Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Batas yang Mulai Kabur
Pagi itu Elora tidak bangun sebagai dirinya yang biasa.
Ada sesuatu yang berbeda, bukan di kamarnya, bukan di suasananya, tapi di pikirannya sendiri. Seolah semalam dunia tidak benar-benar berhenti setelah mobil itu meninggalkan gedung acara. Seolah semua tatapan, bisikan, dan genggaman tangan Arshaka masih tertinggal di kulitnya, tidak mau benar-benar hilang meski ia sudah mencoba mencuci wajah berkali-kali.
Berita sudah menyebar.
Itu hal pertama yang ia lihat begitu membuka ponsel.
Foto dirinya dan Arshaka di acara semalam memenuhi layar. Di satu foto, tangan mereka terlihat saling menggenggam. Di foto lain, Arshaka berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya, seolah menjaga posisi yang terlalu intim untuk sekadar “kesepakatan kerja sama”.
Judul-judulnya tidak kalah tajam.
CEO dingin akhirnya go public dengan artis skandal.
Elora Kirana bangkit atau hanya permainan baru?
Siapa sebenarnya wanita di samping Arshaka Bhumisvara?
Elora menatap layar itu lama.
Harusnya ini rencana yang berhasil.
Tapi kenapa dadanya justru terasa semakin sesak?
Ketukan di pintu kamar hotelnya terdengar siang itu, lebih cepat dari biasanya.
Dan Elora sudah tahu siapa tanpa harus membuka.
Arshaka.
Saat pintu dibuka, pria itu sudah berdiri seperti biasa—rapi, tenang, tanpa tanda-tanda bahwa dunia sedang membicarakan mereka tanpa henti. Tangan di saku jas, mata yang sulit ditebak, dan ekspresi yang selalu terasa satu langkah di depan semuanya.
“Kita harus keluar lagi hari ini,” katanya langsung.
Elora mengernyit. “Baru saja kemarin kita jadi bahan berita.”
“Justru karena itu.”
Elora menutup pintu perlahan, lalu bersandar di belakangnya. “Kamu benar-benar menikmati ini, ya?”
Arshaka menatapnya. “Aku tidak menikmati apa pun.”
“Lalu kenapa semuanya harus secepat ini?”
Ada jeda kecil.
“Kita harus memperkuat narasi,” jawabnya akhirnya. “Kalau kita menghilang sekarang, mereka akan mengira itu palsu.”
Elora tertawa pelan, tapi kali ini ada kelelahan di dalamnya. “Lucu. Aku tidak tahu hidupku sekarang diatur oleh opini orang lain.”
“Bukan opini,” koreksi Arshaka. “Persepsi.”
Dan entah kenapa, kata itu terasa lebih dingin dari yang seharusnya.
Hari itu mereka pergi ke sebuah restoran privat.
Tidak ada kamera resmi, tapi Elora tahu itu tidak berarti aman. Di dunia mereka sekarang, tidak ada tempat yang benar-benar bebas dari mata orang lain.
Arshaka memesan meja di sudut, cukup jauh dari keramaian, tapi tetap terlihat elegan. Saat mereka duduk, Elora memperhatikan bagaimana orang-orang di sekitar mulai melirik. Bukan secara terang-terangan, tapi cukup untuk membuatnya sadar—cerita mereka sudah sampai lebih jauh dari yang ia bayangkan.
“Biasakan,” ucap Arshaka pelan tanpa menatapnya. “Ini baru awal.”
Elora menatapnya. “Kamu bicara seolah ini permainan jangka panjang.”
Arshaka akhirnya menoleh. Tatapan itu lagi. Tenang, tapi terlalu dalam.
“Ini bukan jangka pendek.”
Kalimat itu membuat Elora diam sejenak.
Makanan datang, tapi Elora hampir tidak menyentuhnya.
Pikirannya lebih sibuk dengan semua hal yang terjadi terlalu cepat. Semalam ia seorang artis yang jatuh. Hari ini ia menjadi “pasangan” seorang CEO yang bahkan dunia tidak pernah menyangka akan terlibat dengannya.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak ia bisa pahami.
Cara Arshaka memperlakukannya.
Bukan dingin sepenuhnya. Bukan hangat sepenuhnya. Tapi sesuatu di tengah yang membuatnya sulit menilai.
Kadang Arshaka terlihat seperti sedang menjaga jarak.
Tapi di saat lain… seperti sekarang, saat tangannya tanpa sadar berada sedikit lebih dekat dari batas yang seharusnya, Elora merasa justru dia yang menjaga sesuatu agar tidak terlalu jauh.
“Kenapa kamu memilih aku?” tanya Elora tiba-tiba.
Arshaka berhenti makan.
Pertanyaan itu menggantung di udara lebih lama dari seharusnya.
“Aku tidak memilihmu,” jawabnya akhirnya.
Elora mengernyit. “Tapi kamu datang ke aku.”
Arshaka meletakkan sendoknya pelan. “Aku memilih situasinya. Bukan orangnya.”
Jawaban itu seharusnya menenangkan.
Tapi entah kenapa, justru terasa seperti penolakan yang halus.
Setelah makan, mereka keluar bersama.
Di luar restoran, angin sore menyentuh kulit Elora lebih dingin dari biasanya. Arshaka berjalan di sebelahnya, seperti biasa menjaga jarak yang cukup, tapi tidak terlalu jauh.
Sampai sesuatu terjadi.
Seorang paparazzi muncul dari sisi jalan.
Satu kamera.
Lalu lebih banyak.
“Elora! Arshaka! Benarkah kalian pacaran?”
“Sejak kapan hubungan ini dimulai?”
“Apakah ini hanya settingan untuk menutupi skandal?”
Cahaya flash memenuhi jalan.
Elora langsung berhenti.
Refleks.
Tapi sebelum ia sempat mundur, Arshaka menarik tangannya lagi.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Lebih kuat.
“Jangan berhenti,” katanya pelan, tapi tegas.
Elora menoleh. “Mereka—
“Biarkan mereka melihat,” potong Arshaka.
Dan sebelum Elora sempat memprotes, Arshaka menariknya lebih dekat.
Terlalu dekat.
Lebih dekat dari kemarin.
Satu tangannya naik, menyentuh sisi wajah Elora dengan gerakan yang tidak terlihat seperti pura-pura lagi.
Dan di depan semua kamera itu…
Ia menatap Elora seperti itu adalah hal paling wajar di dunia.
Flash kamera semakin ramai.
Tapi Elora tidak bisa fokus pada suara itu lagi.
Karena untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka benar-benar hilang.
Dan yang paling mengganggu bukan dunia yang menonton.
Tapi kenyataan bahwa Elora tidak langsung menjauh.
Tidak langsung menolak.
Tidak langsung mengingatkan dirinya bahwa ini hanya kontrak.
Yang ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu—
rasa diam-diam yang mulai sulit dibedakan antara sandiwara dan nyata.
————
Kamu ngerasa nggak... cara Arshaka mulai terlalu "ngatur"?
Atau Elora aja yang terlalu sensitif?
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...