NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Sang Bayangan Menampakkan Diri

Pagi setelahnya, Desa Wangsa Angin diselimuti kabut tipis yang membuat segalanya tampak seperti lukisan cat air. Aditya duduk di pelataran pura yang sama, kali ini ditemani secangkir kopi buatan Mpu Gde—kopi yang kata Kakek Wijaya adalah yang terbaik.

"Kau tidak tidur?" tanya Alesha yang baru tiba, rambutnya masih basah oleh embun pagi.

"Tidur sebentar. Lalu terbangun dan tidak bisa tidur lagi."

"Memikirkan Radit?"

"Memikirkan semuanya." Aditya menyesap kopinya. "Radit mundur. Tapi Sang Pengumpul tidak akan berhenti hanya karena satu letnannya ragu. Dia pasti sudah menyiapkan rencana cadangan."

Alesha duduk di sampingnya. "Kakek Wijaya juga bilang begitu tadi pagi. Dia sedang bicara dengan Mpu Gde tentang pusaka keenam—Busur Halilintar."

"Di mana pusaka itu?"

"Itu masalahnya. Tidak ada yang tahu." Alesha mengeluarkan tabletnya. "Busur Halilintar hilang sejak 100 tahun lalu. Keluarga pemegangnya—Wangsa Petir di Sumatera—punah setelah letusan gunung api. Tidak ada yang tahu ke mana busur itu setelahnya."

Aditya mengernyit. "Jadi kita mentok."

"Tidak sepenuhnya." Suara baru bergabung. Bukan dari arah pura, tapi dari atas—dari atap salah satu bangunan.

Sesosok tubuh berjubah hitam mendarat tanpa suara di pelataran. Topeng di wajahnya berkilau diterpa sinar matahari pagi. Jubahnya berkibar pelan, meski tidak ada angin.

All-Seeing Eye terpicu otomatis.

Target: "Helios"—nama samaran.

Identitas asli: Tidak terdeteksi (terlindung artefak level tinggi).

Level kultivasi: 18 (Alam Master Tingkat Menengah).

Afiliasi: Tidak diketahui.

Status: Bukan ancaman langsung.

"Akhirnya kau muncul juga," Aditya berdiri.

Helios mengangguk pelan. "Kemarin malam aku menyaksikan dari bukit. Apa yang kau lakukan dengan Radit... itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan kebanyakan kultivator."

"Aku hanya bicara."

"Itu yang membuatnya istimewa. Kebanyakan kultivator akan memilih bertarung. Kau memilih kata-kata." Helios melangkah lebih dekat. "Itu juga yang membuatku yakin untuk akhirnya menunjukkan diri."

Alesha menyilangkan tangan. "Kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu?"

"Karena aku perlu memastikan kalian bukan ancaman. Banyak yang mencari pusaka, tapi tidak banyak yang bersedia berdarah untuknya—atau menahan diri agar tidak menumpahkan darah orang lain." Helios berhenti dua meter dari mereka. "Kalian berbeda."

"Kau masih belum menjawab pertanyaanku waktu itu," Aditya menatap topeng itu. "Siapa yang kau takuti?"

Helios terdiam beberapa detik. Lalu, perlahan, ia mengangkat tangannya ke topengnya.

"Satu pertanyaan lagi. Kalau aku buka topeng ini, kalian mungkin tidak akan percaya padaku. Tapi kalau aku tidak buka, kalian juga tidak akan percaya. Jadi..." ia melepas topengnya.

Wajah di baliknya adalah seorang pria berusia sekitar 35 tahun. Rambutnya hitam dengan sedikit uban di pelipis. Rahangnya tegas. Tapi yang paling mencolok adalah matanya—satu berwarna cokelat biasa, satunya lagi... emas. Sepenuhnya emas, dengan pupil vertikal seperti mata elang.

"Aku bukan keturunan Pradipa," kata Helios. "Tapi aku terikat pada pusaka sama seperti kalian. Nama asliku tidak penting—aku sudah lama membuangnya. Yang penting adalah: aku adalah pemegang pusaka kelima."

Aditya mengerjap. "Kau... pemegang Tombak Angin?"

"Bukan. Tombak Angin milik Wangsa Angin. Aku pemegang..." Helios mengulurkan tangannya. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebilah busur. Panjangnya sekitar satu meter, terbuat dari kayu hitam dengan urat-urat perak yang berkilau seperti petir yang membeku. "...Busur Halilintar."

Alesha tersedak kecil. "Busur Halilintar ada padamu? Selama ini?!"

"Sejak 15 tahun lalu."

