NovelToon NovelToon
BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mochamad Fachri

Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.

Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.

Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Persiapan Pengujian Tingkat

Rombongan Nova berhenti di depan gerbang, salah satu penjaga berjubah abu muncul, untuk memeriksa rombongannya.

“Tunjukan token undangan kalian?” ucapnya.

Gonor membuka jendela kaca, dan menunjukan token undangan khusus milik The Grifindor. Tak ada yang aneh atau mencurigakan saat Nova meluaskan persepsi jiwanya sampai saat dimana ia melihat ke arah menara, seorang pemuda sedang berdiri menatap ke arah rombongannya. Ia dapat merasakan orang itu setidaknya satu tingkat di atas Nathan.

“Menarik,” batinnya.

Setelah itu, rombongan Nova memarkirkan mobil, di samping mobil milik manor lainnya. Mereka turun satu persatu, dan langsung di sambut oleh udara dingin yang menusuk.

Di ambang pintu manor utama seorang kakek tua sudah berdiri, dan begitu melihat Nona Zoya dan yang lainnya senyumnya langsung mengembang. Tapi, alisnya mengkerut saat melihat seorang pemuda yang auranya sama sekali tak dapat di rasakannya.

“Siapa dia? Apa Nona Zoya menemukan anggota baru?” gumamnya.

Tak berselang lama, rombongan Nona Zoya mendekat ke arahnya. Kali ini ia merasakan ada yang berbeda dari anggota praktisi jiwa the Grifindor. Masing-masing dari mereka terlihat lebih kuat dari sebelumnya.

“Salam tetua Silas,” sapa Nona Zoya di ikuti yang lainnya.

Kakek tua itu mengangguk sebagai jawabannya, matanya kemudian tertuju kepada sosok Nova.

“Siapa anak ini Nona Zoya?”

Nona Zoya menoleh ke arah Nova dan mengangguk pelan. “Nova, perkenalkan dirimu.”

Nova pun maju satu langkah untuk sejajar dengan Nona Zoya lalu memberikan salam hormat kepada tetua Silas.

“Salam Tetua, namaku Nova. Aku anggota baru dari Nona Zoya,” ucapnya lalu ia kembali mundur satu langkah.

Tetua Silas tertawa pelan, melihat perangai anak muda di hadapannya itu. “Bagus, jadi ini pemuda yang sering kau ceritakan itu?” ucapnya lalu menoleh ke arah Nona Zoya, “kini anggota mu bertambah dan tak perlu kesulitan lagi di pengujian tingkat nanti, ayo semuanya kita masuk semua orang sudah menunggu."

Nona Zoya mengangguk sambil tersenyum, tetua Silas berjalan lebih dulu di sampingnya Nona Zoya. Nova dan yang lainnya mengikuti, saat mereka masuk music khas dari Eldoria langsung menyambut. Udara hangat di dalamnya sangat kontras dengan udara di luar.

Nova begitu terkesan saat melihat interiornya yang nyaris seluruhnya kayu, cahaya kuning dari lampu membuat suasana semakin terasa hangat.

Suara langkah di atas lantai kayu menggema di sepanjang lorong menuju aula pertemuan. Dan begitu mendekati pitu, dua penjaga sigap membukakannya.

Tatapan semua orang langsung tertuju kepada rombongan Nona Zoya, beberapa terlihat senang dan kebanyakan memandang mereka rendah, meremehkan dan penuh dengan kebencian.

“Aku pikir kalian tidak akan datang,” ucap seorang pemuda dengan jubah hitamnya sambil melangkah lebih dekat ke arah rombongan Nona Zoya.

Ethan langsung menahan bahu Darius begitu ia merasakan auranya melonjak.

“Tenang, jangan mudah terprovokasi,” bisiknya.

Calista maju.

“Tentu saja kami datang, dan aku pastikan kali ini aku akan menendang pant*tmu Amond!” ejek Calista yang langsung membuat pemuda di seluruh aula tertawa.

Tetua Silas langsung mengangkat tangannya.

“Sudah cukup! Semuanya duduk!”

Seketika suasana kembali tenang, ketika tetua Silas mengeluarkan auranya yang langsung membuat udara di aula menjadi dingin.

