NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota Berduri dan Kesetiaan yang Manis

Udara di lantai bawah tanah markas pegunungan itu terasa lebih berat dari biasanya. Bunyi dentuman logam yang beradu dan bau mesiu yang menyengat menjadi latar belakang latihan Rebecca pagi itu. Di depannya, Vargo berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, memegang sebuah senapan serbu taktis—SIG Sauer MCX—yang terlihat terlalu besar untuk tubuh ramping Rebecca.

"Senjata pendek hanya untuk perlindungan jarak dekat, Nona. Tapi jika Anda ingin menghentikan ancaman sebelum mereka menyentuh kulit Anda, Anda harus menguasai ini," suara Vargo parau, bergema di ruangan beton tersebut.

Rebecca menerima senjata itu. Beratnya membuat pergelangan tangannya sedikit pegal. Selama dua jam terakhir, Vargo tidak memberinya ampun. Ia dipaksa melakukan bongkar pasang senjata, mengisi magasin dengan jari-jari yang mulai lecet, dan belajar menahan tendangan recoil yang kuat. Setiap kali bahu Rebecca tersentak ke belakang, Vargo hanya berkata, "Lagi. Tahan dengan otot perut Anda, bukan hanya bahu."

"Aku bukan tentara, Vargo," keluh Rebecca saat keringat menetes dari pelipisnya, membasahi kerah kaus hitamnya.

"Bukan, Nona. Anda adalah seorang Moretti," koreksi Vargo tajam. "Seorang Moretti tidak menunggu untuk diselamatkan. Mereka adalah penyelamat bagi dirinya sendiri."

Kalimat itu memicu sesuatu dalam diri Rebecca. Ia teringat kembali malam di gang gelap itu. Rasa dingin dari kain yang terkoyak, tawa menjijikkan anak buah Valenti, dan ketidakberdayaannya. Dengan geraman kecil, ia menarik tuas pengokang, membidik sasaran sejauh lima puluh meter, dan melepaskan serangkaian tembakan. Rat-tat-tat! Lubang-lubang kecil terbentuk tepat di area dada siluet target.

Vargo mengangguk tipis. "Cukup untuk hari ini. Bersihkan diri Anda. Tuan Maximilian akan kembali sebentar lagi."

Setelah latihan yang melelahkan, Rebecca merendam dirinya di bawah kucuran air hangat, berusaha membilas sisa-sisa bau mesiu dari kulitnya. Namun, pikirannya tidak bisa tenang. Malam ini adalah perjamuan amal Enzo Valenti. Sebuah sarang serigala di mana ia akan dilemparkan sebagai umpan sekaligus pernyataan perang.

Alih-alih beristirahat, Rebecca justru melangkah ke dapur luas di rumah utama. Ada keinginan aneh dalam dirinya untuk melakukan sesuatu bagi Maximilian. Sejak pria itu membawanya ke sini, Max telah memberikan segalanya—identitas, keamanan, bahkan kekuasaan—meskipun semuanya dibayar dengan kebebasan.

Rebecca mulai sibuk. Ia menyiapkan handuk putih bersih yang dipanaskan di lemari penghangat dan mengatur air mandi di kamar utama Maximilian dengan suhu yang tepat, lengkap dengan aroma terapi kayu cendana yang disukai pria itu.

Kemudian, ia beralih ke meja dapur. Rebecca ingat ibunya dulu sering berkata bahwa makanan manis bisa meluluhkan hati yang paling keras sekalipun. Ia mulai mengolah Soufflé Cokelat dengan salted caramel di tengahnya. Ia tahu, dari pengamatannya selama ini, Maximilian hampir tidak pernah menyentuh gula. Pria itu adalah penikmat kopi hitam pekat dan wiski tanpa es. Pahit adalah dunianya.

Saat aroma cokelat panggang yang manis mulai memenuhi ruangan, suara langkah sepatu bot yang berat terdengar di lorong. Maximilian telah pulang.

Rebecca menyambutnya di ruang tengah. Maximilian tampak lelah; ada guratan ketegangan di dahinya dan kemeja birunya sedikit kusut di bagian lengan.

"Air hangat sudah siap, Om. Handuknya juga sudah dipanaskan," ucap Rebecca lembut, sedikit ragu.

Maximilian berhenti melangkah, menatap Rebecca dengan mata elangnya yang dalam. Ia tidak terbiasa dilayani dengan cara yang domestik seperti ini. Biasanya, pelayan atau asistennya melakukan segalanya dengan efisiensi robotik, bukan dengan perhatian yang tulus.

