NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Perjanjian Konyol di Atap Sekolah

Sore itu, langit Yogyakerto berubah warna menjadi jingga kemerahan, pertanda matahari bersiap untuk undur diri. Di sudut pinggiran Wana Asri, tepatnya di markas geng motor The Ghost yang berkedok bengkel tua bernama Sakti Jaya, suasana terasa sangat tegang. Musik dangdut koplo yang biasanya menghentak keras dari speaker butut di sudut ruangan kini dimatikan total. Puluhan anggota geng duduk lesehan di atas tikar plastik atau bersandar di deretan motor modifikasi dengan wajah serius.

Di tengah-tengah mereka, Rama duduk di atas sebuah drum oli kosong. Wajahnya keras, rahangnya mengatup rapat. Jaket kulit hitam kebesarannya membalut tubuhnya yang tegap, sementara tangannya sibuk memutar-mutar sebuah kunci inggris dengan gelisah.

"Jadi maksud lo, ada yang megang kartu as lo sekarang? Rahasia lo sebagai bos kita ketahuan?" Galang memecah keheningan, suaranya terdengar tidak percaya. "Siapa, Ram? Cowok dari SMA mana? SMA Garuda? Atau anak-anak dari daerah utara? Biar gue sama Bagas yang samperin ke rumahnya sekarang juga. Kita bikin dia lupa ingatan sekalian biar nggak macam-macam sama lo!"

Bagas yang badannya paling bongsor langsung berdiri, membunyikan buku-buku jarinya dengan kasar. "Benar kata Galang, Bos. Kasih tahu aja namanya. Berani-beraninya dia ngancem lo. Dia belum tahu aja kalau berurusan sama The Ghost, nyawa taruhannya."

Rama menghentikan putaran kunci inggris di tangannya. Matanya menatap satu per satu sahabat jalanannya itu. Ada dorongan kuat untuk menceritakan semuanya, menyebut nama Nayla, dan membiarkan anak-anak buahnya membereskan masalah ini dengan cara jalanan. Gampang saja baginya untuk menyuruh Galang mengintimidasi gadis itu agar tutup mulut. Tapi, anehnya, setiap kali dia mengingat wajah pucat namun penuh keberanian milik gadis berjilbab ungu itu, lidahnya mendadak kelu.

"Nggak usah," suara Rama terdengar berat dan final. "Jangan ada yang bergerak atau bertindak bodoh. Ini urusan gue. Gue yang bakal beresin masalah ini sendiri. Orang ini... bukan orang yang bisa kalian hadapi pakai otot."

"Tapi, Ram—" Cakra mencoba menyela.

"Gue bilang ini urusan gue, Cakra," potong Rama tajam, kilat matanya tidak menerima bantahan. "Kalian fokus aja sama jadwal balapan minggu depan. Jaga area kita, jangan sampai anak-anak sebelah cari masalah lagi gara-gara kejadian semalam. Paham?"

Anak-anak bengkel saling pandang, bingung dengan sikap bos mereka yang biasanya tidak pernah ragu untuk menghabisi siapa pun yang mengancam ketenangan mereka. Tapi karena itu adalah perintah mutlak dari sang pemimpin, mereka hanya bisa mengangguk pasrah.

Malamnya, Rama kembali ke rumah mewahnya. Setelah makan malam formal yang lagi-lagi dipenuhi ceramah dari ayahnya tentang pentingnya mempertahankan peringkat paralel, Rama mengurung diri di kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi lampu kristal. Kepalanya pusing setengah mati. Kenapa dia tadi mencegah Galang dan yang lain? Kenapa dia seolah melindungi gadis yang jelas-jelas memegang remot kontrol untuk menghancurkan hidupnya?

Rama mengusap wajahnya kasar. Aroma melati yang samar-samar itu kembali melintas di ingatannya, mengalahkan bau asap rokok dan oli dari bengkel tadi sore. "Gue pasti udah gila," gumamnya frustrasi, memejamkan mata dan berharap besok dunia kiamat saja agar dia tidak perlu ke sekolah.

