Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Luka di Balik Nostalgia
Restoran Sunda di Jakarta Selatan itu dipenuhi aroma sambal terasi dan asap ikan bakar. Lukas—atau Luq—duduk di pojok ruangan dengan gelisah. Dia mengenakan kemeja katun polos, mencoba menanggalkan citra "Lukas Arkan" sang CEO yang angkuh agar bisa menyatu dengan suasana masa lalu yang dirindukannya.
"Jangan gugup," bisikku sambil menyentuh tangannya di atas meja. "Dia kakakku, bukan investor."
"Dia lebih menakutkan dari investor mana pun, Rea," jawabnya pelan.
Tak lama kemudian, Hazel melangkah masuk. Tubuhnya yang tegap dan tatapan matanya yang tajam tidak berubah sejak aku berangkat ke China saat SMA dulu. Saat matanya bertemu dengan Lukas, dia terhenti.
Ada keheningan panjang sebelum Hazel mendekat dan menarik Lukas ke dalam pelukan laki-laki yang keras.
"Kemana saja kamu, hah?" suara Hazel serak. "Tiba-tiba hilang, lalu wajah mu muncul di majalah bisnis sebagai Lukas Arkan. Aku sampai harus tanya Rea berkali-kali apakah itu benar-benar kamu."
"Ceritanya panjang, Zel," jawab Lukas pelan.
Kami duduk, dan nostalgia mulai mengalir. Hazel bercerita tentang masa-masa mereka di bengkel, sementara aku sesekali menimpali. Namun, suasana berubah saat Hazel menatapku dengan rasa sayang yang protektif.
"Untungnya ada Rea," Hazel tersenyum. "Ingat tidak, Luq? Dulu kamu yang paling protektif padanya. Saat Rea berangkat SMA ke China sendirian, kamu yang paling rewel menasihatinya. Aku berhutang banyak padamu karena sudah menjaganya di Universitas Zhejiang setelah kalian bertemu kembali."
Lukas terdiam. Dia melirikku, lalu kembali menatap Hazel. "Rea sudah banyak berubah, Zel. Dia bukan lagi adik kecil yang butuh dilindungi dengan cara lama."
Hazel tertawa, belum menangkap nada serius di suara Lukas. "Ya, dia sudah dewasa. Tapi bagimu, dia tetap adik, kan? Aku senang kalian tetap akur seperti dulu."
Keheningan yang mencekam tiba-tiba jatuh. Lukas meletakkan gelasnya dengan perlahan. Dia menarik napas panjang, seolah sedang mengeksekusi kode program yang paling berbahaya dalam hidupnya.
"Zel," suara Lukas merendah, tapi sangat tegas. "Aku tidak pernah menganggap Rea sebagai adik sejak aku bertemu dengannya lagi di Hangzhou. Apa yang aku rasakan padanya bukan lagi rasa sayang seorang kakak."
Tawa Hazel mati seketika. Dia menatap Lukas dengan wajah yang perlahan memerah. "Apa maksudmu?"
"Aku mencintai Rea," ucap Lukas tanpa ragu. Mata mereka beradu. "Bukan sebagai keluarga, tapi sebagai pria yang ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamanya."
Bugh!
Satu tinju keras dari Hazel mendarat tepat di rahang Lukas. Lukas terhuyung ke belakang, kepalanya tersentak, dan sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah. Aku berteriak dan mencoba berdiri, tapi Hazel menahanku.
"Kamu gila, Luq?!" Hazel berteriak, napasnya memburu. "Aku mempercayaimu! Aku membiarkan Rea berada di dekatmu karena aku pikir kamu adalah orang yang paling bisa kupercaya menjaganya sebagai saudara! Tapi ternyata kamu memanfaatkan situasimu sebagai 'kakak' untuk mendekatinya?"
Lukas tidak melawan. Dia berdiri perlahan, menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. Dia tidak mengangkat tangannya untuk membalas, meski aku tahu Lukas sekarang jauh lebih kuat dan terlatih daripada Luq yang dulu.
"Kenapa diam saja?" Hazel maju lagi, mencengkeram kerah kemeja Lukas. "Lawan aku! Kamu kan sudah jadi orang hebat sekarang! Kenapa tidak pukul aku kembali?!"
Lukas menatap Hazel dengan tatapan yang sangat tenang, meski matanya berkaca-kaca. "Aku tidak akan memukulmu, Zel. Bukan karena aku tidak bisa, tapi karena tanganku ini pernah kamu pegang saat aku terjatuh di bengkel. Kamu bukan musuhku. Kamu saudaraku."
Hazel tertegun, cengkeramannya sedikit melonggar, tapi kemarahannya belum padam. "Kalau aku saudaramu, kamu tidak akan pernah menyentuh adikku!"
"Aku tidak bisa memilih pada siapa hatiku berlabuh, Zel," ucap Lukas. "Aku pergi bertahun-tahun karena aku takut pada perasaan ini. Aku mencoba menjadi sukses agar aku merasa layak untuknya. Jika kamu ingin memukulku sampai mati karena kejujuran ini, silakan. Tapi aku tidak akan pernah menarik kata-kataku."
Hazel melepaskan kerah baju Lukas dengan kasar. Dia mundur dua langkah, wajahnya tampak sangat lelah dan kecewa. "Pulanglah, Luq. Pergi dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih buruk."
"Kak Hazel, dengar dulu..." aku mencoba bicara, tapi Hazel menoleh padaku dengan tatapan yang sangat terluka.
"Dan kamu, Rea... masuk ke mobil. Kita pulang sekarang."
Aku menatap Lukas. Dia berdiri di sana, di parkiran yang remang, dengan bibir pecah dan kemeja yang kusut. Dia tidak tampak seperti CEO yang baru saja kalah, melainkan seperti pria yang baru saja memenangkan harga dirinya dengan kejujuran, meski harganya adalah keretakan persahabatan.
"Tunggu aku," bisik Lukas saat aku berjalan melewati sisinya.
Di dalam mobil Hazel yang hening dalam perjalanan pulang, aku menyadari satu hal. Lukas tidak membalas pukulan itu bukan karena dia lemah, tapi karena dia sedang menunjukkan jenis kekuatan yang berbeda: kekuatan untuk bertanggung jawab atas perasaannya tanpa harus menghancurkan orang yang pernah ia anggap sebagai keluarga.
Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Pertempuran antara kesetiaan masa lalu dan keberanian masa depan baru saja dimulai. Dan di tengah-tengahnya, ada aku—yang kini harus menghadapi badai yang diciptakan oleh kejujuran seorang pria yang baru saja menolak untuk membalas pukulan kakakku.