Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Heterokromia
Sabrina kehilangan kesadarannya tepat saat bayangan Adrian menutupi cahaya lampu jalan.
Kegelapan total menyedot habis isi kepalanya. Tarikan napasnya menelan debu aspal kasar dan kabut es Puncak. Namun, sistem motorik purbanya menolak menyerah pada kematian. Jari-jari tangan kirinya yang kaku dan berlumur darah mengunci sangat erat pada buntalan flanel di atas dadanya. Kaku, dipicu murni oleh insting pertahanan absolut seorang ibu.
"Angkat tubuhnya," perintah Adrian tanpa nada. Sepatu kulit mahalnya mundur selangkah menghindari genangan cairan pekat. "Jangan sampai darah kotornya menodai karpet mobilku."
Dua pengawal bertubuh raksasa segera berjongkok di atas aspal basah.
"Bagas, pegang bahunya. Gue angkat kakinya," ucap pengawal pertama, suaranya bergetar menahan dingin.
"Hati-hati nariknya, Goblok," sahut Bagas ngeri. "Pendarahannya parah banget. Lantainya sampai merah semua ini. Kita bisa bikin dia mati kehabisan darah di tempat."
"Ambil bayinya sekarang," potong Adrian tajam. "Itu prioritasnya. Aku tidak peduli ibunya kehilangan satu liter darah lagi malam ini."
Bagas mengulurkan tangannya yang bersarung kulit hitam. Ia mencoba menarik buntalan kain flanel berbau pesing itu dari pelukan dada Sabrina. Tarikan pertamanya gagal total.
"Pak Halim," lapor Bagas panik menoleh ke atas. "Jarinya mengunci keras sekali. Susah ditarik."
"Tarik paksa," balas Adrian dingin.
"Tangannya robek parah kena kawat, Pak. Tulangnya kelihatan. Kalau ditarik paksa sekarang, ruas jarinya bisa patah berantakan."
"Patahkan saja." Rahang Adrian mengeras. "Aku butuh rahim dan tanda tangannya, bukan jari tangannya. Buka sekarang."
Suara gemeretak tulang terdengar pelan menembus kabut saat Bagas menekan paksa pergelangan tangan Sabrina. Perempuan rapuh itu sama sekali tidak mengerang, Ia pingsan total. Pertahanannya akhirnya jebol oleh kekuatan fisik pria dewasa.
Kain flanel pelindung itu terlepas. Bagas mengangkat sosok kecil yang terbungkus di dalamnya dengan sangat hati-hati.
"Sini," pinta Adrian merentangkan kedua tangannya.
Bagas menyerahkan bayi itu.
Adrianus Halim menyambut darah dagingnya sendiri untuk pertama kali. Laki-laki penganut hierarki patriarki itu memegang bayinya tanpa sentuhan kebapakan. Murni evaluasi aset bisnis. Ia membuka sedikit lipatan kain kotor tersebut.
Bau anyir darah segar langsung menyerbu rongga hidungnya, menyatu dengan aroma verniks dan cairan ketuban. Adrian menatap wajah berkerut merah itu dalam diam.
Satu hal krusial langsung mengganggu rasionalitasnya. Sunyi.
Tidak ada suara tangisan. Tidak ada lengkingan rengekan seperti bayi normal yang baru lahir lalu dilempar ke tengah badai cuaca ekstrem. Bayi ini terdiam kaku di balik balutan kain.
"Dokter Tirta!" teriak Adrian memecah kebisuan jalan raya. Otoritasnya memantul di aspal berbukit.
Seorang pria berkacamata berlari tergopoh-gopoh dari barisan mobil ketiga. Ia membawa tas medis baja di tangan kanannya.
"Ya, Pak Halim?" Tirta mengatur napasnya yang memburu.
"Periksa istriku. Pastikan jantungnya tetap berdetak sampai kita tiba di rumah sakit." Adrian melirik jijik ke arah tubuh Sabrina yang sedang diangkat masuk ke bagian belakang Range Rover.
Tirta segera menghampiri tubuh Sabrina. Ia menyalakan senter medis kecil dan memeriksa pupil mata perempuan itu, lalu meraba denyut nadi di leher yang pucat pasi.
"Nadinyat sangat lemah, Pak," lapor Tirta cepat. "Hipotermia stadium lanjut. Dan ini..." Tirta menyibakkan sedikit sisa gaun putih yang robek di area panggul. Wajah sang dokter langsung berubah pucat.
"Kenapa?" tegur Adrian tidak sabar.
"Robekan persalinannya dibiarkan terbuka. Tapi yang gila, tali pusarnya dipotong paksa dan diikat pakai kawat berkarat. Ini risiko tetanus dan infeksi darah tingkat fatal." Tirta mengeluarkan jarum suntik berisi cairan bening. "Saya harus memasukkan epinefrin dosis tinggi sekarang juga. Dia kehilangan nyaris setengah volume darah normal manusia."
"Lakukan saja kerjamu," sahut Adrian meremehkan.
