NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran Anggota Baru

Asap dari sisa kebakaran Bengkel Pusat seolah masih tertinggal di ujung indra penciuman Zevanya, meski seminggu telah berlalu. Jakarta sedang diguyur hujan sisa semalam saat Zeva berdiri di depan wastafel kamar mandinya. Tubuhnya terasa aneh. Ada rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan jam kerja, dan mual yang muncul setiap kali ia mencium bau parfum maskulin Adrian yang biasanya ia sukai.

​Zeva menatap benda kecil di tangannya. Dua garis merah. Jelas. Tegas. Tanpa kompromi.

​Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia memacu motor di lintasan balap liar. Di luar, ia adalah singa betina Alfarezel, pemegang saham mayoritas yang baru saja mengguncang stabilitas korporasi. Namun di sini, di bawah cahaya lampu neon yang dingin, ia hanyalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

​"Zeva? Kau di dalam?" suara Adrian terdengar mengetuk pintu kamar mandi, lembut namun penuh perhatian.

​Zeva menyembunyikan alat itu di balik handuk. Ia menarik napas panjang, membasuh wajahnya dengan air dingin, dan membuka pintu. Adrian berdiri di sana dengan kemeja putih yang lengannya digulung, memegang segelas susu hangat dan tablet yang menampilkan laporan kerugian bengkel.

​"Kau tampak pucat, Sayang. Apa karena bau oli di lokasi kemarin masih membuatmu pusing?" tanya Adrian sambil menyentuh dahi Zeva.

​Zeva memaksakan senyum. "Mungkin. Gue cuma butuh udara segar, Bos."

Kabar tentang kehamilan Zeva tidak bisa disembunyikan lama dari Adrian. Saat Adrian mengetahuinya dua hari kemudian setelah Zeva pingsan di tengah rapat yayasan, reaksi pria itu melampaui apa yang Zeva bayangkan. Adrian tidak hanya senang; ia menjadi obsesif.

​Dalam waktu dua puluh empat jam, kehidupan Zeva berubah menjadi sangkar emas yang menyesakkan.

​"Adrian, apa-apaan ini?" tanya Zeva saat ia turun ke lobi apartemen dan mendapati empat pria tegap berseragam safari hitam berdiri di depan pintu lift.

​"Itu unit pengamanan khusus, Zeva," jawab Adrian sambil memeriksa jadwal di ponselnya. "Mulai hari ini, kau tidak boleh mengendarai motor kustommu. Aku sudah menyiapkan Rolls-Royce antipeluru dengan sopir terlatih. Dan mulai minggu depan, kau akan bekerja dari rumah."

​Zeva tertawa hambar, mengira suaminya sedang bercanda. Namun wajah Adrian sangat serius. "Gue nggak sakit, Adrian. Gue cuma hamil. Gue masih punya bengkel yang harus dibangun lagi, gue punya investor yang harus gue temui!"

​"Investor bisa datang ke sini. Dan soal bengkel, biarkan Ujang yang mengawasi konstruksinya," sahut Adrian tegas. "Helena masih di luar sana menunggu celah, Robert Tan masih punya kaki tangan. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada kalian."

​"Kalian?" Zeva menekankan kata itu. "Jadi ini soal bayi ini? Bukan soal gue?"

​"Ini soal keamanan keluarga kita, Zeva!" suara Adrian meninggi, mencerminkan ketakutan yang mendalam. "Aku sudah kehilangan orang tua karena konspirasi ini. Aku tidak akan kehilangan anakku juga."

​Zeva terdiam. Ia melihat ketakutan di mata Adrian—ketakutan seorang pria yang merasa dunia selalu mencoba mengambil apa yang ia cintai. Namun, bagi Zeva, perlindungan ini terasa seperti pencekikan.

Ketegangan mencapai puncaknya saat makan malam di kediaman utama Alfarezel. Adrian mengundang tim ginekolog terbaik dan seorang ahli nutrisi untuk duduk bersama mereka.

​"Berdasarkan profil kesehatan Nona Zeva, kami menyarankan diet ketat tanpa kafein, tanpa makanan pedas, dan aktivitas fisik yang sangat terbatas," ujar sang dokter sambil menyerahkan daftar panjang pantangan.

​Zeva mendorong piring salatnya yang hambar. "Gue biasa makan nasi padang level pedas maksimal sambil bongkar mesin mesin berat, Dok. Dan gue baik-baik saja."