Sayangnya, kiamat tidak terjadi. Matahari pagi kembali bersinar terang, dan Rama harus kembali mengenakan topeng anak emasnya. Begitu melangkahkan kaki melewati gerbang SMA Taruna Citra, perasaan waswas langsung menyergapnya. Matanya awas mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru koridor, mencari sosok berjilbab ungu itu. Dia merasa seperti buronan yang sedang dikejar intel kepolisian.

Benar saja, mimpi buruknya baru saja dimulai.

Saat Rama membuka lokernya di dekat ruang laboratorium biologi untuk mengambil buku paket, selembar kertas berwarna merah muda terang jatuh melayang ke lantai. Rama memungutnya dengan kening berkerut. Tulisan tangan di kertas itu sangat rapi, tapi isinya sukses membuat darah Rama mendidih seketika.

Ke rooftop pas istirahat pertama. Telat satu menit, rahasia lo terbang ke ruang Kepsek, Babu. - N

Rama meremas kertas itu sampai lecek, membuangnya ke tempat sampah dengan emosi tertahan. Giginya bergemeretak. "Babu katanya? Sialan. Lihat aja nanti, gue bakal bikin lo nyesel karena berani main-main sama gue."

Bel istirahat pertama berbunyi nyaring. Sambil menahan umpatan yang tertahan di ujung lidah, Rama berjalan tergesa-gesa menaiki tangga menuju lantai paling atas sekolah. Pintu rooftop didorongnya dengan kasar. Angin siang yang cukup kencang langsung menerpa wajahnya. Di ujung sana, duduk santai di atas toren air beton yang sudah tidak terpakai, Nayla sedang asyik menyesap sekotak susu stroberi. Jilbab ungunya berkibar-kibar ringan tertiup angin, membuat gadis itu terlihat seperti tidak memiliki beban hidup sama sekali.

Mendengar suara langkah kaki Rama yang mendekat, Nayla menoleh. Senyum jahil langsung mengembang di bibirnya yang kemerahan. "Wah, tepat waktu. Nggak telat sedetik pun. Lo emang punya bakat alami buat jadi babu yang berbakti ya?"

"Jangan mancing emosi gue," desis Rama, berdiri sekitar dua meter dari gadis itu. Tangan cowok itu bersedekap di dada, matanya menatap tajam dari balik kacamata minusnya. "Gue ke sini bukan buat main-main. Sebutin apa mau lo sekarang biar urusan kita cepat selesai. Lo mau uang tutup mulut? Berapa? Sebut aja nominalnya, besok gue bawa cash."

Nayla tertawa pelan, tawa renyah yang anehnya tidak terdengar menyebalkan di telinga Rama. Gadis itu melompat turun dari beton, mendarat dengan ringan, lalu berjalan mendekati Rama.

"Duit? Lo pikir gue cewek matre yang bisa lo sogok pakai duit jajan lo itu?" Nayla mencibir, menatap Rama dengan pandangan meremehkan. "Dengar ya, Tuan Muda Rama Arsya Anta. Hidup gue di sekolah baru ini lumayan membosankan. Isinya cuma anak-anak kaku yang kerjanya belajar, pamer nilai, sama ngomongin cowok tampan yang nyatanya cuma berandal jalanan bermuka dua. Gue butuh hiburan. Dan lo... adalah mainan baru gue yang paling sempurna."

"Gue bukan mainan lo," geram Rama, melangkah maju satu tindak, mencoba mengintimidasi gadis itu dengan postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi.

Tapi Nayla sama sekali tidak gentar. Dia malah menengadah, balas menatap mata Rama tanpa berkedip. "Oh, masa? Terus gimana kalau gue iseng nulis nama 'The Ghost' di mading sekolah? Atau gue kirim paket isinya jaket kulit butut lo ke alamat rumah lo yang megah itu? Ayah lo pasti seneng banget dapat kado dari anak kebanggaannya."

Rama terdiam kaku. Cewek ini benar-benar tahu kelemahannya. Dia ibarat ular berbisa yang tahu persis di mana letak nadi lawannya. Rama menarik napas panjang, mencoba meredam egonya yang memberontak hebat.

"Oke," ucap Rama akhirnya, suaranya terdengar sangat berat seolah menelan paku. "Apa tugas pertama gue?"