"Kenapa kau tidak bilang dari awal?!"

"Karena aku tidak tahu apakah kalian bisa dipercaya." Helios menyimpan busurnya kembali. "Aku sudah melihat banyak pemburu pusaka. Mereka semua sama—haus kekuasaan, rela membunuh demi artefak. Tapi kalian..." ia menatap Aditya, "...kau berbeda. Kau tidak menginginkan pusaka untuk kekuasaan. Kau menginginkannya untuk melindungi."

Aditya tidak tahu harus berkata apa.

Mpu Gde muncul dari dalam pura, berjalan pelan dengan tongkatnya. "Helios. Atau siapapun namamu. Aku sudah merasakan kehadiranmu sejak seminggu lalu. Kenapa baru sekarang?"

"Karena baru sekarang aku yakin." Helios menunduk hormat pada Mpu Gde. "Sang Pengumpul juga mencariku. Aku sudah bersembunyi selama 15 tahun. Tapi akhir-akhir ini dia semakin dekat."

"Dia tahu kau punya Busur Halilintar?"

"Dia tahu. Dan dia menginginkannya."

---

Mereka berkumpul di aula pertemuan. Kali ini hadir lengkap: Kakek Wijaya, Alesha, Maya, Aditya, Mpu Gde, Ayu, dan Helios yang sudah melepas topengnya.

"Jadi begini situasinya," Helios memulai. "Tujuh pusaka diciptakan oleh Dewa Matahari ribuan tahun lalu. Tiga sudah dipegang Sang Pengumpul: Cincin Api, Tameng Bumi, dan Tombak Angin."

"Tunggu," Maya memotong. "Cincin Api ada di jariku. Tameng Bumi ada di Aditya."

"Itu sekarang. Tapi selama bertahun-tahun, tiga pusaka itu ada padanya. Dia mengumpulkannya satu per satu. Baru belakangan ini Cincin Api dan Tameng Bumi lepas dari tangannya—berkat kalian."

"Jadi dia masih punya satu? Yang mana?"

Helios menatap mereka bergantian. "Tombak Angin? Bukan. Tombak Angin ada di sini." Ia menunjuk Mpu Gde. "Yang dia pegang adalah Mahkota Surya."

Ruang pertemuan sunyi seketika.

"Mahkota Surya adalah pusaka ketujuh," bisik Kakek Wijaya. "Yang paling kuat. Konon, Mahkota bisa menyatukan kekuatan ketujuh pusaka lainnya."

"Benar. Dan Sang Pengumpul sudah memilikinya selama 50 tahun." Helios mengepalkan tangannya. "Itu sebabnya dia bisa hidup begitu lama. Mahkota memberinya umur panjang. Tapi dia tidak bisa menggunakan kekuatan penuhnya tanpa enam pusaka lainnya."

"Itu kenapa dia memburu sisanya," Aditya menyelesaikan.

"Ya. Dia sudah punya Mahkota. Dia ingin tujuh pusaka untuk ritual yang akan membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap mati."

"Apa yang dia bangkitkan?"

Helios ragu sejenak. "Aku tidak tahu persis. Tapi dari yang kudengar... dia ingin membangkitkan dirinya sendiri. Versi dirinya yang sebenarnya. Karena pria yang kalian kenal sebagai Sang Pengumpul..." ia menatap semua orang, "...bukanlah manusia."

---

Malamnya, Aditya duduk di pinggir desa bersama Helios. Langit Bedugul begitu jernih—bintang-bintang seperti berlian yang ditaburkan di atas kain hitam.

"Waktu kau bilang kau takut pada dirimu sendiri," Aditya memecah keheningan, "apa maksudmu?"

Helios menatap bintang-bintang. "Busur Halilintar memilihku 15 tahun lalu. Aku bukan orang baik waktu itu. Aku pemburu pusaka—sama seperti yang lain. Tapi busur ini... dia berbisik padaku. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan perasaan. Dia menunjukkan apa yang terjadi kalau kekuatan disalahgunakan."

"Apa yang dia tunjukkan?"

"Kehancuran. Kesunyian. Kematian orang-orang yang kucintai." Helios menoleh pada Aditya. "Aku berubah karena busur ini. Tapi aku masih takut. Takut kalau suatu saat aku kembali menjadi orang yang dulu. Itu sebabnya aku sembunyi."

"Dan sekarang?"

"Sekarang..." Helios tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan. "Sekarang aku lelah sembunyi. Mungkin sudah waktunya melawan."

Aditya mengangguk. "Kita lawan bersama."

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!