​"Itu dulu, Zevanya," sela Adrian. "Sekarang kau harus berpikir secara korporasi. Tubuhmu adalah aset paling berharga Alfarezel saat ini."

​Aset. Kata itu memicu amarah di dada Zeva.

​"Gue bukan aset, Adrian! Gue bukan gedung Menara Alfarezel yang bisa lu pasangi satpam di setiap sudut!" Zeva berdiri, kursinya berderit keras di atas lantai marmer. "Lu tahu kenapa gue jatuh cinta sama lu? Karena lu nganggep gue partner. Tapi sekarang? Lu nganggep gue inkubator buat ahli waris lu!"

​Zeva melangkah pergi menuju balkon, meninggalkan para ahli dan Adrian yang terpaku. Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya. Ia merindukan bau aspal, bau bensin, dan kebebasan untuk memutuskan arah hidupnya sendiri.

Di tengah ketegangan domestik itu, ancaman eksternal mulai menunjukkan taringnya kembali. Siska masuk ke ruang kerja Adrian dengan laporan intelijen terbaru.

​"Pak Adrian, ada pergerakan mencurigakan di pasar gelap. Robert Tan tampaknya sedang memesan 'jasa' dari kelompok tentara bayaran di Asia Tenggara. Targetnya bukan lagi aset fisik perusahaan," ujar Siska dengan suara bergetar.

​Adrian menatap monitor keamanan yang menampilkan Zeva di balkon. "Dia menargetkan Zeva secara pribadi?"

​"Lebih spesifik lagi, Pak. Mereka tahu tentang kehamilan Nona Zeva. Mereka ingin menggunakan isu 'pewaris yang rentan' untuk mengguncang harga saham dan memaksa Anda menyerahkan kendali operasional di Merak."

​Adrian mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Perketat keamanan. Gandakan. Jangan biarkan dia keluar dari gedung ini tanpa setidaknya sepuluh pengawal."

​Namun, Adrian tidak menyadari bahwa memenjarakan Zeva adalah cara tercepat untuk menghancurkan semangat istrinya.

Zeva tahu ia harus bertindak. Ia merasa seperti mesin yang dipaksa berjalan di gigi satu dalam waktu yang terlalu lama—mesinnya akan panas berlebih dan rusak. Dengan bantuan Ujang yang menyamar sebagai petugas pengantar makanan, Zeva berhasil menyelundup keluar dari penthouse melalui lift servis.

​Ia mengenakan jaket hoodie besar untuk menutupi perutnya yang belum terlihat menonjol, dan helm full-face. Di parkiran bawah tanah yang sunyi, motor kustom lamanya sudah menunggu, disembunyikan oleh Ujang di balik tumpukan ban bekas.

​"Lu yakin, Zev? Kalau Pak Adrian tahu, gue bisa dipecat atau malah dibuang ke laut," bisik Ujang cemas.

​"Gue perlu napas, Jang. Kalau gue terus di sana, gue bakal gila sebelum bayi ini lahir," sahut Zeva sambil menyalakan mesin. Suara raungan mesin motornya terasa seperti nyanyian kebebasan.

​Zeva memacu motornya menuju Jembatan Merah. Ia ingin melihat lokasi bengkel lamanya, tempat di mana segalanya dimulai. Ia butuh pengingat bahwa ia adalah pejuang, bukan sekadar "nyonya besar".

​Namun, saat ia sampai di area industri yang sepi itu, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Dua motor sport tanpa plat nomor mulai membuntutinya. Mereka bergerak dengan formasi menjepit—teknik pengejaran profesional yang pernah ia hadapi saat bulan madu di Sumatra.

​"Sial," desis Zeva. Ia memacu gasnya lebih dalam.

​Aksi kejar-kejaran terjadi di jalanan pelabuhan yang penuh dengan lubang dan truk kontainer yang terparkir. Zeva menggunakan kelincahannya, meliuk-liuk di bawah kolong truk, namun para pengejar itu sangat gigih. Salah satu dari mereka mencoba menendang roda belakang motor Zeva.

​Zeva melakukan pengereman mendadak, membuat pengejarnya melesat melewati dirinya, lalu ia membanting stang masuk ke sebuah gudang tua yang terbuka.

Zeva turun dari motornya, mengambil sebatang besi panjang yang tergeletak di lantai gudang. Dua pria berjaket hitam turun dari motor mereka, membuka helm, dan mengeluarkan pisau lipat.

​"Nona Alfarezel," salah satu dari mereka menyeringai. "Robert Tan mengirim salam. Dia bilang, anak di dalam perutmu itu adalah tiket kemenangan bagi kami."