"Satu hal lagi, Pak," tambah Tirta pelan. Tangan dokter itu mengusap sisa darah beku di lengan Sabrina. "Suhu tubuh Nyonya Sabrina nyaris membeku total. Tapi suhu bayinya tadi sangat hangat. Nyonya Sabrina sengaja menyerap semua angin dingin dan membakar sisa kalorinya murni agar suhu beku tidak menembus kain pelindung bayinya."
Adrian mendengkus sinis. "Naluri betina rendahan. Dia mempertaruhkan asetku yang paling berharga di tengah jalan raya."
"Dia menyelamatkan nyawa pewaris Anda sendirian, Pak," ralat Tirta pelan, menolak tunduk pada ego sang taipan. "Luka di kakinya membuktikan dia memanjat pagar kawat berduri sambil membawa bayi ini. Tidak ada manusia normal yang bisa menahan rasa sakit gabungan seperti ini tanpa pingsan di sepuluh menit pertama."
Kenyataan itu menampar pelan isi kepala Adrian. Ia melirik kembali sosok istrinya yang kini terpasang selang infus di dalam mobil.
Perempuan penakut yang selalu menunduk saat ia bentak itu kini terlihat seperti monster yang baru saja selamat dari medan perang neraka.
"Bawa dia masuk. Kita bergerak sekarang," putus Adrian tegas.
Ia memutar tubuh tegapnya dan masuk ke dalam kabin Range Rover yang berada di baris kedua yang hangat. Pintu mobil dibanting keras, memotong suara angin Puncak yang melolong.
Di dalam kabin kedap suara, Adrian memangku bayinya di atas paha. Lampu kabin menyala temaram. Sopir langsung menginjak pedal gas, memacu konvoi mobil hitam itu kembali menembus kabut menuju arah Jakarta.
Adrian melepaskan sarung tangan kulitnya yang terkena bercak merah. Ia menatap lekat buntalan kain di pangkuannya. Bayi ini terlalu diam. Kecemasan logis mulai merayap naik ke ulu hatinya. Jangan-jangan produk ahli waris ini cacat pernapasan akibat persalinan di lantai gudang.
"Buka matamu," perintah Adrian pada bayi itu, nada suaranya mengancam.
Jari telunjuk Adrian yang beralas cincin platinum mengusap kasar noda darah kering di dahi sang bayi. Usapan itu meninggalkan jejak merah di kulit kemerahan yang bersih.
Sensor gerak bayi itu merespons sentuhan kasar tersebut. Kelopak mata mungilnya bergerak pelan, mengerjap dua kali menahan silau lampu kabin, lalu terbuka sepenuhnya.
Adrian menahan napas seketika.
Bukan tatapan kosong atau tangisan ketakutan bayi baru lahir yang menyambutnya. Tatapan itu tajam, menusuk lurus tanpa ampun, dan terlampau tenang. Persis seperti tatapan mata hitam ibunya sebelum pingsan di aspal tadi.
Lalu, di bawah bias cahaya lampu kuning, anomali absolut itu terungkap jelas ke mata telanjang.
Iris mata kiri bayi itu berwarna hitam sekelam dasar samudra.
Namun, iris mata kanannya memancarkan warna biru kristal yang menyala menyilaukan.
Heterokromia.
Dada Adrian bergemuruh keras memukul tulang rusuknya sendiri. Udara di dalam kabin mobil mendadak terasa hilang ditarik paksa.
Itu adalah trait genetik absolut. Tanda mutlak dari garis keturunan pendiri klan Halim yang sudah hilang terputus selama tiga generasi lamanya. Mitos darah biru penguasa kerajaan bisnis bawah tanah yang selama ini hanya ia anggap sebagai legenda tua keluarga, kini berkedip lambat menatapnya langsung dari balik kain kumal berbau pesing.
Bayi ini bukan sekadar anak. Ini adalah raja yang lahir dari kubangan darah.
Adrian teringat cemoohannya sendiri beberapa menit lalu. Ia menganggap istrinya hanyalah barang rusak yang kebetulan berhasil mempertahankan rahimnya.
Namun malam ini, perempuan rapuh itu berhasil melarikan diri dari pembantaian, memanjat pagar kawat berduri, dan melempar hadiah kemenangan paling bersejarah ke wajah Adrian.
"Pak Halim," suara dari radio dashboard memecah fokus Adrian. "Kita langsung ke rumah sakit pusat?"
"Tidak," sahut Adrian cepat, matanya sama sekali tidak lepas dari mata bayinya. "Ke fasilitas medis pribadi di bunker utara. Jangan sampai anjing-anjing Kania mengendus rute kita malam ini."
"Siap, Pak. Instruksi tambahan?"
"Kosongkan seluruh lantai steril. Siapkan tim bedah terbaik." Suara Adrian merendah menahan gelombang obsesi baru. "Pastikan perempuan itu tetap hidup. Berapa pun harga kantong darahnya."
Ia mengusap pipi bayinya sekali lagi, kali ini dengan sentuhan yang anehnya jauh lebih pelan. Bayi itu tidak membuang muka, terus menatap ayahnya seolah siap mengukur batas kekuatan dunia.
Sesuatu berdesir di dada Adrian. Genetik mutlak itu menampar egonya. Ini pewarisnya.