"Dan ini ... aku membuatkan camilan," Rebecca menyodorkan piring kecil berisi soufflé yang masih mengepul. "Mungkin Om butuh tenaga sebelum kita pergi ke acara Valenti."

Maximilian melirik kue manis itu dengan tatapan skeptis. Ia membenci makanan manis. Baginya, gula hanya merusak ketajaman lidahnya. Namun, ia menatap mata Rebecca yang penuh harap—mata yang kini tidak lagi hanya berisi ketakutan, tapi juga semacam pengabdian yang rapuh.

Tanpa berkata-kata, Maximilian mengambil sendok kecil. Ia menyuapkan kue itu ke mulutnya. Rasa manis yang intens dan gurihnya karamel meledak di lidahnya. Ia sebenarnya ingin mengernyit, tapi melihat bagaimana Rebecca memperhatikan setiap gerakannya, ia justru menyendoknya lagi. Dan lagi. Sampai piring itu bersih tanpa sisa.

"Terlalu manis," gumam Maximilian datar, namun ia meletakkan piring itu dengan cara yang tidak kasar. Di dalam hatinya, ia merasakan kehangatan yang jauh lebih nyaman daripada air mandi mana pun. Ia senang, meskipun wajahnya tetap membeku seperti es di kutub.

"Maaf, lain kali aku akan mengurangi gulanya," sahut Rebecca, merasa sedikit gagal.

"Kemari," perintah Maximilian.

Ia merobek saku dalamnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya terdapat sebuah pin perak berbentuk logo perusahaan induk Moretti—sebuah jangkar yang terlilit ular emas dengan detail yang sangat halus.

"Pakai ini di blazermu malam ini," Max menyematkan pin itu di kerah pakaian Rebecca.

Rebecca menatap pin itu. Ia tidak tahu bahwa benda kecil ini adalah tanda anggota VVIP di seluruh jaringan pelabuhan internasional milik Moretti. Siapa pun yang melihat pin ini, dari buruh pelabuhan hingga pejabat bea cukai, akan tahu bahwa orang yang memakainya membawa otoritas penuh dari Maximilian Moretti. Itu bukan sekadar perhiasan; itu adalah tongkat komando.

"Ini terasa ... berat," bisik Rebecca, menyentuh logam dingin itu.

"Tentu saja berat. Itu adalah beban kekuasaan," sahut Maximilian. Ia lalu duduk di sofa besar dan menarik pinggang Rebecca, memintanya duduk di pangkuannya.

Rebecca sempat membeku sejenak. Namun, saat lengan kokoh Maximilian melingkar di pinggangnya, ia tidak melawan. Ia justru menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Aroma tubuh Max—campuran parfum mahal, tembakau, dan sedikit aroma kue yang tadi ia makan—memberikan rasa aman yang tidak biasa. Di pelukan pria paling berbahaya di kota ini, Rebecca justru merasa paling terlindungi.

Maximilian membelai rambut Rebecca dengan jemarinya yang kasar, sebuah gerakan yang sangat posesif namun penuh kelembutan yang tersembunyi.

"Dengarkan aku, Rebecca," bisik Max, suaranya menggetarkan dada Rebecca. "Pin itu akan membuat orang tunduk padamu, tapi senjata di tanganmu adalah yang akan membuat mereka tetap berlutut. Kau harus tumbuh lebih kuat. Lebih dingin. Aku tidak akan selalu ada di sampingmu setiap detik."

Cengkeraman Max di pinggang Rebecca sedikit mengerat, seolah teringat kejadian traumatis beberapa waktu lalu.

"Kau harus bisa membela dirimu sendiri. Jika tidak, dunia ini akan memangsamu hidup-hidup, persis seperti malam itu saat bajingan-bajingan itu mencoba mengoyak pakaianmu. Aku menyelamatkanmu sekali agar kau bisa belajar bagaimana caranya tidak perlu diselamatkan lagi. Mengerti?"

Rebecca memejamkan mata, meresapi setiap kata-kata keras itu. Ia tahu Maximilian tidak sedang mengancamnya, melainkan sedang mempersiapkannya untuk sebuah kehidupan di mana kelemahan adalah dosa yang mematikan.

"Aku mengerti, Om," bisik Rebecca. Ia mengeratkan pelukannya pada leher Maximilian, merasa bahwa di tengah badai yang akan datang di perjamuan Valenti, satu-satunya tempat yang paling stabil adalah di dalam pelukan pria dingin yang baru saja menghabiskan kue manis buatannya demi menyenangkan hatinya.

