NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, memejamkan mata rapat-rapat sementara tangannya masih gemetar hebat. Kebenaran itu membakar nuraninya, namun ego dan obsesinya jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya. Jika ia mengaku kalah sekarang, jika ia berlutut dan memohon ampun dengan membawa bukti ini, Maya tidak akan menatapnya dengan rasa iba. Maya akan melihat pintu keluar yang terbuka lebar dan melangkah pergi tanpa pernah menoleh lagi.

"Aku tidak bisa melepaskanmu, Maya. Bahkan jika aku harus menjadi iblis yang mengurung malaikat," desisnya pelan.

Arlan menghapus file itu dari komputernya secara permanen. Ia menghancurkan flashdisk kiriman detektif itu dengan injakan sepatunya hingga hancur berkeping-keping. Rahangnya mengeras. Ia akan menyimpan rahasia ini di liang kubur terdalam, membiarkan Maya tetap berada di bawah tuduhannya, agar ia punya alasan untuk tetap memenjarakan wanita itu di sampingnya.

Sementara itu, Maya sedang mengambil es krim di lemari es. Gerakannya mekanis, namun pikirannya tajam. Ia menyadari sesuatu yang aneh. Penjagaan hari ini terasa terlalu longgar. Tidak ada pengawal yang biasanya berdiri di dekat pintu dapur, dan CCTV di sudut ruangan tampak mati.

Apakah ini jebakan, Arlan? Atau kau sedang mengujiku? batin Maya.

Ia membawa semangkuk kecil es krim ke ruang tengah. Dion menyambutnya dengan sorak sorai kecil. Saat itulah, Maya melihat sebuah amplop cokelat besar tergeletak di atas meja kerja Arlan yang biasanya selalu terkunci rapat.

Entah mengapa, jantung Maya berdegup kencang. Ia melirik Dion yang asyik dengan es krimnya, lalu perlahan melangkah mendekati meja itu. Tangannya gemetar saat menyentuh ujung amplop tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa foto dan catatan medis.

Namun, sebelum Maya sempat membukanya, suara bariton yang dingin menggelegar dari arah pintu depan.

"Sedang mencari apa, Maya?"

Arlan berdiri di sana. Ia pulang lebih awal dari jadwal rapatnya. Matanya yang merah menatap Maya dengan intensitas yang mengerikan ,sebuah tatapan yang menyembunyikan badai rasa bersalah di balik topeng kemarahan.

Maya tersentak, menjatuhkan amplop itu kembali ke meja. "Aku... aku hanya ingin merapikan bukuku yang tertinggal."

Arlan berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman vonis mati. Ia tidak memarahi Maya karena menyentuh mejanya. Sebaliknya, ia justru menarik Maya ke dalam pelukan yang menyesakkan, membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.

"Jangan pernah mencoba mencari tahu apa pun lagi," bisik Arlan parau. "Tetaplah di sini, tetaplah menjadi istriku. Aku akan memberikan apa pun... apa pun, Maya. Asal kau jangan pernah pergi."

Maya bisa merasakan tubuh Arlan bergetar hebat. Sesaat Maya terlena akan pelukan Arlan,sebuah pelukan yang setahun ini tidak pernah ia rasakan lagi.,dan hari pelukan hangat itu kembali ia rasakan, tapi kali ini pelukan itu terasa sedikit berbeda begitu erat dan posesif.

" Lepas....Mas." Ujar Maya setelah tersadar .

Arlan tidak langsung melepaskannya. Sebaliknya, ia justru menghirup aroma rambut Maya dalam-dalam, seolah sedang menyimpan memori tentang istrinya sebelum kenyataan pahit yang ia sembunyikan menghancurkan segalanya. Namun, merasakan penolakan Maya yang begitu keras, Arlan perlahan melonggarkan pelukannya.

Matanya menatap Maya dengan tatapan gelap. Di sana ada keputusasaan yang tidak bisa ia jelaskan. "Kenapa, Maya? Apakah sedikit saja kehangatan dariku sekarang terasa menjijikkan bagimu?"

Maya mundur dua langkah, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan akibat pelukan posesif itu. "Kehangatan? Kau tidak sedang memberikan kehangatan, Mas.Jika itu dulu maka aku akan sangat bahagia tapi sekarang tidak lagi."

Maya menatap Arlan dengan mata yang tidak lagi memancarkan binar pemujaan, hanya ada kelelahan yang teramat sangat. "Dulu, aku akan melakukan apa saja untuk pelukan ini. Aku akan memberikan seluruh nyawaku hanya agar kau menatapku dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian. Tapi kau sendiri yang membunuh perasaan itu, Mas. Kau yang menguburnya di gudang belakang, di antara rasa lapar dan air mataku."