Semua orang kembali duduk, Ethan dan yang lainnya duduk di meja lain bersama pemuda dari manor yang berbeda. Sementara Nova duduk bersama Nona Zoya dan para petinggi lain.

Hal itu membuat seisi aula menjadi gaduh kembali, karena tak sembarangan orang yang dapat duduk di meja para petinggi.

“Siapa anak itu? Kenapa dia duduk bersama tetua Silas?”

Bisikan demi bisikan mulai terdengar, membuat tuan Silas kembali mengangkat tangannya, cukup untuk membuat aula kembali tenang.

Beberapa petinggi dari manor lain, terlihat tak suka dengan kehadiran Nova yang duduk satu meja bersama mereka, sehingga salah satunya langsung angkat bicara.

“Tetua, kenapa anak muda ini duduk bersama kita? Apa kepentingan bocah ini?” tanya seorang berjubah hitam yang langsung menatap Nova dan memindai kekuatannya.

Namun, sayangnya dia tak merasakan apapun dari sosok Nova, tak sedikitpun ia dapat mengetahui tingkat kekuatan Nova.

Tetua Silas menoleh.

“Dia tamuku Helios, jadi tak perlu ada yang menanyakan hal yang sama lagi. Ini berlaku untuk semua orang, anak ini di bawah perlindunganku selama berada di Eldoria.”

Ucapan Tetua Silas cukup membuat Helios kembali diam, ia terus memperhatikan Nova yang terlihat tenang tanpa merasa terdistraksi ataupun merasakan takut.

“Hanya tetua Silas yang kekuatannya di tingkat yang tertinggi, tingkat sepuluh. Tapi ada yang aneh dengan aura di tubuhnya,” batin Nova.

Jamuan makan pun di mulai, semua orang bersuka cita dan mengenang masa-masa pengujian tahun sebelumnya, Nova hanya mendengarkan saja dan mengamati situasi di aula itu.

Di meja utama, Tetua Silas tampak berbincang ringan dengan beberapa petinggi lain, tetapi Nova bisa merasakan sesuatu yang tidak selaras. Aura pria tua itu memang kuat, sangat kuat bahkan, tetapi ada celah kecil yang nyaris tak terlihat, seperti retakan halus pada kaca yang tampak utuh dari kejauhan.

“Kau menyadarinya juga rupanya.”

Suara lembut terdengar di sampingnya.

Nova menoleh sedikit, seorang wanita paruh baya dengan jubah ungu tua sedang menatapnya dengan senyum tipis. Matanya tajam, jauh dari kesan ramah yang ia tampilkan.

Nova tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku tidak tahu maksud mu?”

Wanita itu terkekeh ringan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Tetua Silas.

“Kalau begitu, anggap saja aku salah,” ucapnya santai, seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi.

***

Setelah perjamuan selesai, rombongan Nova di antar langsung oleh tetua silas dan dua pengawal tingkat enam ke ruang peristirahatan mereka. Sepanjang jalan menuju ruang peristirahatan, beberapa gadis berjubah biru dan ungu memperhatikan Nova, salah satu gadis berjubah ungu dengan rambut berwarna putih terang menunjukan ketertarikan pada sosok Nova.

“Dia anggota baru dari The Grifindor?” ucapnya.

Gadis di sebelahnya mengangguk.

“Betul Nona, menurut informasi yang aku dapat, pemuda itu sepertinya memiliki kelebihan khusus sehingga tetua Silas kakek mu memberikannya tempat khusus.”

Seraphine, cucu satu-satunya dari tetua Silas, dia cantik dan berwawasan tinggi, dan baru kali ini dia memiliki ketertarikan pada seorang laki-laki.

“Baiklah, aku akan mencari tahunya sendiri,” ucap Seraphine.

Sementara itu, Nova dan yang lainnya sudah berada di ruang peristirahatan. Suasananya cukup membuat Nova merasa nyaman, ia dapat merasakan fluktuasi energi di tempat itu cukup untuk dirinya bermeditasi.

“Kalian istirahatlah, karena besok kita akan menghadapi banyak orang yang tentunya sangat berbakat, ingat jangan mudah terprovokasi,” ucap Nona Zoya.

Nova dan yang lainnya mengangguk, dan menuju kamar mereka masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!