Maximilian tidak membalas dengan kata-kata manis. Ia hanya mencium puncak kepala Rebecca dengan lama, sebuah segel tak kasat mata bahwa gadis ini adalah miliknya, dan siapa pun yang mencoba menyentuhnya malam ini harus melewati mayat Maximilian terlebih dahulu.

"Sekarang, bersiaplah," ucap Max sambil melepaskan pelukannya, kembali ke mode pemimpin mafia yang dingin. "Kita punya kerajaan yang harus kita guncang malam ini."

1
Hennyy Handriani
menarik nih ceritanya 💪
Mita Paramita
Rebecca makin jauh sama max gak seperti dulu 🤨 mesti salin jujur tetep bertahan
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠, 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐦𝐫𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐭𝐢, 𝐥𝐠𝐢𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐧 𝐯𝐚𝐫𝐠𝐨 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐛𝐥𝐦𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐬𝐝𝐡 𝐭𝐚𝐮


𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐟𝐨𝐤𝐮𝐬 𝐤𝐨𝐤 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐛𝐚𝐛 𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐬𝐨𝐚𝐥𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐝 𝐚𝐧𝐞𝐡 𝐲𝐠 𝐭𝐚𝐝𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐝𝐡 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐨𝐤 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐠𝐤 𝐭𝐚𝐮, 𝐝𝐫𝐩𝐝 𝐫𝐞𝐯𝐢𝐬𝐢 𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐮𝟐𝐫 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐦𝐚𝐱 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐯𝐚𝐫𝐠𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐤𝐥𝐨 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥


𝐩𝐚𝐬 𝐦𝐚𝐮 𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐧 𝐯𝐚𝐫𝐠𝐨 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐞𝐭𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 🥺🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐞𝐡 𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐣𝐚
𝐰𝐚𝐥𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐥𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐡 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐢𝐧 𝐚𝐪


𝐤𝐫𝐧 𝐀𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐛𝐥𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐥𝐭𝐚𝐡 🤣🤣🤣
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐢𝐜𝐮𝐥𝐢𝐤 𝐥𝐠? 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐪 𝐣𝐝 𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠 😭😭🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐤𝐲𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚


𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝟗𝟖 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐢𝐣𝐦𝐩𝐭 𝐝𝐠𝐧 𝐡𝐞𝐥𝐢 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐢 𝐜𝐚𝐩𝐨𝟐 𝐭𝐮𝐚 𝐲𝐠 𝐦𝐬𝐡 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐝𝐥𝐦 𝐤𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐤𝐞 𝐭𝐦𝐩𝐭 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐢 𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐭𝐩 𝐣𝐠 𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐫𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐥𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐤𝐞𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐛𝐫𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐝𝐢𝐥𝐞𝐝𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐜𝐚𝐫𝐥𝐞𝐭 𝐫𝐨𝐬𝐞́ 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐰𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐤𝐚𝐤𝐤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐨𝐡 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐢 𝐭𝐞𝐦𝐮𝐢𝐧 𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝟗𝟖 𝐤𝐦𝐫𝐧, 𝐦𝐬𝐡 𝐝𝐢𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐲𝐚???

𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢𝐣𝐦𝐩𝐭 𝐥𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐉𝐨𝐤𝐞𝐫, 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐲𝐠 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐤𝐬𝐚 𝐣𝐝 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐤𝐫𝐧 𝐤𝐞𝐚𝐝𝐚𝐚𝐧😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐲𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐤 𝐩𝐞𝐧𝐜𝐚𝐩𝐚𝐢𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚🥺🥺😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐬𝐠𝐭 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢...


𝐚𝐪 𝐣𝐝 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧-𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐚𝐪 𝐛𝐬 𝐣𝐝 𝐤𝐲𝐤 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐚𝐪 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡 𝟏 𝐩𝐞𝐫𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐨𝐫𝐮𝐩𝐭𝐨𝐫 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚🤪🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 🤪🤪🤪 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐦𝐚 𝐤𝐨𝐫𝐮𝐩𝐭𝐨𝐫 𝐢𝐧𝐝𝐨 𝐲𝐠 𝐡𝐮𝐤𝐮𝐦𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐦𝐚𝐢𝐧𝐚𝐧
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐦𝐡😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐬𝐨𝐦𝐛𝐨𝐧𝐠 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐦𝐮, 𝐭𝐝𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐜𝐲 𝐟𝐞𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐚𝐱𝐱𝐱😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐫𝐮𝐭?
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!