara akan terekam jelas."
Mereka berdua keluar dari gudang. Ucok mengunci pintu kembali. Kunci itu diselipkan di saku celananya.
"Kita bersembunyi di mana?" tanya Bambang.
"Di kantor," kata Ucok. "Ada ruang rapat kecil di samping kantor Pak Toni. Jaraknya cukup dekat dengan gudang. Kita bisa melihat dan mendengar dari sana."
Mereka berjalan menuju kantor. Bangunan kecil di samping gudang produksi. Ucok membuka pintu dengan kunci lain. Mereka masuk. Ruangan itu sempit. Hanya ada meja, kursi, dan lemari arsip.
"Kita bersembunyi di balik lemari arsip," bisik Ucok.
Mereka berjongkok di balik lemari arsip. Dari sini, mereka bisa melihat pintu gudang melalui celah jendela. Juga bisa mendengar suara dari luar.
Menunggu.
Sekitar satu jam kemudian, mereka mendengar suara mobil. Banyak mobil. Pintu terbuka dan tertutup. Suara langkah kaki. Suara orang bicara.
"Pak Toni," bisik Ucok.
Bambang menahan napas. Dia melihat melalui celah jendela. Pak Toni berjalan menuju gudang produksi, diikuti oleh empat orang berpakaian hitam. Di belakang mereka, seorang pria dengan jas tegap. Mungkin orang penting dari pusat. Atau dari luar negeri.
Pak Toni membuka pintu gudang dengan kuncinya sendiri. Mereka masuk. Pintu ditutup.
"Rekaman sudah berjalan," bisik Dewi.
Mereka menunggu. Suara dari dalam gudang terdengar samar. Tidak jelas. Tapi alat perekam Dewi pasti menangkap semuanya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu gudang terbuka. Pak Toni dan rombongannya keluar. Wajah Pak Toni terlihat puas. Senyumnya lebar. Senyum yang sama seperti saat Bambang pertama kali menandatangani kontrak.
Mereka berjalan menuju mobil. Pintu mobil tertutup. Mesin menyala. Mobil-mobil itu pergi.
Dewi menghela napas. "Kita dapat rekamannya."
"Sekarang giliran kita," kata Bambang. "Kita hancurkan kolam itu."
Mereka keluar dari kantor. Berjalan menuju gudang produksi. Ucok membuka pintu dengan kunci.
Begitu pintu terbuka, bau anyir itu menyambut mereka lebih kuat dari sebelumnya. Kolam hitam di tengah ruangan bergolak. Seperti tahu ada yang akan terjadi. Seperti tahu mereka datang untuk membunuhnya.
"Ayo," kata Bambang.
Mereka mengeluarkan botol-botol darah dari tas ransel. Membuka tutupnya. Darah merah pekat siap dituang.
"Kita siram bersama-sama," kata Dewi. "Satu, dua, tiga."
Mereka menuangkan darah ke kolam.
Darah itu mengenai permukaan kolam hitam. Dan kolam itu menjerit.
Bukan suara manusia. Bukan suara makhluk. Tapi suara yang tidak pernah Bambang dengar sebelumnya. Suara yang memekakkan telinga. Suara yang membuat tanah di bawah mereka bergetar.
Kolam itu bergolak hebat. Cairan hitamnya menyembur ke atas. Beberapa tetes mengenai lengan Bambang. Panas. Panas seperti tersiram air mendidih.
"Bensin! Cepat!" teriak Ucok.
Mereka mengambil botol-botol bensin. Menuangkannya ke kolam. Bensin bercampur dengan darah dan cairan hitam. Bau menyengat memenuhi ruangan.
"Api!" teriak Dewi.
Bambang mengeluarkan korek api dari sakunya. Jarinya gemetar. Dia menyalakan korek api. Api kecil menyala di ujung jarinya.
Dia melemparkan korek api itu ke kolam.
Api membesar dalam sekejap.
Kolam itu menjerit lebih keras. Lebih nyaring. Lebih menyakitkan.
Dinding-dinding gudang mulai retak. Atap seng bergetar. Tanah di bawah mereka berguncang.
"Lari!" teriak Ucok.
Mereka berlari keluar dari gudang. Api sudah membakar seluruh kolam. Cairan hitam itu terbakar dengan cepat. Asap tebal mengepul ke langit.
Mereka berlari menuju pagar. Tidak menoleh ke belakang.
Di belakang mereka, gudang produksi mulai runtuh. Dindingnya roboh satu per satu. Atapnya ambruk. Api menjalar ke bangunan-bangunan lain.
Bambang memanjat pagar dengan sisa tenaga yang dia punya. Tangannya terasa panas. Kulitnya melepuh terkena percikan cairan hitam tadi. Tapi dia tidak berhenti. Tidak bisa berhenti.
Mereka bertiga mendarat di sisi lain pagar. Berlari menembus hutan. Tidak peduli dengan ranting-ranting yang mencambuk wajah. Tidak peduli dengan akar-akar yang membuat mereka tersandung.
Mereka berlari sampai tidak bisa berlari lagi.
Di kejauhan, api terus membakar pabrik. Cahaya merah menyala di langit malam.
Bambang jatuh di tanah. Dadanya naik turun cepat. Air matanya mengalir. Bukan karena sakit. Tapi karena lega.
"Kita berhasil," bisiknya.
Dewi duduk di sampingnya. Wajahnya hitam terkena asap. Rambutnya acak-acakan. Tapi dia tersenyum.
"Kita berhasil," ulang Dewi.
Ucok berdiri di depan mereka, menatap ke arah pabrik yang terbakar. Api semakin besar. Menelan semuanya. Kolam. Gudang. Makhluk-makhluk. Mungkin juga mayat-mayat yang terkubur di halaman belakang.
"Kita harus pergi sebelum polisi datang," kata Ucok. "Atau sebelum perusahaan mengirim orang-orangnya."
Mereka berjalan lagi. Menembus hutan. Menuju mobil yang terparkir di pinggir hutan.
Bambang tidak tahu apakah mereka akan selamat. Tidak tahu apakah luka-lukanya akan sembuh. Tidak tahu apakah dia akan pernah bisa tidur tanpa mimpi buruk.
Tapi satu yang dia tahu. Kolam itu sudah mati. Makhluk-makhluk itu tidak akan lahir lagi.
Dan untuk malam ini, itu sudah cukup.