​Zeva merasakan dorongan protektif yang luar biasa. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh amarah murni. "Lu mau sentuh anak gue? Langkahi dulu mayat gue!"

​Zeva bertarung dengan brutal. Meski ia harus lebih berhati-hati dengan gerakannya, insting jalanannya tidak pernah tumpul. Ia menggunakan besi itu untuk memangkas jarak, menghantam lutut salah satu penyerang hingga terdengar suara retakan tulang.

​Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Pria kedua berhasil menangkap lengan Zeva dan mencoba menekannya ke dinding. Tepat saat itu, suara tembakan peringatan menggema di dalam gudang.

​Adrian muncul bersama tim keamanannya. Wajah Adrian sangat pucat, matanya merah karena amarah dan kepanikan yang luar biasa. Ia sendiri yang menerjang pria yang memegang Zeva, menjatuhkannya dengan satu pukulan yang penuh tenaga.

​"Zeva! Kau tidak apa-apa?!" Adrian memeluk Zeva, tangannya gemetar hebat saat memeriksa tubuh istrinya.

​Zeva hanya terdiam, napasnya memburu. Ia melihat para penyerang itu diringkus dengan kasar oleh tim keamanan.

Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam Rolls-Royce itu sangat sunyi. Adrian menatap keluar jendela, sementara Zeva duduk di pojok, masih memegang besi panjang yang belum ia lepaskan.

​"Aku hampir kehilangan kalian," suara Adrian pecah. Ia tidak lagi terdengar seperti CEO yang angkuh, melainkan pria yang hancur. "Sekarang kau mengerti kenapa aku melakukan semua itu? Dunia ini ingin menghancurkan kita, Zeva."

​Zeva menaruh besi itu di lantai mobil. Ia meraih tangan Adrian yang dingin. "Gue mengerti lu takut, Adrian. Tapi kalau lu ngelindungi gue dengan cara bikin gue kehilangan diri gue sendiri, lu justru ngebantu mereka buat ngebunuh gue pelan-pelan."

​Zeva menaruh tangan Adrian di perutnya. "Anak ini... dia anak mekanik dan anak pejuang. Dia nggak butuh sangkar emas. Dia butuh ibu yang kuat. Dan ibu yang kuat itu adalah ibu yang ada di jalanan tadi, bukan ibu yang cuma duduk di balkon nungguin lu pulang."

​Adrian menatap tangan Zeva di perutnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan ego dan ketakutannya. "Maafkan aku. Aku terlalu terobsesi untuk tidak menjadi seperti ayahku yang gagal melindungi ibuku."

​"Lu bukan bokap lu, Adrian. Dan gue bukan nyonya rumah yang lemah," bisik Zeva.

Malam itu, di Menara Alfarezel, sebuah kesepakatan baru dibuat. Tidak ada lagi pengawalan yang berlebihan, namun Zeva setuju untuk selalu membawa pelacak GPS dan tidak pergi sendirian ke area berbahaya. Sebagai gantinya, Adrian membangunkan sebuah bengkel mini di salah satu lantai khusus di gedung Alfarezel, agar Zeva tetap bisa bekerja dan merestorasi mesin tanpa harus meninggalkan keamanan gedung.

​Zeva berdiri di tengah bengkel barunya yang berkilauan. Ia melihat deretan alat mekanik nomor dua belas kesayangannya yang sudah dibersihkan.

​"Selamat datang di dunia yang keras, Kecil," gumam Zeva sambil mengelus perutnya. "Ibu dan Ayah mungkin sering berantem, tapi kita bakal pastiin tempat ini aman buat lu."

​Namun, di meja kerjanya, sebuah tablet menampilkan pesan masuk dari Siska. Isinya adalah rekaman pembicaraan Robert Tan yang baru saja disadap.

​"Biarkan mereka merasa aman dengan bayi itu. Serangan fisik hanyalah pengalihan. Serangan yang sebenarnya akan terjadi di meja diplomasi minggu depan. Alfarezel akan runtuh justru saat mereka merayakan kehidupan baru."

​Zeva menatap pesan itu dengan mata menyipit. Ujian sesungguhnya bukan lagi soal otot, tapi soal otak. Dan minggu depan, ia harus berdiri di depan konsorsium internasional untuk membuktikan bahwa seorang ibu hamil pemegang saham mayoritas bisa menjadi hiu yang lebih mematikan daripada siapa pun.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!