Senyum kemenangan Nayla semakin lebar. Dia menepuk-nepuk bahu Rama dengan gaya menyebalkan. "Nah, gitu dong. Gak usah sok jagoan kalau posisi lo lagi kejepit. Tugas lo gampang banget buat hari ini. Gue laper, dan gue males antre di kantin yang sumpek itu. Gue mau lo beliin gue batagor Mang Udin. Bumbu kacangnya yang banyak, jangan pakai saus sambal sedikit pun, dan pedesnya sedang aja pakai cabai rawit dua biji. Oh ya, minumnya es teh manis, es batunya dikit aja."

Rama melongo. Rahangnya nyaris jatuh ke lantai. "Batagor? Lo nyuruh gue, Ketua Klub Sains, antre desak-desakan di kantin cuma buat beli batagor?!"

"Iya, kenapa? Keberatan? Ya udah, gue tinggal jalan ke ruang kepala sekolah sekarang—"

"Iya! Iya, gue beliin!" potong Rama cepat, wajahnya memerah karena menahan marah dan malu. "Tunggu di sini."

"Eits, enak aja. Panas tau di sini. Gue mau ke perpustakaan, mau baca buku sambil ngadem. Lo antar makanannya ke meja paling pojok dekat rak buku sejarah. Lima belas menit dari sekarang, atau perjanjian kita batal," ancam Nayla santai, lalu membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan Rama yang masih mematung dengan kepalan tangan yang mengeras.

Rama mengumpat kasar begitu pintu rooftop tertutup. Dengan langkah berat dan perasaan hancur lebur, dia turun menuju kantin. Benar saja, kantin sedang dalam kondisi paling chaos. Ratusan murid berebut makanan seperti zombi kelaparan. Rama, yang biasanya hanya makan bekal sehat dari rumah atau meminta tolong adik kelas untuk membelikan roti, kini harus rela berdesak-desakan, berpeluh keringat demi sebungkus batagor.

"Eh, Kak Rama! Tumben jajan di sini, Kak? Sini, Kak, di depan aku aja antrenya!" tawar beberapa siswi yang histeris melihat pangeran sekolah mereka ikut berbaur di kantin yang panas.

Rama memaksakan senyum ramah andalannya, meski dalam hati dia ingin mengamuk. "Eh, iya, Dek. Makasih ya. Kebetulan lagi pengin banget batagor Mang Udin."

Setelah perjuangan melelahkan selama sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun, Rama akhirnya berhasil mendapatkan pesanan sialan itu. Dia berjalan setengah berlari menuju perpustakaan, memastikan tidak ada saus yang menetes. Kemejanya sedikit berantakan dan napasnya memburu.

Di sudut perpustakaan yang sepi, Nayla sedang duduk santai sambil membaca sebuah novel tebal. Gadis itu mendongak saat mendengar suara kursi ditarik dengan kasar. Rama meletakkan sebungkus batagor dan segelas es teh manis di atas meja dengan napas terengah-engah.

"Bumbu kacang banyak. Tanpa saus. Cabai rawit dua. Es teh manis esnya dikit. Puas lo?" desis Rama tajam, suaranya ditekan sekecil mungkin agar tidak ditegur petugas perpustakaan.

Nayla menatap bungkusan itu, lalu menatap wajah Rama yang sedikit berkeringat dan memerah. Bukannya mengejek, gadis itu malah menopang dagunya dengan sebelah tangan, memandang Rama dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis, yang jauh berbeda dari senyum sinisnya di rooftop tadi, terukir di wajahnya.

"Makasih, Babu. Kerja lo bagus juga buat pemula," bisik Nayla pelan.

Rama mendengus keras, hendak membalikkan badan dan pergi dari sana. Namun, saat tatapannya tidak sengaja berserobok dengan mata bulat Nayla yang bersinar jenaka, langkahnya tertahan. Ada sesuatu yang aneh meletup di dadanya. Bukan lagi rasa amarah karena diperbudak, tapi sebuah desir halus yang membuat telapak tangannya tiba-tiba terasa dingin. Rama menelan ludah, segera memalingkan wajah dan berjalan cepat keluar perpustakaan, mengabaikan detak jantungnya yang kembali berpacu di luar kendali. Sialan, dia benci mengakuinya, tapi ternyata menjadi babu gadis jilbab ungu itu tidak seburuk yang dia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!