Arlan terdiam, tangannya yang menggantung di udara tampak gemetar. Kata-kata Maya seperti sembilu yang menyayat nuraninya yang kini sedang terluka oleh kebenaran tentang Sarah.

" Maka nikmatilah situasi ini,Maya...jangan pernah berharap untuk keluar dari rumah ini." ujar Arlan, suaranya terdengar seperti janji sekaligus ancaman. Arlan merutuki ucapannya sendiri,tadinya ia ingin meminta maaf tapi mulut dan otaknya berkata lain.

"Kau?" Maya tertawa getir. "Satu-satunya orang yang paling menyakitiku di dunia ini adalah kau, Arlan. Wanita lain hanya bisa menyakitiku karena kau yang mengizinkannya. Kau memberinya kunci rumah kita, kau memberinya izin untuk menghinaku, dan kau memberinya kekuatan untuk membuatku terlihat seperti monster."

Maya melirik sekilas ke arah laci meja kerja Arlan.Ia lalu menunjuk ke arah amplop cokelat di atas meja. "Ada apa dengan amplop itu?

Arlan melirik amplop itu sesaat, lalu kembali menatap Maya. Ia harus berbohong. Jika Maya tahu bahwa ia sudah memegang bukti keterlibatan Sarah dan memilih untuk menghancurkannya, Maya akan menganggapnya lebih rendah dari binatang.

"Hanya urusan kantor yang berantakan," dusta Arlan, suaranya kembali dingin dan datar. Ia berjalan menuju meja kerjanya, menyambar amplop itu, dan langsung memasukkannya ke dalam laci yang kemudian ia kunci dengan kunci fisik dari sakunya. "Jangan pernah menyentuh meja ini lagi. Aku tidak ingin kau mencampuri urusan bisnisku."

" Aku juga tidak tertarik dengan urusanmu." Balas Maya menohok lalu meninggal kan Arlan sendiri dan berjalan kearah dimana Dion sedang bermain.

Arlan berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya masih mengepal erat di dalam saku celana. Ia menatap punggung Maya yang menjauh dengan langkah yang begitu tenang, namun setiap ketukan langkah itu terasa seperti palu yang menghantam ulu hatinya. Ia baru saja melakukan kebohongan terbesar dalam hidupnya, dan ia tahu, ada harga yang harus dibayar dengan begitu besar.

Di sofa, Maya duduk bersimpuh di samping Dion. Ia membantu bocah itu menyuapkan es krim yang mulai meleleh, tertawa kecil saat Dion mengadu bahwa lidahnya kedinginan. Pemandangan itu begitu indah, begitu hangat, Arlan tersenyum tipis sebuah senyum kebahagiaan saat melihat kehangatan dan interaksi istrinya dan keponakannya itu. Rasanya ia pun ingin ikut bergabung bersama mereka,tapi ada sesuatu yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.

Arlan berjalan masuk ke ruang kerjanya dan membanting pintu hingga terdengar bunyi debuman keras yang membuat Dion sedikit terlonjak di ruang tengah. Ia mengunci pintu dari dalam, menyandarkan tubuhnya yang lemas pada kayu jati tersebut.

Ia meraba laci tempat ia menyembunyikan amplop cokelat itu. Kebenaran bahwa Sarah adalah pelaku kecelakaan adiknya terus berputar-putar di kepalanya, menuntut untuk dilepaskan. Namun, ketakutan akan kehilangan Maya jauh lebih besar daripada tuntutan keadilan itu sendiri.

"Maafkan aku, Maya," bisiknya pada keheningan ruangan. "Biarlah kau membenciku karena mengira aku jahat, daripada kau meninggalkanku karena tahu aku pengecut."

Arlan kemudian mengambil ponselnya, menghubungi asisten pribadinya dengan suara yang kembali dingin dan otoriter. "Siapkan tim hukum paling tajam. Cari semua celah hukum untuk menjerat Sarah tanpa melibatkan kasus kecelakaan adikku. Aku ingin dia membusuk di penjara atas kasus lain apapun itu. Korupsi, penggelapan, atau narkoba. Aku ingin dia hilang dari dunia ini tanpa menyentuh rahasia yang kusimpan."

Di sudut ruangan , CCTV yang tadinya mati, kini kembali berkedip merah. Penjagaan kembali diperketat. Arlan telah memutuskan biarlah Maya membencinya selamanya, asalkan wanita itu tetap berada dalam jangkauan tangannya. Ia akan menanggung dosa ini sendirian, mengubur kebenaran tentang Sarah sedalam mungkin, demi sebuah ilusi rumah tangga yang ia paksakan tetap berdiri.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!